(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 3


__ADS_3

Pukul 19.45 . Kami tiba di pondok . Al Hasan pondok ku , masih di parkiran pondok sudah ramai para orang tua yang baru saja datang dan pulang mengantar anak-anak mereka . Ada juga yang masih berberes seperti aku yang baru sampai . Mengangkat barang-barang dan membawanya .


Liburan Akhirussanah memang hanya 7 hari . Dan hari ini adalah hari terakhir liburan . Batas hadir di pondok sampai jam 10 malam . Jika di atas jam tersebut ada santri yang belum datang , mereka akan di denda semen satu sak untuk keterlambatannya .


“ Sowan dulu Mas “ Ajak ku .


Mas Albi mengangguk . Setelah di rasa barang ku sudah keluar dari mobil semua kami bersama menuju ndalem untuk sowan.


Aku meletakkan barang ku di Mushola dhalem . Ruangan yang sebenarnya masih dhalem tapi berhubung biasa untuk jama'ah para santri khufadz jadi ruangan itu di namakan Mushola dhalem .


Saat seperti ini tempat itu penuh dengan santri-santri yang baru sampai , dan masih bersama orang tua mereka yang belum pulang .


Kami masuk ke Dhalem . Beberapa wali santri juga ada yang sowan .


“ Assalamualaikum “ Salam Mas Albi . Dia duduk berlutut di depan pintu masuk ruang tamu dhalem . Aku di belakang melakukan hal yang sama .


“ Waalaikumsalam . “ Balas Kyai Musthofa bersamaan dengan suara lainya , mungkin tamu .


Mas Albi masuk dengan berjalan menggunakan lututnya dan menundukkan wajahnya . Aku melakukan hal yang sama , mengekor di belakangnya .


“ Albifardzan “ Kyai Musthofa menyebut nama Mas Albi dengan wajah sumringah .


Dengan segera kami sungkem beliau bergantian . Dan kemudianduduk berjajar , bersebelahan dengan tamu lainya .


“ Sehat ayah e Le ? “ Tanya Kyai Musthofa kepada Kak Albi .


Aku menunduk , saat seperti ini aku bersyukur bahwa kakak ku meski tidak pernah menyantri di sini dia di kenal oleh Kyai Musthofa .


Putrinya , Neng Nada satu pondok dulu dengan kakak dulu .


Kalau hanya satu pondok itu hal saja bukan hal yang istimewa . Tapi ndilalah Neng Nada satu periode saat di pondok dulu . Jadi mereka satu partner kepengurusan . Neng Nada di pondok putri dan Mas Albi di pondok putra . Tidak jarang , mereka berkomunikasi soal kepengurusan dan acara-acara pondok .


Pertama kali Mas Albi ikut sowan bersama ku dan ayah ibu .Neng Nada yang malah memperkenalkan dia dengan Kyai Musthofa. Kebetulan saat itu pondok mereka sudah libur terlebih dahulu , dan saat itu mereka bermaksud menjemput ku .


Hingga saat ini , kyai Musthofa sangat mengenal kakak . Tidak hanya karen dia adalah wali dari santrinya , yaitu aku . Tapi juga sebagai teman dari putrinya .


“ Alhamdulillah sehat bah .Tapi niki radi sayah . Dadose mboten saget derek sowan mriki (Tapi Sekarang sedang kurang sehat . Jadi tidak bisa ikut sowan ke sini ) '' Jawab Mas Albi . Aku diam .


“ Salam ya le damel ayah e . Di ramut sing apik . Wes sepuh (Salam buat ayah . Di rawat yang baik , sudah berumur ) “ Tutur Kyai Musthofa .


“ Nggeh bah . Pangestu ne , “ Balas Mas Albi. Dia masih tidak berani mengangkat kepalanya di hadapan Kyai Musthofa .


Banyak hal yang di bicarakan. Maksud kakak mengantar ku , dan menitipkan aku di pondok ini . Dan banyak hal lainnya juga .Kyai Musthofa memberikan banyak pertanyaan seputar kegiatan keluarga kami , kesibukan mas Albi dan lainya sebagai .


Berbaur dan berbicara dengan tamu lainya . Jika santri lainya cukup memerlukan 15 menit untuk sowan , tidak terasa kami sudah menghabiskan waktu 1. 30 jam untuk sekedar berbincang .


“ gadah calon Mas ( Sudah punya calon Mas ) ? “ Tanya tamu lain kepada Mas Albi . Sontak membuat ku kaget .

