
Setelah malam itu aku memutuskan untuk tidak pulang di hari ke tujuh belas ramadhan. Ya, seperti tahun-tahun sebelumnya. Liburan ramadhan di mulai setelah tanggal tujuh belas ramadhan. Lebih tepatnya setelah peringatan Nuzulul Quran.
Setiap tahun, setelah hari peringatan turunnya Al Qur'an, semua kitab kilatan akan di kumpulan. Di koreksi dan di minta untuk memenuhi maknanya. Jika tidak, santri tersebut tidak di perbolehkan untuk pulang. Sampai dia, bisa memenuhi syarat tersebut.
Hari-hari di pesantren sangat menyenangkan. Terlebih saat Ramadan seperti ini. Kita seakan tidak terikat oleh peraturan dan waktu. Kita sendiri bebas mengatur waktu kita. Kita di beri wewenang juga untuk memilih kitab yang kita ingin kaji.
Banyak hal juga. Seperti ketika santri begitu antusias saat memilih kitab yang di bacakan oleh ustadz atau ustadzah yang mereka kagumi. Itu ibarat seperti ketika kita mendapatkan surat cinta saja. Begitu ingin terus di baca dan di nantikan kelanjutannya.
‘’Mas Bian! Masya Alloh... Dia itu sebenarnya terbuat dari apa to . Luembut...Kalem dan senyumnya itu lo, bisa mendelosorkan aku," kata Rayya.
Kita baru saja selesai mengaji kitab Arbain Nawawi . Kitab yang di bacakan oleh Mas Bian. Ustadz yang terkenal dengan ketenangan itu memang cukup pas membacakan kitab Arbain Nawawi.
Kitab karangan Syech Abu Zakaria Muhyiddin Annawawi. Yang berisi kumpulan empat puluh dua hadist. Penuturannya yang santun seakan mengisyaratkan bahwa dia juga sedang berusaha mempraktekkan apa yang kitab itu ajarkan. Tidak ada bantahan dan ejekan saat dia sedang membacakan. Terdengar Khidmah dan menghipnotis para pendengarnya.
‘’Iya, iya...Sing tenang!'’ Kata ku dengan senyum.
Rayya memang sangat mengagumi sosok Mas Bian. Sedari dulu, sejak Masa Orientasi Siswa. Apalagi, bertambah kagum, saat lelaki itu kini menjadi salah satu pembaca kitab kuning di pondok.
‘’Tapi, Sedih tau! "
‘’Sedih? Kenapa?," tanya ku
‘’Kabarnya, Mas Bian, tahun depan boyong mbak. Hiks...Aku gak rela!"
‘’ Oalah...Iya, dia, kan memang sudah lulus. Udah ngabdi di pesantren dua tahun juga. Wajarlah kalau dia mau boyong. Sabar, cari yang lain!"
‘’Gak mungkin! Aku sukanya sama Mas Bian, tok. Titik! Hiks... Tapi kok ya boyong...Terus gimana perasaan ku ini nanti? Bakal tak simpan terus gitu, sampai mati?‘’
‘’Walah...kok, ya, lebay dirimu!‘’
‘’Mbak, sih gak ngerasain apa yang aku rasain. Bayangkan, aku mendem perasaan selama bertahun-tahun! Aku Pendam sendiri, gak ada kepastian apalagi kejelasan. Tiap hari cuman berharap bisa lihat orangnya saja. Jangankan nyapa, dia kenal aku saja gak. Mau di harapin dari mana? Ya Alloh... kenapa cinta serumit ini?'’ Rayya melampiaskan emosi dan kekesalannya.
__ADS_1
‘’Sabar... Kita di beri perasan cinta, kagumi, kangen itu anugrah. Itu berarti kamu waras. Normal!" kata ku dengan menahan tawa. Dia sedang kesal, tapi
wajahnya itu, ingin ku ecak-acak.
‘’ Iya mbak. Tapi kenapa Alloh memberikan rasa seperti itu? Sedang kita tahu, DIA juga tahu pada akhirnya perasaan itu hanya akan sia-sia dan tidak menghasilkan apapun juga. Belum lagi malah sakit hati kalau perasaan itu hanya kita saja yang merasa.'’
‘’Aku juga tidak tahu? Tanya saja sama, Alloh. Dia yang memberikan perasaan itu, DIA pula yang akan bertanggung jawab akan Semua itu. Hehe... Su'uladdab, yo, aku?'’ Kata ku
Aku pun tidak mengetahui jawaban dan pertanyaan Rayya. Karena aku sendiri ingin tahu jawabannya apa?
