(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 100


__ADS_3

#Layla Najwa Fathurrohman


Kembali menemukan alas lantai dan juga suara gemuruh teman-teman di kamar, membuatku kembali tenang.


Dua hari yang menyita perhatian. Dua hari dengan banyak rasa yang keluar. Diantara kebahagiaan dan kekecewaan. Dua hari yang bagiku cukup menguras emosi dan hati.


"Mbak, Nimas sudah mau tidur?" tanya Rayya


Hari ini tiba-tiba dia berniat untuk tidur dikamar. Mengambil tempat disampingku.


"Mau sih, tapi kalau kamu mau cerita mas bian aku siap mendengarkan," jawabku dengan seulas senyum.


Wajahnya tersipu. Mungkin dia malu sebab aku tahu keinginannya saat ini.


"Gak ngantuk, mbak? Nanti aku cerita mbak Najwa tidur."


"Hehehe... Asal ceritanya menyenangkan. Pasti aku gak bakal ketiduran," kataku.


Aku melihat sekelilingku. Semua memang sudah ada di posisi tikar masing-masing. Ada yang sedang asyik dengan buku sambil rebahan. Ada juga yang masih berbicara panjang kali lebar. Tentunya itu, mbak Lisa dan juga anak buahnya. Seperti biasa, mbak Lisa menceritakan tentang kehadiran keluarganya tadi pagi saat bazar berlangsung.


Aku tidak pernah memperdulikannya. Itu bukan urusanku dan tidak penting untukku.


"Tadi, mas bian mampir ke standku mbak." Kata Rayya.


Dia memiringkan tubuhnya hingga kami saat ini berbaring dengan saling berhadapan.


"Sama siapa saja?" tanyaku.


"Masku. Dia yang mengajak mas bian."


Ya, Rayya memiliki satu kakak laki-laki yang juga mondok disini. Baiknya lagu Kakak laki-laki Rayya berteman baik dengan mas bian_laki-laki yang diam-diam ia cintai.


"Terus kamu gimana? Jangan bilang kamu malah ngumpet dibelakang?!" tebak ku.


"Awalnya iya. Malu... Mana disoraki sama teman-teman."


"Haha... La terus percuma dong, kakakmu bawa mas bian?"


"Gak... Pas masku pesan makanan aku yang ngasih. Aku nganter. Aku juga menemani mereka makan."

__ADS_1


Aku teringat kejadian tadi pagi. Aku pun juga sarapan bersama mas Albi dan Mas Andre tadi pagi di tenda standku. Dan entah bagaimana kabar oseng pepaya yang dimasak oleh mas Albi tadi pagi. Masih adakah? Atau sudah di buang, sebab tidak ada yang makan?


Sayang sekali, andai aku bisa lebih mengontrol emosiku tadi. Pasti aku bisa merasakan masakan yang dibuat mas Albi tadi.


"Mbak?! Kok malah ngelamun!"


Aku tersentak sebab tangan Rayya melintas didepan mataku.


"Hehe, bayangin kamu gimana gugupnya saat itu," godaku.


"Gugup poll, mbak. Mana mas bian di depanku. Dia jauh, pokok kelihatan mata saja sudah bikin deg degan apalagi tadi. Pas didepanku!" Rayya begitu antusias bercerita.


Aku faham akan hal yang ia rasakan. Aku pun pernah merasakan. Hanya saja, kini sudah terbiasa dengan degup jantung yang tiba-tiba tak beraturan.


"Ngobrol apa saja?" tanyaku.


Saat bercerita dengan seseorang. Jika dia yang lebih dulu ingin didengarkan. Lebih baik kita ikut larut dengan ceritanya. Minimal jika tidak bisa merasakan apa yang dia rasakan, kita diam mendengarkan saja. Sebab mencela ataupun mencuri celah untuk berganti untuk didengar oleh dia itu akan membuat teman kita kecewa.


"Kalau Masku ya goda tok. Biasalah, adik kakak. Kalau mas bian, dia tanya apa saja yang dijual di stand kami."


"Kemajuan dong, bisa ngobrol sama mas bian."


"Iya sih, mbak kemajuan. Rasanya tadi pagi aku minta sama Alloh buat berhentiin waktu. Soalnya mas bian enak diajak ngobrol. Dia suka guyon (Bercanda) juga."


"Sekitar satu jam lebih sih."


"Hmmm... Itu mah lama. Kamunya kali yang ngerasa waktu berjalan cepat."


"Iya, mbak. Hehehe... Apa memang gitu ya? Kalau kita sama orang yang kita cinta waktu akan berjalan lebih cepat?"


