(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Episode 74


__ADS_3

#Albifardzan


Cucian sudah selesai semua. Tapi aku masih asyik berbincang dengan Layla. Sebab itu tidak ada satu orangpun yang berani datang ke dapur. Beberapa orang hanya seliweran berbalik arah sebab mengetahui keberadaan kami.


"Besok pagi langsung pulang, Mas?'' tanya Layla.


"Gak! Agak siangan. Besok masih bazar, kan?'' tanyaku memastikan.


"Masih. Bakalan lebih ramai malah, soalnya final Porseninya," jawab Layla.


Kami memang tidak melakukan apapun. Aku bersandar di tembok sambil bersendekap dada. Sedang Layla duduk di kursi satu-satunya yang ada di dapur.


"Sibuk, dong? Mas bantu, deh..."


"Gak ah! Mas pulang saja!"


"Loh, di bantu malah gak mau. Kan bisa lebih ringan,"


"Iya ringan. Bahkan bakal laris lebih cepat,"


"Kok tahu bakal laris cepat?'


"Iya iya... Yang jaga stand ganteng-ganteng. Mas Albi sama Mas Andre, apalagi mas Andre...."


"Kenapa Andre? Dia lebih menarik gitu dari pada Mas mu ini?'' Protes ku.


Layla mengelakkan tawa. Tidak tahu kenapa.


"Yah, mau gimana ya Mas. Sejak tadi yang jadi pusat perhatian juga Mas Andre, di kan ganteng Banget!"


"Waw! Adikku sudah bisa lihat orang ganteng, ya?" Kata ku penuh selidik.


"Bukan begitu. Tapi kenyataannya seperti itu," balas Layla


Memang, di lihat dari segi manapun Andre sempurna. Lengkap pula dari segi agama.


"Kamu suka sama Andre, Nduk?'' tanya ku


Layla diam. Tidak langsung menjawab pertanyaanku.


Dia memandangku penuh tanda tanya. Entah apa yang sedang berebut di dalam benaknya. Mungkin tentang mengatakan 'Iya' atau 'Tidak' kah? Atau harus jujur atau tidak tentang perasaannya terhadap Andre.


"Mas kan sudah tanya itu tadi. Kenapa tanya lagi?" tanyanya

__ADS_1


Aku teringat kembali. Saat di kelas tadi sore aku menanyakan hal yang sama. Layla pun juga langsung menjawabnya.


"Oh iya... Iya," balasku seperti orang linglung.


"Sudah yuk, Mas ke depan!" Ajak Layla seraya beranjak dari kursinya.


Aku pun mengangkat tubuhku yang sejak tadi bersandar di tembok. Melangkah mengikuti Layla.


Kita keluar tidak menemukan siapapun. Meja makan pun sudah bersih. Celingukan mencari keberadaan orang-orang tetapi tidak ada seorangpun.


"Kemana mereka semua?" tanya Layla


"Barangkali di kamar, Nduk" jawabku.


"Ya sudah, Mas. Aku tak ya ke kamar. Mas Albi silahkan istirahat juga," kata Layla


Dia menuju tangga lantai dua. Aku masih mengikuti langkahnya menuju kamar. Toh, kita satu arah. Kamar kami sebelahan.


"Oh iya, Mas... Aku boleh pinjam ha-pe?"


"Buat apa?''


"Aisyah mau menghubungi keluarganya. Mumpung ada kesempatan," jawab Layla sambil menyeringai.


"Gak di pasword 'kan?'' tanyanya girang setelah mendapat keinginannya.


"Kalaupun ada, kamu tahulah password-nya,"


Aku jarang sekali mengubah sandi atau password ponselku. Jika bukan tanggal lahirku maka tanggal lahir Layla. Sudah itu saja. Karena itulah Andre hafal sekali tanggal lahir Layla, walaupun baru sekarang mereka bertemu.


"Ok! Terimakasih, Mas ku sayang," ucapnya sebelum dia masuk ke dalam.


Dasar Layla. Dia bisa saja membuat rasa lelahku hilang sebab kegembiraannya.


Aku masuk kamar setelah Layla hilang di balik pintu kamarnya. Ku dapati Andre sedang rebahan di ranjang sambil telponan dengan seseorang.


