(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 25


__ADS_3

Deburan ombak itu, tidak lagi menjadi semu. Angin kencang itu, tidak lagi ku rasakan halusinasi. Tanjakan, yang bergeliut ini sedang aku rasakan di kaki ku.


"Aaaa!!! Pantai!"


Ku rentangkan ke dua tangan ku. Menghalau angin yang sedang bertiup ke arah ku. Sejenak menikmati angin, air dan juga tanah yang seakan ingin menerbangkan diri ku.


Sang Surya sedang ingin pulang, beristirahat di balik ufuk timur. Memberikan kabar, kepada sang bulan untuk mengantikan tugasnya.


"Nduk?"


Mata ku terbuka melihat ke arah belakangku. Mas Albi berjalan menghampiri ku, cahaya senja membuat wajahnya menjadi orange semu hitam.


Kemejanya, berkibar ke belakang, memperlihatkan kaos oblong yang ia kenakan. Matanya menyipit, alisnya tertarik karena menahan terik.


"Ada apa?"


"Jangan lama-lama. Sebentar lagi, adzan magrib."


"Yah, baru juga samapi Mas...." Keluh ku


Aku cemberut, meminta belas kasihan padanya. Ku pasang wajah masam ku.


"Sampai magrib, dah. Habis itu pulang.'' Ujarnya.


Aku menyeringai senang. Mana tahan dia dengan wajah masam ku.


"Sholat magrib di sini saja, nanti, habis magrib pulangnya. Takut, gak keburu juga magribnya kalau di jalan." Tawar ku


Ku lihat Mas Albi melengos, kecut. Aku menambah senyum ku, dan mata penuh harap.


"Ok. Tapi, janji. Habis magrib mau pulang. Gak, ada tawar menawar lagi." Balasnya, sambil mengayun-ayunkan jari telunjuknya.


"Siap, Bos!" Seru ku, sambil memberi hormat untuknya. Tetap, senyum ku tak aku kendor kan.


Mas Albi menghela nafas kasar. Kemudian ikut menikmati senja sore ini. Bagai dunia milik kita berdua. Sepanjang pesisir pantai hanya kita saja yang sedang berdiri di tepiannya. Mas Albi melipat ke dua tangannya di dada, dan aku hanya berdiri di sampingnya. Pandangan di depan memang indah, tapi kebersamaan kita yang paling indah.


"Kenapa, senyum-senyum?, sangking senengnya, ya?"

__ADS_1


"Senang, bahagia, sudah lama gak melihat sunset."


Mas albi tersenyum melihatku. Mungkin dia merasakan aura kebahagian ku. Tak jemu, dia menatap ku, dan kemudian mengoyakkan kepala ku. Itu hal yang selalu dia perbuat saat dia mulai gemas kepada ku, dan kemudian aku pura-pura cemberut. Menatapnya tajam, dan ingin membalasnya. Dengan jahil, aku mulai menggelitik perutnya. Membuat dia geli, kemudian membalasnya gelitikan itu. Tawaku pecah, saat tangan-tangan jahilnya mulai berusaha menggelitik. Akhirnya, aku berlari menghindar, Mas Albi pun tak mau kalah. Dia mengejar ku, sepanjang pelarian ku.


Tak ayal, saat ku temukan karang, aku ambil dan aku lempar ke arahnya. Membuat dia semakin ingin menangkap ku.


Sekali pun, dia tidak membalas lemparan kerang ku. Aku tahu, dia tidak akan tega melakukan itu. Saat kaki ku tetap berlari, dan mata ku melihat ke belakang, tidak sengaja aku menabrak tubuh seseorang. Dan seketika itu, aku tersungkur di depannya.


Bruukk!!!


Orang di depan ku membalikan badan. Terkejut, melihat ke arah ku.


"Layla!"


Ku lihat Mas Albi dengan cepat menghampiri ku, aku masih tidak tahu siapa yang aku tabrak. Karena baju ku sudah penuh dengan pasir, dan aku berusaha membersihkannya.


"Putri malu?"


Suara itu, dan panggilan itu, terasa tidak asing di telinga dan benak ku. Aku segera mendongakkan kepala, melihat siapa yang baru saja memangil dengan sebutan itu.


"Mangkanya, jangan lari-lari. Jatuh, kan!" Mas Albi membantu ku bangkit, dan berdiri.


"Maaf, ya kang. Aku gak lihat kalau ada orang di depan tadi." Kali ini pada laki-laki di depan ku. Wajahnya masih terkejut, dan mungkin heran melihat ku.


"Maaf, ya kang. Adik, ku gak sengaja." Ganti Mas Albi, yang meminta maaf untuk ku. Ku lihat, dia masih bengong. Matanya bergantian melihat ku, kemudian Mas Albi. Seakan kami hantu, atau orang mati yang baru bangun dari kuburnya saja.


"Loh, kang ini, yang kemarin satu rombongan dengan mu, kan, Nduk?" Mas albi mengingatnya, meski sekali bertemu dengan dirinya.


