(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 116


__ADS_3

#Muhammad Qois Albifardzan.


Aku sampai di rumah selepas isya'. Keningku berkerut tatkala mendapati mobil mewah sedang terparkir di depan rumah. Siapa gerangan yang datang? Perasaan, kami tidak memiliki sanak keluarga yang memiliki mobil dengan harga lebih satu milyar itu.


Aku segera memarkir motor dan melepaskan sepatunya. Di depan teras berjajar rapi beberapa sandal dan sepatu milik tamu itu. Semakin membuat penasaran dan tiba-tiba saja hatiku bergetar.


Suara yang tidak asing dan rasa-rasanya pernah aku dengar. Aku masuk ke dalam rumah, mengucapkan salam dan barulah setelah itu mereka aku tahu siapa yang datang.


"Assalamualaikum ... "


"Waaikumsalam ... lah ini, Albi sudah datang." Ibu langsung berseru. Menghampiriku dan merangkulku, berbisik agar aku segera sungkem pada tamu-tamu tersebut.


Di ruang itu sudah ada Kyai Musthofa beserta Nada, sekaligus Kyai Anwar dan juga perempuan seumur ibu yang dari wajahnya bisa aku kenali, jika beliau adalah istri dari Kyai Anwar.


Orang-orang agung seperti mereka datang berkunjung ke gubuk kami. Apakah ada hal yang penting? Aku segera mengedarkan pandangan. Ku cari sosok lain yang barangkali ikut pulang. Namun sayang, hal itu tidak aku temukan. Besar kemungkinannya, mereka datang tanpa sepengetahuan Layla.


Setelah aku sungkem, aku duduk di samping ibu. Masing bertanya-tanya dengan kedatangan mereka. Ku cari tahu dari wajah Nada yang saat itu senyum-senyum dan memainkan alisnya ke arahku. Aku mengisyaratkan dengan mata agar dia memberitahukan apa alasan dia datang bersama keluarganya.


Semuanya masih diam, sosok ibu yang aku ketahui istri dari kyai Anwar memperhatikan aku dengan seksama. Seulas senyum ramah terlempar kepadaku. Dengan sopan aku membalas senyuman itu.


Aku menegakkan dadaku. Ku rasa aku harus pergi sebentar untuk ganti baju. Pakaian yang aku gunakan sudah sangat lusuh dan masam.


"Mohon maaf, saya permisi ke dalam dulu. Mau ganti baju dulu." Langsung aku beranjak dan kepergianku langsung disusul oleh ibu.


Aku masuk ke dalam kamar. Meletakkan ransel dan mengambil baju bersih dari Almari.


"Buk, ada apa? Kenapa mereka ke sini?" Aku langsung melayangkan pertanyaan tatkala bunda sudah duduk ditepi tempat tidurnya. Senyum beliau sejak tadi belum pudar. Seakan kabar bahagia sedang terdengar. Tapi kenapa, hal itu membuat hatinya malah nyut-nyutan.


"Mereka datang untuk melamarmu, le ... Mereka memintamu untuk menjadi pendamping putri mereka, Salwa."


Nafasku tertahan, tidak bisa aku sembunyikan keterkejutanku. Rasanya sendi-sendiku kaku dan tubuh tak bisa digerakkan.


"Kamu dilamar Kyai besar, Le ... Masya Allah. Ibu bangga sama kamu. Mereka tidak hanya asal bicara saat menawarimu untuk menikah dengan Salwa." Ibu menggoyang-goyangkan bahuku yang kaku.


"Sudah! Kamu lekas ganti baju. Cari baju yang bagus, tampil yang ganteng. Biar mereka semakin puas dengan kamu."

__ADS_1


Aku masih tidak bisa beralih dari tempatku. Ibu sudah membuka almari bajuku. Dia mengambil baju ditanganku, lalu mengganti dengan kemeja dan sarung yang baru.


"Sudah, sana! Ibu mau ke depan lagi."


"Bu-" Aku mencegah beliau pergi. Aku cekal lengannya.


"Bu Albi--"


"Ada apa? Kamu sangat beruntung Le ... Kamu akan bahagia, masa depan kamu cerah. Ibu sangat bahagia saat ini. Ibu tidak menyangka, bahwa kelak kamu akan menjadi seorang penerus kyai besar. Kamu akan dihormati banyak orang. Tidak hanya itu, kamu akan mendapatkan apa yang tidak bisa kami berikan. Kamu Mulya, Le ... " Ibu mengelus pipiku. Air mata haru bercampur kebahagiaan mengucur deras di pipinya. Membuat aku membeku.


"Bu, apa yang keluarga ini berikan pada Albi tidak kalah banyaknya dan agungnya. Tanpa kalian Albi bukan siapa-siapa. Jadi jangan merendahkan diri seperti itu. Mau dunia ada ditanganku sekali pun, itu tidak akan ada artinya jika Albi tanpa Keluarga ini. Albi tidak menginginkan banyak hal kecil terus bersama kalian."