"Siapa, Ndre?" tanyaku


Aku merebahkan tubuhku juga di sampingnya. Sendi-sendi yang tadinya kaku mulai ku rasakan lemasnya.


"Bunda, dia tanya aku pulang kapan," jawab Andre


"Haduh! Dasar anak mama!" Ledekku

__ADS_1


Andre milik dua saudara kandung, ke duanya perempuan semua. Wajar saja jika dia di khawatir seperti itu. Ke dua kakaknya sangat memperhatikan dirinya. Bahkan cewek-cewek yang sekiranya di goda oleh Andre pasti di stalking oleh kakak-kakaknya tersebut.


Dasar Andrenya saja yang kadang kurang ajar. Sudah tahu memiliki saudara perempuan dan bundanya yang sayang kepadanya. Dia tetap saja mempermainkan wanita. Sejauh ini dia tidak pernah mempertahankan hubungan dengan satu wanita lewat tiga bulan. Pernah juga baru seminggu sudah ganti pasangan.


"Iya bunda... Doakan Andre, semoga Layla jadi yang terakhir kali ini," ucap Andre yang sontak membuatku menoleh, menatap tajam pada dirinya.


Melihat reaksi ku seperti itu dia malah santai saja. Tidak ambil pusing. Entah apa yang sedang ia bicarakan dengan bundanya itu. Kenapa juga harus menyebut nama adik perempuanku.


"Tenang saja. Andre kali ini serius. Mangkanya langsung meminta restu, minta doakan semoga Layla menjadi jodohnya Andre," tambahnya.


Aku masih menahan tanya. Sebab tidak sopan jika langsung menyerobot pembicaraan. Andre sedang berbicara dengan bundanya. Tidak sopan aku mencampurnya.


"Layla? Layla di...." Dia bingung mencari jawaban. Menanyakan ke padaku dengan pertanyaan lirih.


"Layla sedang di mana? Bunda ingin bicara katanya," tanya Andre lirih sambil tangannya menutupi ponselnya. Di lakukan agar sang bunda tidak mendengarkan pembicaraan kami.


"Lagi istirahat di kamar," jawabku.


"Oh! Maaf Bunda, calon mantu jenengan masih istirahat. Kasihan seharian dia bekerja jaga stand," lanjutkan menginformasikan keadaan Layla pada bundanya.


Aku masih belum sepenuhnya percaya tentang keseriusan Andre pada Layla. Aku masih menganggapnya dia sedang bermain seperti biasanya dan kali ini Layla yang menjadi incarannya. Meskipun tidak ku pungkiri dia sudah lama mengatakan jika dia serius dengan Layla.


Membayangkan mereka bersama kenapa tiba-tiba ada rasa sakit di dalam dada. Barangkali sebab sayangku pada Layla, hingga tidak ingin melihat dia terluka apalagi itu karena sahabatku sendiri.


Luka di tubuh Layla saja bisa aku rasakan perihnya. Apalagi di hatinya.


"Sayang sekali, padahal bunda ingin bicara sama Layla tadi," kata Andre setelah dia menutup telponnya.


"Kenapa juga kamu membawa nama Layla. Kalau misal bundamu beneran berharap gimana?'' protes ku.


"Memangnya kenapa. Malah bagus, dong. Dengan begitu aku berjuang di iringi doa dari orang tua. Tambah cepat nembusnya,"


"Ck! Kamu itu seolah-olah Layla saja yang paling kamu cinta. Padahal banyak sekali wanita yang menjadi daftar petualang cintamu,"


"Haha! Terserahlah, Bi. Mau kamu percaya apa gak. Tapi, beneran Bi, aku serius sama Layla. Boleh, ya adikmu itu aku jaga?''


Pertanyaan itu Andre lontarkan tanpa di imbangi oleh seringai di bibirnya. Dia seakan serius dengan apa yang dia katakan saat ini.


"Gak ada yang tahu jodoh Layla siapa. Jadi siapapun boleh memperjuangkan dia," kataku.


Kenapa sakit ya? Aku tidak tahu apa yang terjadi kepada diriku. Tiba-tiba aku merasa risih dengan Andre yang ada di sebelahku. Dia tidak melakukan kesalahan apapun. Tetapi tiba-tiba rasanya di dalam hati yang terdalam timbul letupan kebencian.


Ada apa sebenarnya diriku ini?

__ADS_1


__ADS_2