(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 53


__ADS_3

#Arya Dharma


Hal yang besar telah aku lakukan. Yah, hanya beberapa batang coklat yang aku sebarkan, bisa mendatangkan rasa nyaman, dan menghilangkan ketakutan di dalam hati Layla.


Sudah bersusah payah aku memutar otak agar aku bisa terlibat langsung di kehidupan Layla. Usaha mati-matian, untuk meyakinkan banyak orang, agar progam pengawas baru tersebut bisa di wujudkan.


Awalnya, aku berpikir akan terus-menerus mendatangi sekolah Aliyah untuk bertemu Layla. Tapi, nantinya akan membuat dia curiga, dan hanya memberikan banyak kebohongan belaka. Alasan dalam otak tidak selalu menemukan lancar. Sedang dia belum tentu, menyukainya.


Tanpa sengaja, aku menemukan ide untuk menjadi pengawas Tryout dari gerombolan santri putra yang satu angkatan dengan Layla. Mereka membicarakan, jika pengawas Tryout akan di ambil dari beberapa guru sekolah sekitar kami. Dalam artian pertukaran guru.


Jika disini saja banyak orang yang bisa menjadi pengawas, mengapa harus meminta orang lain untuk mewakilinya. Sontak pikiran itu, langsung aku utarakan pada Ning Nada. Dia salah satu pemegang kendali sekolah Aliyah saat ini.


"Kenapa idemu baru datang sekarang, Kang?" tanya Ning Nada, dia menyeringai tanda bahwa apa yang aku sampaikan bisa mendapatkan hasil yang memuaskan


Aku menemuinya saat di sedang menyirami taman Dhalem depan. Sebagai sepupu yang dablek (Nakal), aku tidak memiliki sungkan(Rasa malu), Hahaha. Padahal harusnya aku tetap tunduk ta'dzim kepadanya.


"Datangnya baru sekarang." Jawabku asal.


Tidak pantas aku hanya wira-wiri tanpa membantu dia menyirami tanaman. Akhirnya, aku ikut membersihkan beberapa dedaunan kuning yang berguguran.


"Kalau sejak dulu, 'kan kita gak usah susah-susah meminta bantuan sekolah lain. Kita juga, gak merasa ngerepotin." Ujar Ning Nada.


"Lah, iya itu. Mangkanya, sekarang pengawas bisa di ambil dari anak pesantren saja. Bagian kelas putri di ambil dari pengawas putra. Bagian kelas putra di ambil dari pengawas putri. Gak akan ada yang berani nyontek nanti." Tambahku.


"Bisa saja seperti itu, Kang. Tapi, ya kasihan yang pengawas putri kalau di taruh di kelas putra. Bisa-bisa habis di goda siswa putra." Bantah Ning Nada.


"Ya, kalau begitu ambil dari sie keamanan saja. Pasti mereka gak berani berkutik. Mana ada santri putra yang berani sama keamanan putri." Ujarku.


"Masak? Kok iso (kok bisa)?" tanya Ning Nada sambil menyipitkan mata, seakan tidak percaya.


"Iyalah, kalau goda nanti langsung di takzir. Laporin keamanan putra." Jawabku sambil nyengir.

__ADS_1


"Hahahaha. Ada-ada saja. Ya sudahlah gampang. Tunggu konfirmasi saja dulu, hal ini juga harus di rapatkan. Gak bisa aku, kalau langsung memutuskan." Kata Ning Nada


"Tapi, pastikan kalau ini bisa di acc, lo, Ning."


"La Kenapa, tho? Kok kayaknya Kang Dharma yang pengen banget jadi pengawas. Atau jangan-jangan, ini cuma modus biar kamu bisa cari perhatian sama anak Aliyah putri?" tebak Ning Nada mengintrogasi.


Aku menelan ludah. Haduh, belum apa-apa sudah mau ketahuan.


"Ya, gak tho Ning. Sebenarnya, aku ngelakuin ini biar kamu gak usah repot-repot minta izin ke sekolah lain untuk meminta bantuan. Kalau ada yang disini, ngapain ke orang lain. Hehehe." Jawabku sambil gombal.


"Hahaha...Kamu bisa aja, kang." Balas Ning Nada. Wajahnya bersemu merah. Aku menyeringai. Apa semudah itu merayu perempuan, tapi kenapa Layla tidak seperti itu?


"Kalau nanti di ACC, kamu ya Kang, yang tanggung jawab." Kata Ning Nada.


"Siap, Ning. Apapun itu." Balasku semangat.


Begitulah, perjuangan yang aku rasa sulit, tapi juga mudah. Sulit, karena harus melalui banyak orang. Mudah, karena mereka langsung mengapresiasi ide ku. Tapi, kembali bersalah, karena di dalam niatku ada keegoisan yang sedang aku sembunyikan.


Jadilah, mulai bulan itu aku mendapatkan kesempatan bertemu Layla tanpa penghalang. Setiap hari, aku merapal istighfar karena mataku selalu mengajak berma'siyat memandang Layla.


