(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 79


__ADS_3

#Layla Najwa Fathurrohman


Pukul setengah enam aku dan Aisyah pamit kepada Ning Nada. Datang ke kamarnya, mengetuk pintunya pelan.


"Ada apa Layla?" tanya Ning Nada. Beliau ikut-ikutan memanggil aku dengan nama Layla.


"Ngapunten, Ning niku Bade pamit pulang ke pondok dulu."


"Oalah... Gak nunggu sarapan?"


"Mboten, mengke ke siangan. Bade nata stand nggehan (Tidak, nanti kesiangan. Mau menata stand juga),"


"Loh, Mas mu kadung masak buat kamu eg. Masih di dapur paling sekarang,"


Aku melongo. Bertukar pandang dengan Aisyah yang juga sedang bersimpuh di sampingku.


"Oalah... Nggeh. Dereng kepanggih, Kulo kinten taseh teng kamar (Oalah... Iya. Belum bertemu saya pikir masih di kamar)," balasku


"Ya sudah kalau mau balik dulu. Kamu pamitan sama Mas mu dulu, dia biar di sini balik kepondoknya habis sarapan aja. Gak apa-apa, kan?''


Aku mengangguk.


"Nggeh, Ning. Assalamualaikum," salamku seraya meraih tangannya untuk aku sungkemi. Aisyah melakukan hal yang sama.


Ning Nada kembali menutup pintu kamarnya.


Barulah setelah itu kami berdiri dan beranjak pergi.


"Mas mu masak buat kamu. Gak kamu tungguin dulu, kasihan loo..." Ujar Aisyah


"Kamu tunggu di depan dulu gih! Aku tak pamitan ke Mas ku,"


"Ok. Jangan lama-lama, Lo... Keburu siang,"


"Iya... Iya. Faham,"


Aku menuju dapur. Sedang Aisyah menuju ruang tamu. Sebentar saja aku berpamitan. Barangkali aku juga ingin tahu, apa benar Mas Albi memasak untuk ku.


Kemarin dia bilang, jika dia bisa memasak tumis pepaya. Apa sekarang dia melakukannya? Rasa bahagia mulai menyergap merasai bak putri raja yang selalu di sayang oleh pangerannya.


Langkahku terkulai lemas seketika. Saat sampai di depan pintu dapur. Hatiku yangg baru saja melayang tinggi terjun tak bertepi. Terjungkal penuh goresan duri.


Mas Albi memang ada di sana, memasak seperti Ning Nada kata. Tapi, dia tidak sendirian. Ada Salwa di sampingnya. Mereka bercanda dan bertukar kata. Selang berikutnya saling membahu menambahkan bumbu dalam masakan itu.


Hatiku mengeras tiba-tiba. Langkah kakiku mundur seketika. Bak terserang ombak pasang yang tiba-tiba menghantam.


Mataku mulai berair. Inikah rasanya kehilangan yang nyata. Berlahan waktu semakin membuktikan jika rasaku harus hilang dan aku ikhlaskan.

__ADS_1


Aku berlari keluar. Ku seka air mata yang mulai menggenang. Mencoba bersikap biasa untuk mengecoh orang.


"Sudah, Wa?" tanya Aisyah. Ia langsung berdiri dari kursinya saat mendapati aku datang.


"Sudah. Ayo, kita pergi!'' ajak ku sambil menyunggingkan senyuman palsu.


Dia menyetujui. Kami keluar dari rumah tersebut. Ternyata jamuan ini memang di khususkan untuk Mas Albi agar Salwa bisa lebih dekat dengan dirinya.


Sakit rasanya... Perih tak terhingga. Seakan menjadi pecundang saja.


Kami tidak memiliki kendaraan untuk kembali ke pondok. Akhirnya kami jalan kaki. Aisyah pun tidak mempermasalahkan hal itu.


Hawa dingin masih menguasai. Kaki kami berkali-kali menyepak rerumputan yang masih basah akan embun pagi. Jalanan lumayan sepi, sedikit sekali kendaraan yang melewati.


"Tadi Masmu bilang apa?" tanya Aisyah


"Tidak bilang apa-apa,"


"Oalah ... Kirain kita bakal di anterin dulu tadi,"


"Kamu lelah jalan kaki?"


"Tidak."


