(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 39


__ADS_3

Menjelang magrib rombongan sudah sampai di Rest Area Km 575 B Ngawi. Para santri di persilahkan untuk istirahat sebentar sambil menunggu magrib.


Selain parkir yang luas, di rest area ini juga menyiapkan berbagai kebutuhan perjalanan pemudik. Dari gerai makanan, minimarket, tempat ibadah, pos pengamanan, toilet hingga SPBU.


Kaki ku keluar dari dalam bus. Mata ku langsung mencari sosok Layla. Dia sudah keluar lebih awal dari ku, bersama dengan teman-teman santriwatinya.


Seluas mata memandang aku tidak juga mendapatkan sosoknya. Mungkin dia ke kamar mandi, atau sudah mencari tempat istirahat.


Ku langkahkan kaki ku dengan mengawasi setiap tempat. Beberapa teman ada yang langsung mencari kedai kopi, dan juga tempat makan.


Di sebuah gerai makanan, aku menemukan sosok Layla bersama dengan salah satu temannya. Mereka sedang duduk di salah satu bangku, gerai makan tersebut. Mungkin sedang menunggu pesanan.


Aku obral senyuman ku saat dirinya melihat ku. Bukanya membalas dia malah berpaling, dan berlagak tidak melihat ku. Akhirnya aku juga, masuk dalam gerai tersebut. Mencari tempat yang dekat dengannya. Saat mengetahui jika aku bermaksud mendekati dirinya, tanpa basa-basi dia langsung mengajak temannya untuk pergi dari bangku mereka. Padahal aku sudah duduk di tempat yang cukup dekat dengan dirinya.


Ku lihat dia menatap ku tajam, sebelum dia duduk kembali di salah satu kursi dekat dengan jendela kaca. Sekali, lagi ku hidangkan senyum ku. Sabar Dharma, dia benar-benar putri malu, yang tidak suka di pegang. Sekalipun tersentuh, dia akan menyembunyikan wajahnya. Itulah, dia gadis yang aku puja, dengan segala pesona dan harga dirinya.


Beberapa saat aku tidak lagi memperhatikan. Aku melangkah menjauh dari tempat ku, dan tidak ku tampaknya diri ku lagi di hadapannya. Aku ingin tahu, apa yang akan dia lakukan.


Senyum ku mengembang saat ekor matanya mulai mencari ku. Dia menatap tempat ku berada tadi, dan menjelajahi seisi ruangan. Aku bisa melihatnya dengan jelas, dari belakang rak camilan dekat kasir.


Pandangannya berhenti setelah seorang pelayan menyuguhkan pesanannya. Dia kemudian fokus pada hidangan di depannya.


Sambil terus mengamati dirinya. Aku memesan satu gelas kopi untuk diri ku. Sebenarnya apa yang aku lakukan sekarang? Aku bahkan tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Rasanya menikmati wajah ayunya membuat ku tidak berhenti tersenyum.


Seseorang pelayanan memberikan kopi pesanan ku. Tepat saat itu, temannya meminta izin untuk ke toilet terlebih dahulu. Dia masih meneruskan makannya. Jiwa jahil ku meronta, ingin membuat dirinya terkejut.


Aku berjalan ke arahnya dan langsung duduk di bangku belakanganya. Lebih tepatnya, di samping belakangnya. Aku menyadari keterkejutan nya, namun dengan santainya aku meletakkan kopi ku di meja di depan ku.


Dia sudah menengok ke arah ku, mungkin ingin protes, tapi tidak berani karena takut ada yang melihatnya interaksi kami.

__ADS_1


"Putri Malu, kau baik-baik saja?" tanya ku. Mata ku meliriknya, ku suguhkan senyum juga untuk dirinya.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Itu bukan nama ku," ketusnya.


Meskipun dengan amarah, aku lega dia tidak lagi cuek dengan ku. Dia mulai menjawab pertanyaan ku. Matanya lagi-lagi menyorot tajam, wajah ayu yang di buat garang. Semakin membuat ku, tertarik ingin terus mengerjainya.


"Aku suka, itu nama khusus untuk diri mu saja." Ujar ku.


Dia membisu, matanya mulai mengintai pada arah toilet perempuan di sudut gerai ini. Mungkin dia berharap, temannya itu lekas kembali dan aku cepat pergi. Aku tidak tahu, apa yang terjadi pada temannya itu. Tapi aku bersyukur karena ternyata dia tidak kunjung kembali.


"Aku mendapatkan pesan dari Mas Albi_"


Mendengar nama kakaknya itu, dia langsung menoleh ke arah ku, menatap ku tanpa jeda. Aku sedikit gugup saat tatapan itu, tidak juga teralihkan.


Aku rasa hanya nama kakaknya saja yang bisa merontokkan kebisuannya dan rasa cueknya. Buktinya, dia langsung ingin tahu tentang apa yang akan aku utarakan.


