
#Arya Dharma
Setelah mendengar cerita umi bagaimana Abah memperjuangkan cintanya dulu aku jadi semakin bersemangat untuk menggapai cintaku juga.
Aku seperti sedang melakoni peran Abah waktu dulu. Mencintai dalam diam. Akan ada saatnya nanti ingin aku sampaikan niatku untuk memiliki dia, hatinya dan dunianya. Menjadikan dia satu-satunya bidadari di hidupku dan akhirat ku.
Aku iri pada langit. Dia begitu bebas menatap Layla. Sedangkan aku belum bisa. Sang rembulan pun pasti bisa mengetahui sedang apa dirinya. Seleluasa itu dia memandangi mu.
Tok tok tok
Pintu kamar di ketuk. Ku lirik jam dinding, pukul sepuluh malam. Semestinya aku pun sudah tidur dengan sangat nyaman saat ini. Akan tetapi entah mengapa, pikiranku begitu sulit untuk di ajak berkerja sama untuk tidak memikirkan Layla.
Aku beranjak dari jendela yang sejak tadi aku tangringi sambil melihat langit malam.
"Iya sebentar," kata ku sebab orang di balik pintu terus menerus mengetuk pintunya.
Kreek
Pintu aku buka. Mataku terbelalak saat mendapati Abah yang berdiri di depanku.
"Apa boleh aku masuk," katanya.
Aku masih tertegun. Tumben sekali. Ada apa ini?
"Abah ngapain? Kok tumben," ucapku sambil celingukan melihat ke kanan-kiri barangkali ada seseorang lagi yang bersamanya.
Beliau langsung masuk setelah aku buka pintu kamar sepenuhnya.
Duduk di dekat jendela. Ada dua kursi dan satu meja kecil di tengahnya. Kakinya sudah ia silangkan saja.
Tiba-tiba saja hatiku berdebar tanpa sebab apa-apa.
"Abah, tumben? Ada apa?" tanya ku seraya duduk di tepi ranjang. Menghadap langsung di depan beliau.
"Duduk di sini dulu," pintanya sambil mengarahkan tangannya pada kursi di sebelahnya. Aku pun menuruti tanpa bereaksi.
Setelah itu tidak ada yang memulai berbicara. Abah masih diam saja sambil mengamati ruang kamar. Aku sudah bertanya akan tetapi belum juga beliau jawab juga.
Tok tok
Pintu kamar yang sedari pagi masih terbuka menampakkan Sarip di ambang pintu. Dia membawa nampan berisi teko dan dua cangkir di atasnya.
"Masuk. Letakkan di sini," suruh Abah.
Sarip melakukan apa yang di pinta. Setelah meletakkan barang yang ia bawa. Dia mundur lalu berpamitan untuk pergi.
Tanpa di suruh aku menuangkan isi teko tersebut pada kedua cangkir tersebut.
"Kopi, Bah..." tawar ku.
__ADS_1
"Sudah tahu," jawabnya singkat.
Hampir lima belas menit kami masih diam saja. Sebenarnya ada apa? Jika hanya minum kopi kenapa masih diam saja.
"Kapan kamu akan menikah?" tanya Abah tiba-tiba.
Byurrr!
Kopi yang baru saja aku seruput menyembur sebab terkejut dengan pertanyaan Abah.
"Haduh, Bah... Sekalinya bertanya kok ya langsung bab Nikah, to" protes ku.
Abah memang menakutkan. Tetapi beliau faham sifat-sifat anaknya.
"Jawab saja,"
"Ya belum tahu. Calonnya saja belum ada,"
"Kata Umi kamu punya calon,"
Aku mengigit jemariku. Jadi Umi sudah cerita soal Layla?
"Umi cerita apa, Bah?"
"Ya soal perempuan yang pengen kamu nikahi,"
"Hehehe...kan masih rencana. Belum diel... Toh masih lama,"
Aku juga ingin tahu tujuan apa yang akan Layla ambil setelah dia lulus. Barangkali kuliah, seperti kebiasaan siswa pada umumnya.
"Kok lama? Langsung saja. Biar kami langsung memintanya untukmu,"
Tuh kan. Aku nyengir tanda itu bukanlah ide yang bagus.
"Dharma gak mau memaksa, bah. Takutnya nanti kalau langsung di lamar dia malah nolak."
Abah diam. Barangkali beliau ingat kejadian waktu mudanya dulu. Aku terkekeh lirih.
"Gak bakal menolak. Siapa yang berani menolak putra Umar Al Faruq,"
"Haha... Abah bisa saja. Adalah... Nyatanya gadis yang sekarang aku deketin susah banget di dapetin. Gak kayak yang lainya, di senyumin dikit udah mau di ajak nikah,"
"Ngawur kamu. Jangan gampang ghosting perempuan gak baik."
