(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 29


__ADS_3

Kata orang, jodoh tidak mengenal tempat dan waktu. Dia bisa datang, tanpa di duga. Dan bisa saja terlambat, saat di damba. Karena itu aku tidak ingin memikirkannya. Meskipun begitu, aku tidak pernah lupa untuk meminta jodoh seperti orang lain pada umumnya.


Namun saat bertemu dengan Layla. Hampir setiap malam aku, gencar merayu DIA, sang pemilik Layla. Tiba-tiba, hatiku lancang memintanya, mendesaknya, dan terus-terusan memanjakanNYA dengan dzikir-dzikir indah. Agar pencipta ku, berpihak kepada ku, agar DIA memberikan Layla di kehidupan ku.


"Dharma?"


Panggilan lembut itu, menelusuk telingaku. Saat di mana, aku sedang berkonsentrasi, tiba-tiba beliau memegang pundak ku. Tangan dinginnya, yang baru saja terkena air wudhu membuat sekujur tubuh ku merasakannya.


" Wonten nopo (Ada apa)?"


Siti Aisyah, perempuan pertama yang aku berikan tahta di singgasana hatiku. Melihat senyumnya saja bisa aku rasakan sejuk di dalam dada. Sampai saat ini, aku tidak pernah kuasa membantah apapun keinginannya. Hanya kadang, jika itu tidak memberatkan, dan tidak menimbulkan gesekan di dalam hatinya.


Sampai saat ini, aku menjadikan dia satu-satunya alasan ku bisa bahagia. Karena doa-doanya lah, sampai detik ini aku tidak pernah kekurangan rasa nikmat, dan juga keberuntungan di dunia ini.


"Umi, ada apa?" tanya ku lagi. Saat dia masih diam, karena membetulkan duduknya. Duduk di atas ranjang tidur ku, sambil memandang diriku yang masih di atas sajadah, dengan memutar tasbih di tangan. Wajahnya sejuk, saat tersenyum simpul seperti itu.


"Apa ada hajat tertentu, sampai lama sekali kamu tahajud?"


Itulah kenapa seorang ibu lebih tinggi derajatnya. Sampai Rasullullah mengulangi nama itu tiga kali, saat seorang sahabat menanyakan, siapa orang yang harus kita hormati. Sabda Rasulullah, "Ibu mu, Ibu mu, Ibu mu dan kemudian Ayahmu" . Seorang ibu sangat peka akan perasaan hati anaknya. Beberapa kali, beliau menanyakan perubahan sikapku setelah pulang dari pondok.


Teringat, saat beberapa hari yang lalu, beliau juga berkata, "Ojo guya guyu dewe, wedi umi dadine. Enek opo (Jangan senyum-senyum sendiri, takut umi jadinya. Ada apa)?" Pertanyaan itu masih belum aku jawab sampai sekarang. Karena itulah, saat ini beliau ingin mengetahuinya lagi.


"Banyak hajat, Mi. Doain Dharma, ya...Semoga Alloh meridhoi keinginan Dharma." Jawabku. Tangan ku, mulai memegang ke dua tangan lembut, putih bersih itu. Ku elus-elus dan kemudian kucium.


"Bau sabun, Mi!" Gurau ku setelah mencium telapak punggungnya. Beliau tertawa kecil, sambil menepuk bahu ku. Aku menyeringai ke arahnya, dan kemudian memeluknya.


"Emang e hajat, mu opo (Memangnya, hajatmu, apa)?"

__ADS_1


Aku masih menenggelamkan wajahku di pangkuan umi, sambil tersenyum tipis teringat akan doa-doa ku yang aku gencarkan beberapa saat tadi.


"Doain umi kaleh Abah, Mugi panjang umur, sehat selalu, bahagia, dan semoga lekas punya cucu."


Umi langsung mengangkat wajahku, setelah mendengarkan ucapakan yang terakhir. Matanya terbelalak, seakan tidak percaya.


"Kamu, pengen Umi cepat punya cucu?" tanyanya lagi, tidak percaya.


Aku mengangguk, dan menarik tubuhku membenarkan posisi dudukku, dengan bersila di tempat itu.


"Kamu sudah mau, nikah?"


"Yah, Umi. Apa pengen cucu harus nikah dulu, kan bisa lewat dari Mbak-mbak ndalem yang sudah menikah." Elak ku.