Aku tidak ingin dalam pendekatan ku, di selubung banyak dusta. Demi mencari kepercayaannya, aku memperlihatkan isi chat kakaknya itu. Dia menatap ponsel itu, membacanya dengan mimik yang entah aku tidak tahu artinya. Saat ini dia bahkan tidak mengalihkan pandangan seincipun dari layar ponselku. Rasanya aku cemburu dengan layar ponsel ku. Bahkan aku belum pernah di tatapnya seperti itu.


"Apa kau ingin menelponnya?" tanya ku. Sedetik kemudian, mata itu baru beralih kepada ku. Ada mata berbinar, lalu redup. Dia masih membisu, namun ku temukan harapan di matanya.


"Boleh, kok." Tambah ku.


Mungkin dia merasa sungkan jika harus menelpon kakaknya lewat ponsel ku. Guratan keraguan terpancar jelas di wajahnya. Menunggu dia berpikir aku langsung memencet Vidio call nomer Mas Albi. Terhubung, dan langsung tersambung.


"Assalamualaikum, Dharma!" Salam mas Albi. Dalam layar itu, terlihat senyum sumringah Mas Albi. Dia sudah berganti, pakai dengan setelan Koko dan sarung. Peci hitamnya sudah bertengkar di atas kepalanya.


Ku lirik Layla, dia sedang menatap kearah layar telpon itu. Tanpa peduli lagi dengan makanan di depannya. Layar ku belum aku arahkan pada Layla. Masih aku kuasai sendiri.


"Layla bersama, mu Dharma?" tanya Mas Albi. Mungkin ikatan batin mereka sangatlah kuat. Belum juga aku membahas soal Layla, tapi dia sudah mengira-ira jika aku sedang bersamanya.

__ADS_1


"Tidak, Mas. Sedari tadi, aku belum melihatnya." Jawab ku. Sambil mengerutkan alis ku. Ku pasang wajah datar, agar dia tidak tahu jika aku sedang berbohong kepadanya.


"Loh? Memang kamu gak ngikutin kemana dia pergi?" tanya Mas Albi. Dari suaranya, dia mulai gusar.


Aku melirik Layla, dia sudah cemberut. Bibirnya sudah maju ke depan, sambil mengerucutkan. Tidak berani berbicara, hanya langsung memalingkan muka. Meskipun begitu, dia tetap mencuri dengar pembicaraan ku dengan Mas Albi.


"Memang saya harus ngikutin kemana Layla pergi, ya Mas ? Maunya tadi begitu, tapi kayaknya Layla gak mau." Timpal ku. Sekalian aku mengadu pada kakaknya itu. Biar dia tidak salah faham, jika saat bersamanya sekarang juga karena keinginan kakaknya.


"Oalah, jadi, sekarang dia gak bersama kamu? Kamu gak tahu dia di mana?" tanya Mas Albi. Raut wajahnya mulai khawatir. Seakan-akan itu adalah hal yang fatal. Melihat ke khawatirannya, membuat ku melunak. Dengan satu gerakan, aku arahkan tangan ku, mendekat ke arah Layla. Menampakkan, wujud adiknya itu di layar ponsel ku.


"Alhamdulillah, dari tadi ternyata aku di kerjain!" Umpat Mas Albi. Aku terkekeh mendengar kekesalannya.


Layla sudah tersenyum di depan layar ponsel ku. Senyum yang mengembang, yang belum pernah dia berikan kepada ku. Boro-boro tersenyum seperti itu, senyum kecut saja, dia tidak pernah dia perlihatkan kepada ku.


Aku menyerahkan ponsel ku pada Layla. Dia semapat ragu, tapi melihat kakaknya di dalam layar ponsel ku. Akhirnya, dia membunuh egonya, dan menerima ponselku.


Agar Membuatnya nyaman. Aku pergi ke tempat lain. Tidak meninggalkan dirinya, hanya membuat ruang terbuka saja untuk dirinya. Dia begitu bahagia saat ini, dia juga seperti mawar yang merekah indah.


Nanti, akan ada waktu di mana kita akan bertemu. Saling mencari, dan kemudian duduk berdua dalam satu kursi. Bercanda, berbagi cerita dan juga duka. Melempar senyum dan tawa.


Entah mengapa, keyakinan ku pada Layla sangatlah kuat. Dialah, gadis yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anakku.


"Gus!!!" Seru Sarip. Aku tergelak seketika, hampir saja kopi di tangan ku jatuh.


"Jenengan (Kamu) kok senyum-senyum sendiri, tho?" tanya Sarip penasaran. Dia mengikuti arah mata ku, dan langsung menemukan Layla di sana.


"Oalah, lagi lihatin Najwa?" tebaknya.


Aku menyuruhnya untuk segera pergi, karena dirinya, sudah menganggu pemandangan.

__ADS_1


__ADS_2