(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 33


__ADS_3

Sehabis sholat Isya' kami sekeluarga berpamitan. Sudah lima hari kami di sini, dan saatnya untuk kembali ke Kediri. Dua hari lagi, semua kegiatan mulai aktif. Kuliah, kerja, dan tentunya Layla juga harus bersiap untuk kembali ke pondok.


Tidak di ragukan, pasti ada rasa kehilangan saat perpisahan ini. Tidak tahu kapan lagi, kami semua akan berkumpul kembali.


Terbesit dalam angan rasa takut, jika tidak bisa berjumpa lagi. Tidak ada yang bisa mengetahui ajal seseorang. Apalagi Akung, beliau sudah sangat sepuh.


"Dongak no aku. Mugo-mogo, di paringi umur panjang, jik iso delok putu-putu sukses, lek iso yo mugo-mugo iso delok Albi utowo Layla nikah sek, lah (Doakan aku. Semoga di beri umur panjang, bisa melihat cucu-cucu ku sukses. Kalau bisa, semoga bisa lihat Albi atau Layla menikah dulu)." Pesan beliau sebelum kami berangkat tadi.


Tentang jodoh dan kematian. Siapa yang tahu, siapa dulu yang akan menghampiri diri kita. Ke duanya adalah takdir yang tidak bisa di tentang. Dan keduanya, adalah rahasia kehidupan setiap insan.


"Mas, Salwa minta nomer ha-pe mu," kata Layla.


Tadi aku menyuruhnya untuk duduk di bagian kursi belakang. Barang kali, jika dia mengantuk bisa langsung tidur. Tapi, dia bersikeras untuk menemani ku, menyetir mobil.


Ayah dan ibu sudah tidak bersuara lagi, aku lihat dari kaca mobil, beliau berdua sudah terlelap. Sedang Layla baru saja menyalakan ponselnya yang selama di Trenggalek ini, dia non aktifkan.


Layla termasuk anak yang tidak gila dengan dunia maya. Bahkan, termasuk cuek. Biasanya, jika santri liburan, pasti yang mereka lakukan adalah mencari sesuatu yang lagi trend di media sosial. Menjelajah ke berbagai situs dan juga gemar meng-upload setiap momen liburan mereka. Tapi, semua itu tidak berlaku kepada Layla. Jangankan, status FB atau Insta story IG, WhatsApp saja, dia jarang online.


Baru saja, di nyalakan bunyi motif hape nya berbunyi terus. Dia sampai kesal, dan menonaktifkan deringnya.


Salah satu notifikasinya, adalah chat dari gadis yang bernama Salwa. Aku kira, aku tidak akan mendengar namanya lagi. Tapi, ternyata nama itu kembali hadir. Bahkan dia meminta nomerku.


"Dia kelas tiga,kan? Sama seperti,mu?" tanya ku sebelum aku menjawab iya dan tidak.


"Iya. Katanya, dia bakal nikah kalau sudah lulus." Jawab Layla, matanya masih menatap layar ponsel di tangannya.


"Hah! Sudah punya calon?" kaget ku

__ADS_1


Layla menatap ke arah ku, matanya melotot sempurna.


"YA! KAMU, MASS!!" Ketus Layla.


Gendang telinga ku mendengung karena nada bicara Layla. Aku sampai harus mengelus-elus telinga ku, agar kembali normal.


Dia sedang marah, atau sedang kesal atau kenapa? Tiba-tiba Moodnya memburuk dan menyeramkan.


"Ya santai aja, Nduk. Mas kan, cuma tanya. Lagipula, kok bisa Mas yang jadi calonya. Tahu, orangnya aja belum." Ujar ku. Agak ku pelankan nada bicara ku, agar tidak menyentil hatinya. Walaupun, aku juga tidak tahu, sebab apa dia kesal seperti itu.


"Sudahlah, Mas. Ini di jawab apa coba chatnya? Boleh, nggak di kasih nomernya? Kalau boleh aku send, nih nomernya! Kalau gak boleh aku harus bilang apa? Nanti aku di kira pelit, gak mau bagi nomer kamu. Di kira adik agresif sama kakaknya? Gimana? Di jawab apa? Ngomong? Jangan diam aja!!! Lagian ngapain sih, mau PDKT harus lewat aku dulu. Gak langsung ke orangnya...Serba salah, jadinya!!! Gimana?! Di jawab apa, atau nih, ambil telpon sekalian! Biar sekalian jelas semuanya!!!"


"Nduk-Nduk...Kenapa, tho? kok rame bangeti?"