__ADS_1


Beliau juga terlihat akrab dengan kyai Musthofa . Bahkan beliau sudah lebih lama berada di ruang tamu ini . Dari yang aku lihat , seperti beliau masih teman akrab kyai Musthofa . Selain pakaiannya yang menunjukkan beliau juga seorang priyai , tapi adab dan perkataannya yang menunjukkan statusnya .


“ Dereng , Pangestu ne mawon. “ Jawab Mas Albi. Tanpa sadar aku meremas baju bagian belakang Mas Albi , entah karena jengkel kita yang sudah terlalu lama dan aku lelah , atau karena tidak suka ada yang menanyakan calon kepada Mas Albi .


“ Umure jik 24 , lek tabarukan Karo kanjeng nabi ya setahun engkas . “ Sahut Kyai Musthofa seakan membela .


Mas Albi terlihat malu mendengar candaan mereka. Akhir-akhir ini banyak orang yang menanyakan hal yang sama .


Wajar , Mas Albi sudah dewasa . Kata banyak orang dia tampan , ada juga yang mengatakan manis . Sedang aku , aku melihat dia biasa saja . Kata orang , dia bijaksana . Tapi bagi ku dia selalu melakukan apapun yang dia inginkan terhadap ku . Kata orang dia pintar , tapi saat bersamaku dan aku mempunyai banyak pertanyaan di kepala ku . Dia hanya memberikan aku buku , atau sebuah web yang bisa aku cari sendiri jawabannya . Kata orang di dermawan , yah lumayan . Dia sering membelikan sesuatu untuk ku , tapi setelah itu dia meminta sesuatu juga untuk dirinya .


Dia sempurna menurut orang di sekitarnya , dan dia_


“ Aku gadah Putri Mas . Be,e cocok kaleh sampean “


Wajah yang sedari aku tundukan seketika aku angkat . Begitupun Mas Albi , semua tamu yang hadir ikut terpancing .


“ Yai Anwar . Tenane ? “ Tanya Kyai Musthofa . Dia sepertinya juga terkejut dengan penuturan kyai Anwar . Baru saja aku mengetahui namanya , karena sedari tadi mereka hanya bercanda dan berbicara tanpa menyebutkan nama .


“ Untuk Salwa Yai. “ Jawab Kyai Anwar .


Salwa .


Aku sangat mengenalnya . Dia satu angkatan dengan ku , dia juga teman yang baik . Paras cantik , lemah lembut , Budi pekerti yang baik dan cerdas . Di Gandrung i banyak santri putra di pondok ini , bahkan para ustadz . Tapi aku baru tahu jika dia seorang neng , dia begitu sederhana . Tidak memperlihatkan jika dia adalah seorang putri kyai . Dia sama seperti teman yang lain, berbaur tanpa memilih teman .


“ Salwa , seangkatan mu nduk ? “ Tanya Kyai Musthofa . Membubarkan lamunan ku tentang Salwa .


Mas Albi melirik ku , dari matanya aku bisa menebak dia penasaran dengan Salwa. Setelah ini dia akan menghujani ku banyak pertanyaan tentang dirinya .


“ Piye le ? “ Tanya Kyai Anwar .


Mas Albi mendelik karena pasti bingung mau menjawab apa . Dia menoleh kepadaku , mencari jawaban . Aku juga tidak tahu , tapi aku harap dia menolaknya dulu .


“ Sabar yai . Mas Albi kersane mikir riyen . Lagipula Neng Salwa taseh sekolah . “ Jawab Kyai Musthofa menengahi . Aku bersyukur , beliau mengerti keadaan kami . Lamaran yang begitu mendadak .


Kyai Musthofa mencairkan kembali pembicaraan dengan membahas pendidikan para santri . Meminta persetujuan para wali santri lain yang hadir untuk beberapa program baru . Sedang aku dan Mas Albi terjebak di antara rapat dadakan tersebut .


“ Alhamdulillah , akhirnya bisa keluar . “ ujar ku . Aku menyenderkan badan ku di tembok , menjelojorkan kaki ku dan memijat pelan . Sedari tadi kaki ku cram , terlalu lama duduk dengan menghimpitnya kaki .


Kami baru saja keluar dari ndalem . Itupun berkat wali santri yang meminta izin undur diri terlebih dahulu .


