(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 11


__ADS_3

“Mas, kok ya telpon di sini tho? Aku sungkan sama Neng Nada... Sampean Iki piye tho(Kamu itu gimana)?" Kata ku dengan sedikit marah.


‘’Gak papa Nduk... Kemarin aku telpon lewat nomor pondok, Ndak ada yang nyambung,kan? Sampek 10 kali malah," ujarnya.


Aku melihat wajah kecewa di raut wajahnya. Dia kesal karena tidak bisa menelpon ku.


‘’Katah sing antri telpon e mas (Banyak yang antri telponnya)." Jawab ku, pun juga alasanku.


Sebenarnya, aku sengaja tidak menerima telpon tersebut, dengan banyak alasan. Setiap kali aku mendapat panggilan telpon aku meminta teman ku untuk mengatakan bahwa aku masih mandi, tidur, atau alasan yang lain. Hinggap, telpon itu berhenti berharap untuk aku angkat.


‘’Itu semua, bukan alasan, mu saja, kan?," tanya Mas Albi seakan tahu isi pikiran ku.


‘’Mboten...Estu(Bukan...Beneran)!"Jawabku dengan segera menutupi kebohongan ku.


"Ya wes, tapi kenapa tidak pulang besok?," tanyanya lagi. Mulai mengintrogasi.


Dia memandang ku dengan bola mata yang tidak lepas menatap ku. Seakan ingin segera tahu jawaban ku. Dan lagi, agar dia tahu apakah aku sedang berbohong atau tidak.


‘’Sesekali, Ramadhan terakhir di sini, tahun besok gak tau masih ada di sini, atau enggak." Jawab ku dengan nyengir .


‘’Tapi, kok, ya sampek malam lebaran? Mas, gimana jemputnya? Kamu tahu kalau malam lebaran, kita pasti repot di rumah!‘’


Ada raut kecewa dari wajahnya. Aku pun sebenarnya tidak tega melihat dirinya seperti itu. Tapi aku harus tetap kuat.


‘’Aku, pulang sendiri gak papa, Mas. Ada rombongan ke Kediri hari itu. Jadi Insya Alloh malam takbiran aku sudah sampai rumah.‘’ Kata ku mencoba menenangkan.


Mas Albi tidak menjawab, hanya memandangku dengan wajah memelas. Aku tahu dia tidak akan tega, tapi kali ini aku ingin belajar sendiri, tanpa dia, dan tidak bergantung lagi dengannya. Biarkan aku belajar tanpa dirinya.


‘’Jangan, dek...Mas khawatir, Ibu, bapak juga pasti khawatir... Mas jemput nggeh?'’ Tawarnya lembut.


Sontak membuat ku hati ku luluh, matanya yang sendu dan juga wajah khawatirnya membuat goyah hati ku.


‘’Rombong pasti juga campur sama santri putra juga. Malah gak pas dek pikiranku (Jadi cemas pikiran ku)," tambahnya, membuat ku ingin pasrah saja.


Aku memalingkan muka, melihat ke penjuru ruangan. Mencoba menata hati ku yang mulai goyah dengan keinginan ku sendiri. Menghela nafas dan mencari keberanian untuk berusaha menolaknya.

__ADS_1


‘’Satu kali ini saja, Mas. Aku pengen pulang sendiri. Banyak temennya, kok.‘’ Kata ku dengan nada memelas.


‘’Kamu lagi ada masalah, tho? Apa kamu pacaran


? Jangan tho, Nduk.... ‘’ Serunya tidak terima dengan jawaban ku.


‘’Mboten, Mas... Astaghfirullahhaladzim.... ‘’ Balas ku dengan menepuk jidat.


‘’Kemarin minta Mas sama Ibu, bapak mantuk. Padahal biasanya kamu yang minta kami lama-lama nyambang kamu?'' Ujarnya, sepertinya Albi mulai penasaran.


Sudah ku duga pasti dia mengenali perubahan sikap ku. Mulai menerka-nerka apa yang sebenernya terjadi. Tapi apa daya, semua itu tidak akan dia ketahui. Mungkin, bahkan sampai mati.


‘’Ndak, Mas. Aku baik – baik saja, sehat, waras dan Alhamdulillah bahagia.‘’ Kata ku dengan senyum lebar, berharap dia tidak mengetahui yang tersembunyi dalam benak ku.


‘’Tak jemput benjeng nggeh, Nduk (Aku jemput besok ya, Nduk)?" Dia mulai merayu lagi.


'’Mboten... Aku mantuk malam lebaran (Tidak... Aku pulang malam lebaran).'’ Tegas ku.


Mas Albi masih kekeh dengan pendiriannya. Dan aku tidak akan goyah dengan keinginan ku. Andai dia tahu aku melakukan ini karena dirinya? Andai dia mengerti, bahwa menjauh dari dirinya, adalah rasa sakit itu sendiri. Namun, aku tetap harus melakukannya.