"Jangan bilang seperti itu, le ... Kamu berhak atas kebahagiaan ini. Ini adalah takdirmu, jangan sampai kamu melewatinya. Percaya sama ibu, kamu akan bahagia menikah dengan Salwa. Tidak ada perempuan yang lebih Sholehah daripada Salwa, tidak ada Keluarga yang baik lagi yang akan datang melamarmu melebihi keluarga kyai Anwar. Kamu sangat beruntung, le ... Jangan memikirkan hal lainya lagi. Lekaslah bersiap dan temui calon mertuamu."


Ibu mendorong aku ke belakang. Dia mengusap wajahnya dengan kasar lepas itu, berlalu tanpa ingin aku cegah lagi kepergiannya.


Aku masih mematung, berlahan tubuhku terdorong sendiri kebelakang hingga terhenti di pembatas ranjang. Tubuhku terduduk kaku.


Beberapa hari yang lalu, ayah menawarkan Layla untukku. Beberapa hari yang lalu, mereka mengatakan aku bisa menjalin hubungan yang lebih lagi kepada putrinya itu. Tapi kenapa, sekarang mereka seakan lupa atas ngobrol malam itu. Apa malam itu mereka hanya bercanda saja? Apa benar, semuanya hanyalah omong kosong?


"Astaghfirullah ... Astaghfirullah ... Astaghfirullah ..." Aku terus mengelus dadaku. Rasanya sesak sekali.


Ponselku bergetar, ada sebuah pesan dari Nada.


[Hai, jangan seperti perawan. Ayo keluar!]


Aku tersenyum miring, dasar! Teman perempuanku itu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.


[Iya, sebentar.]


Aku membalas.


Aku taruh benda pipih itu di atas nakas. Lalu segera bersiap-siap untuk menemui mereka lagi. Sebelum itu aku menyegarkan diri, agar lebih segar dan menutupi segala gundah gulana.


Selesai dengan mengubah penampilanku. Aku kembali dikejutkan oleh kedatangan Andre yang sudah nyelonong masuk ke kamar.

__ADS_1


"Bro! gila lu, mau lamaran gak bilang-bilang. Jahat Lo ... kalau gua gak kesini tadi, pasti Lo gak bakal kasih tahu soal ini, kan? Salah apa bro gua sama Lo! Sampai - sampai hal seperti ini Lo sembunyiin!"


"Diam!" Tanganku sudah mau merauk wajah Andre. Dia menambah masalahku saja. Kenapa dia juga kesini?


"Ngapain Lo kesini?"


"Jawab dulu. Itu ... itu didepan, orang tua Salwa?"


"Iya. Ngapain loe kesini?"


"Mau ambil hape gua yang ketinggalan di ransel Lo."


Aku langsung mencari dimana ranselku. Menemukan di atas ranjang dan langsung mengeledah. Benar, ponsel milik Andre ada di dalam sana.


"Nih," Aku menyodorkan ponselnya itu.


"Gua tunggu Lo di sini. Pokoknya Lo harus cerita soal ini. Tuntas!" Andre sudah mengambil tempat di kasurku.


"Gak ada yang harus dijelaskan ataupun diceritakan. Ini semua juga baru gua tahu setelah pulang tadi. Tiba-tiba mereka datang. Tanya itu Nada, dia yang lebih tahu."


"He, gimana Lo gak tahu? Oh iya, tadi didepan ada Nada. Panggil dia kesini, gih!"


"Ngawur! Anak orang asal manggil aja."


Andre cengengesan, dia sudah mendapatkan ponselnya dan fokus dengan benda kotak itu. Dia sudah menemukan posisi nyamannya dan mulai tidak perduli dengan diriku.


"Aku keluar dulu," pamitku.


"Ok. Semoga berhasil!"


Aku menutup pintu agak keras. Bisa-bisanya dia santai sedang aku harus berpikir keras untuk mengambil keputusan yang penting dalam hidupku.


Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengukir senyum. Mereka tidak tahu apapun tentang kondisi hatiku, maka tidak baik jika aku memasang permusuhan dan menyalahkan perihal ini pada mereka.


Aku mengambil posisi disamping ibu. Masih dengan kikuk dan bingung sendiri harus bersikap bagaimana. Apakah aku bisa menolak? Apa alasan yang tepat untuk menolak lamaran ini? Sedang mereka saja tidak memiliki celah untuk dianggap kurang.

__ADS_1


Akulah yang kurang, aku yang tidak pantas untuk Salwa. Gadis itu begitu sempurna, dia bisa mendapatkan pendamping yang jauh lebih dari aku. Tapi kenapa, dia harus jatuh cinta pada laki-laki seperti diriku.


Ya Rabb ... Berikan petunjuk kepada hambamu ini. Sungguh aku tidak bisa berpikir waras saat ini.


__ADS_2