“ Salwa . Dia seperti apa nduk ? “ Tanya Mas Albi . Aku tahu dia pasti akan menanyakan hal itu . Dia juga berhak tahu , apalagi tadi Abah Salwa sendiri yang melamar langsung dirinya untuk putri nya .


“ Cantik , baik . Mas pasti suka dia . “ Jawab ku .


Aku meliriknya . Dia bersila di samping ku , tapi pikiran sedang membayangkan Salwa . Nama yang baru saja dia dengar dan langsung bisa mengusik pikirannya .


Apa seperti itu lelaki dewasa yang mulai jatuh cinta . Begitu mudahnya , padahal dia belum tahu bagaimana perempuan tersebut.

__ADS_1


Apa Mas ku itu akan seperti Qois . Yang ketika mendengar nama kekasih hatinya akan bergetar . Yang ketika melihatnya nanti dia tidak bisa memalingkan matanya lagi . Yang ketika saat bersamaannya nanti, bahkan semesta tidak lagi menjadi penghalang rasa cintanya .


Dan ketika saat itu tiba apa aku akan kehilangan dirinya ?


Nama kami terpaut dalam kisah legendaris . Layla dan Qois . Tapi dia bukan Majnun ku. Dia Qois , dan akan menjadi Qois saja .


Aku menghela nafas , angin malam merasuk dalam pori tubuhku . Sudah hampir larut malam , tapi pondok masih ramai dengan para santri yang sebagian bersama walinya . Beberapa dari mereka sudah ada yang Mulai berpamitan , sebagai lagi ada yang memutuskan untuk menginap dan menuju aula yang berada di ujung bangunan pondok.


“ Aku pulang ya nduk . Sudah malam “ Ujar Mas Albi , dia melihat jam tangannya.


“ Ndak Nginep ? “ Tanya ku lagi .


Dia menggeleng pelan . Dia juga terlihat lelah , tapi masih berusaha dia tahan . Memandang ku memelas .


“ Kapan – kapan saja . Toh , sebentar lagi kamu juga liburan lagi . Satu bulan lagi udah liburan puasa . “ Jawabnya .


Aku tahu , dia tidak bisa aku rayu lagi . Aku melengos , menyembunyikan kekesalan ku . Sedang dia terlihat berkemas , membenarkan letak jaket jinsnya yang dari turunkan sedikit ke bahunya . Menurunkan celana bagian ujung bawah yang sempat dia lipat kecil . Dan mulai menggunakan kaos kaki hitam nya yang dia lepas saat akan berjamaah sholat isya’ .


“ Salim sek ,” katanya dengan menjulurkan tangannya


Masih dengan manyun aku menerima uluran tangannya . Hanya saat seperti ini aku bisa mencium punggung tangannya . Setelah itu dia dengan gemesnya mengelus-elus kepala ku .


“ Pulang ya Nduk . Belajar sing tenanan . Eleng pesene ayah Ojo pacaran ." Ujarnya .


Aku mendongak kan kepala . Melihat dirinya yang sudah berdiri , bersiap untuk pergi .


Aku sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk pacar bahkan teman laki-laki saja bisa di hitung jari . Tidak lebih dari lima . Tapi ayah dan lainya menganggap aku suka pacaran .


Semua itu berawal dari liburan kemarin . Aku yang tidak terlalu peduli dengan dunia sosial media di kejutkan oleh banyaknya nomer baru mampir di WhatsApp ku yang mayoritas adalah laki-laki Dan apesnya ayah ku langsung yang mengetahui nya . Entah dari mana mereka mendapatkannya .


“ Iya . Aku juga tidak akan pacaran. “ Balas ku .


Aku menegaskan hal itu . Membuat Mas Albi terbahak , apa yang lucu ? Aku juga tidak tahu .


Mas Albi memandang ku dengan senyum . Aku selalu merasa teduh saat melihat senyumannya , terasa ada perisai di dalamnya. Seakan siap melindungi diri ku bahkan membentengi ku dari senyum menawan lainya .


“ Ya wes nduk . Mas pamit . “ pamitnya sekali lagi .


Aku mengangguk . Berdiri dan mengekor di belakangnya . Mengantar dia Sampai ke mobil kami dan kemudian menghilang meninggalkan aku sendiri .


****


*Assalamualaikum


Jangan lupa Like , Coment , Vote ya kak .


Dukungan kalian sangat berarti untuk Author .

__ADS_1


Terima kasih 🙏*


__ADS_2