
#Qois Albifardzan
"Di mana Layla?!" Pikiranku sudah kalang kabut mengetahui jika Layla tidak ada di dalam rumah.
"Ada apa, BI? Kenapa teriak-teriak?"
Andre yang saat itu terbangun sebab teriakan ku langsung menapakkan wujudnya dari lantai dua. Dia mengusap-usap wajahnya sebab masih setengah tak sadar.
"Kamu melihat, Layla?" tanyaku langsung.
"Tidak. Aku saja baru bangun tidur," jawab Andre.
"Lalu di mana dia?"
Salwa yang saat itu ikut mencari keberadaan Layla terdiam di tempat. Dia pasti takut akan seruan yang brutal dariku.
Sudah aku cari ke seluruh penjuru tapi tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Layla.
"Ada apa Dharma?" Kali ini Nada yang menanyakan keadaan.
"Kamu lihat, Layla? Dia tidak ada di manapun."
Nada turun dari tangga. Tidak langsung menjawab pertanyaan ku sampai dia selesai turun.
"Tadi dia izin padaku pulang ke pondok duluan. Apa dia tidak pamit padamu?''
"Apa?" Aku tidak percaya. Layla pergi tanpa berpamitan pada ku?
"Iya. Dia pamit padaku. Aku kira dia juga akan berpamitan denganmu," Nada menjelaskan lagi.
"Tidak! Layla tidak berpamitan. Sejak kapan?"
"Sekitar dua puluh menit yang lalu."
"Bersama siapa?" Tanyaku. Aku saat itu mungkin melepas kontrol. Hingga membuat Nada terdiam tak berkutik dengan pertanyaanku. Dia menatap penuh ketakutan.
Aku ingin mencoba meredam kemarahan. Akan tetapi rasa cemas sudah membara ke mana-mana. Pikiran ku penuh dengan Layla yang sedang berjalan sendirian.
"Ber_bersama temannya. Ta-tapi, kang Dharma sudah menyusul mereka tadi. Mu-mungkin dia sudah mengantar mereka balik ke pondok." Jawab Nada terbata.
Aku memejamkan mataku. Pikiranku kalut. Mencoba menerima namun tetap tak bisa. Bagaimana Layla bisa berbuat seceroboh itu di saat aku ada bersamanya. Bagaimana bisa di mengabaikan aku!
Suara mobil terparkir di teras depan. Mataku langsung menunggu seseorang datang dari arah pintu utama. Aku harap Dharma membawa Layla kembali ke sini.
Dharma datang, dan aku langsung menanyakan keberadaan Layla.
"Dia sudah balik kepondok. Aku tadi mengantarnya," jawab Dharma santai.
Aku meluapkan emosi ku kembali. Aku tidak terima jika Layla tidak meminta izin ke pulangnya ke pondok. Bahkan orang-orang yang mengetahui hal tersebut baru mengatakan jika dia pergi.
__ADS_1
Dharma mencoba menenangkan. Memberikan alasan kenapa Layla cepat kembali kepondok. Meskipun begitu, rasa kesal ku masih meletup-letup tanpa bisa aku kendalikan.
Aku segera mengajak Andre yang sudah di samping ku untuk berkemas. Aku harus segera bertemu Layla. Aku harus menanyakan kenapa dia berbuat seperti itu.
Apa yang merasuki Layla hingga lupa dengan kakaknya?
Andre tidak membantah. Dia faham betul saat aku marah aku tidak menerima bantahan.
"Kamu tidak seharusnya menyalahkan orang-orang. Apalagi Nada sudah memberikan tempat untuk kita. Kita di sini tamu, tidak sopan perbuatan mu tadi,'' Andre mencoba menasihati.
"Iya. Aku khilaf. Aku benar-benar kacau dengan kepergian Layla. Aku cemas..." Ku coba membela. Walaupun tetap sama saja. Aku memang salah.
"Iya. Tapi jangan sampai menyakiti hati orang juga. Nanti kau harus meminta maaf pada Nada."
"Iya... Tenang saja,"
Saat kami akan pergi. Dharma yang saat itu sudah mengajak Nada dan Salwa sarapan menawari kami bergabung dengan mereka. Akan tetapi aku menolak.
Aku mengutarakan permintaan maaf ku dan juga terima kasih kepada mereka semua. Barulah setelah itu, aku pergi tanpa memenuhi permintaan mereka untuk sarapan terlebih dahulu.
"Aku lapar, dan kau membuat aku kehilangan sarapanku hari ini." Kata Andre setelah kami sudah ada di dalam mobil.
Tujuan kami tak lain adalah pondok Layla.
