(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 101


__ADS_3

Layla Najwa Fathurrahman


Meskipun sudah hampir tengah malam. Suasana kamar dan didepan kamar masih terdengar desas-desus orang berbicara. Waktu malam menjadi satu-satunya waktu luang bagi kami.


Setiap jam sebelas malam. Lampu kamar diharuskan untuk dimatikan. Entah itu masih diperlukan atau tidak. Yang pasti itu sudah menjadi peranturan.


"Mbak, Najwa belum mengantuk?" tanya Rayya memastikan lagi.


Aku menggelengkan kepala. Aku tertarik dengan apa yang katakan orang diluar sana tentang aku dan mas Albi. Setidaknya nanti aku bisa memilih sikap apa yang harus aku perlihatkan.


"Semua muji mas Albi, sih mbak. Mereka terpesona sama mas Albi tapi sebagian juga ada yang kepincut sama laki-laki yang bersama mas Albi kemarin. Dia siapa, mbak?"


"Mas Andre, maksudmu? Atau kang Dharma?"


"Walah... Kalau kang Dharma semua sudah faham. Iya, mungin mas Andre. Dia saudara mbak Najwa juga?"


"Begitulah..." Bohongku sambil merentangkan tubuhku. Tidak berani menatap Rayya yang masih tidur miring ke arahku.


"Tidak ada gosip aneh-aneh sih. Hanya saja banyak yang iri."


"Iri? Apa?"


"Yah, kan mbak Najwa di kelilingi cowok ganteng. Hehehe ..."


"Ck. Kirain apa. Beneran gak ada yang lain?" tanyaku.


"Ada sih. Tapi takut bilang sama mbak Najwa," ungkap Rayya sambil mengigit bibir bawahnya.


"Katakan saja?"


"Tapi nanti mbak Najwa sedih. Nanti malah buat mbak Najwa, kepikiran lagi."


"Kamu malah membuat aku penasaran. Itu malah membuatku penasaran,"


"Yah! Salah, dong aku!" Sesal Rayya.


"Mangakanya, katakan saja!" Desakku.


"Tapi janji jangan marah! Takut! Nanti mbak Najwa marah lagi kayak waktu itu,"


Waktu itu yang ia maksudkan mungkin saat anak-anak kamar bersikeras ingin mengetahui foto mas Albi dan juga menyudutkan aku tentang hubungan mas Albi dan Salwa.


"Gak akan. Insya Alloh gak akan marah. Lagian, ini sudah malam. Hihi"


"Gak meyakinkan," balas Rayya


"Beneran?! Katakan saja. Aku gak akan marah lagi kayak waktu itu. Suerr!"


Aku juga harus mulai mengontrol emosi dan juga hati agar dia terbiasa dengan banyak sentakan, patahan dan bahkan kehancuran yang sekaligus juga.


"Teman-teman mulai mengira kalau hubungan mas Albi dan Mbak Salwa sudah diresmikan."


"What?!" Aku langsung terkejut mendengarnya.


"Kenapa? Memang benar ya gosip itu?"

__ADS_1


Aku langsung menggelengkan kepala.


"Dari mana gosip seperti itu? Ya Alloh... Kok bisa-bisanya mereka berasumsi seperti itu?"


"Ya kan semua juga tahu kalau kemarin mbak Salwa ikut nginap juga di Dhalem timur."


Bisa juga hal itu yang menjadi pemicunya. Walaupun yang ada di Dhalem timur tidak saling berhubungan entah pertemanan ataupun persaudaraan. Tapi, Salwa sama sekali belum memiliki ikatan pasti diantara kami.


"Memang benar ya, mbak?" tanya Rayya sekali lagi.


"Tidak. Berita bohong. Mas Albi sama Salwa belum memiliki ikatan apapun. Kalaupun dia kemarin ada di antara kami. Itu karena, dia masih saudara kan sama Ning Nada. Dia hanya nderek ne Ning Nada. Gak lebih."


Tidak mungkin aku mengatakan, jika aku tidak tahu pasti kehadirannya kemarin itu untuk apa. Itu akan membuat nama Salwa jelek. Meskipun begitu, andai nanti mas Albi dan Salwa memang jodoh. Mau tidak mau aku akan menjadi saudaranya. Sudah seharusnya aku pun menjaga nama baiknya juga.


"Walah ... Jadi cuman gosip. Memang orang-orang itu kadang ngawur kalau ngomong," umpat Rayya gemes


"Hehe... Iya."


"Aku awalnya ya gak percaya mbak. Kok cepat banget! Tapi, orang-orang mulai meresahkan kepercayaan ku. Hingga aku pun ikut percaya saja, hehehe ..."


"Tapi sekarang sudah gak percaya lagi kan?"


"Enggak, mbak."


"Kemarin itu kami cuman nginep. Ning Nada hanya memberikan tempat untuk temannya. Itu saja. Gak ada acara lainya. Juga gak ada kejadian yang orang pikirkan. Kita murni, nginap tok!" Jelasku.


"Oh ... Gitu? Kang Dharma juga ada ya disana ya mbak?"


Aku mengangguk.


"Sekarang mbak lagi dekat ya sama kang Dharma?"


Aneh sekali rasanya. Aku yang dulu sama sekali tidak terlalu tersorot pandangan mata oleh pasang mata. Kenapa tiba-tiba jadi pusat perhatian?


"Aku tanya. Bukan gosip. Kalau mbak Najwa, namanya tetep bersih. Malah kakaknya yang jadi pusat perhatian,"


"Oalah... Kirain aku yang jadi pusat perhatian." Terlanjur kepe-de an akunya.


