
Semua tenda sudah bersih, saat rintikan hujan mulai berjatuhan. Layla mengajak ku berlari ke arah gedung sekolah. Sebelum itu, dia memberitahukan pada temannya jika dia akan balik ke pondok, nanti setelah aku pulang. Meminta izin pada keamanan agar, nanti di berikan keringanan.
Pertandingan futsal masih saja berlangsung, meski hujan menghantam. Namun, yang ada di tengah lapangan hanya ada para pemain. Para spoter sudah mencari tempat teduh di emperan lantai satu.
Sedang kami, ada di sebelah selatan lapangan. Di gedung lantai dua yang menjuntai lapang. Jarang yang ada di sini, hanya beberapa orang saja. Itupun, kemudian pergi membawa tas mereka untuk segera pulang.
"Jadi kita terjebak di sini?" tanya Andre.
"Mau bagaimana lagi, mau lari kemana lagi?"
Aku juga tidak tahu, kemana arah yang seharusnya kita lewati. Hujan semakin deras, dan menyisakan hawa panas yang mulai memudar.
"Kita di sini?" tanya ku pada Layla. Dia membiarkan kami berdua berdiri tanpa tahu apa yang harus di lakukan. Entah apa yang membuat tiba-tiba diam dan tidak mengarahkan.
Matanya memandang pertandingan futsal, mengedar pandang tak tentu tujuan. Mungkin saja, dia sedang mengikuti langkah bola yang sedang di tendang.
"Gak, apa-apa, kan? Tadinya, mau aku ajak ke dalam kelas. Tapi, kayaknya ada orang di atas. Nanti bahaya kalau ada kalian juga." Jawab Layla.
Aku mengangguk mengerti. Barangkali yang dia maksud bahaya, adalah nanti saat tidak sengaja kami berkumpul dengan santriwati yang bukan muhrim. Bisa-bisa, mereka terkena sanksi pelanggaran.
"Ayah tidak menelepon?" tanya Layla.
Aku sampai lupa mengabarkan jika kami sudah bertemu. Pastilah, banyak panggilan masuk dari rumah. Biasanya, ibu atau ayah akan menanyakan keadaan kami.
Ku rogoh, hape dalam saku jaket ku. Sedari tadi benda persegi panjang itu, aku biarkan mati. Saat aku nyalakan, ternyata malah tidak ada sinyal.
"Tidak ada sinyal, Nduk." Balas ku.
Layla membalas dengan 'Oh' kecewa. Dia pasti juga ingin mendapatkan kabar dari orang tua kami. Sudah lama mereka tidak saling bicara. Terlebih, beberapa bulan terakhir, hanya aku yang menyambang.
Keheningan mulai menyelinap. Pertandingan futsal terpaksa di berhentikan karena hujan semakin ganas bercucuran. Lapangan di depan kami berangsur sepi, tak berpenghuni.
"Mereka semua, anak sekolah ini?" tanya Andre. Matanya memandang ke arah gedung berlantai tiga di seberang gedung ini. Di sana, banyak anak yang sama terjebaknya seperti kami. Sebagian besar adalah atlit yang baru saja bertanding.
"Bukan, itu dari pondok lain. Lebih tepatnya, gedung itu di khususkan untuk mereka. Kami sebagai tuan rumah, tidak mungkin juga membiarkan begitu saja." Jawab Layla.
Layla bercerita, jika acara Porseni ini menyangkup beberapa pondok pesantren di daerah serang. Walau belum seluruhnya, tapi sudah ada sepuluh pondok pesantren yang ikut bergabung. Untuk tempat penyelenggaraan, biasanya di urutkan dari pondok yang tertua. Tapi, sudah tiga periode ini pelaksanaan Porseni ada dia pondok ini.
__ADS_1
Penjelasan Layla terhenti, ketika kami menangkap langkah kaki dari arah tangga. Mata kami tertuju, ingin mengetahui siapa yang akan datang di antara kami.
"Salwa?"
Layla bergeming menyebut nama gadis yang baru saja turun dari tangga. Dia bersama salah satu temanya.
Saat melihat kami, mereka sama terkejutnya. Hingga membuat langsung kaki mereka terhenti.
"Hai," Sapa Andre dia langsung menyapa ke dua gadis itu sambil memainkan jemari tangannya.
Layla tersenyum, ku lihat Salwa juga membalas senyuman. Kenapa tiba-tiba, suasana menjadi mencekam. Layla pernah bercerita, jika Salwa adalah temannya. Tapi, kenapa mereka tidak saling sapa, atau mungkin sudah terwakilkan dengan senyuman tadi?
"Kita di sini dulu ya, Sal. Nunggu hujan agak reda." Kata teman Salwa, mencegah langkah Salwa yang akan beranjak.