"Iya, nanti kita bakal aku kasih sarapan,"
"Lagian kenapa tiba-tiba Layla pergi. Tanpa pamit pula. Tidak biasanya,"
"Tapi jangan marahi Layla nanti. Dia pasti punya alasan. Seperti yang Dharma katakan,"
"Itu urusan ku. Kamu tidak perlu ikut campur,"
"Ckck... Kamu itu kalau sudah menyangkut Layla sungguh mengerikan, Bi. Udah kayak bakal kehilangan nyawa saja,"
"Layla memang nyawa bagiku, Ndre."
Andre diam seketika.
Jalan yang seharusnya cepat kenapa tiba-tiba terasa lama? Aku merasa tidak sampai-sampai di pondok Layla.
"Soal Dharma, sepertinya dia menyukai Layla. Dia perhatian sekali dengan Layla."
Deg.
"Hah! Apa menurutmu seperti itu?"
"Jelas sekali. Saat makan malam dia yang menawarkan banyak hal pada Layla. Dia pula juga kan yang menyarankan Nada untuk menjamu kita. Padahal selama ini tidak pernah seperti itu."
Ku sandarkan siku tanganku pada bagian kaca pintu mobil. Mengigit kuku jemariku. Pandangan ku depan. Namun ingatanku kembali pada kejadian malam tadi. Dharma memang memerhatikan Layla. Bahkan waktu di pantai saat itu.
__ADS_1
Apa benar dia menyukai Layla? Atau memang sikapnya ke semua temannya seperti itu?
Akan tetapi kejadian yang aku lihat saat ini memang serba kebetulan. Kedekatan antara Layla dan Dharma tidak begitu mencolok sebab ada Nada di tengahnya. Namun, jika di perinci lagi memang benar. Dharma seakan mencari tempat di antara waktu Layla.
"Abaikan Dharma dulu. Noh, Layla ada di depan," kata Andre.
Sontak mataku mencari sosok yang membuat ku kalang kabut. Dia ada di antara anak yang sedang akan menyebrang jalan raya.
"Berhenti tempat di depan Layla. Kita antar mereka ke sekolah," kataku.
Andre mengangguk. Dia menambah laju kecepatan.
Cieet...
Mobil berhenti tepat di depannya. Tanpa menunggu lama aku keluar dari mobil. Mataku kembali melebar sebab amarah yang kembali memuncak. Walaupun dalam hati aku lega sebab melihat dia baik-baik saja.
Layla dan Aisyah terkejut dengan kehadiran mobil yang tiba-tiba ada di depan matanya. Mata mereka melebar saat mengetahui aku yang turun dari dalam mobil tersebut.
Tanpa mengatakan apapun. Aku langsung membuka pintu jok belakang. Mengisyaratkan kepada mereka untuk masuk ke dalam
"Masuk!" Perintah ku.
Tanpa membantah mereka berdua masuk ke dalam. Banyak mata yang memandang kami. Tapi aku abaikan saja.
Mobil melaju lagi menuju sekolah. Suasana kembali senyap tanpa ada suara. Ketegangan ada di antara kami. Ku lirik Layla yang duduk di jok belakang. Dia bersikap biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa.
Mobil terparkir di depan Masjid. Layla dan Aisyah segera turun. Mereka langsung berlari ke arah tenda bazar mereka. Aku pun mengikuti mereka.
Sesampainya di sana. Tenda itu sudah ramai. Paling ramai dari bazar lainya. Apakah ini alasan Layla pulang tanpa meminta izin. Karena kesibukannya bersama teman-teman. Tetap saja, kesalahannya tidak bisa di maafkan begitu saja.
Layla langsung berbaur dengan teman-temannya. Dia langsung sibuk dan mengabaikan keberadaanku.
Beberapa menit aku membiarkan dia melakoni tugasnya. Hingga Andre menghampiri Layla dan meminta jatah makan kepadanya. Dia sudah tidak tahan lapar.
"Layla, siapkan untukku juga, ya..." Kata Mas Andre
"Belum sarapan?" tanya Layla heran.
Pasti dia mengira jika aku sudah sarapan bersama Nada dan Salwa.
"Belum, Mas mu khawatir sama kamu. Jangankan sarapan, minum saja aku belum." jawab Mas Andre.
Matanya lalu tertuju padaku. Aku membuang muka. Aku masih kesal dengannya.
"Ya sudah, aku siapin dulu ..." Kata Layla.
Setelah itu dia pergi ke balik tenda. Barulah setelah beberapa saat aku dan Andre di minta masuk dalam tenda.
"Maaf ya, Mas... Menu hari ini adanya ini. Silahkan makan," kata Layla.
__ADS_1
Dia memberikan dua porsi nasi ayam panggang lalapan untuk kami berikut teh hangatnya. Tanpa menunggu lama Andre langsung menyantapnya.
Layla berdiri tidak jauh dari kami. Aisyah membisikan sesuatu di telinganya. Entah apa itu. Tetapi setelah itu, Layla pergi ke belakang. Lalu kembali dengan makan yang sama dan bergabung bersamaku dan Andre. Kami pun sarapan bersama.