
Apa yang membuat bertahan. Tryout atau Arya Dharma?
Terkadang aku mulai menyesuaikan kejahilannya. Terkadang juga aku merasa mungkin begitulah dirinya. Ceria, banyak candaan dan juga suka tebar pesona.
Aku yang dulu merasa menjadi satu-satunya, ternyata tidak juga. Dia juga melakukan hal yang lebih konyol lagi dengan teman ku. Seperti halnya pada waktu itu. Di tengah-tengah kami sibuk memecahkan rumus matematika, dengan santainya dia bercelatuk.
"Sebenarnya, aku suka dengan pelajaran matematika. Tapi sayang, seberapa pun aku menghitung persentasi rasa sayang ku pada seseorang tidak pernah aku temukan jawabannya." Katanya dengan meletakkan soal matematika yang sedari tadi juga ia tekuni.
"Hahahaha." Suasana yang tadinya sepi, tiba-tiba berubah menjadi arena di lapangan sepakbola. Bersahut-sahutan menjawab gombalan Kang Dharma, dan juga bersorak membuly dirinya.
Dia sepertinya sedang ikut mengerjakan soal-soal itu, dan berusaha memecahkan banyak rumus di dalamnya. Terbukti, dari caranya yang sejak tadi diam di meja guru, menarik-narik bolpoin dan juga berkali-kali membiarkan matanya fokus pada kertas di tangannya.
Untuk apa juga dia sibuk dengan soal-soal itu? Lagipula, dia bisa duduk tenang atau berjalan mondar-mandir seperti kebiasaan saat mengawasi kami.
"Kang jenengan nggeh ngerjak ne soal niki nopo (Kang, apa kamu juga mengerjakan soal ini)?" tanya salah satu teman ku, baguslah ada yang mewakili pertanyaan ku.
Kang Dharma lantas melihat soal yang masih di dipegangnya. Kemudian kembali menatap anak yang baru memberikan pertanyaan tersebut.
"Apa tidak boleh?" tanyanya
"Boleh saja, nyontek dong kang!" Lontar anak itu di sambut tawa teman-teman lainya. membuat kelas kembali bergemuruh. Bersahut-sahutan mengiyakan insiatif teman ku yang ingin meminta jawaban soal dari kang Dharma.
"Boleh saja, tapi ada syaratnya. Masing-masing dari kalian hanya boleh meminta satu jawaban saja dari ku. Terserah mau nomer berapa, dan tidak boleh memberikan jawaban itu kepada teman kalian." Balas Kang Dharma.
"Ok! Ok! Ok! Setuju." Semua anak menyetujuinya.
Dalam hati pun aku menyetujui persyaratan yang ia berikan. Toh memang kurang tiga soal yang belum aku pecahkan. Namun aku tidak ikut ramai menyoraki persetujuan.Aku hanya diam, namun mengembangkan senyum menawan.
Kang Dharma mulai melangkah meninggalkan bangku. Menghampiri satu persatu teman ku untuk memberikan jawaban yang ia pinta. Dan benar, hanya satu jawaban saja yang bisa mereka terima. Sebelum sampai di tempat ku, ada beberapa teman yang meminta rumus saja, dan tidak meminta jawaban dari Kang Dharma.
Sesampainya di bangku ku, dia pun berhenti seperti sebelumnya.
"Kamu mau jawaban nomer berapa?" tanya Kang Dharma.
Aku masih diam. Tidak langsung menjawab. Rasanya malu jika meminta jawaban dari dirinya. Andai bukan dia yang menyodorkan jawaban, mungkin aku akan lebih mudah memintanya.
"Boleh nomer 20, tanya ku?"
Dia memandang sambil mengangguk. Cepat- cepat aku mengalihkan pandangan ku, karena ternyata matanya mengandung racun untuk terus ku pandang. Kenyataan jika dia teramat tampan, apalagi saat jarak sedekat ini. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya, dan detak jantungnya. Aroma parfumnya, menyergap rongga hidung hingga membuat ku nyaman.
