
#Arya Dharma
Ternyata saat sore tadi sebelum ke kamar Umi. Layla sudah dulu bertemu dengan Abah. Aku melewatkan momentum tersebut. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Abah saat pertama kali melihat calon mantunya tersebut. Amin Ya Alloh. Pokoknya calon mantu saja! Ucapan adalah doa kan?
Sarip yang mengetahui hal tersebut. Sarip yang menceritakan peristiwa istimewa tersebut.
Saat itu Abah sedang ada di ruang tengah. Baru saja jalan-jalan keliling rumah bersama Sarip. Beliau memang suka berkeliling melihat kondisi tempat yang ia akan tinggali. Apalagi Dhalem timur yang saat ini kita tempati sudah banyak perubahan sejak terakhir beliau menginap di sini.
"Abah gimana, Rio... Apa dia senyum. Senang sama Layla? Gimana-gimana reaksinya?!" Aku langsung antusias saat Sarip mengatakan jika Abah bertemu Layla.
"Gimana ya Gus. Biasa saja. Abah kaget. Soalnya Layla nyelonong masuk gitu saja,"
"Hah! Gimana maksudnya? Kok nyelonong masuk?"
"Barangkali Layla gak tahu kalau di Dhalem ini ada pengunjung. Jadi ya... Tinggal masuk gitu saja. Apalagi baru tadi pagi dia sini."
Aku mengingat lagi. Maklum juga. Layla juga melakukan hal yang sama. Dia juga langsung masuk kamar tanpa mengetuk pintu kamar tadi. Membuat aku, Umi dan dirinya sendiri sama-sama terkejut. Aku saja perlu beberapa menit untuk mengakses otakku jika kehadiran tadi memang nyata. Sebab akhir-akhir ini khamr yang berwujud Layla sungguh membuatku candu dan memabukkan jiwa.
"Abah gak senyum gitu?" tanyaku lagi.
"Tidak, Gus" jawab Sarip.
"Dua senti saja masak gak ada bibi tertarik gitu?" Tanyaku lagi. Geregetan sebab aku sangat ingin melihat langsung reaksi Abah.
"Tidak, Gus. Abah hanya melihat Layla saja."
"Satu senti. Pasti Abah senyum kan, walaupun satu senti. Layla, Rip... Dia kan cantik, anggun. Bidadarinya Dharma, gitu. Masak Abah gak tertarik."
Sarip nyengir.
"Kalau satu senti gak tahu juga, Gus. Bisa iya... Bisa enggak."
"Lah, itu. Pasti senyum, Rip. Coba ingat-ingat. Pasti senyum kan walaupun satu senti."
"Bagaimana ya, Gus? Saya ya gak bisa memastikan. Saya gak bawa garisan buat ngukur tadi." Balasnya dengan menahan tawa.
"Dasar! Gak bisa di andalkan!" Umpatku sebab penasaran ku di buat leluconnya.
__ADS_1
"Tapi Layla sopan, kok Gus. Dia langsung mengucapkan salam setelah mengetahui Abah. Menundukkan badan dan juga pandangan. Meminta izin untuk ke lantai dua dan mengutarakan maksudnya datang." Terang Sarip.
"Layla tadi juga melakukan hal yang sama sama Umi."
"Kebetulan banget, ya Gus. Apa jangan-jangan_"
"Sudah pasti. Jodoh!" Sahutku langsung.
Sarip membuang muka. Muak mungkin sebab aku terlalu percaya diri.
"Umi bagaimana, Gus?"
"Umi? Sudah pasti mah, kalau umi. Beliau sumringah lihat Layla. Dia langsung muji Layla jika Layla gadis yang sopan. Umi mah, bakal setuju. Insya Alloh..." Jawabku optimis.
"Alhamdulillah kalau begitu. Jadi tinggal Abah. Tapi, Gus memang gak apa-apa jenengan (KAMU) menikah dengan gadis biasa?"
"Layla bukan gadis biasa, Rip. Sampai detik ini hanya Layla yang bisa buat aku kayak gini."
"Tapi kan dia bukan, Ning Gus. Dia santri biasa. Gadis biasa pun tidak terlalu populer di pondok. Biasa sajalah..."
"Justru hal itulah yang membuat aku yakin. Jika nanti aku bisa membimbingnya."
"Dalam hal apa? Jika ilmu agama memang seharusnya laki-laki harus lebih mengetahui banyak hal dari seorang perempuan. Bagaimana nanti seorang istri jika laki-laki bisa sungguh-sungguh membimbingnya, Insya Alloh perempuan itu pun akan mengerti dan memahaminya juga." Terang ku.
"Soal lambat atau cepat, apapun itu butuh proses. Menurut ku malah lebih indah jika nantinya aku menjadi salah satu orang yang membuat pendamping ku lebih baik dari sebelumnya. Itu artinya, aku berarti dalam hidupnya. Aku berperan penting dalam perjalanannya. Andai kata kita sudah sama-sama faham, itu malah akan membuat yah... Hambar. Soalnya tidak akan ada perbincangan nantinya? Tidak ada perdebatan. Tidak ada hal apapun lagi yang membuat hubungan kita menjadi lebih berwarna? Sebab kita sama-sama sudah faham. Sebab kita saling mengerti hal yang sama pula. Bahkan nauzubillah, jika itu terjadi kita bakal jalan masing-masing. Kamu dengan kewajiban ku aku dengan kewajiban mu. Sudah. Selesai."
