(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 66


__ADS_3

#Layla Najwa Fathurrohman


[Wanita bisa menyembuhkan perasaan cintanya, tapi dia tidak dengan rasa cemburunya]


"Ada apa?'' tanya Aisyah saat aku sudah di depannya.


Aku mendekatkan bibirku di telinganya, membisikkan sesuatu pada dirinya.


"Ikut aku, yuk. Ke Dhalem timur, Mas Albi dan Mas Andre di jamu di sana, sama Ning Nada."


"Hah! Beneran?! Kok bisa?" Aisyah langsung berseru tidak percaya.


"Nanti aja ceritanya, ayo! Buruan, aku sudah di tunggu."


"Lah, masak pakai kayak gini? Bawa baju atuh," protesnya.


"Iya-iya... Tapi cepat!"


Aisyah bergegas, antara ingin atau terpaksa sebab aku memburunya aku juga tidak tahu. Tapi syukurlah, tanpa di bujuk dia langsung mengiyakan.


Aku pergi ke kamarku. Memasukkan beberapa barang termasuk baju ganti ke dalam ranselku. Di jam seperti ini, teman sekamar sedang asyik makan. Jadi aku lolos dari pertanyaan.


Sampai di bawah, aku bertemu Aisyah, dia sudah bersiap.


"Gak izin keamanan?" tanya Aisyah


"Katanya sih, gak perlu. Udah dapat izin langsung dari Ning Nada," jawabku.


"Wow! Ekslusif, bombastis, super super istimewa dong!" Serunya girang


"Hahaha. Aku juga heran, ini masih bingung beneran apa gak,"


"La kok bisa? Ning Nada sendiri yang ngajak?" tanya Aisyah.


Aku menggeleng,


"La terus?"


"Kang Dharma,"


"Kok bisa?"


Aku mengangkat ke dua bahuku, "La itu, aneh kan? Mangkanya aku masih bingung ini,"


Aisyah sepertinya ikut bingung juga. Dia diam, tapi dari raut wajahnya memikirkan kejadian ini. Aku tahu betul bagaimana dia sangat amat suka dengan hal yang gak wajar seperti ini.


"Jangan-jangan benar, Kang Dharma ngelakuin itu semua buat kamu, Wa," kata Aisyah.


"Apaan? Gak ah! Kebetulan aja, kali," elakku.


"Ck! Tapi Kebetulannya sering banget,"


"Yah, namanya juga kebetulan pasti seringlah,"


"Gak lah! Ada yang cuman sekali doang,"


"Haduh, mulai deh!"


Aku mempercepat langkah. Di luar pondok masih banyak orang berseliweran. Di saat ada agenda sekolah seperti bazar dan poseni itu menjadi kesempatan juga bagi wali murid untuk menyambangi putra-putrinya. Sebab dengan begitu akan banyak waktu untuk mereka bersama. Seperti yang aku lakukan sekarang.


"Loh, kang Dharma nanti juga ikut?" tanya Aisyah.


Kami masih belum sampai di mana Mas Albi dan lainya berdiri. Tapi empat laki-laki di depan kami memang sengaja menunggu kami. Aku juga tidak tahu, apakah nanti Kang Dharma ikut atau tidak, kalau pun ikut wajar. Sebab dia mengatakan jika kunci Dhalem Timur dia yang pegang.


Seleluasa itu dia, memang berbeda dari santri pada umumnya. Wajarlah, dia masih saudara dari Ning Nada.


"Sudah siap?" tanya Mas Albi melihat kedatanganku.

__ADS_1


"Sudah,"


Mas Andre mulai membukakan pintu mobil untuk ku dan Aisyah.


"Mobil siapa, Mas?" tanyaku


Aku belum pernah melihat mobil Fortuner putih ini. Keren sekali, tapi itu bukan milik kami.


"Mobilku lah," sahut Mas Andre


"Oh... Keren!" Seruku.


Mas Andre langsung tersenyum lebar setelah mendengar pujian ku.


"Silahkan masuk tuan putri," ucap Mas Andre mempersilahkan


"Loh, kami dulu yang masuk," tiba-tiba Kang Sarip menghentikan langkahku.


"Kami kan juga ikut ke sana, yang pegang kunci dhalem Kang Dharma," lanjut Kang Sarip.


"Oh... Iya, Maaf kang," ucapku.


Aku pun mundur, mempersilahkan Kang Dharma dan Sarip untuk masuk ke dalam.


"Udah kayak rombongan aja," celetuk Mas Andre


Kang Sarip dan Kang Dharma menghiraukan. Baru saja mereka akan masuk, suara mobil lain menderu mendekat.


"Kang Dharma, Kang Sarip! Sini!"


Mata kami langsung tertuju pada suara tersebut. Mulutku langsung mengangga. Semua tertegun.


"Hai, Nada! Apa kabar?" Seru Mas Andre


Dia langsung nyelonong gitu aja menghampiri Ning Nada. Yah, mereka berteman.


"Hahaha... Yah, Albi mah ke sini cuman nyambang adiknya."


"Dasar! Kayak apa aja. Untung tadi kang Dharma lihat kalian, kalau gak aku gak bakalan tahu jika kalian ke sini."


Aku melihat ke arah kang Dharma, apa dia yang menceritakan soal kedatangan Mas Albi ke sini ke Ning Nada.


