(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 96


__ADS_3

#Qois Albifardzan


Kami bertiga sudah duduk berjajar di bawah pohon. Menikmati cilok yang kami beli dan juga minuman.


Niat untuk mencari hiburan sekalian mencari tempat untuk menumpahkan lelah menjadi agenda tak menyenangkan.


Tiba-tiba Bunda Andre menelpon. Mencari kabar putranya yang sejak kemarin masih berselancar mencari kesenangan bersamaku. Memberikan kabar jika dia pergi menemui calon menantu. Berharap lewat pertemuan ini Andre dapat mendapatkan cinta yang selama ini ia inginkan.


Benar saja. Saat Vidio call tadi mereka layaknya pasangan yang sudah mendapatkan restu. Layla dengan ringannya memberikan kelonggaran untuk menunjukkan keakrabannya dengan Andre.


Tentulah hal itu membuat orang tua Andre semakin berharap lebih pada status mereka yang masih di bilang teman biasa. Aku tidak menggubrisnya, biarkan saja. Aku tidak ingin mematahkan hati kedua orang tua Andre dengan mengatakan jika mereka belum memiliki hubungan apa-apa. Toh, aku juga tidak tahu bagaimana nantinya. Bagaimana takdir kedepannya.


Melihat situasi saat ini aku belajar untuk tidak terlalu overprotektif pada Layla lagi. Takutnya itu malah membuat gadis kecil di sampingku saat ini malah merasa risih.


Benar kata Andre, layla mulai menginjak dewasa. Mau tak mau dia pun akan tertarik pada lawan jenisnya. Andaikan ada, aku harap aku pun mengetahui siapa orangnya. Aku tidak mau Layla mencintai orang yang sama sekali tidak jelas asal usulnya. Tidak tahu menahu perihal perilaku aslinya.


Andre saja masih tiga puluh persen aku terima. Apalagi orang lain. Padahal aku sudah sangat mengenal Andre berikut keluarganya.


Andaikan memang Andre adalah jodoh Layla aku mungkin bisa lebih mengikhlaskannya nanti. Nanti, entah kapan itu!


Aku lihat keluarga Andre sangat menerima Layla juga. Padahal mereka bisa saja memilihkan pasangan yang lebih baik. Lebih mumpuni untuk di jadikan menantu sekaligus penerus perjuangan pesantren yang mereka rintis dari sejak buyutnya Andre.


Entah aku sudah menceritakan apa belum. Akan tetapi aku akan mengatakan jika Andre adalah salah satu gawagis di kota kami juga. Yang juga terkenal kesempurnaannya.


Keluarga memiliki pesantren kecil yang memiliki seratus santri putra dan seratus lima puluh santri putri. Pesantren tersebut turun menurun didirikan oleh buyutnya. Walaupun tidak besar, namun pesantren tersebut tetap berjaya.


Karena itulah selain menekuni kuliah, Andre sangat lihai membaca kita kuning. Walaupun mungkin belum bisa di setarakan dengan gawagis pondok besar lainya. Akan tetapi dia imbang dalam konsep pengetahuan dunia dan akhirat. Minusnya dia, yah... Masih suka main-main dalam hal percintaan. Meskipun begitu dia tetap teman yang baik. Sahabat yang setia dan tentunya, bisa di jadikan saudara_kalau Alloh menghendakinya. Yang terpenting adalah Layla bahagia.


Selagi Layla dan Andre melakukan Vidio call aku memperhatikan permainan futsal di depanku. Cukup menegangkan sebab pertahanan kedua kubu sama besarnya.


Yang menjadi sorotanku adalah Dharma. Sejak tadi_ entah atau memang aku yang salah. Dia kehilangan fokusnya. Matanya terus melihat sekitar yang semestinya dia bisa abaikan. Apalagi saat kadang matanya menyorot ke arah kami bertiga.


Lagi, aku kembali mengingat apa yang di katakan Andre tentang Dharma yang menyimpan perasaan pada Layla. Apakah benar hal itu? Andai benar lalu aku harus berbuat apa? Menyetujui atau menghalangi.


Pergerakan dia tidak terlalu mencuri perhatianku. Yah, walau sempat juga sebab dia tidak perhatian pada Layla tapi kadang juga kepadaku. Pada orang sekitarnya pun dia terlihat memperlakukan hal yang sama.


Nyatanya dia pun akrab dengan Nada dan Salwa. Dia pun juga biasa saja dengan Aisyah. Tidak hanya pada Layla.


"Golll!!!" Suara gaduh penjebol gawang lawan tidak bisa mengusik perhatian Andre dan Layla. Mereka berdua sudah larut_bercengkrama dengan orang tua Andre.

__ADS_1


Vidio call usai setelah hampir satu jam. Mereka kembali ke dunia lagi. Setelah beberapa saat mereka menjadikan sekitar mereka terabaikan.


Aku tidak tahu apa yang ada dia lapangan. Namun sekitar dua puluh menitan mereka kembali bertanding. Perolehan memang menjadi imbang setelah lawan mencetak gol.