"Cuman aku yang perhatian sama mbak Najwa. Orang lain gak!"


"Idih... Mau apa nih, kok kayak ngerayu gitu."


"Gak, mbak. Memang perhatian aku! Memang sayang sama mbak Najwa!" Ujar Rayya.


Andai itu di dengar oleh orang diluar sana mungkin agak geli. Tapi, dia pondok ungkapan sayang dari sesama teman atau adik kelas seperti itu memang terdengar biasa saja. .


Kita seperti menemukan saudara saat masuk dalam lingkungan yang sama. Menemukan beberapa orang yang patut untuk dijadikan sandaran. Menjadi pengantin sementara keluarga.


"Iya deh... Percaya. Terimakasih, Lo ya..." Balasku.


Rayya tersenyum mengembang. Sambil ingin memeluk tapi aku buru-buru menampik tangannya. Tidak mau menerima pelukannya. Nanti dikira lesbi lagi.


"Masih belum jawab pertanyaanku. Mbak Najwa, lagi dekat ya sama kang Dharma?"


"Tidak. Kami teman biasa. Kebetulan kang Dharma jadi pengawas tryout kemarin. Dan kebetulan juga dia memberikan bantuan untuk kelasku dalam acara bazar kemarin."

__ADS_1


"Tapi memang kang Dharma terkenal baik sih. Dia gak pilih-pilih bantuin orang. Mangkanya banyak juga yang suka. Tapi, sampai saat ini gak ada yang pasti siapa yang beneran di sukai kang Dharma. Dia netra banget orangnya."


"Iya. Dia gak baik sama aku doang. Bahkan jamuan di Dhalem timur, kata mas Albi kang Dharma yang merencanakan. Padahal kan dia gak ada hubungan apa-apa sama aku dan mas Albi. Dia hanya tahu, kalau mas ku itu teman Ning Nada." Ceritaku.


"Wooo....kirain Ning Nada sendiri yang njamu kalian. Hebat ya kang Dharma. Tapi, aku tetap suka mas bian. Hehehe"


"Iya, iya ... Cuma mas bian!"


"Oh ... Mas bian sayang!"


"Sstt... Kamu berisik. Jangan berseru begitu. Kasihan yang lainya sudah tidur."


"Barangkali kalau dipanggil, mas bian kerasa mbak. Setidaknya, nanti kita bisa bertemu di alam mimpi."


"Woilah.... Orang kasmaran emang bisa mendadak gila!"


"Biarin! Mbak Najwa gak ngerasain sih,"


"Ngerasain apa?"


"Jatuh cinta."


"Sok tau,"


"Jadi, mbak Najwa sudah pernah jatuh cinta? Sama siapa? Kasih tahu aku dong! Janji gak akan kasih tahu siapa-siapa." Rayya begitu antusias.


Aku tersenyum. Lalu menarik selimutku. Menghadap langit-langit kamar, membayangkan wajah laki-laki yang aku sayang.


"Rahasia,"


"Ck! Jatah mah, mbak Najwa ini! Padahal aku sejak pertama suka sama mas bian terus ceritanya ke sampean (kamu). Gak adil itu namanya," kesal Rayya.


"Adalah pokoknya. Rahasia Alloh ..."


"Rahasia Alloh. Sudah kayak jodoh saja,"


"Hampir sama. Tapi jatuh cinta belum tentu bersama. Kandang dia hadir untuk memenuhi ruang saja. Memberikan pelajaran dan pengalaman. Sedangkan, jodoh adalah ketepatan Alloh yang manusia saja tidak bisa mengubahnya."


Rayya meniti setiap kataku. Dia tidak bergeming saat aku menuturkan hal itu.


"Orang yang kita cinta belum tentu menjadi Jodoh kita. Sedangkan jodoh kita. Pastilah orang yang akan kita cintai. Karena itulah, aku tidak ingin mengatakan pada siapapun siapa yang aku cintai saat ini. Sebab aku merasa jika cintaku tidak untuk menjadi takdirku."


"Mbak Najwa sudah menyerah? Bukankah tadi kamu menyemangati ku untuk berserah dan terus berdoa agar di jodohkan ya? Kok beda sama yang dinasihat, kan?"


Karena yang aku cintai adalah orang yang tidak akan bisa aku nikahi ataupun menikahi ku Rayya. Tapi, apalah aku yang bisa mengungkapkan hal itu.


Saat aku aku sedang terjerat rantai takdir. Dia menginginkan kami bersama, namun tidak untuk selamanya.


"Karena yang aku suka adalah, tehyung. Hehehe..."


"Alah mbak! Kirain beneran sudah pernah jatuh cinta. Dasar! Aku sampai mati, mendengarkannya."


"Hehehe... Sudahlah. Ayo tidur. Sudah malam." Kataku sambil menangkupkan selimutnya ke wajahnya.


"Ya deh... Selamat malam mbak Najwa. Selamat datang mas bian dalam alam bawah sadar. I'm cooming!" Serunya sambil tersenyum mengembang. Bayangan bian mungkin sedang berkeliaran didalam benaknya.

__ADS_1


Aku pun akhirnya ikut tertidur juga. Sebelumnya aku rapal doa dan juga sholawat dan syahadat.


Manusia tidak tahu kapan dia akan di panggil Alloh. Andai aku tidak lagi terbangun di dunia. Doa, sholawat dan syahadat semoga bisa menjadi bekalku.


__ADS_2