
Kegiatan pondok kembali aktif. Semua mulai berjalan sesuai jadwal dan ketentuan. Hidup seakan terbawa arus, hanyut dengan sendirinya. Terkadang, aku berfikir kenapa anak pondok jarang yang mengeluh dengan padatnya jadwal dan peraturan. Seakan memang hal itu yang harus mereka lakukan. Mereka pun menjalaninya dengan suka cita. Tidak ada rasa lelah, bahkan setelah seharian berlarian mengejar jadwal. Malamnya mereka masih bisa begadang dengan alasan tugas walau akhirnya hanya di habiskan dengan berbincang sepanjang malam.
Jika di tanya apa aku salah satu dari mereka? Jawab ku tidak. Aku lebih memilih memanfaatkan waktu untuk merebahkan badan. Memberikan waktu otak dan badan ku untuk beristirahat. Mereka berhak untuk itu, karena saat ini hanya aku yang bisa menjaganya.
Aku teringat dengan pesan Mas Albi sesaat sebelum dia turun dari Bis waktu itu. Dia berpesan "Jaga kesehatan, kerena saat ini hanya kamu sendiri yang bisa mengurusnya."
Dan aku sedang menerapkan pesan itu. Entah kenapa dia berpesan seperti itu? Seperti aku akan teledor dalam menjaga diri ku sendiri. Tapi memang benar, jadwal ku lebih padat dari jadwal santri lainya. Kelas ketiga memiliki jadwal extra karena harus menghadapi ujian.
Jika dulu jadwal belajar hanya satu jam, saat ini bertambah menjadi dua jam, penuh tanpa jeda. Bertambah pula jadwal untuk sholat hajat bersama selam kita menjalani ujian hingga pengumuman ke lulusan.
Aku memang terbiasa sholat malam, tapi sholat kali ini akan lebih lama. Selain bertambah roka'atnya, jumlah wiridnya pun berbeda dan bertambah banyak.
Setiap malam kami melakukannya. Pukul setengah dua malam para pengurus kelas tiga akan membangunkan satu persatu anggotanya. Tidak segan, kadang membawa air untuk menyiram wajahnya jika dia susah di bangunkan.
Bayangkan saja, kita tidur paling awal jam sebelas malam. Dan harus bangun pukul setengah dua. Hanya dua setengah jam mata ini mendapatkan jatah terpejam. Tidak bisa di pungkiri jika saat wiridan nanti akan banyak yang tertidur, dan mendelosorkan tubuhnya. Tapi, juga ada yang kuat iman dan tenaganya meski sudah di gempur seharian. Mereka adalah para pengurus kelas tiga.
Kabar Tryout sudah mulai berseliweran. Dalam sebulan aku sampai harus menelpon rumah untuk meminta doa restu agar semua lancar. Mas Albi sering sekali tiba-tiba datang, meskipun tanpa Ayah dan Ibu. Katanya dia semakin mengkhawatirkan aku yang sedang menjalani ujian. Katanya wajah ku semakin kurusan dan tidak terawat. Padahal aku juga sudah mewanti-wanti diri ku sendiri untuk tidak membuang waktu istirahat.
"Kabarnya penjaga Tryout bukan dari guru-guru kita." Bisik Aisyah saat kepala sekolah menerangkan peraturan ujian Tryout kami.
Yah, kami baru saja di kumpulan di halaman sekolah untuk menerima wejangan dan juga pengumuman jadwal Tryout yang akan kami terima.
Memang benar, saat kelas tiga jadwal pelajaran sudah menipis. Namun tetap saja, kami di genjot dengan banyak bab yang sudah kami pelajari. Memulai mempelajari lagi, dan mengulang materi.
"Kira-kira siapa yang akan menjaga kita? Apa di ambilkan dari sekolah lain?" tanya ku dengan lirih.
Aisyah mengangkat bahunya tanda dia juga tidak mengetahui jawabannya. Walhasil kami kembali fokus mendengarkan wejangan dari kepala sekolah kami.
__ADS_1
Kepala sekolah kami bukankah orang sembarangan, dia adalah salah satu dari pengasuh pondok pesantren cabang pondok ini. Beliau putra langsung dari pendiri pondok, dan adik dari Abah yai Musthofa, Kyai kami.
Di banding saudara-saudaranya, Abah Faisol__ kepala sekolah kami, terkenal dengan pendidik yang tegas dan tidak memiliki toleransi.
Beliau mendapat jadwal di setiap kelas untuk mata pelajaran kitab kuning. Dan saat beliau selesai menerangkan, kami para siswa wajib mengajukan pertanyaan. Minimal tiga pertanyaan, dari setiap kelas.
Apesnya, saat itu tidak ada satu pun dari kami yang menyiapkan pertanyaannya. Walhasil, hukuman kami adalah di jemur di depan tiang bendera hingga jam istirahat tiba.
Belum selesai kami melaksanakan hukuman itu, salah satu dari kami tidak sengaja bermain selang air yang ada di taman depan kelas. Apesnya lagi, kepala sekolah mengetahui hal itu. Langsung dengan lantang. Beliau mengusir kami semua.
"Kalian saya skors semua!!!" Amarahnya waktu itu.
Bagai tersambar petir amarah beliau bagai kutukan yang langsung menjadikan kami batu. Tidak ada satupun dari kami yang berani bergerak, tidak juga berucap. Menikmati nelangsa pada diri masing-masing, karena telah membuat guru kami murka.