‘’Hah! Gregetan mbak bicara sama kamu itu!" Dia bertambah kesal, hingga ke dua kakinya dia hentak-hentakan di lantai. Mungkin aku menambah kegundahan hatinya. Dasar aku, bukannya membuatnya tenang malah membuatnya gelisah . Dasar aku juga, yang tidak pernah bisa menjadi pendengar yang baik.
Tapi, membuatnya seperti itu, hiburan tersendiri untuk ku. Dia masih lugu untuk memikirkan cinta, tapi seakan dia sudah faham betul jalan cinta itu.
Waktu cepat berlalu. Dengan semua kegiatan di pondok membuat kami para santri tidak merasakan berat dalam menjalankan ibadah puasa. Bahkan tidak terasa sama sekali.
‘’Mbak Najwa! Sampean di timbali Neng Nada teng ndalem (Kamu di panggil Neng Nada ke rumah)!" Seru salah satu santri dengan gopoh. Nafasnya masih tersenggal-senggal saat berbicara dengan ku. Sepertinya dia baru saja dari ndalem dan langsung di suruh Neng Nida untuk mencari ku.
‘’Kurang tau.‘’ Jawabnya
Semakin membuat ku penasaran. Aku yang tadinya berkumpul dengan teman lainnya di serambi depan mushola langsung bangkit dan pamit ke teman lainya untuk ke ndalem terlebih dahulu.
Tidak biasanya Ning Nada memanggil ku, meskipun dia tahu bahwa aku adalah adik dari temannya. Ketidak wajaran ini membuat ku cemas, dan sedikit takut untuk segera menghadap.
‘’Mbak, udah di tunggu Ning Nada di ruang makan." Kata salah satu santri yang mungkin juga dari piket ndalem.
“Iya, mbak. Matur suwun.'’ Balas ku dengan mengangguk.
Setelah sampai di ndalem dan menuju ruang makan . Aku mulai berjalan dengan berlutut, menundukkan kepala dengan harap-harap cemas.
‘’Assalamualaikum, Ning'’ Salam ku, masih dengan wajah menunduk.
__ADS_1
“Waalaikumsalam... Mbak Layla, sini, Monggo!" Balas Ning Nada dengan senyum sumringah membuat ku semakin sungkan.
Beliau memanggil nama ku dengan sebutan Layla, bukan Najwa. Padahal di pesantren tidak ada yang memanggil ku Layla.
Dengan hati-hati aku mendekat, Ning Nada sedang makan, aku mendekat ke meja makan dengan masih duduk dengan lutut di tekuk dan juga menundukkan kepala.
‘’Duduk, sini mbak. Jangan di situ‘’ Kata Neng Nada dengan menepuk pundak ku pelan. Dia bangkit dari posisi duduknya dan mempersilahkan aku duduk di depan kursi makannya.
‘’Mboten, Ning mriki mawon (Tidak, saya di sini saja).'’ Kata ku
Tanpa berkata Ning Nada masih dengan senyum ramahnya, menggandeng tangan ku dan menarik untuk duduk di kursi yang dia maksudkan.
‘’Nih, Mas, kamu telpon. Dia kangen katanya sama kamu," kata Ning Nada dengan menyodorkan ha-pe nya. Aku terbelalak kaget melihat layar ha-pe yang tiba-tiba ada di depanku.
‘'Assalamualaikum, Nduk... Sehat?'’ sapa Mas Albi.
Dia tersenyum manis. Membuat ku tidak bisa berkata apa-apa. Sangking terkejutnya dan juga haru, tidak percaya jika aku bisa melihat Mas Albi seperti ini.
‘’Waalaikumsalam...Alhamdulillah, sehat.'’ Jawab ku agak lirih.
Malu, Neng Nada memperhatikan kami.Meskipun terlihat biasa saja, tapi tetap saja. Ada rasa tidak enak hati.
“Tenang, aku tinggal, deh. Ndak ada orang kok di ndalem.“ Kata Neng Nada membuat ku semakin sungkan.
‘’Pinjam dulu, ya, Da!“ Seru Mas Albi sesaat sebelum Neng Nada pergi.
“Aman!“ Balas Neng nada dengan menunjukkan jari jempolnya seraya pergi meninggalkan ku sendiri dengan Ha-pe yang tersambung dengan Mas Albi.
Setelah Neng Nada pergi aku kembali melihat layar Ha-pe. Lagi-lagi aku di buat terpesona dengan senyum manis Mas Albi dan sorot mata bahagia melihat ku.
Namun, mengingat bagaimana dia mencari cara menghubungi aku membuat ku kesal. Bisa-bisanya dia menghubungi ku lewat ponselnya Ning Nada .
__ADS_1