
#Arya Dharma
Selepas pertandingan, foto-foto dan merayakan kemenangan aku izin untuk balik ke pondok lebih awal. Begadang semalaman dan harus fit saat pertandingan tadi cukup menguras energi.
Jadi selepas Dhuhur aku sudah ada di kamar pesantren merebahkan badan. Baru juga akan memejamkan mata. Seseorang mengetuk pintu kamar. Dengan lunglai dan menahan kesal aku berjalan ke arah pintu. Tidak ada siapapun di kamar selain aku, siapa lagi yang akan membukakan pintu.
"Ngapunten, Gus Dharma... Jenengan di timbali teng Ndalem," ujar seorang santri dengan menunduk sopan.
"Ah... Iya... Terimakasih," balasku.
Setelah itu santri tersebut undur diri. Aku kembali menutup pintu kamar.
"Siapa yang memanggil ku ke Dhalem? Ada perlu apakah?" Aku mulai bertanya-tanya.
Apa mungkin Ning Nada? Apakah dia masih memikirkan kejadian kemarin?
Dengan segera aku mengganti pakaian ku lagi. Lebih rapi dan wangi. Setelah itu barulah aku keluar kamar langsung menunju Ndalem kyai.
Saat melewati kawasan santri putri tidak jarang orang berhenti dan menundukkan pandangan saat aku akan melewati mereka. Walaupun aku santri, tetapi aku juga seorang guru di sini, pun kabar tentang aku yang masih menjadi keponakan Abah yai sudah menjadi rahasia umum di kalangan santri.
Tidak heran jika mereka melakukan seperti itu kepada ku juga. Aku tidak memintanya, tetapi mereka melakukannya dengan suka rela.
Dalam hati saat mereka menghormati ku seperti itu aku berdoa, agar kelak pengabdian dan ilmu yang mereka cari dapat membawa keberkahan dalam kehidupan mereka.
Menjadi seorang Guwagis, Nawaning bahkan Kyai dan Ibu Nyai tidaklah mudah. Mereka harus merendahkan Ego mereka serendah-rendahnya.
Harta, tahta dan apapun yang terlihat itu semua di relakan, di ikhlaskan untuk agama.
"Assalamualaikum..." Aku sudah duduk dengan menekuk lutut ku di depan pintu Dhalem.
"Waaikumsalam... Masuk Dharma. Langsung masuk, Monggo... Monggo ..." Suara serak Abah yai memintaku untuk langsung masuk ke dalam. Aku pun langsung masuk masih dengan mengunakan lutut sebagai kakiku. Menundukkan pandangan.
"Masya Alloh ... Berdiri, le... lihatlah umi mu," ucap Abah Yai.
__ADS_1
Aku langsung mendongakan kepala. Mengedar pandang ke seluruh penjuru ruangan. Mataku terhenti tepat di sosok penuh kerinduan itu berada. Wanita separuh jiwa, yang menjadikan aku setengah nyawanya.
Aku pun langsung sungkem pada Umi. Kejutan sekali melihat beliau ke sini. Barulah setelah itu aku berganti sungkem pada Abah. Seperti biasa, beliau hanya mesem sedikit dengan anak gantengnya ini.
Aku pun duduk di samping Umi seperti permintaan beliau. Tangannya masih memegang telapak ku. Hal yang selalu beliau lakukan saat kerinduan pada anaknya terobati. Aku pun juga membalas elusan tangan beliau dengan mengelus pipi umi, rasanya jika bukan di depan banyak orang aku sudah mencium ke dua pipi dan kening umi.
"Umi tumben ke sini, ada apa?'' bisik ku pelan. Penghuni ruangan lainya sedang bercengkrama entah apa topik mereka.
"Kangen kamu, to..." Jawab Umi
Aku langsung nyebek. Tidak biasanya umi dan Abah nyambang. Apalagi Abah yang sangat-sangat aneh. Dari awal mondok sampai sekarang nyambang anaknya bisa di hitung jari. Ke sini pun pasti ada alasan tertentu yang langsung Abah yai sendiri yang mengundang. Lalu kenapa tiba-tiba, orang tua ku datang? Bukan kah, tidak acara resmi lainya. Haul pun masih lama acaranya.
