
#Layla Najwa Fathurrohman
Setelah mendapatkan kartu mahram aku langsung menuju teras depan. Aku buru-buru keluar dari Dhalem sebab tidak mau lagi jika ketahuan nyelonong begitu saja di dalam.
Ah! Hari ini pertama kalinya aku bertemu dengan orangtua kang Dharma. Mereka jauh sekali dari expetasi. Keluarga kang Dharma terlihat sekali berkelas dan bukan orang biasa yang pernah aku bayangkan.
Yah, walaupun aku pernah mendengar jika dia juga saudara Dhalem tapi sikapnya yang biasa saja terhadap lingkungan sekitar membuat aku berpikir jika dia pun sama seperti kami. Orang pada umumnya. Keluarga yang biasa saja. Tapi, ternyata bisa membuatku gigit jari. Ah! Malunya aku!
Jadi teringat perlakuan ku kepadanya yang kadang tidak sopan bahkan acuh. Padahal dia layak dihormati lebih.
"Sudah dapat kartunya?" tanya Mas Albi setelah aku keluar dari dalam rumah.
"Alhamdulillah, sudah." Jawabku sambil
menunjukkan pada mereka kartu yang berhasil aku dapatkan kembali__dengan mengorbankan harga diri, tentunya.
"Kalau memang sudah tidak ada yang dilakukan lagi. Ayo kembali ke pondok. Menyerahkan ini pada pengurus, lalu mas dan Andre bisa pulang." Kata Mas Albi.
Aku mengangguk.
Baru saja kami akan masuk ke dalam mobil. Mobil Ning Nada masuk halaman. Dia datang untuk menemui kami atau karena tamu yang ada didalam?
"Nada, kita temui dia dulu." Kata Mas Andre.
Kami pun menyetujui.
Ning Nada datang bersama Salwa lagi. Lagi-lagi aku harus merendam letupan cemburu yang tiba-tiba menyerang hatiku.
"Assalamualaikum..." Salam Ning Nada pada kami setelah dia turun dari mobil.
"Waaikumsalam..." Balas kami hampir bersamaan.
"Sudah mau pulang?" tanya Ning Nada
"Iya. Kalau bisa sebelum magrib kita pulang," jawab Mas Albi.
"Oh... Sudah dapat yang kalian cari?" tanya Ning Nada.
"Sudah. Alhamdulillah, ketemu" jawab Mas Albi.
"Salwa mau ngasih sesuatu." Kata Ning Nada.
Mata kami pun tertuju pada Salwa yang sejak tadi berdiri mematung dengan satu papar bag besar di tangannya.
"Ini. Jaket mas Albi yang kemarin mas pinjamkan. Terimakasih," kata Salwa sambil menyodorkan papar bag tersebut.
__ADS_1
Aku hampir lupa dengan jaket tersebut. Apakah Salwa sudah mencucinya hingga bersih? Apa dia juga sudah menyetrikanya dengan rapi? Atau juga sudah menambahkan parfum, agar mas Albi mengingatnya saat dia memakainya nanti?
"Masya Alloh! Aku sampai lupa kalau bawa jaket. Terimakasih, Salwa..." balas Mas Albi riang.
Aku melirik isi papar bag tersebut. Tidak hanya jaket, sepertinya ada barang lainya di dalamnya. Apa itu? Aku ingin tahu. Tapi mas Albi tidak langsung melihatnya. Dia malah fokus pada gadis didepannya yang tersipu malu.
"Baiklah kalau memang sudah semua. Kita pamit, ya NAD. Terimakasih atas semuanya. Maaf kalau kita sempat buat gaduh," potong Mas Andre.
"Ok. Tidak apa-apa. Wajarlah, Albi tadi pasti khawatir adiknya ilang tiba-tiba," balas Ning Nada sambil melihat ke arahku.
Aku menundukkan wajah. Sebab malu karena diketahui kenakalanku.
"Titip Layla, ya NAD. Maaf kalau dia nakal," kata Mas Albi sambil menguyel-uyel kepalaku yang tertutup hijab.
"Layla saja nih, gak nambah?" Godanya sambil menyenggol bahu Salwa.
Mas Albi tersenyum dengan sedikit gelak tawa.
"Yah... Dua-duanya gak apa-apa. Titip ya .." katanya kemudian.
"Cie... Ada yang mau nerbangin layar, nih..." Sindir mas Andre sambil berkedip manja pada mas Albi.
"Sudah. Ayo! Nanti malah gak jadi pulang," balas Mas Albi. Dia yang faham akan godaan temannya menyambut dengan santai dan tidak terlalu di pikirkan. Dia memang tidak ingin memikirkan atau takut jika semakin membuat Salwa tersipu malu?
"Pamit, Ning." Aisyah lebih dulu sungkem pada Ning Nada. Aku pun melakukan hal yang sama.
