
# Muhammad Qois Albifardzan
Perih yang amat sangat adalah ketika melihat dia menangis. Dia yang mengeluarkan cairan bening dari matanya. Namun aku yang tertusuk oleh setiap getahnya.
Layla, dia tak tahu bahwa menyanyanginya adalah tugas yang paling indah yang di berikan oleh Alloh kepadaku. Membuat dia bahagia adalah jalur ternyaman yang pernah aku tempuh. Memastikan dia baik-baik saja adalah keikhlasan yang sedang ingin aku jaga.
Kehilangan kabar dia lebih dari setengah jam saja bisa membuatku kelimpungan. Sedang yang aku khawatirkan, dia menanggapinya penuh dengan ketenangan.
Apakah aku kakak yang tak lagi bisa membuat dia nyaman? Apa aku adalah kakak yang tak lagi di inginkan? Apa yang menjadi sebab hilangnya pikirannya hingga pergi tanpa pamit menjadikan pilihannya?
"Aku kira tadi sarapan di Dhalem timur," kata Layla dengan melahap makanannya.
Satu kata maaf belum terucap untuk kesalahan yang ia perbuat. Aku diam. Tak begitu merespon. Membiarkan dia dengan ketenangannya.
Andre pun hanya membalas dengan senyuman tanpa arti apa-apa. Dia tahu batasan. Dia tidak akan mengambil hak ku untuk bertanya pada Layla.
"Mas Albi, mana tumis pepayanya?" tanya Layla tiba-tiba. Dia bertanya dengan senyum di bibirnya.
Tahu dari mana dia aku memasak tumis pepaya? Atau jangan-jangan dia memang melihat ku bersama Salwa tadi saat di dapur. Lalu kenapa, jika dia sudah akan menemui ku. Tapi tak sampai niatnya itu.
"Tumis pepaya, apa?" tanya Mas Albi berlagak bodoh.
Aku ingin tahu. Apa yang sudah di ketahui Layla dan aku tidak memahaminya.
"Tumis pepaya. Bukankah tadi Mas Albi membuat tumis Papaya?" tanya Layla. Kali ini dengan penegasan.
Aku memang mengatakan akan membuat tumis pepaya untuk dirinya. Akan tetapi aku tidak mengatakan jika pagi tadi aku membuatnya, khusus untuk dirinya.
__ADS_1
"Aku permisi mau ke kamar mandi dulu,"sahut Andre tiba-tiba. Dia mengerti jika situasinya tidak memungkinkan untuk di lihat oleh orang lain.
Aku tak membalas apapun hingga Andre keluar dari tenda. Barulah setelah itu aku berbicara dengan Layla.
"Kenapa tidak memberitahu Mas jika kamu pulang ke pondok, Layla?" tanyaku penuh tekanan. Kali ini sebisa mungkin aku mengontrol emosiku.
Layla terpaku. Bukan jawaban dari pertanyaannya yang dia dapatkan. Melainkan pertanyaan lain yang sedari tadi coba ia hindari.
"Aku kira nanti Ning Nada akan memberitahukan juga jika aku dan Aisyah pulang duluan," jawab Layla.
Alasan. Ku Hela nafasku berat.
"Jadi menurut Layla, meminta izin pada Nada sudah cukup? Dan Mas gak perlu?"
Layla menggelengkan kepalanya secara cepat. Dia tidak bermaksud seperti itu. Matanya mulai merembas. Pandangan kepadaku kini mulai pudar sebab terhalang cairan yang mulai menggenang.
Kenapa ada nama Salwa di dalam alasannya. Apa hubungannya?
"Salwa?" Aku menyebut gadis yang tadi menemui ku di dapur.
Layla mengangguk.
"Acara jamuan kemarin sepertinya memang di buat untuk mendekatkan kalian," kata Layla.
Hah! Aku semakin tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Bagaimana Layla berpikir sejauh itu. Bahkan aku saja sama sekali tidak memikirkan hal yang serupa.
"Tidak ada yang seperti itu, Layla. Kamu salah faham," sanggahanku. Aku tidak terima jika dia salah faham.
__ADS_1
"Salah faham apanya? Memang seperti itu kok, semua terlihat jelas!" Seru Layla tak tera. Kali ini nada bicaranya yang meninggi.
"Tidak ada. Jamuan kemarin reel dari Nada. Tidak ada maksud apa-apa. Dharma yang merencanakan semuanya," sanggah ku dan mengatakan yang sesungguhnya.
Kini aku faham. Layla mengira jika jamuan itu di khususkan untuk ku. Sebab untuk lebih mendekatkan aku dengan Salwa. Padahal jamuan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu semua.
Semua memang serba kebetulan. Tapi jika otak dalang dari jamuan kemarin adalah Dharma aku yakin. Itu semua tidak ada hubungannya dengan ku dan Salwa.
Meskipun kami memang saling bicara akan tetapi tidak bisa membuat ku langsung bisa tertarik dan memutuskan untuk mengiyakan perasaan cinta Salwa padaku.
Tiba-tiba aku mengingat perkataan Andre jika Dharma terlihat jelas menyukai Layla. Apakah ini adalah sebuah kesempatan dalam kesempitan yang di manfaatkan oleh Dharma untuk mendekati Layla. Apalagi, Dharma lah yang tadi mengantar Layla ke pondok.
Memory tentang pertemuan kami dengan Dharma terus berulang-ulang di benakku. Apa benar Dharma mengincar Layla? Jika iya, aku harus bagaimana? Kenapa hatiku tiba-tiba tidak terima.
Ada apa denganku Ya Alloh... Semakin Layla menginjak kedewasaan. Semakin banyak pula laki-laki yang mendekatinya. Tapi entah mengapa, itu semakin membuat hatiku tak tenang rasanya.
"Nanti jalan-jalan, ya Mas?" Dari pertanyaan itu aku tahu betul jika Layla sedang ingin menyingkirkan topik pembicaraan kami.
Apakah dia tidak terima jika aku menyudut Dharma? Dia sama sekali tidak menyangkal ataupun membantah. Sama halnya dia tidak ingin memperpanjang masalah.
"Mas mau pulang saja," tiba-tiba itu yang keluar dari mulutku.
Sekian detik Layla hanya menatapku tanpa berbicara. Dia menemukan kegundahan hatiku yang sejak tadi aku tahan.
Layak mencoba merayu. Membubuhkan banyak pertanyaan kenapa dan bagaimana. Rasanya aku tidak tega dengan itu semua. Tapi dia pun tadi tega membuat hatiku hampir mati mencemaskannya. Dia mulai merengek meminta maaf. Dia mulai menangis sejadi-jadinya sebab dia mulai merasa jika kesalahannya sangatlah fatal menurut ku.
Di sadar jika dia salah. Tapi aku masih penasaran apa yang membuat dia seleluasa itu melakukan kesalahan. Takutkan sebab mengganggu hubungan ku dengan Salwa atau ada alasan lainya?
__ADS_1
Tangisannya hanya membuat hatiku luluh saja. Tanpa bisa mengetahui sejatinya alasannya.