(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 64


__ADS_3

# Layla Najwa Fathurrohman


{Alloh, jika cintaku kepadanya adalah sebuah kesalahan. Kenapa KAU bangun mahligai megah di dalam hatiku untuk dirinya?}


"Coba cek he-pe Mas. Barangkali, udah ada sinyal." Kataku.


Mas Albi merogoh hape-nya lagi.


Layar itu sudah menyalakan panggilan masuk. Ibu dan ayah menelpon. Langsung saja, Mas Albi mengangkat dan memberikan kepadaku.


"Assalamualaikum, Ibu, Ayah?!" Seruku antusias.


Sangking rindunya, sangking senangnya bisa bertatap muka dengan beliau berdua. Sudah lama, kami tidak berjumpa. Terlebih sekarang Mas Albi sering ke Pondok sendirian. Sebab mungkin kesehatan ayah juga menjadi taruhannya.


"Waaikumsalam, Sehat Nduk?" tanya Ayah.


"Alhamdulillah, sehat Yah. Ayah sama Ibu Sehat?"


"Alhamdulillah, sehat semua di rumah. Kamu di mana tho?"


"Lagi di kelas, Bu. Di luar Hujan, Kebeleteng di sini."


Kebeleteng adalah bahasa Jawa yang mengisyaratkan bahwa kita terjebak hujan dan mengharuskan kita untuk berhenti di suatu tempat.


"Oalah, layak kok gak bisa di hubungi sejak tadi,"


"Nggeh, buk. Nembe wonten signal (Iya, Buk. Baru saja dapat signal)," sahut Mas Albi


Keduanya orang tua kami manggut-manggut. Tanda mengerti.


"Udah makan?Ibu mu masak oseng kates hari ini," ujar Ayah


"Eco sangat niku (enak banget itu), pengen!" Rengekku.


Salah satu sayur yang aku suka. Oseng pepaya dipadu padankan dengan tempe yang di potong-potonh kecil, membentuk persegi panjang.


"Mas mu tadi, berangkat subuh. Belum mateng (belum selesai masak) sayur e jadi gak bisa bawain kamu. Ibu lupa kalau kamu suka," balas ibu.


"Jatuk o di gawak ne Layla ya, Buk. Di masak kawit bengi (Tahu gitu, di bawakan untuk Layla ya Buk. Di masak malam tadi)," sahut bapak.


"Lali, pak. Mboten kelingan blas (Lupa pak. Gak ke ingat sama sekali)," balas Ibu.

__ADS_1


Aku terkekeh. Mereka malah berdebat sendiri.


"Pun, mboten npo-npo. Mengke Layla tak tumbas ne teng mriki.(Sudah, tidak apa-apa. Nanti Layla aku belikan di sini)," Mas Albi menengahi.


"Memang ada?" tanya Ayah


"Ada gak, Nduk?" tanya Mas Albi


"Gak tahu aku, Mas," jawabku sambil mengangkat kedua bahuku.


"Nggeh mengke cobi tak padosne riyen. Lek mboten wonten, maem sak wonten Ndak papa ta, Nduk (Ya nanti coba aku cari dulu. Kalau tidak ada, makan seadanya gak apa-apa ya, Nduk)?"


Aku nyengir sambil, "Ndak apa-apa." Jawabku.


Padahal aku hanya pengen, gak pengen banget. Tapi keluargaku sudah meributkannya. Bahagia yang sederhana saat keinginan yang di rasa bercanda saja, bisa langsung di apresiasi oleh orang terkasih.


Obrolan kembali dengan topik lain. Kami berdua bertukar suara menyahuti pertanyaan-pertanyan dari orang tua kami. Sesekali tertawa saat salah satu dari kami mengajak bercanda.


"Kamu nanti gak usah langsung pulang, Bi. Nginep di sana sehari saja, gak apa-apa. Kasihan badanmu, kecapekan nanti." Tutur Ibu tiba-tiba


"Tapi, nanti kamu nginep di mana, Mas?" tanyaku


"Ya di kamar sambang, tho. Biasanya juga begitu, kan?"


Kalau Mas Albi saja mungkin tidak apa-apa, tapi Mas Andre bagaimana? Apa dia sanggup tidur tanpa alas seperti kami biasanya?


"Iya, Bi. Kamu cari penginapan aja, di sekitar pondok. Biasanya kan kalau pas haul ada tu, yang menyediakan penginapan," sahut Ayah.


"Tapi, sekarang gak lagi haul. Gampanglah, kalau soal Andre nanti bisa di urus." Bantah Mas Albi.


"Sekarang Andrey di mana? Kok kalian berdua saja?'' tanya Ibu.


