
# Qois Albifardzan
Sehabis asar tukang expedisi datang. Yang niatnya tadi mau antar sendiri jadi sekalian dikirim dengan paket yang lain.
Selagi mencatat semua paket Andre menawarkan makanan apa yang ingin mereka makan. Dia sudah membuka aplikasi go food untuk memesan beberapa macam makanan.
"Lu apa, Bi?" tanya Andre
"Apa sajalah terserah," jawabku.
Aku sedang asyik melihat hasil desain beberapa costemer. Sambil menimbang-nimbang stock bahan dasar kaos.
"Tahu lontong, mau? Yang lain pada mau mie level sama bakso."
"Yang satu tempat saja. Sekalian ordernya," kataku.
"Ok... Ok..." Kata Andre.
Dia lalu fokus lagi dengan ponselnya. Aku kembali pun dengan layar laptop didepanku.
"Jumlah pesanan untuk seragam kelulusan dulukan dulu. Biar tidak lewat deadline," kataku.
Setelah ku lihat ternyata ada hampir lima orang yang memesan kaos seragam kelulusan dengan jumlah yang lumayan banyak. Jika dilihat dari tanggal sekarang, kelulusan tinggal satu bulan lagi.
"Yang tiga aman, bos. Tapi yang dua, masih dalam antrian." Kata Adnan.
"Tapi, kalau di dulukan apa gak kasihan yang pesan dulu. Nunggu lama," sahut Andre
"Bisa di sela-selain kan?" tanyaku pada Adnan.
Rumah ini memang khusus untuk kantor. Sedang produksi ada tempatnya lagi. Di sana ada lima pegawai yang menjalankan produksi setiap hari.
"Bisa," kata Adnan.
__ADS_1
"Lagian aku minta seperti itu karena desain mereka hampir sama. Jadi sekali saja, tidak mengubah-ubah lagi cetakannya." Kataku.
"Ok. Kalau itu baik, terserah..."
Bagas sudah selesai dengan tukang paket. Truk pengangkut sudah pergi bersama paket-paket yang akan dikirim.
Aku memang menyarankan kita hanya memakai dua saja. Agar pengiriman tidak terlalu banyak kendala. Takutnya ada costemer yang menginginkan dikirim pakai A dan ternyata kita kirim pakai B itu akan memicu kendala juga di keuangan. Sebab expedisi yang dipilih pun termasuk dari kekuatan ekonomi costemer juga.
Dengan meminimnya expedisi mereka pun cukup memilih dua saja yang mereka kehendaki. Dan kami pun tidak repot juga untuk menambah waktu untuk mengirim ke lain expedisi.
Dulu pernah, saat pertama-tamanya kami memberikan pelayanan semua pengiriman tergantung customer. Mau dikirim lewat apa, itu terserah mereka. Tapi, kami jadi kualahan. Sebab kita harus datang ke hampir lima expedisi yang berbeda. Dan itu memakan waktu juga.
Setelah hal itu, kita menginformasikan jika hanya dua expedisi yang akan kami pilihkan.
"Kita sholat dulu, bro!" Seru Andre dia sudah berdiri dan langsung beranjak ke kamar mandi yang ada di paling belakang rumah ini.
Tidak banyak cakap, semua yang ada di ruangan pun bergantian mengantri. Setelah berwudhu semua, kami sholat jama'ah di kamar satu yang di khususkan untuk sholat dan istirahat.
Selang beberapa menit, tukang ojek datang. Dia membawakan pesanan makanan kami. Karena akhir-akhir ini kami jarang ke kantor. Jadi mungkin Andre berinsiatif untuk sekedar membagi waktu luang bersama pegawai kami.
Membangun bisnis perlu, tapi untuk membuat kokoh bisnis tersebut kita perlu membangun hal baik pula pada rapa pegawai.
Kita makan bersama sambil bercanda dan mengobrol santai. Saat seperti ini, lebih enak jika berdiskusi tentang visi misi kedepannya. Mereka lebih santai dan bisa di ajak berpikir jika dengan perut terisi.
