(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 86


__ADS_3

#Arya Dharma


Pertandingan futsal di mulai dari mulai semi final hingga final. Sesuai perkiraan kami masuk final. Beberapa pertandingan juga sedang berlangsung. Bazar mulai berlangsung normal bahkan lebih ramai dari hari pertama.


Stand Layla sudah ramai sejak pagi. Seperti kemarin aku mentraktir sarapan grub futsal di tenda bazar kelas Layla. Alih-alih tidak ingin orang lain curiga aku meminta Sarip mengatakan jika itu sudah keputusan bersama. Aku tetap ingin mendekati Layla secara normalnya. Tidak melebihkan atau memaksa untuk langsung di pandang. Aku ingin dia memandangku dengan berlahan. Dengan caranya sendiri tanpa aku pengaruhi. Walau iya, barang kali aku tetap berusaha ada terus di dekatnya.


Setelah mengantar dia pulang pun aku juga belum melihatnya. Aku tidak sempat lagi untuk mencari tahu. Semoga dia baik-baik saja. Bagaimana keadaan hatinya, semoga lekas pulih seperti sediakala.


Ning Nada dan Salwa pulang bersama kami setelah sarapan. Sedang tamu yang kita agungkan memilih pergi lebih cepat tanpa sarapan.


Sudah bertemu dengan Layla atau belum aku tidak tahu. Barangkali sudah. Pondok ini tidak terlalu besar jika hanya untuk mencari Layla saja. Toh, dia benar di pondok tidak kelayapan kemana-mana.


Kecewa akan sikap Albi tertoreh pada hati Ning Nada dan Salwa. Mereka berdua perempuan, hatinya tergores dengan sekali bentakan saja. Padahal Sarip cerita jika Mas Albi sama sekali tidak menyalahkan mereka berdua. Mas albi tiba-tiba marah besar, memarahi dirinya sendiri tanpa sebab apapun karena Layla yang tiba-tiba hilang.


Sedang Ning Nada yang saat itu di pamiti Layla mengatakan apa adanya. Selebihnya Mas Albi menerka-nerka apa yang Layla lakukan dan pikirkan sampai dia tidak meminta izin pada dirinya saat akan kembali ke pondok.


Aku rasa. Sampai detik ini Layla tidak pernah membangkang masnya itu. Sampai detik ini pula, Masnya itu tidak pernah membiarkan Layla pergi sendirian. Karena itulah amarahnya begitu meletus hebat. Apa yang biasanya tergenggam tiba-tiba lenyap. Pastilah sangat kosong rasanya.


Aku terus mewanti-wanti Ning Nada agar tidak memasukan kejadian tadi pagi dalam pikirannya. Anggap saja itu adalah hal biasa. Ke khawatir seorang kakak pada adiknya. Aku akan merasa bersalah jika sebab kejadian itu, pertemuan yang terjalin bertahun-tahun renggang jadinya.


"Kurang lima belis menit lagi pertandingan di mulai, Gus." Kata Sarip


Aku mengangguk seraya mempersiapkan diri. Tanggung jawab pertandingan ini ada di pundak ku.


Pertandingan berlangsung sangat sengit. Perolehan poin terus imbang.


Di saat pertengahan, di saat mataku fokus pada bola yang aku tendang tiba-tiba sosok itu hadir dengan kedua perisainya. Duduk manis di bawah pohon sambil menikmati cilok yang ada di tangannya.

__ADS_1


Rasa bugar kembali ku rasakan hanya dengan melihat sosoknya. Mata kami beradu beberapa detik, sekilas aku pun menerima senyuman manisnya darinya.


Bola aku sepak dengan ringan mengoper pada kawan. Benar apa kata orang, saat jatuh cinta melihat sandal jepitnya saja sudah merasa senang. Apalagi jika ada didepannya.


"Gus, konsentrasi..." Seru Sarip saat aku lengah gara-gara Layla terlihat bercanda dengan andre.


Aku kembali fokus pada pertandingan.


