(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 23


__ADS_3

Setelah selesai makan. Ibu menyuruh Mas Albi tidur dan dia menurut. Saat aku ingin pindah di kursi belakang, Mas Albi menahan tangan ku. Kemudian tidur di pangkuan ku.


Dia terpejam begitu saja, dengan tangan satunya menggenggam tangan kiri ku. Rasanya, jantung ku ingin copot. Nafas ku tersenggal-senggal seketika. Hawa dingin kurasakan panas. Tangan kanan, ku sembunyikan di balik punggung, ku genggam erat untuk menutupi rasa gugup ku.


Aku harap dia tidak mendengar detak jantung ku yang mulai tidak beraturan. Dan juga hawa panas yang tiba-tiba menjalar dalam tubuh. Tapi, sepertinya tidak. Dia tertidur pulasz tanpa bergerak lagi. Punz dengan tangan yang masih menggenggam jemari ku.


''Albi bobok, Nduk?" tanya Ayah


''Ha_ah.Iyaa yah...Ini barusan bobok.'' Jawab ku agak terbata.


Ayah melihat kami dari spion depan. Dan dia juga memperhatikan Mas Albi yang sedang tidur.


''Kecapekan Albi kui yah. Aku awasi,tiap malam mesti lembur garap skripsi."


"Piye maneh. Kadang ayah ya ngesakne, bocah e kuliah nyambi ngurusi bisnis e. Winggi arep tak paringi duwet jajan yo di tolak. Jare di tabung ae, buat keperluan Layla besok ( Bagaimana lagi. Kadang ayah ya kasihan. Anaknya kuliah, tapi juga harus mengurusi bisnisnya. Kemarin mau aku kasih uang jajan, tapi di tolak. Katanya, di tabung aja, buat keperluan Layla)."


''Ngeeh ta, Yah? Padahal, Mas Albi juga ngasih uang jajan buat aku, Lo...."


Hati ku terenyuh saat mendengar hal itu. Ingin rasanya aku menangis tapi takut. Nanti orang tua ku melihat ada perasaan lain di dalam hati ku.


''Mangkane sing manut karo Mase. Di sayang tenanan, sing di sayang guyonan (Mangkanya, yang nurut sama Mas. Di sayang beneran, tapi yang di sayang mainan)." Ujar Ibu.


Aku terkekeh, sambil cengengesan.


''Sayang tenan ta Mas Albi?'' Kataku dalam hati, sambil ingin mencubit pipinya. Namun aku urungkan karena tidak tega, jika nanti membangunkannya.


''Gimana gak sayang? Mas Albi mu lek kamu mau ujian tiap malam sholat malamnya lebih lama dua kali lipat Lo nduk. Ibu ae sampai kalah. Mulai jam satu sampai kadang setengah empat baru dia selesai sholatnya. Emboh, apa yang di wiritti. Puasa Senin Kamis. Ibu tanya, alasan puasa apa coba jawabnya? Kesane Layla saget lancar Bu ujiannya. Ibu sampai domblong dengernya."


''Nggeh ta buk? Tapi kok Mas Albi gak pernah cerita ke Layla?''


Aku seperti tidak percaya dengan apa yang barusan di tuturkan ibu. Mas Albi begitu perhatian dengan dirinya. Selama ini, aku kira hanya aku yang melakukan hal itu. Tapi, ternyata Mas Albi juga melakukan hal yang sama.


Mungkinkah karena itu semua, aku merasa perasaan yang lain terhadap Mas Albi. Perasaan yang semestinya tidak ada di antara kami. Mungkinkah jugaz Mas Albi merasakan hal yang sama? Tapi kenapa, aku merasa itu hanyalah wujud kasih sayang untuk adik dari kakaknya. Mungkin juga, di luar sana ada juga kakak yang rela melakukan apa saja untuk membuat adiknya bahagia. Dan hal itu sesuatu yang wajar.


Mas Albi semakin erat menggenggam jemari ku. Apa sesakit itu? keringat di dahinya tiba-tiba bercucuran. Dia mengapit kedua kakinya semakin meringkuk.


''*B*uk wonten minyak kayu putih ?" tanya ku

__ADS_1


Hatiku kacau karena khawatir dan takut. Serta-merta aku langsung mengoleskan minyak pada pelipis matanya. Mungkin akan mengusiknya, tapi ini akan sedikit meringankan sakit kepalanya.


''*A*lbi nyapo, Nduk ( Albi kenapa, Nduk)?"


Ibu menyadari kecemasan ku. Dia melihat kondisi Mas Albi yang meringkuk.


''Kadose kok masuk angin to buk, Niki nopo AC mobil di pejah ne riyen. Mas Albi kedinginan (Kayaknya, kok masuk angin, Buk. Itu Ac-nya mobil, di matikan dulu. Mas Albi kedinginan).'' Jawab ku .


Ayah mulai mengatur suhu AC, dan aku sedikit membuka jendela mobil. Kurasakan hembusan angin mulai menyibak hijab ku. Mas Albi sedikit merenggangkan posisinya. Syukurlah, mungkin hawa hangat mulai membuatnya nyaman.