"Mas, lihat isi papar bag-nya?" Kataku. Jiwa keinginan tahu ku sudah tidak bisa tertahan.
Mas Albi mengambil papar bag yang ada di bawah kursinya. Lalu tanpa melihat kebelakang dia menyerahkan padaku.
"Kepo aja kamu, Layla." Ujar Mas Albi.
"Biarin!" Sahutku
Aku langsung merogoh isi papar bag tersebut. Satu kotak berisikan jaket Mas Albi. Benar saja, baru aku ambil bau harum semerbak tercium dari jaket tersebut.
"Wih... Harum sekali!" Saru Mas Andre. Bahkan mas Andre menyium baru harumnya.
"Parfum dari calon istri!" Sahutku dengan nada menekan.
"Hust! Layla gak boleh kayak gitu," sahut Mas Albi namun tidak ada sebuah nada yang mengexpresikan kekecewaan ataupun pembantahan. Dia hanya membuat perlawan agar tidak ada yang menggoda.
Aku melihat lagi isi dalamnya. Ada kotak lagu yang entah apa itu isinya. Aku segera mengambilnya.
"Waw! Fantastik!" Seru Aisyah yang saat itu juga terpesona dengan apa yang baru saja aku keluarkan.
__ADS_1
Sebuah kotak dengan hiasan kaca bening pada penutupannya.
"Seperangkat alat sholat!" Seruku dengan penekanan. Rasanya ingin aku luapkan semua kecemburuan dalam dada.
"Widih! Sudah dapat aja," kata Mas Andre. Dia melihat dari kaca yang terletak di atas dasbor.
"Sini, lihat." Mas Albi kepo juga ternyata. Dia berbalik melihat kebelakang.
Kado dengan isi baju, Koko, tasbih, sarung dan juga jam tangan itu terpampang nyata di depan mata.
"Masya Alloh. Gimana aku membalasnya?" tanyanya kaget karena memang sekeren itu hadiahnya. Bahkan bermerk semua. Sarungnya saja BHS dengan desain terbaru. Padahal sarung tersebut di bandrol paling murah harganya lima ratus ribu.
"Ya gampanglah, Bi. Cewek kalau sudah ngasih kode kayak gitu ya maunya di halalin. Apa lagi," kata mas Andre.
"Nih!" Aku menyodorkan barang itu pada mas Albi dengan cemberut. Aku tidak bisa lagi menutup kegundahan hatiku.
"Marah lagi! Salah apa masmu ini! Kan mas juga gak tahu kalau di kasih seperti ini?!'' Ujar mas Albi faham akan perubahan sikapku.
Aku membuang muka.
"Tenang, Layla. Kamu mau apa? Jangankan seperangkat alat sholat, melayanimu sampai akhir hayat aku mau!" Sahut Mas Andre. Tapi langsung dapat timpukan dari mas albi.
Aku menutup kupingku. Aku masih belum terbiasa di goda dengan kata 'Layanan'. Itu terlalu fulgar.
Aisyah sejak tadi hanya diam menyaksikan kami beradu. Hanya senyum-senyum tanpa berani berbicara.
Mobil sudah sampai lagi di depan pondok. Kamu turun dari mobil. Lalu bersama menuju kantor untuk menyerahkan bukti kartu muhrim pada keamanan.
Kalau di pikiran lagi sebenarnya memang tidak ada mahram. Mas albi kan bukan kakak kandungku. Tapi, karena dia ada satu KK denganku dan entah apakah waktu pembuatan kartu tersebut pengurus pondok kurang teliti atau tidak, mereka tetap memberikan kelonggaran pada mas Albi sebagai orang yang bisa menjenguk, menjemput dan mengantar kembali ke pondok.
Setelah semua beres, Mas Albi dan Mas Andre pamitan. Mereka memutuskan untuk jama'ah sholat ashar di jalan saja.
"Salam buat, Salwa. Terimakasih banyak, ya Nduk," kata Mas Albi sesaat sebelum dia masuk ke dalam mobil.
"Iya. Insya Alloh." Jawabku
Mas albi tersenyum. Dia menyodorkan tangannya padaku. Lalu aku menyium punggung telapak tangannya.
"Aku juga boleh, Layla ..." Kata Mas Andre sambil menyodorkan tangannya. Lagi-lagi mas Albi menampik tangan tersebut.
"Gak usah! Bukan muhrim!" Serunya.
"Ih ... Kan Lo juga," sahutnya.
Sontak membuat Aisyah yang ada di sampingku terbelalak kaget. Mendengarkan keganjilan tersebut aku langsung mendorong mas Albi untuk segera masuk ke mobil. Mas Andre pun aku minta untuk segera masuk. Aku sudah seperti mengusir mereka saja.
__ADS_1
Hingga saat ini aku tidak mau jika ada orang lain mengetahui kebenaran tentang hubunganku dan Mas Albi. Meskipun itu adalah Aisyah, sahabatku sendiri.