"Aku habis ini langsung pulang. Maaf tidak bisa ikut gabung dulu," kata Bagas.
"Tumben,"
Biasanya dia yang paling akhir pulang. Dia pula yang paling suka menempati kantor ini.
"Mamak ku sakit, bos. Doakan saja, semoga lekas sembuh."
Aku dan Andre tercengang. Adit dan Adnan masih menunduk memakan makanannya. Itu artinya, mereka sudah tahu.
__ADS_1
"Kenapa gak bilang? Kan kamu bisa libur buat ngerawat ibumu?" Andre yang berbicara.
"Saya sudah bilang ke Bagas gitu, bos. Tapi, dia gak mau. Katanya sungkan kalau minta izin,"
''Ya Alloh... Gas. Memang aku gak bakal ngasih izin gitu? Kalau memang gawat kami juga gak bakal kenapa-kenapa. Aku dan Andre bisa handle juga,"
"Bukan karena itu, bos. Aku percaya bos pasti kasih izin. Tapi, ibu sakitnya sudah satu bulan. Gak enak kalau libur terus. Saya kan juga harus kerja buat perawatan ibu."
"Astaghfirullah... Bagas.... Sadah satu bulan ibumu sakit. Dan kamu gak ngasih tahu kam!" Seru Andre.
Adnan dan Adit semakin menunduk. Ada kekecewaan yang dalam hati. Ada perih yang aku dan yang lain rasakan. Ketika ada seseorang yang dekat dengan kami sedang tertimpa masalah dan kami tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kalau begitu setelah ini kami kerumah mu. Aku kepingin nyambang mamakmu," tambah Andre.
Aku mengangguk, kedua pegawai ikut setuju.
Setelah menyelesaikan makanan. Kami bergegas pergi ke rumah Bagas. Jarak tempuhnya lumayan lama, ada setengah jam dari kantor. Setiap hari Bagas pulang pergi mengunakan sepedah motor prima untuk berangkat kerja.
Pegawai kami memang tidak semua berada. Hanya Adit yang lumayan punya. Itu pun sebatas ada. Sedang Adnan dan Bagas mereka juga awalnya kuliah, namun putus sebab tidak memiliki biaya.
Karena itulah, adanya bisnis yang kami dirikan cukup membuat beberapa orang mendapatkan penghasilan. Aku dan Andre sering bersyukur sebab apa yang kita mulai berdua, bisa membawa berkah untuk beberapa orang lainya.
Kali ini Andre meninggalkan mobilnya di kantor. Dia memilih berangkat bersama Bagas. Motor Supra yang ditumpangi mereka berdua agak bergelok-gelok sebab Andre mengumbar canda saat di perjalanan. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sejak di perjalanan mereka berdua tertawa bersama.
Itulah salah satu kelebihan Andre. Dia tidak bisa melihat orang disekitarnya dirundung duka. Dia selalu memiliki cara agar orang sekitarnya bisa tertawa dan melupakan sakit hatinya. Dan aku yakin, hari ini pula dia akan membuat senyum diwajah ibu Bagas.
Aku beruntung memiliki sahabat seperti dia. Andai dia memang jodoh Layla kelak, mungkin aku akan benar-benar ikhlas melepasnya.
Kami sudah melewati gang kecil yang jauh dari jalan raya. Di gang inilah rumah Bagas berdiri. Dia bersama ibunya dan dua adik perempuan yang masih sekolah. Ayah Bagas sudah lama meninggal dan sekarang dialah tulang punggung keluarga.
Sebab itu jugalah aku kecewa, Andre kecewa dia menyembunyikan kesusahannya pada kami berdua.
Sebisa mungkin, kita saling membantu. Saling menguatkan dan berpegang tangan. Semoga dengan hal itu, kita bisa sukses bersama-sama. Amin amin amin.
__ADS_1