(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 35


__ADS_3

"Mas, emang Mas kesal ya, sama ibu-ibu kemarin?" tanya Layla.


Kami baru saja berbelanja keperluan untuk Layla kembali ke pondok. Karena di rasa masih ada waktu, Layla mengajak mampir di Taman Brantas. Taman, yang di bangun tepat di bawah jembatan Jayabaya kota Kediri.


Tempat ini menjadi incaran banyak warga kota Kediri untuk sekedar mencari angin dan menghibur anak-anak. Memang tidak ada mainan anak ataupun ayunan. Tapi, tempat seluncur di taman ini cukup membuat anak-anak kecil terhibur. Mereka membuat tempat seluncur sebagai perosotan. Angin kencang dari arah sungai akan membuat mereka seakan sedang terbang di angkasa.


Layla duduk di samping ku. Tangannya berlahan menyobek bungkus es krim Cornettonya. Dia paling suka dengan Cornetto rasa coklat dengan taburan toping kacang. Matanya membulat setelah kertas penutup Cornetto itu terlepas sepenuhnya.


"Mau, Mas?" tawarnya.


Dengan mata berbinar aku langsung memakan pucuk Cornetto itu. Tepat di bagian toping kacang sekaligus coklat bekunya. Setelah itu aku gigit separuh. Layla melongo, matanya tertuju pada coklat yang ada di gigitan ku.


"Ya Alloh...Mas Albi, gimana,tho? Kamu, kan tahu aku suka yang bagian itu!!!" Rengeknya, wajah memelas sudah dia perlihatkan. Mungkin menyesal karena sudah menawari ku.


"Nih, masih ada, kok." Ujar ku dengan mengambil sebagian coklat dari gigitan ku.


"Ihh...Udah masuk mulut, di kasih ke aku!" Gerutunya.


Aku tersenyum, sambil menaik turunkan alis ku.


"Gak, papa. Dulu juga biasanya, makan bekas ku." Kata ku, dan langsung menyuapkan coklat batang itu ke mulutnya. Dia meringis sebentar, serasa coklat itu obat, tapi kemudian di makan juga.


Sisanya es krim di tangannya langsung dia makan, dan tidak lagi di tawarkan lagi kepada ku.


" Tadi, belum jawaban pertanyaan ku, kamu, Mas?"


Akan mengerutkan dahi, mengingat pertanyaan apa yang Layla maksudkan tadi. Lalu teringat lagi, setelah melihat seorang ibu berjalan di depan kami.


"Oalah...Soal, Ibu-Ibu?" Ingat ku.


Dia menoleh, lalu mengangguk. Kemudian memandang depan lagi, menikmati Cornettonya sambil memandang taman dan juga sungai Brantas.


"Ya kesal, Nduk. Mereka berbicara, seenaknya." Jawab ku.


"Kalau kesel, benci Nggak?"


"Insya Alloh, Nggak."


"Kok, bisa?" tanya Layla lagi.


"Ya gak semua rasa kesal itu, membuat rasa benci, Nduk. Tergantung kadar kesalnya, toh kita sendiri yang akan rugi kalau kita membenci seseorang."


"Emang, Mas gak punya rasa benci sama orang?" tanya Layla.


"Kalau bisa jangan pernah, Nduk. Benci itu, bukan karena orang lain. Tapi, karena kita sendiri yang menanamnya. Hati kita, yang akan sakit sendiri. Kalau sudah begitu, siapa coba yang rugi? Kita, kan?"


Layla mendengarkannya tanpa menatap ku. Tangannya kotor, bekas es krim yang baru saja dia habiskan. Aku menyodorkan sapu tangan yang tadi aku taruh di saku celanaku.

__ADS_1


"Assalamualaikum!!!" Seru seseorang di belakang kami. Berdiri, di antara kami berdua.


"Waaikumsalam." Balas ku, hampir bersamaan dengan Layla.


Andre sudah berpindah tempat di depan kami. Mata Layla langsung mengikuti orang yang di rasa asing itu. Aku sudah melototi Andre, saat di langsung berdiri di hadapan Layla.


Wajah senang, terlihat jelas tergambar di sana. Tangannya membawa skybord. Celana pensil, dengan desain robek di bawah lututnya. Kaos oblong motif abstrak dan juga topi di posisikan terbalik menutupi kepalanya. Rambut depannya menjebol di dahinya.


"Assalamualaikum, Layla?" Salamnya lagi pada Layla.


"Waaikumsalam." Balas Layla.


"Kau di sini juga?" tanya ku.


Mendengar pertanyaan ku, Layla langsung menatap ku. Mungkin, sadar jika orang di depannya itu adalah seseorang yang sudah aku kenal.


"Layla, kau tidak tanya siapa, nama ku?"


Andre menghiraukan pertanyaan ku, dia masih fokus pada Layla yang masih kebingungan.


