(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 7


__ADS_3

“Mas, Ayah sama ibu, mana?"


“Ayo, mereka di sana." Jawab Mas Albi. Tanpa menunggu dia menggandeng tangan ku. Aku mengikuti langkahnya ke arah sambangan paling ujung. Tidak aku hiraukan beberapa santri yang berbisik, dan menatap iri dan juga tanda tanya di sekitar ku. Sekelibat, aku melihat Salwa mengintip dari jendela Mushola Ndalem.Saat aku mengetahui itu, entah kenapa langkah ku ku percepat, mengimbangi Mas Albi dan menutupi dirinya dari pandangan santri lainya, termasuk Salwa.


“Kenapa, Nduk?"


“Gak papa, ayo!'' Aku berganti menggandeng tangan mas Albi, dan segera berlari kecil ke arah sambangan.


“Assalamualaikum... “ Salam ku. Kulihat Ayah dan ibu beliau sedang menunggu kedatangan kami, aku langsung menyalaminya dan mencium kedua pipi mereka bergantian.


“Sehat, Nduk?" Tanya Ayah. Dia mengelus kepalaku dengan lembut.


“Alhamdulillah, Ayah, sehat juga? Ibu juga?" Tanya ku balik. Teringat saat terakhir kali melihat, Bapak sedang sakit.


“Alhamdulillah sehat.“


“Boleh keluar gak Nduk?" Tanya Mas Albi tiba-tiba.


“Ndak boleh Mas. Bolehnya Cuman di depan pondok situ aja. Ada apa?"


“Mau beli es sama ta'jil. Kirain kamu boleh keluar , ya udah aku aja yang keluar sebentar."


“Aku ikut.“ Rengek ku


“Katanya, gak boleh keluar? “


“Di depan pondok boleh. Belinya di sana aja, kan banyak.“


“Wes nak depan pondok, ae.“ Sahut Bapak.


“Nggeh pun. Ayah mau aku beliin apa?“ Tanya Mas Albi.


“Ndak usah. Ko lek tumbas Kabeh , gak onok sing maem masakane ibu mu. (tidak usah, nanti kalau beli semua tidak ada yang makan masakan ibu mu)“


“Walah Pak. Lek pengen matur ae, maem masakane ibu kan wes bendino .(kalau ingin bilang saja. Makan masakan ibu kan sudah Setiap hati)“


“Gak Waleh buk, masakane ibu paling enak sak dunyo(Tidak bosan buk, masakannya itu itu paling enak sedunia)“


“Ayo nduk, lama-lama nanti kamu baper lihat Ayah sama ibu.“ Seru Mas Albi , dia beranjak dari tempat duduk nya.


Aku ikut beranjak dari tempat ku juga. Mengikuti langkahnya keluar ruangan. Ayah dan ibu geleng-geleng melihat tingkah kami.


“Wes buk, Pak. Monggo di lanjutkan. ‘’ kataku sekaligus berpamitan sebelum kami keluar.


Kami ke depan pondok, di sana sudah berjajar pedagan ndadakan yang menyediakan banyak makan, minuman, cemilan dan lain sebagainya. Kenapa pedagang ndadakan, karena Meraka hanya berjualan pada waktu bulan ramadhan saja.


Biasanya, tidak ada penjual sebanyak itu saat hari biasa. Pihak pesantren tidak melarang mereka berjualan, asal saat sholat dan terawih mereka juga ikut berjamaah. Dan menutup dagangan sebentar. Lagipula di santri putra tidak mengharuskan ngekos makan di pondok. Mereka bebas makan di warung-warung dekat pondok.


Walhasil, pedagang di depan pondok ramai oleh santri putra. Santri putri boleh ikut membeli saat sambangan saja.


“Kamu pengen apa nduk?"


“Apa, ya, Mas. Bingung. Pengen semua."


“ Walah, ya, jangan semua. Kolak ya, atau es buah itu?“


Mas Albi menuju tempat pedagang es buah. Penjualannya seorang perempuan setengah baya dengan di temani anak umur dua tahunan. Dari pedagang lainya gerobaknya paling tua, sebenarnya cukup bersih. Tapi gerobak yang sebagian depan sudah ada guratan di makan rayap membuat kesan lusuh, dan tak terawat . Mungkin karena itu juga membuat jarang pembelinya.