Pada detik terakhir. Aku melihat Layla dan Dharma saling bertautan. Mereka sedang berinteraksi lewat isyarat mata.


"Rasanya aku sedang ngobral adikku!" Seru ku seraya bangkit dari dudukku.


Hah! Pikiran yang ambigu. Semua tidak terdeteksi kebenarannya. Sudahlah, yang terpenting saat ini Layla baik-baik saja. Dia gembira dan sudah ku lihat senyum mengembang di bibirnya.


Nanti saat aku pulang akan aku ceritakan pada ibu dan ayah. Bagaimana dia nakal dan sempat pergi tanpa pamitan. Biar nanti dia kena omel juga. Biar dia kapok, tidak mengulangi hal yang sama.


"Mas, mau kemana?" tanya Layla yang langsung ikut bangkit dan menyamai langkahku.


"Sholat. Habis itu pulang,"


Wajahnya terlihat masam setelah mendengar jawabanku. Segera aku rangkul dan menyenderkan kepalanya pada pundakku.


"Sudah satu hari mas di sini. Bulan depan di sambang lagi." Kataku menenangkan hatinya yang gundah sebab kami akan berpisah.


"Sama ayah dan Ibu ya?" Pintanya.


"Kangen, Iya. Tapi jangan nelpon deh. Mas pasti bakal ngadu soal aku tadi. Kan nanti aku di omelin sama ibu,"


Aku mengelus kepalanya. Tersenyum renyah sebab dia tahu apa yang akan aku lakukan.


"Biar kamu kapok. Biar gak ngilangin kesalahan kayak tadi,"


"Gak akan! Toh, tadi juga gak sengaja."


"Gak sengaja gimana? Lawong jelas-jelas sudah di depan dapur. Tinggal panggil lalu izin aja susah. Malah milih balik sendirian."


Layla tidak langsung menjawab. Dia seperti memikirkan sesuatu yang entah apa itu.


"Ada Salwa. Layla takut ganggu kalian berdua," jawabnya akhirnya.


"Mau ada siapapun yang bersama Mas saat itu. Kamu gak mas cuekin. Ya kali, gara-gara ada orang lain kamu langsung ngira mas gak bakal ngerespon kamu,"


Layla tersenyum. Mengangkat kepalanya dari pundakku. Sebab kami sudah ada di area banyak orang. Tak enak juga seperti itu.

__ADS_1


"Habis mas tadi kelihatan bahagia banget. Jadi Layla gak enak. Mas ketawa-ketawa sama Salwa. Udah kayak dunia milik berdua,"


"Idih... Masak? Perasaan kamu saja, kali."


"Mungkin kali, ya?" Dia pun ragu akan pikiranya.


"Bulan depan aku ikut nyambang lagi, boleh kan?" tanya Andre yang sudah mengimbangi langsung kami.


"Nggak! Nambah-nambahin persoalan aja!" Tolakku.


"Aku kan tanya Layla bukan, Lo! Wekk!"


Layla tersenyum melihat kami bertengkar.


"Iya kan, Layla? Aku boleh kan? Ayah dan Ibu kamu setuju kok," desak Andre


"Terserah mas Andre saja. Tapi kalau kehadiran mas Andre bisa buat Layla di takzir gimana?"


"Tuh dengar!" Seruku


"Kok di takzir? Kan banyak orang. Aku juga gak akan gandeng kamu kayak masmu itu. Aku juga gak akan nyenderin kepala mu ke pundakku. Kan aku belum muhrim kamu,"


Layla tidak menjawab. Dia hanya menatap Andre. Ada apa? Dia seakan tercekat dengan apa yang di katakan Andre. Apa dia mulai merasa di perjuangkan oleh seorang pria?


"Kecuali kalau kita nikah. Barulah aku bakal ngelakuin itu. Hehehe..." Tambah Andre.


Pikiran memang sangat meracuni bagi Layla yang sama sekali belum memikirkan pernikahan. Jangankan Layla, aku saja belum sampai ke sana.


"Gak usah ngarep. Udah, kali ini saja. Kalau mau ketemu lagi. Nanti, pas Layla liburan." Kataku.


"Jadi, udah boleh nih. Aku ngapalin, Layla?" Andre kegirangan.


"Asal ada gua juga." Timpalku.


Meskipun begitu Andre tetap senang. Mendapatkan lampu hijau dari aku yang di bilang kolot sebab overprotektif pada Layla sudah seakan-akan sudah menjadi titik takdir mereka akan bersama saja.


Tidak apa, Albi. Yang terpenting Layla bahagia. Layla tetap ada di sekitarmu yang tidak jauh dari jangkauanmu. Lambat laun pasti juga akan menggantikan tugasmu menjaga dia.


Gadis kecilku yang kini menginjak dewasa. Dia bak bunga yang mulai di datangi oleh para kumbang.

__ADS_1


__ADS_2