Entah mengapa, aku masih belum siap menceritakan soal Layla pada Umi. Bayangan Layla memang sudah penuh di pelupuk mataku, bahkan purnama di balik jendela kamar ku pun, saat ini berpindah haluan, menjadi wajahnya. Namun, yang menjadi kendalanya adalah, mengingat bahwa aku belum sepenuhnya mengerti Layla, aku tidak akan bisa menjawab pertanyaan lainya, jika saat ini nama itu keluar langsung dari bibirku.


Aku terkekeh kecil, dan masih tetap memandang wajah umi. Ku lihat wajah bahagia beliau beberapa detik yang lalu, mungkin karena mengira aku sudah mau menikah, tapi kini wajah datarnya kembali dia tunjukan.


"Ah...umi! Maafkan putra mu ini yang belum bisa menceritakan tentang nama baru di dalam hati ku saat ini. Nanti, akan ada waktunya, karena itulah aku ingin lebih giat bernegosiasi dengan Alloh." Ujar ku dalam hati.


"Tapi, Mi...Kalau tiba-tiba Dharma suka sama seseorang, boleh Dharma langsung lamar, dia?"


tanya ku dengan hati-hati.


Beberapa detik, umi hanya menatapku, mendalami setiap perkataan ku, atau mungkin membaca apa yang tersirat di dalam pikiran ku.


"Ya, boleh. Asal, izin dulu sama Abah dan Umi. Jangan main lamar, aja. Orang tua mu ini, juga perlu tahu dulu, siapa wanita itu." Jawab Umi akhirnya.

__ADS_1


Aku menekuk wajah ku seketika. Hah! Itu salah satu yang aku takutkan. Aku belum begitu mengerti, siapa Layla. Keluarganya bagaimana, tapi menurut informasi yang aku dengar, dia dari keluarga biasa. Bukan dari keluarga pesantren seperti kami, namun setiap keluarganya memang lulusan pesantren semua.


"Mik, janji ya...Apapun pilihan Dharma, nantinya. Umi, selalu mendoakan Dharma." Aku menatap lekat lagi, wanita kesayangan ku yang sedang mengelus ubun-ubun ku itu.


"Masalah jodoh, kui kersane Gusti Alloh, Le. Umi namung iso dongak ne. Tapi, lek iso ya golek sing Umi Karo Abah remen Yoan (Masalah jodoh, itu tergantung Gusti Alloh. Umi hanya bisa mendoakan. Tapi, kalau bisa, ya cari yang Umi sama Abah suka juga)."


Aku menghela nafas. Rasanya tiba-tiba ruangan jadi sesak. Namun, kepasrahan umi pada Alloh sedikit melegakan hati ku. Itu artinya, masih banyak peluang, masih bisa aku usahakan untuk terus meminta Layla, untuk hidup ku.


"Kok senyum? Emang kamu sudah punya calon?"


tanya Umi. Mungkin, beliau sadar saat aku senyum-senyum sendiri saat membayangkan Layla.


"Emmm... Doain aja,lah Mi. Nanti, kalau emang beneran dia jodoh Dharma, pasti aku kasih tahu." Jawab ku.


Umi tersenyum, dia tidak menanyakan apapun lagi. Mungkin beliau mengerti, jika putranya ini masih belum ingin menceritakan soal perasaannya.


"Amin...Amin...Amin...Semoga kalau jodoh, segera di dekat,kan." Doa ibu. Aku tersenyum manis. Lega rasanya, seakan sudah mengantongi restu dari beliau.


Setelah waktu itu. Entah karena doa Umi, atau memang sudah di takdirkan. Aku kembali berjumpa dengan dirinya lagi. Tanpa di sangka-sangka, dan tidak terduga.


Tubuh itu menghantam ku dari belakang. Sontak, aku langsung berbalik, dan aku dapati dirinya tersungkur, di bawahku, sudah bercampur pasir pantai.


Mataku masih terpaku, tidak percaya. Tubuhku, bahkan tidak langsung menolongnya, hanya diam tidak bergerak, memastikan jika dia yang ada di depan ku adalah, Putri Malu ku, Layla ku.


"Putri Malu?"


Panggilan itu keluar dengan sendirinya. Tanpa, aku sadari.

__ADS_1


__ADS_2