Seandainya aku adik Mas Albi yang sebenarnya adikm Aku akan mengoleskan minyak kayu putih pada dada dan perutnya. Namun hal itu tidak mungkin aku lakukan.


Hal itu terlalu sensitif untuk ku. Seperti ini saja, bisa membuat degup jantung ku tak karuan. Apalagi harus menyentuh bagian sensitif lainya .


Syukurlah, mobil sudah memasuki desa tujuan kami. Aku melihat sekitar, tidak banyak yang berubah. Hampir semuanya masih sama. Itu mungkin karena kita masih sering berkunjung ke daerah ini.


Namun, setelah aku mondok. Aku hanya bisa ke sini saat liburan saja, selain itu tidak akan bisa.


Pepohonan mulai jarang terlihat, dan berganti dengan rumah penduduk yang berjajar. Aktifitas penduduk sudah mulai terlihat. Jalanan tidak lagi curam , pun sudah normal.


Tiba-tiba Mas Albi bersuara parau. Dia masih dalam posisinya, tidak bergerak sama sekali. Sejak kapan dia terbangun, atau memang sedari tadi dia hanya berbaring saja.


Hah! Aku hanya bisa berdoa, semoga dia tidak menyadari ritme jantung ku yang sejak tadi tidak terkendalikan.


Seperti yang di minta. Pertama melewati pom bensin ayah langsung membelokkan mobil, dan berhenti tepat di depan toilet pom tersebut.


''Mas, ini sudah sampai Pom bensin." Kata ku


Dia membuka mata. Masih tidak bergerak, sebentar kemudian dia mulai mengangkat tubuhnya dari pangkuan ku. Ku rasakan kebas dari kaki ku seketika . Aku meringis menahan rasa nyeri, dan sedikit memindahkan posisi kakiku.


''Nopo nduk? Gringgingen (Kaki kebas)?''


Mas Albi masih memperhatikan ku meski dirinya saat ini merasakan sakit yang lebih parah. Aku hanya nyengir, untuk membuatnya tidak khawatir lagi.


''Gak papa Mas. Pokok ada imbalannya nanti.'' Kata ku bercanda.


Mas Albi menyeringai. Dan kemudian dia pergi keluar mobil menuju toilet di depan kami. Ayah, ikut keluar. Beliau juga ikut ke dalam toilet.

__ADS_1


Aku juga ingin ke toilet. Menyegarkan tubuh dan muka yang kurasa Kumal. Tapi kebas di kakiku masih ku rasakan. Akhirnya aku tunggu sebentar, mungkin sebentar lagi akan hilang.


''Gantian,Nduk. Ibu atau kamu dulu yang ke toilet?" Tawar Ibu


''Jenengan riyen pun buk. Kaki ku gringgingen karena di buat bantal sama Mas Albi tadi.'' Jawab ku menahan sakit.


Selang beberapa saat Ayah dan Mas Albi keluar dari toilet. Mereka terlihat segar lagi, bisa di pastikan mereka baru saja mengambil wudhu.


Ibu keluar, dia bergantian menuju toilet. Mas Albi melihat ku, dan menghampiri ke arah pintu mobil.


''Ndak pipis nduk?''


''Nanti lah, bentar lagi.''


''Ya wes. Kita istirahat di sini dulu saja, Ayah juga capek kayak e.''


Aku mengangguk.


Mas Albi kemudian menghampiri ayah. Duduk di mushola yang ada di samping toilet tersebut. Ayah terlihat merebahkan tubuhnya, dan dengan sigap Mas Albi mimijat - mijat kaki, tangannya secara bergantian .


Ibu keluar dari toilet. Dengan kaki yang sedikit kebas aku keluar dari mobil. Hampir saja aku oleng, karena kakiku tidak bisa berpijak dengan baik.


''Sarapan dulu di mushola nanti Nduk.'' Ujar Ibu


Beliau membuka bagasi mobil. Dan mengeluarkan wadah bekal kami, dan membawanya ke Musholah.


Aku menuju toilet. Alhamdulillah, rasa kebas mulai menghilang sedikit demi sedikit. Rasa sakit itu hilang seketika saat air kran mulai mengguyur kaki ku.


Sesaat setelah aku keluar dari kamar mandi. Aku mendengar dua orang gadis yang berada di depan cermin toilet sedang berbincang.


''Mas - mas yang ada di mushola itu manis banget ya. Dia kalem banget, apalagi tadi aku lihat dia sedang mijitin ayahnya."


''Oh, yang baju biru Dongker tadi, tho? Aku juga lihat, tapi aku gak begitu perhatiin. Tapi kayak e emang baik anaknya.'' Timpal teman yang bersamaan


Aku melihat mereka sekilas, dan kemudian berpaling. Yang mereka bicarakan tidak lain, tidak bukan adalah Mas Albi


Entah kenapa? di mana pun Mas Albi berada selalu saja menjadi pusat perhatian. Membuat ku semakin terkucilkan.

__ADS_1


__ADS_2