
Qois Albifardzan
"Bi!" Teriakan Andre menghentikan langkahku.
"Buru-buru amat, mau kemana?" tanyanya setelah berhasil menyusul langkahku. Kami terus berjalan ke arah yang sama.
"Mau beli sesuatu buat Layla. Lusa dia lulus MA. Jadi, aku ingin memberikan kado untuknya."
"Wah! ikut dong! Aku juga pengen ngasih sesuatu sama Layla. Sebagai calon suami yang baik, aku harus ada disaat kelulusannya!" Dengan begitu bangga Andre mengatakan hal tersebut.
Aku menjulurkan bibir bawahku.
"Sok tahu takdir, Lo!" Aku mendorong punggungnya pelan hingga membuat dia sedikit terhuyung ke depan.
"Ck! dibilangin, kok. Aku serius sama Layla. Sumpah, dah! Demi Allah. Aku bakal ngelamar dia setelah dia lulus kuliah. Yah, soal nikah ... setelah dia kuliah juga gak apa-apa atau ... dia mau nerusin kuliah sambil berbakti sama gua juga gak apa-apa. Terserah Layla maunya bagaimana. Aku bakal terima apapun yang dia putuskan."
Entah gurauan atau memang sebuah impian nyata. Tapi apa yang di ungkapkan sahabatku itu langsung menancap ke ulu hatiku. Aku sampai berhenti berjalan dan membiarkan dia terus melanjutkan langkahnya.
"Kalau dia tidak mau menikah denganmu?" tanyaku.
Andre menoleh, dia tidak mendapatkan aku sampingnya. Aku ada jauh di belakangnya.
"Lah, kenapa kau masih ada disana!" Dia kembali dan menghampiri ku lagi.
"Kalau dia tidak mau menikah denganmu bagaimana?" Ulangku lagi.
Andre sedikit berpikir sejenak. Aku sama sekali tidak melihat keseriusan di wajahnya. Tapi dia selalu mengatakan jika dia akan melamar Sasa.
"Apa itu akan terjadi, BI? secara aku sahabatmu, aku kenal orang tuamu. Orang tuamu juga sudah faham betul bagaimana aku. Yah, meskipun kau sering mengatakan aku play boy, tapi kenyataannya mereka tetap menerima aku dengan baik, kan. Kemungkinan kecil jika Layla tidak menerimaku adalah dia sedang mencintai seseorang."
Deg!
Aku tidak pernah berpikir jika Layla akan mulai nyaman dengan laki-laki selain aku. Aku meneguk liur ku sebab tiba-tiba tenggorokanku kering dan rasanya ada sesuatu yang mengganjal.
"Dan setahunku, dia tidak memiliki seseorang itu. Cuman kamu yang dekat dengan saat ini, tapi gak mungkin kan kalian menikah. Masak iya, kamu mau menikah dengan putri dari orang tua yang mengadopsimu. Itu kurang ajar sekali. Seperti tidak punya rasa terima kasih."
"Apa yang kamu maksudkan, dre? kau sedang menyinggungku?" Tanpa sadar aku langsung meninggikan suara ku.
"Lah, kamu tersinggung? Apa jangan-jangan kamu memikirkan hal itu?"
Aku dibuat buntu. Terdiam membisu.
__ADS_1
"Gak mungkin, kan bi? Kau selalu bilang jika Layla adalah adikmu dan kamu adalah kakak. Aku juga pernah menanyakan hal tentang perasaan lain kepadamu kepada Layla. Tapi kamu menjawab datar-datar saja. Tapi kenapa sekarang, kau seperti terusik dengan ungkapanku itu? Kau tidak sedang merasakan sesuatu yang lebih dari seorang kakak kan pada Layla?"
Andre semakin membuat aku tersudut. Pikiranku buntu. Tapi apa yang dikatakan Andre betul. Mana bisa aku memikirkan menikah dengan Layla. Sedang dia adalah putri dari orang yang telah mengambil aku sebagai anaknya.
Aku datang sebagai kakak Layla, bukan sebagai kekasih. Itu hal yang mustahil. Apa yang akan orang pikirkan nanti? Jika aku menginginkan Layla sebagai istri.
Mungkin keluarku menerima, tapi bagaimana dengan masyarakat? Apa mereka akan bisa memahami? Yang ada keluarga yang semalam ini menampungku akan terkena dampak buruk.
Aku harus mengubur angan-angan konyol itu. Aku harus bisa melepaskan perasaan yang tak seharusnya ada ini.
"Ya gak mungkinlah! Kau mikirnya jauh sekali, ndre! Layla ya adikku. Mana mungkin dia jadi istriku!" Aku menepuk bahunya. Namun aku yang rasakan sedang di bangunkan oleh mimpi indahku.