"Tapi bukannya jodoh itu cerminan ya Gus?"
Artinya cermin yang Sarip maksud adalah seperti surah An-Nur ayat 26 yang artinya "Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang."
Aku menghela nafas.
"Lalu apakah kamu pikir Layla tidak baik? Atau aku yang tidak baik?" tanyaku.
Sarip tegang. Dia sampai meregangkan ototnya setelah mendengar pertanyaanku.
"Bukan begitu, Gus. Jenengan Estu tiang SAE. Kulo saksinya (Kamu benar-benar orang baik. Saya yang menjadi saksinya). Hanya saja, apakah mungkin hanya Layla yang bisa membuat jenengan (kamu) jatuh cinta. Jenengan percaya, bahwa Layla bisa membina rumah tangga dengan jenengan (kamu). Berikut menerima secara ikhlas mengayomi pesantren dan juga keluarga Dhalem nantinya?" tanya Sarip.
__ADS_1
Apa yang sedang Sarip ingin dapatkan dari pertanyaan tersebut. Aku melihat banyak keraguan.
Saat itu tidak ada camilan untuk membuat kami berdua bisa lebih santai. Kami juga baru saja makan malam. Sama seperti malam kemarin. Aku dan Sarip duduk di balkon lantai dua. Menatap langit malam yang di terangi oleh rembulan.
"Sampai saat ini aku pun belum bisa memastikan jika Layla adalah jodohku. Bahkan hubunganku dengan Layla saat ini hanya aku saja yang merasakan. Dia masih sama seperti sejak pertama kami bertemu. Mengenal ku layaknya orang-orang di sekitarnya. Meskipun begitu, aku senang. Aku sudah bersyukur sebab dia sudah mulai menyadari keberadaan ku."
Pandangan ku menerawang ke awan-awan. Lagi-lagi aku temukan senyuman Layla di antara langit malam.
"Ini adalah cinta untuk pertama kalinya, Rip. Ini juga perasaan yang baru saja aku rasakan. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan. Sebab itulah kadang aku belum bisa mengendalikan hal baru dalam hidup ku ini." lanjut ku.
Sarip masih mendengarkan. Dia tidak menyahut apa-apa. Dia menanti jawaban apa yang aku lontarkan akan pertanyaan.
"Tentang bagaimana nanti takdir Alloh menentukan. Saat ini aku hanya menjalankan apa yang saat ini di minta untuk aku perankan. Yaitu mencintai Layla. Mengharapkan dia sebagai kekasih idaman. Itu saja,"
"Jika kamu pikir Layla akan kesulitan dan aku akan kebingungan sebab Layla bukanlah seorang Ning atau pun santri yang layak lainya. Itu salah..."
Sarip melebarkan matanya. Wajahnya menunjukkan keterkejutannya.
"Sebelum bertemu Layla. Sebelum ada rasa yang ada di dalam dada. Aku sudah sering berulang kali bahkan setiap sujud sholat ku aku sudah meminta jodoh yang nantinya bisa berjalan bersama-sama di dunia dan akhirat. Tidak hanya menerima ku tapi juga menerima keluarga dan ***** benggeknya..."
Aku terkekeh sedikit untuk membuat suasana lebih longgar.
"Jadi, andaikan Layla adalah jodohku Insya Alloh dia adalah terbaik dari ribuan nama yang telah di pilih Alloh untuk ku. Aku percaya dengan doa-doa ku. Aku percaya juga dengan takdir yang Alloh berikan. Dan tentunya aku percaya dengan jodohku. Yah... Walaupun masih remang-remang. Tapi keyakinan itu sudah tertanam, Rip."
"Kalau semisal Layla bukan jodoh jenengan, pripun?"
Aku tersenyum. Sakit sekali saat Sarip menanyakan hal tersebut. Hatiku berontak tak menerimanya. Barangkali sebab rasa cinta yang sudah mulai menumbuhkan akar di dalamnya.
"Insya Alloh aku ikhlas, Rip. Kudu legowo Karo takdir e pengeran (Harus mengikhlaskan dengan takdir Alloh). Tapi saat ini aku masih terus berusaha meminta agar Layla yang menjadi jodohku. Hehehe..."
"Semoga Alloh memberikan yang terbaik, Gus damel jenengan."
"Amin amin amin. Kamu juga,"
Adzan isya' berkumandang. Perbincangan kami pun kita hentikan. Segera menuju lantai dasar sebab Abah pasti sudah menunggu untuk jama'ah bersama di mushola Dhalem.
Tentang Sarip, barangkali dia khawatir sebab dia pun mengetahui apa yang di lakukan Layla dan Andre tadi siang. Pastilah hatinya ikut panas sebab Layla begitu dekat dengan lawan jenis yang secara terang-terangan menunjukkan rasa perhatian.
__ADS_1
Sarip memang begitu menjagaku. Dia orang yang paling tidak terima jika ada seseorang yang melukai ku. Dia itu perisai nyata yang di berikan padaku.
Terimakasih Sarip... Semoga kelak kamu pun bisa menemukan gadis yang baik dan dia akan mendampingi mu hingga surga nanti. Agar kamu bisa faham dengan apa yang aku rasakan sekarang.