"Mbak, kok melamun? Ini jawabannya." Katanya. Palingan ku yang lama membuatnya berkata seperti itu
__ADS_1
Dengan segera aku menyalin jawab dari kertas yang masih di pegangnya. Tangan ku bergetar, tulisan ku awur-awuran karena aku merasa dia sedang meniti setiap inci tulisan yang sedang aku salin. Bahkan aku yakin dia sedang tersenyum, karena melihat tulisan ku tidak seindah tulisnya.
"Sudah?" tanyanya,setelah selesai aku menyalin Jawab.
Aku hanya menjawab dengan anggukan. Setelah di rasa selesai dia berlanjut pada bangku teman ku yang berada di depan ku. Dia melakukan hal yang sama. Bedanya, jika tadi dia menumpahkan tangannya di kursi yang aku duduki sambil menyodorkan kertas, kali ini dia hanya menyodorkan kertas itu, untuk di lihat sendiri oleh teman ku. Dia bahkan bersendekap dada sambil mengawasi lainya.
''Kenapa Mbak? Apa aku ada kesalahan?'' tanya kang Dharma, dia tahu jika sedari tadi aku menatapnya. Sebenarnya aku tanpa sadar juga melakukannya.
"Ti_tidak." Sahut ku, langsung pura-pura fokus pada kertas jawaban ku.
Aku harap dia tidak ke ge-eran karena ketidaksadaran ku menatapnya tadi. Bisa-bisa aku di anggapnya sama saja dengan cewek yang mengejar-ngejar dirinya.
Bel berbunyi, tepat saat teman ku yang terakhir menyalin jawab dari kertas kang Dharma. Hari ini dan jam ini adalah hari terakhir tryout kami di bulan ini. Rasanya lega saat satu pekerjaan sudah terselesaikan. Tinggal menunggu hasil dari jerih payah yang sudah kita usahakan.
Walaupun bukan hasil akhir, tapi lewat tryout ini kami bisa mengasah kemampuan kami. Kami pun bisa tahu, di mana letak kesalahan dan juga kekurangan kami dalam menyelesaikan tugas.
"Besok lusa ada Porseni antar pondok. Apa kelas tiga boleh keluar untuk melihat?" tanya Kang Dharma sebelum dia keluar dari kelas.
"Boleh kang. Malah di antara kami ada yang di ikutkan dalam lomba tersebut." Kata salah satu teman ku.
"Oh, iya. Siapa?" tanya kang Dharma
"Banyak! Hampir semua ikut kang! Kita mah, kelas berbakat!" Seru teman lainya. Di susul suara riuh membenarkan ucapan tersebut.
"Semangat, yah. Kita sama-sama berjuang!" Ucapnya.
Terdengar manis dan mendayu-dayu. Intonasi halus, namun penuh energi. Sontak membuat banyak di antara kami langsung tersipu dan melelehkan diri.
"Jenengan nggeh ikut lomba, kang (Kamu juga ikut lomba, kang)?" tanya Ais tiba-tiba.
Pertanyaan itu mewakili kami semua. Eh, aku tidak termasuk. Mana peduli aku dengan dirinya.
"Yah, lomba ngangkat galon." Jawabnya jenaka. Membuat semua tertawa.
"Oalah kang, kang. Yang benar saja?!" Seru dari teman lainnya.
"Iyalah. Saya mah, gak bisa apa-apa." Katanya merendah.
Padahal banyak dari kami yang sudah mendengar kemampuan dirinya dalam bidang olahraga. Belum juga dalam hal sains ilmiah dan juga Lain sebagainya.
Aku pernah mendengarnya dari beberapa anak, jika saat dia masih sekolah dia sudah menjadi cover boy sekolah kami. Bahkan hingga saat ini. Tidak ada nada cacat dalam dirinya, kecuali memang kadang suka tebar pesona. Namun, begitulah dirinya. Suka bercanda, dan tidak membatasi diri.
__ADS_1
"Ini pertemuan kita terakhir. Jadi untuk kenang-kenangan aku memberikan kalian coklat. Nanti habis ini, ada orang yang mengantarkannya pada kalian. Tapi, ingat jangan bocorkan ini pada kelas lain. Nanti bisa iri mereka." Ungkapnya.