Sebenarnya maksud beliau baik. Beliau ingin muridnya aktif dan tanggap dalam pelajaran. Tidak menumbuhkan sungkan meski beliau adalah salah satu pengasuh pondok kami juga.
Dalam hal ta'dzim memang kita harus sami'na wa athok na (Mendengar dan mentaati) tapi terkadang itu akan membuat kami pasif dan tidak berani bertanya, takut jika di anggap penjelasan beliau kurang memahamkan kami. Dan itu akan melukai hati beliau. Tapi nyatanya, beliau berbeda. Dalam konteks pendidikannya, bertanya mengartikan ke fahamaan, sedang diam dia artikan tidak mengerti apa-apa.
"Aku ke ingat pas kita di usir dari kelas dulu, lucu ya. Sekelas di skors." Balas ku.
Aisyah langsung ikut terkekeh mengingat kejadian itu. Dialah orang yang bermain selang air hingga membuat kami satu kelas di skors.
Candaan kami terhenti sesaat, setelah Abah Faisol mengumumkan siapa saja yang akan menjadi pengawas ujian Tryout kami. Beberapa kelas mulai di sebutan siapa saja pengawas mereka. Dan benar, beberapa dari mereka dari sekolah lain. Ada juga yang langsung di tunjuk oleh kepala sekolah dari para guru-guru Madrasah Diniyah.
"Kenapa guru Madrasah di ikut sertakan? Bukankah, gak nyambung?" beberapa desas desus mulai terdengar. Baru tahun ini hal itu terjadi. Selam ini, antara formal dan Diniyah tidaklah pernah di campur, kecuali kalau memang guru tersebut merangkap ke duanya.
Semua mulai mempertanyakan perubahan itu, namun tidak satupun yang mendapatkan jawaban yang pas.
__ADS_1
"Menurut mu, kenapa guru Diniyah di ikut sertakan?" bisik Asiyah.
"Mana aku tahu, bukankah biasanya kamu yang lebih tahu berita-berita seperti ini?" Jawab ku sambil mengangkat ke dua bahu lalu menurunkan.
"Ck. Kau itu, rasanya percuma aku bertanya kepada mu." Sewot Aisyah. Jiwa keinginan tahuanya mulai bergejolak. Dia selalu ingin lebih awal mengetahui hal-hal yang baru. Dan kali ini, desas desus itu lolos dari pendengarannya, hingga berita itu langsung ia dengar sendiri di depan banyak orang.
Aku tidak bisa melihat ke barisan depan saat Abah Faisol memperkenalkan wajah para perwakilan pengawas. Terdengar riuh tepuk tangan setelah mereka di persilahkan maju ke depan.
Biasalah, aku tidak tahan panas dan mencari tempat yang agak teduh, di bawah pohon palem. Dan itu mengharuskan aku untuk berada di barisan paling belakang. Aku sampai harus jinjit saat mulai penasaran dengan para pengawas itu.
Dari nama-nama yang di sebut ada juga pengawas perempuan. Aku mengenal beberapa nama mereka. Salah satunya adalah ketua pondok kami dan keamanannya.
Suasana mulai ramai, karena hal itu tidaklah wajar. Kenapa para pengurus pondok juga di ikut sertakan. Walau iya, mereka juga masuk dalam barisan perwakilan Madrasah Diniyah.
"Semua sudah di pertimbangkan. Para staf guru, akan tetap mengajar kelas satu dan dua. Dan kelas tiga bisa tryout dengan tenang di jaga oleh para pengawas yang telah kami pilihkan_"
Dan banyak pengumuman lainya. Aku menyimpulkan jika itu di lakukan untuk menstabilkan pelajaran tetap berjalan. Serta tidak mengharuskan kelas satu dan dua masuk setengah hari.
"Untuk perwakilan sambutan dari pengawas, kami persilahkan Bapak Arya Dharma untuk memberikan sambutan." Suara Mc memberitahukan kelanjutan acaranya.
Nama Arya Dharma langsung menggema ke setiap penjuru arah. Sorak ria dari barisan siswa putri bersahutan-sahutan. Ada juga yang langsung menjerit histeris saat sosok nama tersebut berjalan ke tengah lapangan, menuju mic yang sudah di sediakan.
Mata ku tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dia lakukan. Mungkin juga sedang menebar senyum borosnya, atau sekedar memperlihatkan pesonanya.
"Dia yang akan menjadi pengawas ruangan kita. Beruntung sekali kan, kita?!" Ujar Aisyah dengan girangnya.
"Apa?!" Kejut ku. Tidak percaya.
__ADS_1
Aisyah tidak memperhatikan keterkejutan ku. Sedari tadi dia sudah sibuk sendiri. Sudah ingin maju saja ke depan. Kakinya maju mundur, kepalanya menjukang keatas untuk bisa melihatnya sosok yang sedang memberikan sambutan.
"Sumpah sih, kita beruntung banget. Tiap hari bisa lihat Kang Dharma, rasanya pengen cepet-cepet Tryout!" Seru salah satu teman yang berbaris di depan ku. Kenapa mereka begitu antusias sekali? Sampai ingin cepat menjalani Tryout. Kepala ku geleng-geleng tidak mengerti.