(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 32


__ADS_3

Sesat setelah Si Mbok Nur pergi, Dharma berpamitan sebentar, menyusul beliau ke dapur. Tidak tahu, apa yang kurang, atau ada yang ingin dia pesan lagi. Cukup lama dia di sana, sampai Layla keluar dari kamar mandi.


Dia merapikan hijab segi empatnya, dan memberikan tas ranselnya yang masih berantakan kepada ku. Tanpa dia suruh pun, aku faham. Dia ingin aku merapikan isi tas itu, kresek hitam berisikan baju kotornya aku masukan ke dalam tas sekalian.


"Kopi, kamu Mas?" tanyanya, sambil mengambil cangkir kopi tersebut dan langsung meneguknya. Belum juga aku mengiyakan.


"Haduh, Nduk...Itu bukan punya ku." Kata ku, dengan menepuk jidat.


Layla langsung menaruhnya lagi ke nampan. Lidahnya dia julurkan sedikit, tangannya di kibas-kibas tidak jelas.


"Lah, kirain punya, Mas Albi. Punya siapa, dong?'' tanyanya dengan rasa bersalah.


"Punya saya, Mbak." Sahut Dharma yang tiba-tiba sudah ada di belakang Layla. Di susul Mbok Nur di paling ujung, membawa nampan, mungkin itu kopi yang di pesan Dharma untuk ku.


Layak terkejut melihat Dharma, dan langsung berlari kecil, menuju tempat ku berada, duduk bersembunyi di belakang punggung ku.


"Ini kopinya...." suguh Mbok Nur.


"Matur suwun, Mbok." Jawab ku.


Belum juga aku menerima kopinya. Sesosok laki-laki sepuh datang lagi membawa nampan berisi banyak makanan. Langsung menghidangkan di depan ku dan Dharma.


"Berhubung, Mas nya gak mungkin main ke rumah saya,jadi aku menjamu di sini saja. Sama saja, ini juga rumah ku. Ya kan, Mbok?" Ungkap Dharma.


"Iya, Gu_ eh...Iya Mas, jangan sungkan-sungkan. Hari ini Free untuk jenengan berdua. Termasuk Mbaknya!" Sahut Mbok Nur, sambil melihat ke arah Layla. Kemudian, melihat ke arah Dharma, entah kode apa yang mereka lakukan. Karena setelah itu, Mbok Nur undur diri dan meninggalkan kami bertiga.


"Monggo, Mas. Ampun sungkan (Silahkan, Mas. Jangan malu-malu)," Kata Dharma, mempersilahkan. Dia sudah mengambil tiga piring juga untuk kami.


"Kok, kamu repot-repot, tho. Saya beneran sungkan," Balas ku.


Orang Trenggalek memang terkenal ramah, dan gak bisanan, alis gak enekan kalau ada tamu, pasti akan di jamu dengan menghidangkan makanan.


"Tidak usah sungkan, Mas. Monggo, Mbak Layla. Saya gak nyakot (gigit),kok. Ikannya juga sudah mati, di bakar pula." Ucapnya sambil melihat Layla yang masih di balik punggung ku. Dia seperti anak kecil, yang takut dengan orang baru.


"Iyo, Nduk. Nanti, keburu di tunggu orang-orang. Malah, di cariin nanti."


Layla keluar dari balik punggung ku, mau tidak mau di duduk di samping ku, dan ikut makan bersama kami.


Dia bukanya takut, tapi lebih tidak suka dengan kehadiran Dharma. Kenyamanannya terusik, padahal Dharma menyambut kami hangat, dan sama sekali tidak mengganggunya. Malah, sering mencairkan suasana dengan guyonannya.


"Masnya, aku enak manggilnya gimana, ya?'' tanya Dharma, karena sedari tadi dia hanya panggil Mas saja.

__ADS_1


''Albi, saja. Aku biasa dia panggil Albi.'' Sahutku langsung.


"Oh, iya udah, Mas Albi. Tadi, mau panggil nama Mas Qois, tapi kok Mbak Layla panggilnya Mas Albi." Balas Kang Dharma.


Aku hanya manggut-manggut. Sambil menyantap cumi-cumi asam manis dan juga sambel kecapnya. Masakan Mbok Nur memang lezat, tidak kalah dengan masakan restoran di luaran sana. Di tambah, ikan asapnya dan juga sambel terasinya. Jika bukan karena sungkan dengan Dharma, aku pasti akan menghabiskan makanan itu semua.


"Mas Albi juga temannya, Ning Nada, kan?" tanya Dharma.


"Iya. Kita satu perguruan, dan satu periode kepengurusan. Dulu sering, bareng-bareng diskusi di pondok. Nada itu, eh Ning Nada itu cekatan orangnya, cak cek, Apa-apa harus cepat, dan tepat. Aku sampai kuwalahan pas kerja sama dia." Cerita ku.


"Sudah dari kecil, seperti itu orangnya." Sahut Dharma. Aku langsung mendongakkan kepala.


"Maksudnya, cerita kang-kang santri kan seperti itu. Hehehehe" Imbuhnya. Aku kira dia juga mengenal Nada sejak lama.