“Buk, es buah, sekawan nggeh.“ Kata Mas Albi


“ Nggeh. Di tunggu nggeh mas. Monggo ... “ Ujar ibu itu, mempersilahkan kami duduk di kursi plastik.

__ADS_1


Kulihat anak kecil itu sedang bermain robot, tidak menggangu ibunya yang sedang meracik es untuk kami. Begitu manis, dan pintar.


“Santri putri, gak boleh beli di sini ta, Nduk?”


“Boleh. Waktu sambang saja. Kalau pengen beli, ya, kadang ada yang titip sama temen yang di sambang.“


Mungkin Mas Albi melihat sekitar, jarang di temui santri putri dan hampir semuanya santri putra.


“Liat, temen mu kalau di depan santri putra nunduk-nunduk isin.“


“Wajarlah. Santri putra kalau di kawasan putri juga pasti gitu."


“Kamu gak kayak gitu, Nduk? Biasa saja malah. Padahal tadi kita pas jalan banyak santri putra yang lihatin kamu. Malah ada yang berani manggil namamu. Najwa, Najwa...“


“La emang harus gimana? Masak aku balas manggil mereka. Muruah ku mau di taruh mana?''


Aku sadar saat kami baru keluar dari sambang tadi. Santri putra hampir semua melihat ke arah kami. Aku juga mendengar sebagian dari mereka memanggil nama ku, meski tidak keras, tapi begitu jelas. Hal seperti itu biasa, tidak hanya kepada ku. Jika ada santriwati lainya dan ada yang mengetahui namanya pasti mereka juga akan melakukan hal yang sama.


“Haha...Bagus itu, nduk.“


“Bagus, apanya? Bagus sikap ku yang cuek sama mereka atau bagus ide yang harus membalas panggilan mereka?"


“Dua duanya. Haha...''


“Yang jadi pusat perhatian itu buka aku tapi kamu Mas.''


“Loh, kok, aku?”


“Iyalah. Siapa yang gak penasaran sama calon suaminya Ning Salwa." Kata ku dengan menekan.


“Loh , piye kui maksud, te (Loh, bagaimana itu maksudnya)?"


Kulihat wajah Mas Albi penasaran. Entah karena perkataan ku atau kepada nama yang barusan aku sebut. Yang pasti aku tidak suka.


“Beli gorengan Mas, buat mbak-mbak nanti.'' Kata ku.Tanpa menunggu aku mengeluyur sendiri menuju penjual gorengan.


“Dua puluh ribu, mas, campur. Dan 10 ribu lagi," kata ku.


“Rakat, Mas, yang satunya 5 saja. Dan yang campur tadi 25 ribu." Sahut Mas Albi yang sudah di belakangku.


“ Ibu tadi bawa bakwan sama ote-ote kesukaan mu." Tambah Mas Albi sebelum aku bertanya.


“Gak bilang,“


“Barusa bilang,kamu juga nyelonong gitu aja tadi. “


“Ya, ya..."


Beberapa saat kemudian aku menerima pesanan ku. Mas Albi dengan sigap mengganti membawanya. Kami masih mempunyai waktu untuk membeli beberapa makan lagi, saat puasa melihat makanan rasanya ingin membeli semuanya. Tapi mas Albi mencegah ku melakukan itu . Dia membelika sesuatu yang benar-benar aku inginkan saja.


“Udah nduk. Gak akan kuat kamu makan ini semua." Katanya saat aku masih ingin memilih sesuatu.


"Ya, weslah." Seperti biasa aku tidak bisa membantah titahnya.


Kami menuju tempat sambangan. Sebentar lagi adzan magrib berkumandang.


Sesampai di ruangan, Ibu sudah menyiapkan hidangan buka kami. Aku tergiur seketika meliha begitu banyak hidangan, semua makna ke sukaan ku. Oseng pepaya, ayam bumbu kecap, ada juga yang di gepyek, sayur asem, sambel pindang, dan banyak lainya.


“Waw! Aku suka semuanya." Kata ku girang


“Lihat Bu, dia juga membeli banyak makanan tadi"

__ADS_1


Mas Albi menunjukkan beberapa kresek hitam yang berisi macam makanan dan minuman.