Kelas mulai bergemuruh lagi. Mendapatkan kabar akan mendapatkan coklat dari kang Dharma membuat semua senang.
Sedang kang Dharma setelah di rasa cukup dia mengucapkan salam seraya keluar dari kelas kami.
Beberapa menit setelah itu, ada seorang kang yang masuk kelas kami dengan membawa beberapa kotak coklat silver queen.
"Cara ngasihnya saya absen ya. Ini anjuran dari kang Dharma. Biar saya juga bisa kenal satu per satu dari kalian juga." Ungkap kang tersebut. Aku belum mengenalnya, namun aku sering melihatnya. Saat perjalanan pulang dan balik ke pondok dulu, dia yang sering berjalan di belakang kang Dharma. Mungkin mereka teman, atau bahkan sahabat. Nyatanya, mereka satu server. Sama-sama mencuri kesempatan untuk mencari kenalan.
"Huu...Bilang saja modus!" Sorak teman-teman sekelas. Sontak membuat semua tertawa.
"Tidak apalah, yang penting dapat coklat dari kang Dharma." Desus salah satu teman ku di sela-sela keramaian antrian yang mulai berjalan.
Kang tersebut menyebutkan nama kami satu persatu. Di meminta mereka langsung maju, dan kemudian bisa langsung keluar kelas.
Aku masih duduk nyaman di kursi ku. Nama ku tidak kunjung di sebutnya. Nama yang di urutkan tidak sama dengan urutan absen biasanya. Tak apalah, dapat atau tidak tidak menjadi masalah.
Tinggal lima anak termasuk aku yang ada di dalam kelas, dan tiba-tiba kang Dharma datang lagi ke kelas kami. Dia mengatakan jika ada sesuatu yang tertinggi di meja guru.
Saat dia datang, semua teman mengucapkan terimakasih tak terhingga karena coklat itu tidak hanya satu batang, tapi dua batang. Itupun semua bermerk silver queen.
Suasana semakin sepi karena teman yang lain sudah berada di luar kelas. Tinggal aku dan satu teman ku. Aku pasti menjadi urutan terakhir dari panggil tersebut. Dan benar saja, nama teman ku terlebih dulu di panggil sebelum aku.
"Layla Najwa Fathur Rahman." Sebut kang itu dengan menatap ku. Kang Dharma yang sedari tadi masih duduk di bangku guru ikut memandang ku. Saat aku bangkit dari bangku, dia juga bangkit dari duduknya.
Dada ku rasanya panas. Mengingat kejadian lalu yang membuat ku harus berinteraksi dengan dirinya. Ku harap dia tidak mengungkit kejadian lalu itu, dan bersikap biasa seperti yang lainya.
"Ini mbak." kang yang membagikan coklat memberikan lima batang coklat silver queen kepada ku. Aku mengernyit dahi, karena jumlah itu tidaklah sama dengan teman yang lainnya.
"Kebanyakan. Berikan jumlahnya seperti teman yang lainnya." Kata ku, aku masih enggan menerimanya.
"Ambil saja. Hitung-hitung itu balasan dari pembayaran kopi yang sempat aku lupakan." Sahut kang Dharma.
Hais. Dia mengetahui jika kopinya aku yang membayar? Bimbang ingin menerima atau menolak. Menolak pun aku tidak mempunyai alasan lainnya. Menerima, nanti bagaimana aku menjelaskan pada teman yang lainya? Jika batang silver queen ku lebih banyak dari mereka.
"Jika kau tidak mau menerimanya karena sungkan jumlahnya lebih banyak dari teman mu yang lainnya. Aku bisa menitipkan coklat itu pada Ning Nada." Ujar kang Dharma seolah dia tahu apa yang menjadi kendalanya.
Masalah akan semakin runyam jika harus menyangkut Ning Nada. Bisa-bisa bukan satu kelas, malah satu pondok yang mengetahui soal coklat dan kejadian kopi tersebut.
Akhirnya tanpa bicara lagi, aku menerima coklat itu dan memasukkannya pada ransel ku.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap ku seraya pergi