"Oalah... kirain, kamu juga dekat dengan Nada."


Dia hanya menyeringai. Lalu melanjutkan makannya. Layla tidak banyak bicara, dia khusuk makan. Entah karena masakannya yang lezat, atau karena tidak tahu harus berbicara apa.


Setelah semua selesai makan. Dharma langsung mengambil semua wadah makan, dan memberikan pada seseorang, dia membereskan sendiri tanpa ingin aku bantu.


Ponsel ku berdering, panggilan dari Ibu. Pasti mereka sudah mencari-cari kami. Tadi aku hanya bilang, mengantar Layla ke toilet saja.


Suara ibu dari balik telpon menanyakan keberadaan kami, dan mengatakan kita harus lekas kembali.


"Iya. Ini hari terakhir di Trenggalek, nanti sore kami pulang ke kediri." Jawabku.


"Ayo, Mas!" Ajak Layla. Dia sudah tidak sabar untuk pergi.


" Matur suwun, Kang. Kapan-kapan, boleh main ke kediri." Kata ku pada Dharma. Dia hanya cengengesan sambil menggaruk kepala belakangnya.


"Nggeh. Insya Alloh."


Baru saja kami bersalaman, Si Mbok Nur datang lagi, dengan paper bag ukuran besar.


"Ini, untuk keluarga di rumah." Mbok Nur memberikan papar bag itu pada Layla. Dia menatap ku, lalu dengan ragu menerimanya.


"Lain waktu, kalau di Trenggalek, jangan lupa mampir ke sini lagi." Tambah Mbok Nur.


"Matur Suwun, Buk." Balas Layla, dengan membungkuk sungkan.


Setelah itu kami benar pergi dari warung kayu tersebut. Berjalan menuju tempat keluarga kami berada.

__ADS_1


"Orang aneh, kan Mas." Kata Layla tiba-tiba.


"Siapa?" tanya ku tidak mengerti.


"Ya...Kang Dharma tadi. Masak kita baru kenal, udah di suguhi macam-macam. Di bawain oleh-oleh lagi." Gerutu Layla.


"Tapi, suka, kan?"


Layla menghentikan langkahnya, aku menoleh kearah. Wajahnya sudah di tekuk saja. Aku terkekeh melihatnya mimik wajahnya.


"Maksudnya, masakannya...." lanjut ku.


Dia kembali berjalan. Kami melanjutkan perjalanan.


"Ya suka, sih. Aku tadi kalau gak ada Kang itu, aku sudah lahap makannya." Ujar Layla.


"Sama, dong!'' Sahut Ku.


Kami terawa bersama. Tapi, memang benar-benar enak, masakan Mbok Nur. Aku bahkan ingin cepat pulang dan melahap kembali masakan yang dia bawakan tadi.


Kami sudah bertemu dengan semua keluarga. Mereka mengomeli kami berdua karena kelewat lama. Jaringan ponsel tidak bagus di kawasan pantai, jadi susah untuk menghubungi kami.


"Itu apa, Nduk?" tanya Ibu. Dia melihat papar bag yang di bawa Layla.


"Makanan, Bu. Tadi kami ketemu teman, dan dia langsung mentraktir kami. Karena itulah, kami lama. Dan ini, juga dari dia juga." Jawab Layla menerangkan.


"Teman? siapa? kok gak di ajak ketemu sama kami?" tanya Ayah mengintrogasi.


" Temannya Layla, Yah. Aku tadi kok, ya lupa ya gak ngajak dia kenalan sama Ayah, Ibu. Soalnya laki-laki, Yah." Sahut ku.


Mendengar kata laki-laki. Ayah langsung melotot pada Layla. Aku tertawa melihat Layla yang langsung mengerucut bibirnya. Pasti di kira macam-macam sama Ayah.


"Mas Albi, yang sok kenal, yah. Layla, mah...anteng-anteng (Diam-diam) saja." Protes Layla, yang saat itu tidak terima jika dirinya akan di jadikan kambing hitam.


"Hehehe, Iya, Yah. Dia teman Layla, satu pondok. Dia juga yang kemarin jagain Layla pas pulang dengan rombongan. Kebetulan rumahnya sekitar sini, karena Albi juga kenal, jadi dia berani ngajak makan." Bela ku.


"Oalah...Awas aja. Sampek Layla pacaran!" Ancam ayah.


"Mboten-mboten (Tidak-tidak)!" Elak Layla.


"Sudah-sudah. Ayo kita pulang!" Seru Ibu melerai.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, kami pulang dengan dua kendaraan. Sesampainya di rumah Akung, kami istirahat sebentar. Sholat, dan makan oleh-oleh dari Dharma tadi. Semua memuji masakan Mbok Nur. Bik Sarah bilang, jika masakannya lebih lezat dari pada masakan yang tadi dia beli.


Beliau orang sini. Tapi, jarang sekali ke pantai. Mungkin, karena pantai adalah hal yang dekat, jadi bisa saja itu bukan sesuatu yang harus di prioritaskan.


__ADS_2