"Yah, kan saya tahu kalau mereka berdua teman Ning Nada juga. Jadi barang kali sekalian reunian," sahut Kang Dharma.


"Ya sudahlah, Ayo kita ke Dhalem Timur. Aku sudah mempersiapkan jamuan di sana," ujar Ning Nada.


"Ok!"


Ning Nada keluar dari mobil. Menghampiri kami. Aku dan Aisyah langsung sukem pada beliau. Sungkan, sampai tidak bisa berkutik sama sekali.


"Maaf ya, Nad. Jadi ngerepotin kamu," kata Mas Albi.


"Tenang, biasa saja," balas Ning Nada.


Tapi yang membuatku tergeletak lagi adalah sosok yang keluar dari mobil Ning Nada. Dia tidak menghampiri kami, hanya berdiri di sisi pintu mobil. Matanya tertuju pada kami.


"Salwa, kenapa dia juga ikut bersama kita?" bisik Aisyah.


"Aku tidak tahu," jawabku.


Hati yang tadinya tenang, tiba-tiba bergejolak kembali.


"Kang kamu sama kami saja, kan gak enak masak kamu ngikut tamu, sih." Kata Ning Nada pada Kang Dharma.


Kang Dharma terlihat tidak bisa mengelak. Dia menurut saja. Segera dia masuk ke dalam mobil Ning Nada. Salwa yang tadinya ada di kursi depan berpindah di jok belakang. Kang Sarip mengambil alih tempatnya tadi.


"Yok, ikuti kami!" Seru Ning Nada.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama aku dan Aisyah masuk ke dalam mobil. Di susul Mas Albi dan Mas Andre yang berada di posisi kemudi.


Jarak antara Dhalem utama dan Dhalem timur memang agak jauh. Kurang lebih dua ratus kilometer. Jadi perlu kendaraan jika ingin ke sana.


"Kamu bawa ganti baju, Nduk?" tanya Mas Albi. Dia menyadari jika aku belum ganti.


"Bawa Mas," jawabku.


"Jauh apa tempat tujuan kita?" tanya Mas Andre.


Mobil kami persisi berjalan di belakang mobil Ning Nada.


"Gak kok, tapi kalau jalan kaki ya jauh."


"Memangnya pernah jalan kaki?"


"Pernah lah. Waktu Roan, tapi ya karena di gilir paling dapat jatah setahun sekali."


"Oh..."


"Mas, tadi ada Salwa. Kamu jangan kecentilan ya nanti!" Seru ku


"Hahaha... Kecentilan gimana?" Mas Albi malah tertawa. Mas Andre pun ikut tertawa.


"Mestinya bukan aku yang kamu gituin. Tapi Andre, dia yang paling gawat nanti,'' Ujar Mas Albi.


"Tapi kan Salwa ngincarnya kamu, Mas." Bantahku


"Ya Alloh, kata siapa kamu? Gak ah, perasaan kamu aja," elak Mas Albi.


Jelas-jelas Salwa tertarik sama dia. Tapi Mas Albi pura-pura gak peka.


"Tapi kenapa cewek itu juga ikut sama kita ya?" tanya Mas Andre


"Gak tau!" Cuekku.


"Dia juga saudara Ning Nada. Sama seperti Kang Dharma. Mereka bertiga sepupu," sahut Aisyah.


"Oalah..." Ke dua laki-laki di depanku manggut-manggut.


Perbincangan kami terhenti saat kami memasuki gerbang Dhalem timur. Rumah dengan ukuran besar dengan banyak pohon berjajar rapi menyambut kami. Rumah dengan desain rumah Belanda kuno itu menjadi tempat peristirahatan kami nanti.


Seorang santri langsung menyambut kami.


Memberikan salam. Sudah seperti penjaga yang memberikan hormat pada tuannya.


"Biasanya kita bersih-bersih di sini, sekarang kita jadi tamu kayak tuan putri," celetuk Aisyah. Aku tersenyum garing.


Mobil Mas Andre terparkir di belakang mobil Ning Nada. Kami ikut turun.


Seorang santri putra meminta kunci mobil dari Mas Andre, sebab mobil akan di parkiran di tempat parkir yang ada di belakang rumah ini.


"Katanya kunci di bawa kang Dharma, tapi kita di sini udah terbuka aja pintunya," kata Aisyah.


Aku menyenggol bahunya. Sejak tadi dia ngoceh tanpa henti.


Barang kali jika kita kesini tanpa salah salah satu dari keluarga Dhalem kita tidak akan di perbolehkan masuk. Ya, kali kita santri biasa, masak mau nyelonong gitu saja.


"Selamat datang, santai aja. Nikmati seperti rumah sendiri," kata Ning Nada


Dia mempersilakan kami masuk dan duduk sementara di rumah tamu.


"Najwa, Aisyah ayo! Aku tunjukkan kamar kalian malam ini," ajak Salwa tiba-tiba.


Dia pun seperti tuan rumah saat ini. Tidak sungkan sama sekali. Kang Dharma pun tadi langsung ngancir kebelakang entah pergi kemana.


Atau mungkin kekeluargaan mereka seperti itu. Sudah biasa dan sudah menganggap milik sendiri.

__ADS_1


__ADS_2