“Gak papa to, aku pengen semuanya.'' Protes ku.


“Iya, iya, gak papa.Wes to makan no sepuas puasnya.“


“Weekk“ Aku menjulurkan lidahnya kepada Mas Albi.


Adzan magrib berkumandang. Kami segera berbuka bersama. Saat seperti ini lah yang paling nikmat. Setelah seharian berpuasa, makanan apapun pasti akan terasa nikmat. Apalagi berkumpul dengan keluarga.


“Nduk, tadi maksud mu apa?” Bisik Mas Albi.


Kita selesai berbuka dan jama'ah sholat magrib.


Jika karena bukan sambangan aku pasti sudah berbaur dengan teman-teman lainya untuk mengajik kitab.


“Apa, Lo?"


“Tadi, Lo, jangan pura-pura lupa." Celetuk nya.


“Oh! Soal Ning Salwa?''


“Siapa Ning Salwa?," tanya ayah


“Mas Albi gak cerita kalau dia di lamar sama kyai pas nganter aku ke pondok kemarin."


“Walah. Kok, gak cerita kamu, le?”


Sekarang pertanyaan itu kepada Mas Albi. Kami semua terfokus pada dirinya. Menunggu jawabannya.


“Bingung, Pak. La, gak jelas lamaran beneran apa cuman guyonan.“ jawab Mas Albi.


Jadi selama ini Mas Albi juga menganggap bahwa malam itu cuman candaan. Tapi sebenarnya itu memang sungguhan. Mana mungkin seorang kyai bercanda soal lamaran, apalagi soal hati seseorang.


“Sinten, Nduk sing ngelamar?“


Kini pertanyaan itu seperti mengores hatiku . Bapak terlihat antusias, begitupun ibu. Mereka seperti mendapatkan kabar gembira.


“Kyai Anwar, masih saudara kyai Musthofa. Dan Neng Salwa putrinya, satu angkatan dengan ku.“


“Masih kecil, tapi kok sudah cari calon?" pertanyaan dari ibu.


“Katanya keluarga mereka biasa menikahkan putrinya setelah Aliyah.“ jawab ku. Mengingat jawaban Salwa waktu itu. Saat aku juga menanyakan hal yang sama seperti ibu.


“Di kalangan keluarga pesantren hal biasa Bu , malah kadang sebelum lulus sekolah mereka sudah di jodohkan."


“Oalh, terus piye jawaban, mu?” tanya Ibu. Aku juga ingin mendengarkan juga.


“*Nggeh dereng jawab. Lawong Albi bingung.Niku temenan npo guyonan. Hehe*...“ Jawab Mas Albi.


“ Alhamdulillah kalo Albi besok jadi mantune kyai. Tapi ya awak Dewe Iki sopo ngarep-ngarep barang gede (Alhamdulillah kalau nanti Albi jadi menantu kyai. Tapi kita ini siapa, kok begitu berharap)'' Kata Ayah.


“Tadi, Ning Salwa juga nitip salam sama Mas Albi." Kata ku, aku harus menyampaikan amanat salam itu juga.


“Waalaikumsalam.“ jawab Mas Albi.


Aku merasa mas Albi menyembunyikan rasa penasarannya. Dia pasti bertanya-tanya tentang Salwa. Apakah dia tahu soal perbincangan dirinya dan Abahnya? Sejak kapan dia menyampaikan salam untuk dirinya? Dan bagaimana dirinya sebenarnya? Mungkinkah dia menyetujui perjodohan mereka? Ah! Entahlah, berapa banyak pertanyaan dalam benaknya sekarang. Dan beberapa banyak keinginan tahuannya tentang Salwa.


“Emm...sepertinya ning Salwa suka sama Mas mu nduk“


“Sepertinya buk. Jadi tinggal Mas Albinya bagaimana?"

__ADS_1


Untuk pertama kalinya aku melihat wajah merah mas Albi, menahan malu saat kami menggoda dirinya. Mungkinkah dia juga menyukai Salwa? Tapi bagaimana tidak. Mendengar namanya saja bisa membuat nya tersipu malu seperti itu. Apalagi Salwa adalah seorang Ning, sudah terlihat sekali kesempurnaan dalam dirinya. Pemuda bodoh yang menolak seorang putri.


__ADS_2