(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 81


__ADS_3

#Layla Najwa Fathurrohmah.


Tidak ada kata selain ingin ku ungkapkan jika aku tidak suka Mas Albi dan Salwa tadi. Ingin aku keluar segala rasa yang menyumbat hati yang menjadikan sakit hingga perihnya terasa hingga saat ini.


Alloh memang mempertemukan, akan tetapi kadang tidak menyatukan.


"Nanti jalan-jalan, ya Mas." Aku mencari topik lain agar permasalahan tadi tidak menjadi penyakit di hubungan kami lagi.


"Mas mau pulang saja,"


"Kenapa? Kok cepat sekali? Kita belum sempat menghabiskan waktu berdua," perih rasanya jika harus kehilangan Mas Albi tiba-tiba. Sejak kemarin aku ingin menghabiskan waktu bersamanya. Seperti waktu kami bersama seperti biasanya. Namun ternyata ada saja hal yang membuat kami harus membagi momentum kepada orang lain.


"Jangan pulang dulu. Aku pengen jalan-jalan sama mas dulu," rengek ku. Aku memasang wajah memelas dan manja. Satu hal yang sering kali membuat Mas Albi tidak akan menolak permintaanku.


"Gak. Ngapain di sini, kalau di cuekin."


"Siapa yang nyuekin?"


"Ya ada! Tiba-tiba aku jadi orang asing saat ini,"


Aku mendekatinya. Tidak peduli dengan makananku. Mencuci segera tanganku lalu mengusapnya dengan tisu. Ku raih tangan mas Albi. Memelas meminta maaf.


"Gak ada yang seperti itu. Mas Albi jangan marah," pintaku.


Aku yang salah. Aku yang membuat dia khawatir. Dia tidak memikirkan jika kepergian ku tanpa pamit bisa membuat dia kebingungan dan kelimpungan.


"Kamu kenapa, to Nduk? Kok sekarang berubah?"


"Siapa yang berubah. Gak ada yang berubah. Perasaan mas saja,"


"Laylanya mas sudah gak peduli dengan mas lagi. Sudah mulai merasa dewasa, dan gak memerlukan mas lagi."


"Gak gitu. Aku minta maaf,"


Mataku panas. Aku tidak menyangka jika pergi tanpa pamit tadi pagi bisa membuat Mas Albi marah seperti ini. Ini memang pertama kalinya. Tapi itu semua di sebabkan oleh rasa cemburu yang tak seharusnya ada.


"Gak ada maaf," tegas Mas Albi


Aku mulai meneteskan air mata. Dadaku sesak atas sikapnya yang dingin dan acuh.


Aku mulai terisak. Tidak peduli dengan sekeliling yang mulai memperhatikan.

__ADS_1


"Albi, Layla kenapa? Jangan terlalu keras," Mas Andre baru saja masuk ke dalam tenda.


"Ini bukan urusan mu, Ndre. Ini urusanku dengan adikku!" Mas Albi berseru tanpa senyuman.


Hatiku semakin terhimpit rasanya. Mas Albi benar-benar marah. Tidak sekalipun dia seperti ini terhadap ku.


"Maaf, aku gak akan mengulangi lagi,"


"Maaf tidak cukup Layla. Sekarang kamu mulai ingin bertindak semau mu. Iya, Mas tahu kamu sudah dewasa. Tetapi tidak seharusnya kamu menghiraukan orang di sekitar mu yang menyayangi mu."


Mas Albi masih terus menasihati. Aku semakin tertunduk bersalah. Sakitku bukan karena kesalahan ku, namun karena hatinya mas Albi yang sudah aku buat kecewa.


"Albi, Layla sudah minta maaf. Toh, dia pasti sedang terburu-buru tadi," bela Mas Andre.


"Kenapa? Apa lima menit saja begitu menguras waktunya? Dia bisa datang kok, meminta izin. Setidaknya jika memang dia ingin balik sendiri ke pondok tidak apa-apa. Toh, dia sudah biasa pulang dan pergi ke pondok sendirian sekarang! Tetapi dia tidak melakukan. Dia bertindak sendirian, tanpa memikirkan kecemasanku,"


"Maaf, Mas Albi... Aku memotong. Tetapi Najwa tadi pergi ke dapur, kok. Dia juga bilang jika dia sudah menemuimu di sana," Aisyah akhirnya angkat bicara. Dia mengatakan semuanya. Tetapi dia yidak tahu jika aku hanya datang di depan pintu dapur saja. Melihat Mas Albi dan Salwa bersama. Lalu aku pergi begitu saja.