Kedatangan Neng Nada membuat ku terkejut. Mungkin nada bicara ku terlalu keras, membuat beliau ingin tahu apa yang terjadi kepada kami.


‘’Da, besok lusa sudah liburan pondok tho?, aku pengen jemput Adek ku pulang. Tapi, dia ndak mau!" Seru Mas Albi masih tidak terima.


‘’Ngapunten, Neng. Kulo pengen mantuk malam lebaran mawon kaleh rombongan.‘’ Kata ku, membela diri ku.


Neng Nada terlihat bingung dengan kami berdua . Mungkin kali pertama dia melihat pertengkaran antara santri dan wali santrinya.


‘’Kalau Adek mu mau pulang malam lebaran ya gak papa, tho, Bi? nanti aku pasrah ne kang Dharma,wes.'’ Kata Neng Nada menengahi.


Sontak membuat aku dan Mas Albi terkejut. Siapa kang Dharma? tidak hanya aku, mas Albi, dia juga penasaran dengan nama itu .


‘’Belum kenal?,'' tanya Neng Nada membaca mimik wajah ku yang bingung.


‘’Dereng Neng....‘’ Jawab ku.

__ADS_1


‘’Jangan, lah. Aku jemput saja!‘’ Sergah Mas Albi Dia masih ngeyel.


Tapi aku masih menunggu jawaban dari Neng Nada. Siapa Kang Dharma? aku belum pernah mendengarnya. Atau, mungkin hanya aku yang belum mengenalnya. Sedang, Ning Nada sepertinya, sudah banyak mengenal dirinya.


‘’Mosok dorong kenal mbak? Griane Trenggalek(Masak, belum kenal? Rumahnya, Trenggalek),‘’


Sepertinya Neng Nada tidak percaya bahwa aku benar tidak mengenal siapa Kang Dharma. Dan itu membuat ku semakin penasaran.


‘’Estu Neng...Mboten semerep (Beneran Neng...Tidak tahu).'’ Jawab ku mantap. Aku benar tidak mengenal nama itu. Bahkan, itu pertama kalinya aku mendengar namanya.


‘’Lulusan tiga tahun yang lalu. Ngajar Madin kelas dua Tsanawiyah....’’ Kata Neng Nada.


Aku menggeleng, memberitahukan bahwa aku tetap tidak mengetahuinya. Ada beberapa teman kamar yang memang kelas dua Tsanawiyah, tapi aku tidak pernah mendengar cerita tentang Ustadz mereka yang bernama Kang Dharma. Atau mungkin akunya saja yang tidak peduli.


‘’Ya, nanti aku kenalkan." Kata Neng Nada santai.


Dia mengambil alih ponselnya yang masih tersambung dengan Mas Albi.


‘’Tenang wae adik mu aman. Gak gak lek Kelong. Tak jamin ( Tenang saja, adikmu aman. Tidak akan hilang sedikitpun. Aku yang menjamin)!" Kata Neng Nada santai.


Mereka seperti terlihat akrab, sehingga berbicara saja sudah tidak canggung dengan bahasa Jawa.


‘’Ya, wes, lah. Tapi aku kirimi nomer hp ne kang Dharma kui mengko. Besok lek enek opo-opo ben iso langsung kabari aku ( Ya, sudah. Tapi, aku minta nomer ha-pe kang Dharma nanti. Besok, kalau ada apa-apa, bisa langsung menghubungi aku)." Kata Mas Albi pasrah. Akhirnya dia rela aku pulang bersama rombongan, dan itu membuat ku lega.


‘’Iya, iya... Kamu itu parno banget. Adek mu wes gede, cek wedine (Adik mu sudah besar. Takut banget kayaknya)." Ledek Neng Nada sambil tersenyum.


‘’Adek satu-satunya ya mesti to Nad. Opo maneh cewek, rumangsane ketar – ketir Iki atine. Lek enek opo-opo piye? Opo maneh mantuk e sak rombongan karo santri putra.Lak yo tambah khawatir aku ( Adik satu-satunya, ya pasti, Nad. Apalagi cewek, was was ini hatinya. Kalau ada apa-apa, gimana? Apalagi, satu rombongan dengan santri putra)." Terang Mas Albi sontak membuat Neng Nada tertawa.


‘’Lebay, kamu, Bi....'’ ledek Neng Nada.


Ada rasa tentram tiba-tiba merasuk hati ku . Seakan musim semi memberikan kehangatan dan menampakkan bunga-bunga yang mulai bermekaran.


Tidak salah jika aku selalu merasa nyaman berada di dekatnya. Seakan hanya aku yang menjadi prioritasnya . Selama ini hanya aku, dan sesungguhnya aku ingin terus begitu.


Setelah Neng Nada meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja. Mas Albi baru mau menutup telponnya. Sungkan, sudah hampir satu jam Mas Albi menelpon. Itupun, dia seperti tidak merasa canggung sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2