
# Qois Albifardzan
"Kalian tidak mau buka pabrik saja, khusus kemeja."
Aku dan Andre saling pandang. Lalu tersenyum cengengesan.
"Masih belum ada modal, pak" jawabku mewakili.
"Sebenarnya, orangtuaku mau membantu. Tapi, Albi tidak mau. Katanya biar berkembang sesuai nalar saja."
"Loh, Eman, sudah ada investor. Produk kalian kan sudah terkenal juga,"
"Sudah terkenal, tapi kalau langsung melejit dan kita tidak tahu pasaran lebih besar bisa kalah, pak." Kataku.
"Iya, pak. Aku pikir-pikir juga begitu. Bisnis ini awalnya cuman main-main. Eh, taunya bisa seperti sekarang Alhamdulillah."
"Sekalian, dong! Jangan setengah-setengah kalau usaha!" Seru pak Tohar menyemangati.
"Insya Alloh nanti. Untuk sekarang biar seperti ini. Takutnya kita malah keteter dan malah tidak bisa menyejahterakan pegawai nantinya," sahutku.
"Doakanlah pak. Lagian bisnis ini masih satu tahunan. Kita juga baru saja mau wisuda. Setelah wisuda, Insya Alloh kita fokus ke bisnis ini." Tambah Andre
"Kami seperti ini pun sebab bertemu dengan bapak juga. Andai kita tidak mendapatkan penjahit seperti bapak, mungkin kita tidak masih fokus di kaos saja. Bukan kemeja,"
"Hehe... Kalau aku biasanya ya jahit. Sama anak-anak itu. Kalau soal perdagangan yang gak faham blas. Mangakanya kalian harus semangat. Lebih bisa mengembangkan bisnis kalian. Biar aku dapat pekerjaan tetap juga. Anak-anak itu pun juga bisa lebih semangat kerjanya,"
Aku dan Andre melihat pada dua orang laki-laki yang sedang tekun dengan mesin jahit tersebut. Mereka tidak mendengar apa yang kami bicarakan. Suara mesin jahit menghalau suara kami untuk mereka dengar, padahal kami satu ruangan. Perhatikan terfokus pada kain yang ada ditangannya.
Aku salut dengan pak Tohar. Beliau masih memikirkan dua pegawainya juga. Meskipun jahitan tidak banyak dan bisa ia kerjakan sendiri. Dia tidak egois, tetap memilih membagi rejekinya pada mereka.
Orang yang bisa membagi kehidupan pada orang orang lain, meskipun itu sedikit. Bagiku itu luar biasa. Sebah dermawan bukan tentang berapa banyak yang diberi, namun berapa ikhlas dan bagaimana usaha orang tersebut memberikan sesuatu tersebut.
"Mana pak, pesan kami?" tanya Andre.
"Oh....iya tunggu sebentar," jawab pak Tohar. Dia bangkit dari kursinya. Lalu menuju Almari kayu dengan tiga pintu di pojok ruangan ini. Membuka, lalu mengeluarkan beberapa kemeja yang sudah di lipat rapi dan sudah di masukan plastik bening khusus pakaian.
Bedanya dengan penjahit lain. Di sini, kita mengambil baju seperti sedang membeli baju. Ada kemasan yang menambah puas pelanggan.
Lalu beliau berjalan lagi, duduk kembali didepan kami. Menaruh pesanan kemeja kami di atas meja depan kami.
"Syukurlah, berkat mereka aku bisa menyelesaikan pesanan kalian tepat waktu," ujarnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku mengambil satu kemeja. Mengecek ulang, bukan berarti tidak percaya dengan pak Tohar. Hanya saja kita juga perlu teliti dalam mengecek barang-barang yang akan di kirim ke castemer.
Ada kalanya, hal kecil seperti itu sangat dibutuhkan untuk membuat senang pelanggan.
"Seperti biasa. Sempurna!" Seru Andre memuji. Aku pun mengangguk menyetujui.
"Alhamdulillah..." Balas Pak Tohar.
Andre mengeluarkan dompet pada saku celana. Dia harus memiringkan tubuh untuk mendapatkan benda persegi itu. Lalu membukanya dan mengeluarkan beberapa uang seratus. Menghitungnya lalu memberikan pada pak Tohar.
"Hitung kembali pak, barangkali kelebihan. Hehehe," kata Andre bercanda.
"Kalau kurang bagaimana?" Balas Pak Tohar sambil menghitung ulang uang yang diberikan Andre.
"Ya, ikhlaskan. Hehehe"
Dasar Andre dia memang senang bercanda. Karena itulah aku tidak tahu kapan dia benar-benar serius dalam berbicara.
Saat dia membuka dompetnya tadi aku sempat terhenyak. Sebab ada foto gadis yang sangat aku kenal. Meskipun hanya bibirnya saja yang terlihat aku tahu betul siapa dia.