"Sama Mas Albi, di suruh di bawah aja, Bu. Gak boleh ikut ke atas tadi," jawabku.


"La, sekarang kalian ada di mana, tho?" tanya ibu.


"Di kelas Layla," jawabku.


Aku mengambil ponsel dari tangan Mas Albi mengedarkan ponsel tersebut ke seluruh ruangan kelas. Memperlihatkan seisi ruangan kelasku.


Mereka tidak pernah mengetahui bagaimana ruangan belajarku selama ini. Hanya lewat foto. Waktu pengambilan raport pun itu selalu di letakkan di kelas lantai dasar saja. Sebab tidak mungkin membuat orang tua kesusahan naik ke lantai tiga.

__ADS_1


"Oalah...Iya. Iya..." Terlihat Ibu dan Ayah berbuat melihat layar yang sedang aku perlihatkan. Takjub ternyata kelasku elegan tidak kalah dengan sekolah di luar sana. Bahkan lebih mewah sebab setiap kelas di fasilitas dengan layar proyektor dan juga tv setiap kelas pun ada DVD. Pun setiap guru memiliki laptop untuk pembelajaran mata pelajaran masing-masing.


Sengaja bukan kelas yang di berikan laptop, untuk jaga-jaga biar pelajaran tidak tumpang tindih dan file bisa terpisah. Lagipula, itu akan membuat murid saling ingin bergantian mengunakan.


"Kalau sudah reda, cepat ke bawah lagi. Ayah ingin bicara juga dengan Andre, kasihan dia kok ya kamu suruh tetap di bawah sendirian," kata Ayah.


Aku dan Mas Albi tertawa. Aku tidak tahu keadaan Mas Andre saat ini. Tetapi dia betah juga di bawah sana. Jika memang ikut, bisa juga dia menyusul kami. Apalagi saat ini hujan mulai reda. Atau mungkin dia memang sedang menjalankan titah dari Mas Albi untuk menjaga Salwa dan para selirnya?


Panggilan berakhir setelah kami mendapatkan banyak pesan dan petuah lainya.


"Ya, sudah Nduk. Ayo, pergi!" Ajak Mas Albi


Aku mengambil ranselku. Lalu kami keluar kelas. Aku juga sudah membawa jaket Mas Andre. Tidak mungkin aku melupakan, apalagi membiarkannya.


Baru saja kami akan menuruni tangga Andre terlihat dari persimpangan tangga.


"Lama amat, kehabisan ide sampekan," ujar Mas Andre


Aku mengerutkan kening. Mas Albi juga melakukan hal yang sama. Kami tidak mengerti apa maksud perkataannya.


"Ide apaan, Dre?" tanya Mas Albi


"Ya, menahan dua gadis tadi, tho. Aku sedari tadi mengajak mereka bicara, agar suasana gak tegang," jawab Mas Andre.


"Ya Alloh, ngapain juga susah gitu. Di biarin saja, ntar juga balik sendiri. Toh, mereka juga pasti ngerti!" Seru Mas Albi


Aku terkekeh. Jadi benar, kalau Mas Andre menjaga mereka bertiga. Dengan mencoba mengajak mereka berbicara dan menghibur mereka di tengah derai hujan. Baik sekali dia.


Tetapi sampai di lantai bawah. Aku sudah tidak menemukan Salwa dan para selirnya. Kemana mereka? Bukankah jaket Mas Albi masih di bawa Salwa?


"Jaketku, masih di bawa mereka?" tanya Mas Albi pada Mas Andre.


"Iya. Ya gak tega, tho kalau langsung minta. Biarin lah, lawong cuma jaket," jawab Mas Andre


Apa yang di lakukan Salwa. Lancang sekali dia membawa jaket Mas Albi, apa maksudnya coba? Biar mereka bisa bertemu kembali begitu? Aku tidak akan membiarkannya. Selama Mas Albi tidak menunjukkan ketertarikannya aku tidak akan memberikan celah untuk dia masuk dalam kehidupan Mas Albi.


"Nanti, biar aku saja yang memintanya," kataku


"Ok, baiklah," jawab Mas Albi.


Perihal ikhlas, aku belum mempelajari. Sungguh aku belum ingin mengerti. Sebab bumi pun juga tidak mengerti kenapa hujan turun tanpa kabar yang pasti. Kapan dan bagaimana dia mulai datang dan mereda, bumi tidak pernah ikut andil dalam prosesnya.

__ADS_1


Begitu pun dengan hatiku saat ini. Kapan dan bagaimana rasa itu ada, ia hadir tanpa memberikan aba-aba. Dan saat ini aku hanya menjalankan tugasku sebagai orang yang mencintai. Itu saja.


__ADS_2