Aku menoleh ke belakang, melihat ibu terbangun dari tidurnya. Aku melirik ke arah Layla yang membuang muka. Wajahnya merah padam.


"Hehehe. Mboten nopo-nopo, Buk. Pun jenengan sare maleh (Tidak ada apa-apa, Buk. Sudah, Ibu tidur lagi saja)" Jawab ku.


Mendapati Layla tidak lagi bersuara, ibu kembali meneruskan tidur. Rasa kantuknya mungkin, tidak bisa tertahan.


Jalan malam sangat sepi. Kami baru saja memasuki wilayah Kediri. Untuk sampai ke rumah mungkin sekitar setengah jam-an lagi. Aku masih diam, Layla juga terlihat acuh.


Entah apa yang dia sedang pikirkan. Dia sedang marah dengan siapa, hingga melampiaskan amarahnya ke pada ku. Aku jadi teringat, dirinya saat malam itu, malam sambangan itu. Dia juga marah tidak jelas, uring-uringan tanpa sebab.


Aku meraih ponsel Layla yang di biarkan begitu saja. Melihat pesan-pesan singkat dari teman-temannya. Dia hanya melirik sebentar, kemudian acuh lagi.


Aku melihat pesan singkat dari Salwa. Dia bahkan sudah mengirim pesan sehari setelah kepulangan Layla dari pondok. Mungkin terbenam atau sengaja tidak di balas oleh Layla. Pesan itu, baru saja terbaca.

__ADS_1


Aku tersenyum, melihat pesan singkat itu. Tidak sengaja aku juga melihat foto profilnya. Tertegun beberapa saat, karena takjub dengan kecantikannya. Inikah dirinya? Sungguh menawan, dan enak di pandang. Pantas saja, Ibu langsung setuju saja, setelah melihat bertemu dengannya. Laki-laki mana yang bisa menolak dirinya? Dia tidak hanya cantik, bahkan seorang putri dari seorang Kyai.


Mengingat itu, hati ku menjadi ciut. Siapa aku, sampai bermimpi berjodoh dengan dirinya? Aku bahkan hanya seorang yatim piatu yang sedang beruntung saja, karena terlah di pungut oleh keluarga Layla.


Ku hela nafas ku dalam-dalam. Ku usik, rasa penasaran ku, dan aku mengirim balasan untuk chat yang sudah lama terabaikan.


Waaikumsalam, Salwa.


Maaf baru saja membalas. Salam dari Mas Albi juga. Semoga kamu dan keluarga sehat selalu di sana.


Mohon Maaf, bukanya tidak ingin di hubungi, atau memecah silaturahmi. Tapi, alangkah baiknya jika berkirim pesan dengan Mas Albi, setelah kamu menyelesaikan ujian mu. Dia bilang, dia tidak ingin menganggu mu terlebih dahulu saat ini.


Semoga kamu, mengerti maksud ku.


Send.


Aku kembalikan lagi ponsel Layla di atas dasbor lagi. Baru saja, aku meletakkan. Tangan Layla dengan cepat mengambilnya. Dia langsung melihat chat balasan yang aku kirimkan pada Salwa.


"Kenapa gak sekalian? Biar nanti habis lulusan kalian bisa langsung nikah! Bukankah, lebih cepat lebih baik!" Nada nya masih tinggi.


"Ya, kamu juga sudah membacanya. Itu alasannya..." balas ku.


Layla melirik tajam ke arahku. Dia kurang senang dengan jawaban ku, atau memang ada alasan tertentu.


"Kamu itu takut, di kira agresif atau takut, aku sama Salwa?!" tanya ku. Menebak isi pikiran Layla. Aku baru teringat, perubahan emosinya malam sambangan itu, juga karena semua orang membicarakan Salwa.


"Ya...Ya takut di kira Agresif, lah!'' Ujarnya ketus. Aku melihat gelagat kebohongan di nada suaranya. Seperti apapun kemarahannya saat ini, tidak tahu mengapa itu membuat ku geli dan ingin tertawa. Bahkan, aku tidak sedikitpun khawatir akan kemarahannya. Malah bahagia, aneh bukan?

__ADS_1


"Memangnya kamu mau? Kalau Mas Albi mu ini, cepat menikah dengan Salwa?" tanya ku.


Dia seperti terkejut dengan pertanyaan ku. Tidak langsung menjawab, malah menatap ku. Entah apa yang sedang ia cari dengan matanya itu. Aku menaiki alis, sambil tersenyum menyeringai. Menunggu jawabannya.


__ADS_2