(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 84


__ADS_3

#Arya Dharma


Duduk dalam satu ruang, menonton film yang sama dengan Layla belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Waktu sedang menguji cara ku mencintai Layla.


Sanggupkah aku menjaga dia tetap suci seperti sediakala. Hingga waktunya nanti aku benar bisa menjadikan dia wanita satu-satunya di dunia dan di surga.


Cinta itu menjaga, seseorang pernah berkata padaku, "Jika kamu benar menginginkan seseorang, maka mintalah langsung kepada pemiliknya". Dan aku sadar itulah arti mencinta dengan sebenarnya.


Tidaklah ada satu hal yang halal untuk kita lakukan selain mendoakannya. Untuk semoga di satukan di titik terbaik menurut takdirnya.


Meskipun aku tidak bisa melihatnya dalam pandangan ku, tetapi mengetahui jika dia duduk di belakang ku saja itu sudah cukup membuat tenang hatiku.


Aku meminta Sarip untuk membeli Snack dan minuman. Aku tidak ingin kekasih ku bosan dengan kebersamaan kami.


Waktu terus berjalan, usai sudah film yang kami putar. Andre menyarankan untuk memutar satu film lagi. Namun semua tiba-tiba terkejut saat mendapati Layla tidur dengan nyenyaknya di samping Aisyah.


Sekali lagi aku di buat terpesona dengan wajah manisnya. Tenang sekali saat dia tertidur seperti itu. Jantungku berdetak kencang saat dia meringkuk tanpa selimut.


Tahan Dharma, kenapa tiba-tiba ingin segera mendekapnya agar tidak kedinginan.


Aku menawarkan mencari selimut untuk Layla. Tetapi Mas Albi tiba-tiba berjalan mendekati tubuh Layla. Dengan sayang dan pelan dia mengubah posisi terlentang. Aisyah sudah beranjak dari posisinya. Kami terpana melihat Mas Albi dengan gagahnya mengendong Layla dalam dekapannya.


Mengangkatnya lalu membawanya menuju kamar Layla. Pemandangan apa ini? Mas Albi begitu leluasa melihat wajah Layla yang meringkuk di dadanya. Sejauh mas Albi berjalan, dia terus menatap wajah Layla. Layaknya laki-laki dewasa yang sedang menikmati pesona pasangannya.


Hatiku panas, namun aku selalu mengingatkan jika Mas Albi adalah kakaknya Layla. Dia antara lelaki yang ada, dia yang paling memiliki hak atas Layla. Dia yang bisa menyentuh Layla tanpa Aling apa-apa. Tetep saja, gemuruh cemburu menerpa. Tanpa sadar, aku mengikuti langkah mereka hingga depan kamar Layla.


Mas albi meletakkan Layla dia ranjangnya. Manis sekali saat dia berlahan meletakkan Layla ranjang empuk tersebut. Wajahnya mereka bahkan sangat dekat. Ah! Aku tak kuat melihat itu semua. Layla begitu nyaman, dia sama sekali tidak sadar sudah berpindah tempat dengan sangat romantisnya.


Apakah mas Albi sering melakukan hal itu pada Layla, hingga Layla pun terbiasa? Perlakuan Mas Albi memang sesuatu yang juga ingin aku lakukan nanti saat aku benar menjadi suami Layla. Jangankan meletakkan dalam ranjangnya, aku siap dia tidur dalam dekapan ku semalaman.


"Cek. Sekarang tahu, kan. Saingan terberat mu bukan aku, tapi dia..." Andre yang ternyata juga mengikuti mereka berkata sambil memanjukan dagunya pada Mas Albi yang sedang menyelimuti Layla di tambah adegan mengelus ubun-ubunnya sebentar.


"Apa maksudnya?" Aku tidak faham dengan apa yang di katakan Andre. Aku tidak bisa mencerna. Bagaimana bisa kakak kandung menjadi saingan terberat. Kalau halangan terbesar, mungkin bisa. Tapi saingan? Barangkali yang di maksud saingan adalah halangan.


Mas Albi memberitahu jika Layla baik-baik saja. Aku pun mundur teratur. Tidak enak jika sok ingin tahu. Tidak sopan juga sebab Layla belum siapa-siapa.

__ADS_1


Malam itu aku dan Sarip tidur di kamar bawah. Sudah lewat tengah malam bayangan Mas Albi dan Layla terus saja terbayang.