"Ya sudah, gak usah ngarep di antar,"


"Sama saja!"


"Kok sensi?"


"Maaf..."


Tidak seharusnya aku marah pada Aisyah dia tidak ada hubungannya dengan persoalan ini.


"Mas mu benar masak buat kamu?" tanya Aisyah


Aku tak ingin membahas. Tapi aku juga tidak mungkin memperlihatkan rasa sakitku.


"Iya..." Jawabku lemah sambil melihat ke bawah.


"So sweet banget ya, Mas mu. Kakak yang sempurna," ujar Aisyah.


Sangking sempurnanya dia membuat adiknya tidak bisa jatuh cinta pada kaki-laki lainya.


Ciiitt!


Mobil berhenti tepat di depan kami. Hampir saja menabrak kami.

__ADS_1


"Astaghfirullah..." Ucapku di tengah-tengah keterkejutan.


Pintu mobil di buka. Menampakkan kang Dharma di sana.


"Kenapa gak bilang kalau mau balik kepondok? Kan bisa aku antarin," ujar Kang Dharma langsung. Dia seperti orang khawatir dan kesal.


"Loh, memangnya kang Dharma nawarin?" tanya Aisyah


Aku diam saja. Sedang malas bersuara.


"Ayo masuk!" Seru kang Dharma membukakan pintu untuk kami.


Tanpa menunggu lama kami berdua sudah masuk kedalam.


"Kang Dharma kok tahu, kami pulang ke pondok jalan kaki?" tanya Aisyah mewakili pertanyaanku dalam hati.


"Sarip tadi melihat kalian keluar dari Dhalem. Setelah itu dia bilang ke aku. Aku kira kalian hanya jalan-jalan di sekitar Dhalem saja. Tapi ternyata malah balik pulang ke pondok jalan kaki," jelas Kang Dharma dengan mengemudi.


"Dari mana tahu kalau kami pulang ke pondok?"


"Dari Ning Nada, tadi bilang kalian barusan pamit untuk pulang ke pondok."


Mungkin hingga saat ini Mas Albi belum mengetahui jika aku pulang ke pondok. Atau mungkin dia sedang menikmati waktunya bersama Salwa sekarang. Hingga melupakan ku.


Ini masih melihat mereka berdua saja. Bagaimana nanti jika memang mereka di takdirkan bersama.


[Alloh! Kuatkan hatiku, kuatkan perasaan ku ...


Aku tidak tahu, bagaimana seharusnya aku berdoa. Aku juga tidak tahu bagaimana seharusnya aku meminta.]


Mobil memasuki area pondok pesantren. Melihat mobil ini masuk saja sudah membuat santri yang piket menyapu halaman depan berhenti sambil menundukkan kepala. Tidak tahukan mereka jika di dalam mobil ini tidak ada keluarga pesantren. Tapi hanya santri biasa seperti mereka.


"Setelah ini kalian langsung ke sekolah?'' tanya kang Dharma.


"Iya... Apalagi kemarin hujan. Pasti stand berantakan," Aisyah masih menjadi juru bicara. Sejak tadi aku hanya duduk sambil membuang muka melihat ke arah jendela.


"Layla, kamu baik-baik saja?'' tanya Kang Dharma setelah kami turun dari mobil.


Aku tersenyum. Mengangguk menjawabnya.


"Ya sudah ya Kang ... Kami masuk dulu, Assalamualaikum..." Salam Aisyah.


Aku ucapkan lirih salam yang sama. Dari ekor mataku aku masih bisa memastikan jika kang Dharma masih melihat ke arah kami. Dia tidak langsung pergi. Sampai aku menuju pintu ndalem untuk menuju pondok dia masih terpaku melihat kami.


Aku yang semestinya malu sebab ketahuan di gendong Mas Albi tadi malam. Sama sekali tidak merasakan apa-apa. Hatiku tidak merasai apapun kecuali sakit mengingat kebersamaan Mas Albi dan Salwa.


Bagaimana kabarnya mereka, masihkah masih asyik memasak bersama? Atau sudah mulai sarapan berdua? Ah! Layla bersiaplah untuk melupakan rasa cintamu. Mulailah lenyap kan segala ego untuk perasaanmu sendiri.

__ADS_1


****


__ADS_2