Aku kembali jalan dan tersenyum pada Andre. Aku buat biasa saja dan datar-datar saja. Ya, aku harus melupakan bahwa aku adalah laki-laki yang bisa menikah dengan Layla. Dan terus mengingat jika aku adalah laki-laki yang akan menjadi kakak laki-laki dari Layla.
"Aku dan Layla sudah seperti saudara kandung. Aku lebih tahu perasaannya. Jadi aku pikir, kau bukan tipenya. Tapi jika nanti memang benar dia adalah jodohmu. Ok aku akan terima. Tapi ingat! Jika kau menyakitinya, barang satu kali saja! Aku akan melupakan bahwa kau adalah sahabatku! Ingat itu!"
"Hahahaha ... kau sudah mengatakan hal itu, sejak lama. Aku sudah hafal. Tapi syukurlah,"
Kami sudah kembali berjalan dan menyusuri koridor kampus untuk menuju parkiran.
"Syukurlah kenapa?" tanyaku..
"Aku selalu merasa bahwa kau mencintai Layla. Tapi jawaban yang kau berikan barusan, membuat aku tenang," Andre menghela nafas ringan, lalu tersenyum lebar.
Kenapa juga aku harus sadar. Jika hanya akan membuat rasa sesak dan menyulut rasa sakit yang tak bertuan.
Sampai di parkiran aku menaiki motorku. Mengubah posisi agar bisa keluar dari parkiran.
"Kamu bener mau ikut?" Aku memicingkan mata sebab Andre terlihat menanti ku.
"Iyalah! Sekalian aja. Masak mau sendiri - sendiri."
"Mobilmu?"
Dia melihat ke arah mobilnya yang terparkir diantara mobil-mobil mahasiswa yang lain.
"Gak apa-apa, biar disini saja. Aman lah!"
Andre memang tidak terlalu perduli dengan barang-barangnya. Dia tidak pernah berpikir bahwa mobil, motor, laptop atau apapun itu sebuah beban yang harus di jaga.
Itulah kenapa, aku masih tidak setuju jika dia menjadi pasangan Layla.
__ADS_1
"Udah! Ayo!" Andre sudah berada di boncengan. Dia menepuk bahuku kencang dan mengintruksikan agar lekas menjalankan montor. Menuju ke Sebuah pusat berbelanja di tengah kota Kediri.
Sampai disana aku langsung mengambil arah ke bagian aksesoris. Pertama yang ada didalam benakku adalah membeli buket coklat dan bunga. Untuk bunga aku meminta mereka mengirim saat hari keberangkatan ke sarang.
"Aku juga mau pesan," kata Andre dengan memilih beberapa buket bunga dan coklat.
"Kreatif sedikit lah! Masa sama," aku membully.
"Ya gak apa-apa. Aku nambah satu lagi, buket ini."
Andre menunjuk pada buket besar uang seratus ribuan. Itu hanya contoh saja, kita bisa memesan sesuai keinginan kita.
Ingin kesal tapi mungkin itu adalah rejeki Layla. Jadi aku diam saja.
Aku memesan apa yang aku perlukan. Andre juga memesan apa yang dia anggap pantas untuk diberikan pada Layla.
"Dikirim atas nama siapa?" Tanya penjaga toko itu..
"Layla..." Aku dan Andre kompak menjawab.
Penjaga toko itu tercengang. Jawaban kami sama dan tentunya pada orang yang sama pula.
"Gini mbak, jangan salah faham dulu. Layla kami sama. Tapi dia Abangnya dan saya calonnya." Andre menjelaskan, padahal penjaga itu tidak bertanya.
"Wah ... beruntung sekali mbak Layla. Memiliki kakak dan calon suami yang baik dan romantis seperti kalian." Mbak penjaga itu menyinggung senyum dan lantas menulis sebuah nama dia kertas penerimaan.
Layla pantas diratukan. Bahkan jika tidak ada laki-laki yang menjadikan dia seorang ratu. Maka aku sendiri yang akan membuat dia merasa menjadi ratu.
"Karena pesanan banyak. Kurir kami akan mengantar buket ini besok. Jadi kalian tidak perlu kerepotan untuk membawa sekarang,"
"Kan cuman ti--"
Belum juga aku selesai berucap, aku sudah disuguhi nota dengan deretan pesanan. Aku melihat Andre, dia sudah memainkan alisnya.
"Apa sih yang gak buat Layla."
Akhirnya aku menghela nafas.
"Awas saja, kalau kau cuman buat dia baper saja!" ancamku dengan melayangkan tinju. Tidak sampai ke wajahnya ataupun anggota tubuhnya, hanya untuk menggertak saja. Tapi jika yang aku takutkan terjadi, maka aku tidak akan segan dengannya lagi.
"No! Aku serius dengan Layla." Kembali Andre meyakinkan. Membuat aku menurunkan kepalan tanganku.
__ADS_1
Haruskah aku mengikhlaskan? Kalah sebelum berperang, mungkin inilah yang pantas diucapkan.