"Bukan waktunya. Tapi kamunya saja yang pengen terus didekatnya."


"Hehe, iya kali ya ..."


"Orang kalau jatuh cinta memang begitu. Dunia terasa milik berdua, waktu habis tanpa sisa. Jangankan hal itu, dengan namanya saja sudah kegirangan minta ampun,"


"Iya mbak. Aneh banget, kadang kalau diingat-ingat lagi aku kayak orang gila. Gimana enggak? Lawong orang di jauh sana biasa saja, akunya jingkrak-jingkrak gak jelas. Mana orangnya gak tahu lagi apa yang kita lakukan."


"Haha... " Aku hanya tertawa mendengar ungkapan Rayya.

__ADS_1


"Gimana ya mbak. Biar mas bian jadi jodohku? Mungkin gak, ya? Rasanya kok gak mungkin, tapi kok tetep pengen."


"Coba sholawatin terus."


"Sudah. Bahkan tiap kali melihatnya aku sholawat. Tapi mas bian tetap biasa saja sama aku."


"Yah, mungkin sekarang biasa saja. Barangkali nanti, siapa tahu masa depan. Siapa tahu skenario dari Alloh, kamu dan mas bian di jodohkan. Pokok mah jangan berhenti berharap pada Alloh. Jangan sama mas biannya."


"Iya mbak. Aku pasrah sama Gusti Alloh. Sekarang di kasih sayang sama mas bian ya aku terima. Menjaga sekuat tenaga sampai aku nolak-nolak cowok yang nembak aku. Sebab bagiku, prinsip laki-laki yang baik akan mendapatkan perempuan baik pula. Maka, jika aku ingin mendapatkan mas bian. Aku harus bisa menyesuaikan level seperti dia juga. Yah, walaupun belum sempurna. Tapi, aku yakin bisa!"


Hal yang aku suka dari Rayya adalah optimis dia. Dia selalu memberikan energi positif pada impiannya. Banyaknya halangan dan cobaan dia jadikan acuhan untuk terus maju ke depan.


Bisa saja dia menanti sambil mencari yang lain. Bermain hati dengan laki-laki lain. Tapi, kenyataannya dia memilih setia. Padahal belum tentu kesetiaannya terbalas dengan indah. Semua masih sangat samar dan tak terlihat apa-apa. Akan tetapi rayya terus yakin dengan doa-doanya.


Andai aku bisa memiliki optimisme seperti Rayya. Mungkin aku tidak akan segalau ini. Bahkan mungkin aku bisa lebih mudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Sebab orang yang aku sayang, juga menyayangi diriku. Walaupun dengan cara yang berbeda.


Akan tetapi semua tidak aku lakukan. Sebab aku lebih takut kehilangannya. Sebab aku takut rasa cinta yang aku miliki malah menjadikan dia pergi dari kehidupanku. Aku takut dunia akan meminta kami untuk tidak lagi bertemu.


"Kalau kita mengejar kupu-kupu itu akan memakan waktu yang lebih lama. Tapi, kalau kita membuat taman bunga. Kupu-kupu akan datang dengan sendirinya." Tambah Rayya.


"Sip. Semangat!"


"Doakan aku ya mbak. Semoga kisah cintaku bisa terbalaskan. Semoga doaku tidak hanya melambung saja. Tapi juga tembus ke lauful Mahfud."


"Amin amin amin amin.... Pokoknya terbaik untukmu."


"Terbaik menurut versiku ya mas bian. Pokok mas bian. Gak mau yang lain!" Rayya masih bersikeras. Dia sampai mengepakkan tangan ke atas memberikan semangat untuk dirinya sendiri. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.


"Oh iya mbak. Bagaimana dengan masmu? Dia kesini juga kan? Semua orang ngelihat masmu Lo kemarin. Bahkan tadi saat mbak jalan-jalan sama dia, banyak yang membicarakan mas Albi." Kata Rayya tiba-tiba.


"Oh, iya? Memang mereka membicarakan apa?"


Aku harap mereka tidak menerka-nerka sampai bisa membuat permasalahan lainya.


Aku memang merasakan jika kami menjadi pusat perhatian. Aku juga mendengar desas desus mereka. Hanya saja, aku tidak mempermasalahkan. Bagiku saat bersama mas Albi. Orang lain tidak penting.


"Mereka bicara apa?" tanyaku pada Rayya lagi.


Mimik wajahnya berubah cemberut dan cemas.

__ADS_1


"Tapi jangan marah, ya?'' ancamnya.


"Iya. Apa?" Aku semakin penasaran. Sebenarnya apa yang dilihat dan di dengar orang lain tentang aku dan mas Albi.


__ADS_2