Tapi tidak mungkin aku menanyakan hal itu pada Andre saat ini. Bakal runyam dan kita tidak beres dan segera pulang. Nanti, atau kapan aku akan menyalakan hal itu. Sekarang, sabar Albi...
"Alhamdulillah, tidak kurang dan tidak lebih." Ujar Pak Tohar.
"Kami pamit dulu, ya pak... Terimakasih untuk kerjasamanya," kata ku.
"Sama-sama. Senang bisa membantu," balas pak Tohar.
"Ok, Bro! Kami pamit dulu. Assalamualaikum!" Seru Andre pada pegawai pak Tohar.
Seruan Andre lebih keras. Jadi mereka mendengarnya. Mereka melambai-lambaikan tangannya sebagai salam perpisahan.
Pak Tohar mengikuti kami sampai teras. Kami bersalaman, lalu mengucapkan salam.
"Kita langsung ke expedisi atau kantor?" tanya Andre.
"Kantor. Kita perlu mengemas kemeja ini dulu kan?"
"Ok."
Andre masuk ke dalam mobilnya. Aku mengendarai motor. Kami mengendarai kendaraan masing-masing. Menuju tempat yang sama.
__ADS_1
Kami sampai disebuah rumah berukuran minimalis yang kami sebut kantor. Ya, rumah ini adalah hasil kerja kami berdua. Meskipun kecil tapi, aku bersyukur kami lunas membelinya.
Ada tiga pegawai yang setiap hari kesini. Bagian pemasaran, admin dan pengemasan.
"Assalamualaikum..." Salamku di ambang pintu.
"Waaikumsalam..." Balas Adit_ pemuda dengan wajah hitam legam dan juga rambut ikal itu yang pertama menjawab salamku. Dia bagian admin. Membalas semua pesan dari costemer adalah tugasnya.
"Waaikumsalam...." Adnan baru saja keluar dari kamar. Pemuda dengan kaca mata dan super rapi. Dia bagian pemasaran.
"Hai, bos! Kalian kesini hari ini?!" Paling ujung, di bagian dapur Bagas. Walaupun dia hanya memakai kaos singlet dan celana sobek di bagian lutut. Tapi saat mengerjakan packing dia paling rapi dan cekatan. Ah! Semua saling melengkapi. Dan mereka bisa mengimbangi misi visi kami.
"Kalian sudah makan?" tanya Andre.
"Baru saja. Tapi, jika bos bawa makanan pastilah kami mau." Jawab Bagas.
Mereka meninggalkan pekerjaan mereka. Menyambut kami di ruang tamu yang masih hanya ada karpet untuk alas duduk.
"Nanti kita delivery... Sekarang packing ini dulu. Selesaikan pekerjaan kalian. Masih kurang 45 menit untuk jam pulang kalian."
"Ok!" Seru mereka bertiga.
Mereka kembali ketempat masing-masing. Hanya Bagas yang tertinggal. Dia menunggu barang untuk dipacking lagi.
"Semua pesan hari ini sudah selesai semua, gas?" tanyaku sambil mengeluarkan satu persatu kemeja dalam tas besar.
"Baru saja selesai. Alhamdulillah bos, bulan ini banyak orderan. Termasuk pesanan untuk kaos seragam kelulusan SMA atau SMP. Bahkan ada juga gerombolan ibu-ibu yang mau memesan seragam senam mereka pada kita,"
"Mereka mendesain sendiri atau minta kalian yang desain?"
"Desain sendirilah... Baru hari ini mereka mengirim desain kaosnya pada kami."
"Tapi, Masya Alloh... Harus super sabar menghadapi emak-emak itu. Kita baru diel setelah hampir dua Minggu bernegosiasi. Ada aja yang ditanyakan..." Sahut Adit.
Kami tertawa. Wajahnya frustasi. Wajar saja urusan chat dengan costemer itu urusan dia.
"Yang sabar, namanya juga ibu-ibu." Kataku.
"Kamu belum tahu, dulu aku sama Albi gimana riwehnya balasin satu persatu chat costemer sendirian, lalu ngemas sendiri. Belum promosi. Mau hati remuk dapat PHP yang kudu legowo." Cerita Andre mengenang masa lalu.
Perjuangkan kami tidak semulus yang dilihat orang. Mungkin beberapa orang memikirkan bahwa bisnis yang kita bangun sangatlah mudah dijalani. Padahal didalamnya kita berulang kali kena PHP dari costemer dan berulang kali salah dalam memilih bahan. Yang akhirnya hampir kekurangan dana. Bahkan sempat putus asa sebab tidak ada lagi yang bisa dibuat modal. Mana kami juga harus kerja sambilan untuk mengumpulkan modal kembali.
__ADS_1
Kalau aku mengalami hal itu wajar. Tapi, Andre? Meskipun dia bisa meminta orang tuanya langsung. Dia tidak melakukannya. Dia tetap setia menjelajahi pekerjaan dari mulai Nol. Berjuang bersama hingga bisa sampai sekarang.