"Apa Salwa membuatmu terganggu?"


Aku menggelengkan kepala. Merutuki jiwaku yang menolak untuk menganggukkan kepala.


Kembali aku menggelengkan kepala cepat. Dia tidak salah. Aku yang salah. Aku yang membencinya sebab dia mencintainya. Aku lah yang salah di sini. Aku saja!


"Lalu kenapa?"


"Barangkali Layla tidak ingin mengganggu mu dengan Salwa. Karena itulah, dia pergi begitu saja," sahut Mas Andre.


"Diamlah Dre! Aku sedang berbicara dengan adikku," meskipun nada bicara masih normal. Tetapi tekanannya membuat Mas Andre diam seketika.


Aku menghela nafas. Berusaha menetralisir nafasku yang mulai tak karuan.


"Maaf... Maaf...Maaf... Layla salah. Layla gak akan mengulangi lagi. Maaf jika Layla membuat Mas Albi dan Mas Andre khawatir. Layla tadi hanya tidak ingin mengganggu Mas Albi dan Salwa. Itu saja, maaf jika hal itu salah," aku meminta maaf.


Kali ini mas Albi yang menarik nafas dalam. Dia pun pasti tidak tega memperlakukan hal itu kepadaku.


"Layla, entah itu siapapun nanti yang bersama. Jangan pergi seperti itu lagi. Mereka semua tidak sama berartinya ketimbang kamu. Kamu gak tahu, gimana khawatirannya mas tadi saat tiba-tiba kamu gak ada," Mas Albi mulai meredakan nada bicaranya.


"Maaf...Layla gak akan seperti itu lagi," Sudah berapa kali aku meminta maaf aku tetap akan terus melakukannya. Asal mas Albi memaafkanku.


Tiba-tiba kedua lenganku ditarik oleh Mas Albi. Dengan ringan dia sudah memindahkan tubuhku dalam pelukannya.

__ADS_1


Aku tertegun. Ku rasakan detak jantungnya. Nafasnya yang ringan dan juga harumnya parfumnya di badan. Mataku masih terbelalak. Dekapannya masih ku rasakan erat.


Kepalanya dia sandarkan di atas ubun-ubunku.


"Jangan seperti itu lagi, Layla. Kamu tidak tahu, bagaimana khawatirnya mas tadi kepadamu," kata Mas Albi pelan.


Entah mengapa aku ingin waktu berhenti sejenak. Membiarkan lelaki yang aku cintai ini selalu memelukku seperti ini. Aku ingin mas Albi terus seperti ini. Aku benar-benar takut kehilangannya.


"Oe...oe... Apa kalian akan terus seperti itu. Lihatlah sekeliling," bisik Mas Andre.


Berlahan Mas Albi melepaskan pelukannya. Aku pun menjauhkan tubuhku pada Mas Albi.


"Untung saja, kalian saudara. Jika tidak, aku sudah menghajar mu, Bi!" seru Mas Andre.


Mas Albi menghiraukan. Dia bersikap biasa lagi. Aku segera membereskan bekas makanan mereka.


"Layla, sudah tidak apa-apa?" tanya Aisyah.


Aku tersenyum dan mengangguk.


"Syukurlah... Jadi tadi Salwa bersama Mas mu di dapur. Mangkanya kamu tidak izin pada Masmu,"


Aku tidak mengiyakannya atau pun sebaliknya.


Mereka sudah melihat semua. Bagaimana sekarang, apa yang menjadi pikiran mereka? Aku harap kejadian ini tidak membuat Salwa kesulitan.


"Sebaiknya, kamu pergi saja dengan Mas mu. Di sini biar aku dan teman-teman lainya yang mengurusnya," ucap Aisyah.


Dia memang sahabat yang paling pengertian. Dia langsung tahu apa yang harus di lakukan.


"Terimakasih, Ais... Kamu ingin apa? Biar aku belikan?" tawarku sebagai imbalan.


Dia menggeleng. " Tidak usah, cukup nomer mas Andre saja. Kalau boleh," bisiknya di dekat telinga.


"Kau tidak menyukainya kan?" tanyanya


"Untuk sekarang sih, tidak. Tapi tidak tahu nanti," jawabku.


Aisyah cemberut. Membuat dia kesal menyenangkan sekali rasanya.


Entahlah, bagaimana hatiku nanti. Akan tetapi sampai saat ini hatiku masih untuk Mas Albi. Hanya dia dan entah sampai kapan nanti.

__ADS_1


__ADS_2