Abah Umar Al Faruq, beliau begitu disiplin. Terkenal garang dan tak segan-segan dalam mendidik santri apalagi putranya. Meskipun begitu santri di rumah tetap bertambah mengikuti tambahnya tahun.
Hal itu mungkin yang menjadi daya tarik dari pesantren kami. Membuat para orang tua merasa aman meletakkan anaknya di pesantren kami. Sebah sesuatu yang mengekang kadang kala baik untuk mereka yang benar-benar liar. Tak ayal sudah banyak santri yang dulunya berlatar belakang kurang faham agama dan bahkan bajingan mulai menemukan jalan untuk bertobat dan terbiasa dengan pemahaman agama. Lambat laun sebab kekangan tersebut mereka berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Akan tetapi Abah tidak pernah membatasi langkah Putra-putrinya. Asal itu adalah sebuah kebaikan, Insya Alloh Abah tidak keberatan.
Putra putrinya di latih untuk memikirkan sendiri bagaimana kehidupannya nanti. Bagaimana kedewasaan harus tertanam sejak dini. Karena itulah sampai detik ini aku sudah mulai menyusun setiap langkahku nanti. Termasuk meminta izin untuk meminang Layla. Eh...
Setelah memberikan minuman dan camilan pada Abah Yai dan Abah ku sendiri. Ning Nada berganti memberikan minuman pada Umi selanjutnya pada ku.
"Monggo, Kang..." Ujarnya sambil menaruh satu cangkir kopi susu di depan ku.
Aku nyengir sambil mengangguk. Mata kami beradu bertukar senyum simpul. Kita sedang bertukar posisi sepertinya. Biasanya aku yang harus lebih menghormati dia, sekarang gantian.
"Sini, Nduk... Duduk sini," tiba-tiba Umi meminta Ning Nada untuk duduk di samping beliau. Mau tidak mau aku melonggarkan dekapan ku pada umi. Mengubah posisi duduk ku lebih wajar lagi.
"Kamu betah di sini, Dharma?" tanya Abah yai
Aku yang akan mengambil minuman ku mengurungkan niat. Lalu dengan sigap mengangguk tersenyum pada beliau.
"Betah, Yai. Alhamdulillah..."
__ADS_1
"Mau jadi santri abadi dia," ujar Abah ku sambil menunjuk ke arahku namun tatapan teduh pada Abah yai.
Aku hanya nyengir. Lalu dengan pelan mengambil kopi susu di depan ku lalu menyeruput pelan.
"Enak kang?" tanya Ning Nada yang ada di sebelah Umi.
"Ha! Kopinya?" tanyaku bingung
"Iya...Enak enggak?" tanyanya lagi
"Enak. Jos!" Jawabku dengan menambah satu jempol ke arahnya.
Ning Nada pun tersenyum sumringah sambil menundukkan pandangannya. Barangkali malu jika kita berinteraksi seperti itu di depan orang tua kami. Lagi-lagi, aku hanya nyengir.
Rasa kantukku hilang sesaat setelah meminum kopi tersebut. Angan-angan untuk istirahat sepertinya tidak akan terwujud untuk hari ini.
"Barangkali ada yang membuat Dharma betah di sini. Iya gak, Dharma?" tanya Abah Yai dengan guyonan.
"Hehehe... Nggeh betah mawon (Iya betah saja). Seumpama ada lainya, nggeh (Iya) niku sebagai tambahan penyemangat." Jawabku terus terang.
Lalu beberapa saat kemudian Abah Yai, Abah dan Umi saling bertukar pandang seakan mengisyaratkan sesuatu yang lain. Ning Nada pun bertambah menundukkan kepalanya sambil tersenyum entah apa artinya.
Lagi dan lagi aku hanya bisa nyengir.
"Apa ada seseorang yang membuat kamu betah di sini, Dharma?" tanya Ibu tiba-tiba. Pertanyaan lebih gamblang dari Abah yai sebelumnya.
Deg!
Apa ini jalanku untuk lebih dekat dengan Layla. Memintanya dulu pada Abah yai, lalu sekaligus meminta restu pada orang tuaku.
Senyum Layla tiba-tiba terbayang dalam benak. Mataku menatap depan, sosok Ning Nada yang saat itu di samping Umi tiba-tiba pudar berganti dengan wujud Layla.
Duh, Gusti... Cinta yang engkau berikan sungguh memabukkan.
__ADS_1
***