"Iya, aku Dharma. Assalamualaikum..." Salamnya.


"Waalaikumsalam, rumahnya di sini?" Tanya Mas Albi.


"Ah, Iya, di sekitar sini. Kalian, eh maaf Mas, namanya siapa?" Balik tanya Dharma. Dia mengulurkan tangannya ke arah Mas Albi.


"Muhammad Qois Albifardzan." Sambut Mas Albi.


Kang Dharma seakan tercengang mendengar nama Mas Albi. Tapi, aku tidak banyak memikirkannya. Hanya saja, kenapa harus bertemu dia di saat seperti ini. Di tempat ini pula.

__ADS_1


"Rumah kakek kami di dekat sini juga, tetangga desa. Dan kebetulan, tadi siang baru saja datang." Kata Mas Albi. Kenapa juga Mas Albi menjabarkan soal itu semua. Setelah mendengar penjelasan Mas Albi, dia melirik ku sebentar, lalu kemudian melihat Mas Albi lagi.


Suara Adzan berkumandang. Membuat ke dua tangan yang tadinya berjabat, mulai di lepaskan. Ke dua lelaki tersebut langsung menoleh ke arah mushola yang berada di pesisir pantai ini. Kubah mushola itu, terlihat dari tempat kami berada.


"Sudah magrib, Nduk. Ayo, kita ke Mushola." Ajak Mas Albi.


Aku mengangguk. Sebelum itu, Mas Albi berpamitan pada Dharma. Mengucapkan maaf sekali lagi, karena kecerobohan ku, dan berterima kasih, karena dia menawarkan untuk kami singgah di rumahnya. Setelah itu kami berpisah, aku berjalan di belakang Mas Albi. Sempat terdengar di telinga ku, pelan namun jelas. Kang Dharma mengucapkan "Layla dan Qois, seperti kisah Layla Majnun. Kebetulan sekali". Mendengar hal itu, aku langsung mempercepat langkah ku. Menjajari langkah Mas Albi, dan langsung menggandengnya pergi. Entahlah, tapi saat itu aku berharap, ini pertemuan terakhir kami.


"Kamu ingat, kan? Dia kang santri, yang bersama, mu di rombongan kemarin?'' Mas Albi mengingatkan.


"Ingat,kok.''


"Oh, iya, dia juga yang DM di Instragam, mu, kan?" tanya Mas Albi, aku nyengir kesal.


"Iya.'' Jawab ku datar.


Sebelum Mas Albi bertanya terlalu banyak lagi. Aku segera pergi ke bagian kamar mandi putri. Saat ingin wudhu aku teringat, jika baju ku sudah kotor dengan pasir. Dan itu membuatnya Manang untuk memakainya untuk jama'ah.


Belum juga mengambil antrian, aku kembali lagi mencari Mas Albi. Aku tidak tahu harus bagaimana, aku hanya membawa satu sarung dan mukena dalam tas ransel ku. Dan itu tidak akan cukup, untuk menganti pakaian ku.


''Asslamualaikum..."


Aku menoleh ke arah suara tersebut. Kang Dharma, dari mana dia datang? Kenapa lagi, dia menemui ku. Aku celingukan-celinguk, berharap menemukan Mas Albi, agar terhindar dari laki-laki di depan ku ini.


"Tadi, aku bertemu Mas mu. Katanya, kamu membutuhkannya baju ganti. Sedang, semua toko baju di sini sudah tutup. Dan, maaf, mungkin kamu mau menggunakan baju ganti ini. Milik ibu, ku, sih. Agak kebesaran, tapi Insya Alloh cukup.'' Ujarnya sambil menyodorkan paper bag berukuran sedang itu pada ku.


"Mas Albi, di mana?"


''Dia sedang mengambil wudhu. Kau bisa menunggu dia, jika tidak percaya perkataan ku"


Tangan ku ragu untuk menerima. Mata ku masih menjelajah ke seluruh penjuru Musholah itu. Fokus pada kamar mandi pria, berharap Mas Albi segera muncul dari sana. Tapi, sepertinya kamar mandi itu sangat antri. Lalu lalang orang keluar masuk, dan tampak menunggu di depannya. Karena tersekat tembok, aku tidak bisa melihat, Mas Albi sudah selesai mendapatkan antrian atau malah masih menunggu.


"Apa, kau setakut itu pada orang lain?'' Tangan Kang Dharma turun lagi, pegal karena belum juga aku menerima papar bag itu.


Aku menelan ludah. Akhirnya, aku mengulurkan tangan ku, meminta papar bag tersebut.


"Dari tadi, kek. Jujur, aku tidak terbiasa berbicara halus. Jadi, maaf jika membuat mu takut." Kata Kang Dharma. Setelah aku menerima paper bag itu, dia lalu pergi begitu saja, sebelumnya itu dia mengucapkan salam.

__ADS_1


''Waalaikumsalam'' balas ku.


__ADS_2