"Apa, Bah?"
"Jangan biasakan ghosting perempuan gak baik,"
"Hahaha... Abah dari mana bahasa ghosting? Ya Alloh Abah!"
__ADS_1
Dharma terkejut. Sejak kapan tahu bahasa anak muda. Aku sendiri saja tidak pernah menggunakannya istilah anak jaman sekarang.
"Anak-anak... Meskipun abah udah tua tetap tahulah istilah Jaman Now. Seringnya bareng anak-anak, sering dengerin anak-anak."
Benar juga. Abah lebih memperhatikan bagaimana para santrinya saat ini. Bagaimana beliau mulai sering mengubah banyak metode sesuai periode anak jaman sekarang.
Pondok mulai mengembangkan teknologi juga. Para ustadz dan ustadzah di sediakan proyektor dan juga laptop untuk akses pembelajaran. Dengan begitu, santri tidak merasa terbelakang di masa sekarang.
Ekstra pembelajaran pun juga di terapkan sesuai keinginan mereka. Ada di bidang pertanian, peternakan, jurnalis dan teknik.
Abah memberikan banyak peluang untuk santri bisa lebih mengetahui banyak hal. Tidak hanya agama saja tapi juga tentang kehidupan yang terjadi setelah mereka boyong dari Pondok.
Sawah milik Abah di bebaskan di kelola pesantren. Hasilnya pun untuk para santri dan para pengelolanya. Abah juga membeli dan membangun hewan ternak. Seperti sapi, kambing dan ayam. Itu pun untuk di budidayakan oleh para santri. Begitu pun urusan teknik dan perdagangan lainya.
Sampai sejauh ini pondok yang di pimpin Abah maju bukan sebab kami sekeluarga. Tapi memang berkat para santri. Mereka sendirilah yang mengembangkannya. Kami hanya memberikan lahannya.
Hal itu menjadikan mereka betah. Sebab merasa memiliki tanggung jawab lebih juga. Sedikit mengurangi keinginan untuk kembali pulang sebab di pondok mereka pun bisa menghasilkan. Tidak jarang jika para santri senior saat mereka boyong mereka sudah memiliki bekal yang matang. Selain ilmu dan keterampilan tapi juga finansial.
Aku pun sejak dini sudah diberikan beberapa lahan untuk aku kembangkan oleh Abah. Yah, walaupun saat ini masih para santri yang mengelolanya. Bedanya jika Abah semua pemasukan dari lahan itu untuk para santri. Jika aku lumayan bisa masuk kantong ku juga dua puluh lima persennya. Lainya ya buat mereka yang mengelola. Meskipun begitu lumayan lah. Tidak melakukan apapun tapi sudah dapat pemasukan. Berkata Alloh, berkat Abah juga sebab telah mewariskan jiwa bisnis dari sejak dini.
Memikirkan keadaan rumah sampai lupa. Jika kami berdua masih diam saja sejak tadi.
"Abah... Bolehkan nanti Dharma pilih pendamping sendiri?"
"Pendamping atau jodoh sudah di pilihkan Alloh. Kita gak bisa milih," jawab Abah sambil menyeduh kembali kopinya.
"Iya...Faham. Tapi pengen jodoh ku nanti pilihan Dharma sendiri. Yang Dharma cinta dan benar-benar yakin bisa Dharma bimbing.
"Tergantung,"
"Kok tergantung?"
"Ya, pilihan mu benar gak. Jangan asal suka sama cinta. Dasar pernikahan itu ibadah. Bukan cinta-cintaan."
Rasanya ingin membantah Abah. Sebab beliau dulu juga kekeh mendapatkan umi. Pengen aku ledek. Tapi nanti malah gak sopan. Abah kan moddy-an.
Aku menghela nafas.
"Memangnya siapa gadis itu?" tanya Abah tiba-tiba.
Deg! Pertanyaan yang hampir sama. Akan tetapi ini lebih ke intinya.
"Abah tahu orangnya?" tanya Abah lagi. Membuat ku semakin tercekat.
Aku mesem-mesem. Menggaruk tengkukku yang tiba-tiba terasa gatal.
"Tahu gak Abah?" tanya Abah lagi. Jarang sekali Abah mengulang pertanyaan padaku. Ini sudah tiga kali.
"Antara tahu dan tidak, Bah. Tergantung..." Jawabku.
__ADS_1
Abah mengerutkan dahinya. Tanda tidak faham dengan apa yang aku bicarakan. Yah, bagaimana menjelaskan?