"Gus, tidur. Besok tanding lagi, Lo..." Ujar Sarip yang sejak tadi sudah tertidur. Barangkali dia terusik sebab aku menyalakan MP3 sebagai teman malamku.


"Belum ngantuk, Rip. Kalau gak bisa tidur di sini, kamu pindah kamar gak apa-apa." Kataku.


"Lagi mikir apa, to?'' tanyanya penasaran.


Dia menguap tanda dia sedang menahan kantuk. Akan tetapi dia malah bangun dari pembaringan lalu duduk bersandar.


"Gak bisa tidur sebab film horor tadi? Jenengan masih terbayang-bayang," tambah Sarip


"Ngawur... Ini lebih horor, Rip."


"Heh! Apa Lo Gus? Apa ada hantu Belanda di sini? Ini kan rumah peninggalan Belanda juga?"


"Ngawur, kamu Rip!" Seru ku sambil melempar bantal ke arah mukanya. Sebab dia seperti orang ketakutan tanpa sebab.


"La apa dong?''


"Oalah... Jenengan takut ihtilam (Mimpi basah) ya Gus. Mangkanya gak tidur-tidur,"


"Wah... Tambah ngawur kamu. Kamu ngomongnya jangan ngawur gitu. Atau jangan-jangan kamu tadi juga menikmati lihat Layla tidur! Hah! Ngaku!"


"Mboten Gus! Namun nggeh kedik, la pripun saya juga pertama kalinya lihat perempuan tertidur seperti itu. Apalagi manis sekali, Laylanya..."


"SARIP!!! Awas Lo banyangin Layla lagi. Gua bejek-bejek Lo!"


Aku menepuk Sarip dengan bantal. Menindihnya dengan tubuhku. Bisa-bisanya dia membayangkan Layla dalam pikirannya.


"Ampun, Gus... Gak lagi! Ampun! Cuman pas tadi tok. Gak sampai mimpi kok,"


"Awas aja, Lo bayangin Layla. Sekalipun itu mimpi, gua bakal datang dan bunuh, Lo.!'' Seru ku tak terima.


Sarip sudah hampir kehilangan nafas sebab bantal yang aku buat sekap dia.

__ADS_1


"Mboten, Gus... ampun!" Runtuhnya.


Aku masih menatap tajam padanya. Rasanya gak terima jika perempuan yang aku jaga dia ganggu oleh laki-laki kurang ajar seperti itu. Untuk sekedar membayangkan saja aku tidak akan terima jika Layla yang menjadi obyeknya.


"Awas aja! Berani lihat Layla. Aku congkel mata mu!" Ancamku.


Meskipun itu juga tidak mungkin aku lakukan juga. Tetapi hal itu cukup membuat Sarip jera.


"Kang Dharma! Kang Dharma!"


Aku dan Sarip terdiam seketika. Ada suara ketukan dari arah pintu kamar. Itu suara Ning Nada. Dia balik lagi ke sini? Sejak kapan?


"Ning Nada, Gus..." ujar Sarip yang juga mengenal suaranya.


"Iya, udah tahu!" Umpatku. Aku masih kesal dengannya.


Aku bangkit dari ranjang. Berjalan menuju pintu, berlahan membukanya. Ku lihat Ning Nada di sana, di belakangnya ada Salwa.


"Ada apa? Kok rame?" tanya Ning Nada.


"Oh... Gak apa-apa, Ning. Lagi main aja sama Sarip. Ya, Kan Rip..." Aku memperlihatkan Sarip yang saat itu terbungkus sarung hingga atas kepalanya. Dia memberikan hormat pada Ning Nada dengan menganggukkan kepala.


"Oalah....kirain bertengkar," ujar Ning Nada.


"Tidak," ku sunggingkan senyum untuk lebih meyakinkan.


"Ya sudah kalau begitu. Selamat malam," kata Ning Nada.


"Selamat malam. Selamat beristirahat, Ning. Semoga mimpi indah," balasku lebih manis.


Ning Nada dan Salwa pun pergi. Barangkali ke lantai dua, memilih kamar di sana.


"Haduh! Hampir saja. Alhamdulillah..." Ucapku dengan mengelus dada. Sarip nyengir tanpa dosa.


****

__ADS_1


__ADS_2