Hal yang paling indah, yang aku dapatkan dari profesi pengawasan tryout adalah, saat dimana aku tidak menemukan jarak lagi dengan Layla. Saat dia mulai merasakan debaran yang sama. Entahlah, itupun terjadi di saat-saat terakhir.


Di mana aku menyuguhkan jawaban soal, dan dia mulai menyalinnya. Untuk pertama kali, aku mendapatkan tatapan intens dari bola matanya. Menemukan gejala yang sama, seperti saat aku pertama kali jatuh cinta dengan dirinya.


Tulisannya, awur-awuran, tidak sama dengan tulisan jawaban lainya. Tangannya bergetar, karena aku begitu dekat dengan dirinya. Bahkan saat aku berlalu, aku memergokinya masih memandangiku.


Mungkinkah, dia mulai menjadikanku spesial? Seperti martabak saja, setelah biasa menjadi spesial, lalu istimewa.


***


"Apa yang sedang kau rapal, Layla?" tanya ku. Ku amati sejak tadi, dia sedang berkomat-kamit membaca sesuatu dari mulutnya.

__ADS_1


"Hah, kang Dharma bertanya apa?"


Ku hela nafas, bahkan pikirannya saja tidak ada di sini. Aku mengulangi pertanyaanku lagi. Lalu dia mengalihkan pandangannya lagi ke arah depan. Ku ikuti arah matanya__ aku menemukan sosok seorang ibu yang menjual goreng sambil menggendong putranya. Senyum merekah, tidak luntur dari bibir ibu tersebut. Tatapan penuh ramah selalu ia tunjukkan pada mereka yang datang membeli gorengannya.


Baru aku sadar, jika banyak pedagang lainya yang masuk ke kawasan sekolah. Mungkin karena melihat banyak siswa yang berkeliaran. Semua siswa sedang bersiap menyambut acara Porseni dan Bazar.


"Aku sedang membaca sholawat," jawab Layla sambil mengukir senyum.


Bersyukur, kerena dia telah menjadikan ku salah satu orang yang bisa mendapatkan senyum itu.


"Memangnya, apa yang sedang kamu hajatkan?" tanya ku lagi.


Biasanya, orang akan merapal sholawat untuk hajat yang ingin segera mereka wujudkan. Apa dia sudah ingin mempunyai anak, seperti ibu tersebut? Jika begini, aku siap untuk menjadi ayah dari anaknya kelak.


Hah. Anganku melayang tak karuan. Jika berdekatan dengan Layla, kewarasanku sedikit demi sedikit menghilang.


"Aku ingin seperti ibu itu" Jawab Layla. Pandangan tidak lepas dari sosok ibu tersebut.


"Maksudmu, ingin punya anak yang beliau gendong itu?" Tanyaku keceplosan.


Layla tersenyum pelan. Kemudian senyum itu berangsur ingin ia pecahkan menjadi tawa. Tapi, ia coba tahan. Melihat situasi saat ini tidak memungkinkan.


Dia sedang melepas lelah karena baru saja menyelesaikan menghiasi tenda bazar. Sedang aku pun pura-pura kelelahan karena memasang tenda. Padahal sejak tadi, aku hanya mengatur tenda sebagaimana mestinya saja. Yang mengerjakan semua adalah Sarip dan kawan-kawan. Untunglah, Layla datang tepat saat aku sedang memaku salah satu kayu untuk mengaitkan ke kayu lainya.


Teman-teman lainya, aku usir dengan alasan telah menyiapkan makanan ringan, sedang Layla aku cegah pergi dengan dalil untuk mengawasi pemasangan hiasan di tenda. Dan entah apa yang di lakukan oleh Sarip sekarang, hingga membuat teman-teman Layla tidak kunjung datang sampai sekarang.


"Bukan...Bukan... Aku ingin seperti ibu itu." Jawab Layla.


"Menjual gorengan?" tanya ku tidak yakin, namun mata Layla semakin mengisyaratkan hal itu. Berbinar, bersamaan dengan senyum mengiyakan.


Haduh! Mana mungkin, istri seorang Dharma menjual gorengan? Bisa mati aku. Kenapa Layla bisa-bisanya mempunyai keinginan seperti itu. Bukankah, lazimnya seorang perempuan menginginkan kenyamanan. Beranda di rumah saja, menunggu suaminya bekerja. Di penuhi banyak fasilitas lainya, seperti skincare, atmcare, suamicare. Sepertinya, itu lebih bisa aku berikan daripada harus memenuhi keinginannya menjual gorengan seperti itu.

__ADS_1


Layla semakin membuatku ciut untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Hal siapa aku sebenarnya, dan bagaimana dia akan hidup nantinya.


Baru kali ini aku merasa, bahwa harta dan tahta, tidaklah ada gunanya. Bahkan ingin menyembunyikan itu semua, asal Layla bersedia bersamaku.


__ADS_2