Aku tidak tahu, apa yang terjadi antar keduanya. Tapi, lagi-lagi mereka hanya berbicara dengan isyarat mata.
Bertambah lah penghuni koridor ini. Salwa dan temannya memutuskan untuk ikut menunggu redanya hujan. Berjajar menatap lebatnya air yang turun, sambil merasai keheningan, dan juga rasa dingin yang mulai merajai.
Ku lihat Layla mulai mengusap-usap ke dua tangannya. Sambil sesekali memeluk tubuhnya, dengan kedua lengannya. Pastilah, dia sedang kedinginan. Dia hanya memakai baju seragam tanpa penutup lainya.
Adik ku itu, tertegun sebenar menatap Andre yang tersenyum menawan. Apakah, Andre sedang benar memerankan pangeran, untuk melindungi permaisurinya.
Jaket yang tadi aku ingin lepas, kembali aku gunakan lagi. Biarlah, Andre Kedinginan. Itu keinginannya sendiri. Siapa suruh berlagak sok perhatian.
"Ya Alloh, Salwa! Bibir mu, biru. Apa kau kedinginan!" Seru gadis yang sedari tadi duduk di samping Salwa.
Mata ku langsung menatap ke arah Salwa yang terlihat sedang menautkan tangannya untuk dia usap-usapkan. Dia mencari kehangatan, dari gesekan tangannya.
"Kamu bisa memakai jaket ku, Mbak." Kata ku seraya melepaskan jaket jins ku. Tidak etis rasanya, jika ada seseorang perempuan kedinginan seperti itu. Lalu aku membiarkannya begitu saja.
Dengan cepat teman Salwa mengambil jaket tersebut. Lalu dengan sigap membantu Salwa mengunakan jaket tersebut. Dengan menunduk, malu Salwa berkata, " Terima kasih, Mas."
Aku mengulum senyum. Meskipun senyum malunya dia coba sembunyikan. Tapi, dari wajahnya bisa aku pastikan, jika rona wajahnya sekarang, sudah cukup membuatnya hangat.
"Layla, apa kau masih kedinginan? Butuh, penghangat lagi?" tanya Andre di sela deru hujan. Aku mulai memasang mata mengancam, jika dia mulai macam-macam.
"Tidak, Mas. Jaket Mas Andre sudah cukup menghangatkan." Jawab Layla dengan senyum simpul. Dia juga mempererat jaket itu, merengkuh tubuhnya. Seakan itu adalah pelukan hangat yang Andre berikan.
__ADS_1
Kenapa aku merasa denyut jantung ku tersayat-sayat. Apa hujan deras ini mulai membuat tubuh ku tidak waras? Ku lihat jam tangan. Sudah hampir petang, dan kami masih di sini dengan hujan.
Semestinya, sehabis magrib nanti kami harus pulang. Tapi, jika keadaannya seperti ini? Apa bisa pulang, terlebih aku belum cukup puas menikmati waktu dengan Layla.
"Aku ke lantai atas dulu, mencari sinyal." Kata ku. Ku lihat panggilan tak terjawab dari ibu dan ayah. Barang kali mereka mencari kabar, keadaan kami.
"Aku ikut!" Sahut Layla, dia sudah akan beranjak saja mengikuti langkah ku
Andre juga mengikuti langkah kami. Tapi segera aku mencegahnya.
"Kau di sini, tidak ada laki-laki lagi. Jaga mereka, setidaknya jika terjadi apa-apa, ada diri mu di sini." Ucap ku.
Andre mengangkat bahunya, sambil menjulurkan bibir bawahnya ke depan. Merasa tersisihkan.
"Ok. Tapi, jangan lama-lama." Balasnya.
Aku tidak menghiraukan kata-katanya. Langsung meninggalkan begitu saja.
Kaki ku mulai menaiki tangga. Tangan ku masih mengutak-atik hape. Mencoba menghubungi nomer rumah.
Tiba-tiba ku rasakan hawa hangat dari tangan kiri ku.
Selesai aku menaiki tangga, seraya menoleh ke arah Layla yang sudah menggengam tangan kiri ku. Dia menyalurkan kehangatan dari ke dua telapaknya itu.
"Dingin, ya Mas?"
Aku tersenyum. Sambil menggelengkan kepala.
"Sudah enggak." Jawab ku menyeringai.
Layla menuntun ku pada salah satu kelas. Dia membukanya. Lalu setelah kami masuk dia menutupnya kembali.
"Kok di tutup?"
"Gak papa, ini kelas ku. Di sini akan hangat kalau pintu di tutup. Fentilasi hampir tidak ada fentilasi udara di sini." Jawab Layla, dia bahkan melepas jaket Andre dan meletakkan pada bangku begitu saja.
Aku melihat sekeliling ruangan. Benar apa yang di katakan. Ruangan ini hangat, meski di luar hujan lebat.
__ADS_1