"Sabar Dharma..." Batinku menenangkan.


Beberapa menit lagi pertandingan usai. Aku cukup mempertahankan bola tidak sampai Goll di gawang kami. Atau kalau bisa mencetak satu gol agar kami menang telak.


Di menit terakhir yang seharusnya aku konsentrasi, mataku malah terpecahkan antara pertandingan dan Layla. Dia sangat intens bersama Andre. Keduanya terlihat akrab bercanda bermain dengan ponsel yang Andre bawa. Barangkali ada seseorang yang sedang menelpon mereka.


"Duh!"


Gara-gara hal itu kami kebobolan satu poin. Menjadi seri jadinya. Wasit memberikan satu tambahan waktu lagi. Untuk menentukan siapa yang memang nantinya.


Konsentrasi Dharma. Lupakan dulu Layla. Pertandingan saat ini menjadi tanggung jawabmu.


"Akan lebih baik, jika Layla tidak ada di depan mataku saat ini. Jika hal itu membuat konsentrasi ku pecah. Ah! Aku malah menyalahkan Layla! Semua terjadi karena aku, bukan Layla. Dasar Dharma!" Maki ku untuk diriku sendiri.


Pertandingan akan di mulai tadi. Layla baru tersadar jika kami kebobolan. Dari arahnya dia memberikan senyuman dan semangat. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang sumringah dan kepalan tangannya.


Itu sudah cukup bagiku. Akan aku cetak satu gool lagi setelah itu aku akan menemui dia.


Pertandingan di mulai. Sebelum itu aku berdua bersama kawan-kawan untuk kedua kalinya. Agar pertandingan ini kami yang dapat memenangkan.

__ADS_1


Suara riuh para suporter mulai melengking di telinga. Bagi ku senyum dan semangat dari Layla tadi sudahlah cukup. Dia tak perlu juga ada di antara suporter yang menyebut namaku secara lantang. Cukup doanya saja, dan aku akan memberikan kemenangan.


Waktu 20 menit cukup untuk mencetak gol kemenangan. Semua mulai bersorak kemenangan. Tim kami yang menang. Menjadi juara bertahan seperti tahun-tahun sebelumnya.


Sesaat setelah pertandingan usai aku sudah tidak mendapati Layla ada di tempatnya. Dia sudah hilang di balik kerumunan. Entah kemana.


Aku tidak bisa langsung mencarinya. Kami harus saling memberi hormat pada tim lawan. Saling bersalaman dan TOS persahabatan.


Sejatinya pertandingan tetap lah permainan. Menang kalah adalah sebuah scor saja. Namun persaudaraan akan terus di jaga.


"Gus, jangan pergi dulu ya... Kita di minta foto-foto dulu buat dokumentasi." Kata Sarip mencegah.


"Siapa juga yang mau pergi,"


"Oh... Kirain mau langsung nyari Layla, hehehe..." Ledeknya


Aku nyengir. Dia sudah hafal jika aku begitu bucin terhadap Layla saat ini.


"Gampang lah... Sejauh mana Layla pergi, aku juga bakal menemukannya,"


"Haduh! Mulai lagi..."


Sarip menepuk jidatnya. Saking bucinnya aku dia mulai mual dengan segala sesuatunya.


Sebaiknya aku juga belajar untuk tidak terlalu mengexpost perasaan ku pada Layla. Sebab rasa cinta yang terlalu di umbar itu juga tidak akan baik pada akhirnya. Seperti Kataku, aku ingin Layla melihat ku tanpa harus aku paksa dia untuk memperhatikan kehadiran ku.


Biarkan kisah cinta ini menjadi Cerita yang nantinya indah lengkap dengan keridhoan Alloh SWT.

__ADS_1


Sebab hatiku yang jatuh kepada Layla itu pun sebab Alloh dan kelak aku pun tidak tahu, bagaimana Alloh mentakdirkannya bagaimana.


Duh, Gusti... Semoga hamba mu ini tidak goyah akan cinta yang bersifat fana.


__ADS_2