"Siapa nama mu?" tanya Layla hati-hati.


"Ayah." Jawab Andre, senyumannya masih saja terus dia pamerkan. Rasanya ingin sekali aku, gampar mukanya itu.


"Ayah?" tanya Layla memastikan.


Aku tahu. Andre sedang ingin menggombali Layla. Tapi, sepertinya gombalan itu tidak mempan. Layla tetap bermuka datar, dan bingung sendiri.


"Hahaha. Kapok! Gombalan mu, gak mempan " Ejek ku.


Andre garuk-garuk kepala. Matanya masih menatap Layla.


"Teman kamu, Mas?" tanya Layla.


Aku mengangguk. Andre lantas duduk bersila di depan Layla. Mencopot topinya, dan merapikan rambutnya. Layla menatapnya heran.


"Jangan di situ, Mas." Ujar Layla. Mungkin dia tidak enak jika ada orang di depannya. Mana aneh lagi.


"Jangan panggil aku, Mas dong!" Balas Andre.


"La, terus?" tanya Layla.


"Sayang saja." Jawab Andre, sambil menyeringai.


Kali ini Layla langsung tersipu malu. Tertawa terbahak-bahak. Tidak menunggu lama, kaki ku langsung menyodok lutut Andre.


"Sayang, kamu kok mau, sih. Di jagain sama dia, kan sekarang sudah ada aku." Kata Andre sambil merenggut menghadap Layla.

__ADS_1


Layla tidak menjawab. Dia malah kembali tertawa.


"Tuh, kan Bi...Layla aja bahagia sama aku. Lo aja dari dulu, yang sok khawatir aku gak bisa bahagiain dia." Tandas Andre.


Memang Andre langsung membuat Layla tertawa. Rasanya beda sekali saat kemarin bertemu dengan Dharma. Dia juga teman juga, tapi Layla seakan takut untuk dekat-dekat dengannya.


Naluri seorang kakak, pasti ingin adiknya bahagia. Tidak terkecuali, aku. Tapi aku tidak yakin dengan Andre, ini bukan pertama kalinya dia melontarkan gombalan buaya seperti itu. Dia buaya kelas kakap. Mana mungkin, aku tenang jika Layla kenal dengan orang seperti itu.


Bahagia sekarang, belum menjamin pada akhirnya. Berbeda saat kemarin dengan Dharma, meskipun Layla takut, tapi aku bisa percaya jika Dharma tidak akan macam-macam dengan dirinya. Setidaknya, dia juga sudah pernah berhasil menjaga Layla.


"Sudah, Nduk. Ayo pulang! Jangan lama-lama sama dia!" Ajak ku seraya berdiri.


"Tuh, kakak mu sudah takut aja, kan. Kalau aku nyakitin kamu. Padahal, aku gak ngapa-ngapain,Lo." Andre tidak terima saat tiba-tiba aku mengajak Layla pulang.


"Hehehe...Ya sudah, Mas. Kami pulang dulu saja, kapan-kapan di lanjut, ya!" Ujar Layla.


Aku menatap wajah Layla. Memasang wajah ke tidak setujuan.


"Ok. Tapi beneran, ya! Minta nomer WhatsAppnya kalau begitu,"


Layla yang biasanya tidak ingin nomer WhatsAppnya di berikan pada orang lain. Tiba-tiba langsung memberikan nomor itu pada Andre. Dengan senang hati pula.


Aku melengos tidak ingin tahu lagi. Menunggu dua orang itu bertransaksi nomer hape.


"Assalamualaikum, Mas Andre." Salam Layla.


"Waaikumsalam, Layla sayang...." Balas Andre dengan meluncurkan kiss bye ke arah Layla. Melihat itu aku langsung menarik tangan Layla. Segera menjauh dari laki-laki buaya itu.


Kita sudah berada di mobil, dan meninggalkan Taman Brantas. Tapi, senyum itu masih saja mengembang di wajah Layla.


'' Jangan coba-coba WhatsApp-pan dengan Andre. Dia itu Playboy." Ujar ku.


"Tapi dia baik, Mas." Bantah Layla.


"Dia itu seperti itu pada semua perempuan. Dari mana baiknya!"


"Buktinya, Mas dekat dengannya. Sahabat,pula."


Aku memukul kemudi saat Layla membantah perkataan ku. Dengan mudahnya pula, menjawab semua pernyataan ku.


"Pokoknya, Mas gak mau. Kalau kamu dekat-dekat dengan dia!" Protes ku.


"Kenapa, sih Mas. Ternyata benar apa kata Mas Andre. Kakak itu overprotektif." Sahutnya.


Bukannya menurut dia terus saja membantah. Hati ku rasanya dongkol. Itulah yang aku takutkan, jika dia bertemu Andre. Baru pertama kali bertemu saja, dia sudah mengubah sikap Layla kepada ku.


"Andre!!! Awas aja, Lo!!" Geram ku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2