(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 63


__ADS_3

# Layla Najwa Fathurrohman


"Hai," Sapa Mas Andre tiba-tiba. Dia langsung menyapa ke dua gadis itu sambil memainkan jemari tangannya.


Mau tidak mau, aku ikut mengapa. Hanya dengan melontarkan senyum tipis kepadanya.


"Kita di sini dulu ya, Sal. Nunggu hujan agak reda."


Kata teman Salwa, mencegah langkah Salwa yang akan beranjak.


Aku tidak ingin menggubrisnya. Tapi sepertinya, teman yang bersama Salwa ingin kami memperhatikan mereka.


Bertambah lah penghuni koridor ini. Salwa dan temannya memutuskan untuk ikut menunggu redanya hujan. Berjajar menatap lebatnya air yang turun, sambil merasai keheningan, dan juga rasa dingin yang mulai menyerang.


Aku mulai mengusap-usap ke dua tanganku. Dingin sekali rupanya. Ku peluk tubuhku sendiri untuk membuat lebih hangat. Apalagi saat ini aku hanya memakai seragam biasa.


"Layla, pakai jaket ku. Biar tidak kedinginan." Ujar Mas Andre. Aku menoleh ke arahnya. Dia melepas jaketnya, lalu dengan sigap memasangkannya di pundakku.


Dengan segera aku mengambil alih jaketnya, lalu memasang sendiri pada badanku.


Entah mengapa, aku merasa Mas Andre cukup perhatikan kepadaku. Barang kali aku juga seperti adiknya. Walaupun kadang, dia juga menggodaku layaknya perempuan.


"Ya Alloh, Salwa! Bibir mu, biru. Apa kau kedinginan!" Seru gadis yang sedari tadi duduk di samping Salwa.


Mata ku langsung menatap ke arah Salwa yang terlihat sedang menautkan tangannya untuk dia usap-usapkan. Dia mencari kehangatan, dari gesekan tangannya.


"Kamu bisa memakai jaket ku, Mbak." Tiba-tiba Mas Albi melepas jaketnya, dengan ringan dia memberikan jaket itu ke arah Salwa.


Seperti tertimpa berlian, mereka langsung tersenyum menawan.


Dengan cepat teman Salwa mengambil jaket tersebut. Lalu dengan sigap membantu Salwa mengunakan jaket tersebut. Dengan menunduk, malu Salwa berkata, " Terima kasih, Mas."


Enggap sekali melihat pandang seperti ini. Ku tarik nafas dalam dan berlagak melihat ke depan.


"Layla, apa kau masih kedinginan? Butuh, penghangat lagi?" tanya Mas Andre di sela deru hujan.


"Tidak, Mas. Jaket Mas Andre sudah cukup menghangatkan," jawab ku dengan senyum simpul. Aku juga mempererat jaket itu, merengkuh tubuhku. Memperlihatkan bahwa aku sudah baik-baik saja dengan memakai jaketnya.


"Aku ke lantai atas dulu, mencari sinyal," kata Mas Albi.


"Aku ikut!" Sahut ku langsung. Senang, akhirnya aku akan mempunyai waktu banyak dengan Mas Albi. Tanpa menunggu aku langsung mengikuti langkahnya.


Mas Andre juga mengikuti langkah kami. Tapi tiba-tiba Mas Albi mencegahnya.


"Kau di sini, tidak ada laki-laki lagi. Jaga mereka, setidaknya jika terjadi apa-apa, ada diri mu di sini," kata Mas Albi

__ADS_1


Mas Andre mengangkat bahunya, sambil menjulurkan bibir bawahnya ke depan. Aku tersenyum melihatnya. Ku sampai dalam senyum ku, bahwa dia akan baik-baik saja. Terimakasih juga, atas segala pengertiannya.


"Ok. Tapi, jangan lama-lama," ujarnya.


Mas Albi langsung naik begitu saja. Dengan ringan aku mengikuti langkah kakinya. Menaiki tangga. Tangan Mas Albi masih mengutak-atik hape. Barang kali sedang mencari signal atau mencoba menghubungi nomer rumah.


Dia tidak memakai jaketnya saat ini. Pasti dia kedinginan, tanpa aku sadar tanganku langsung merengkuhnya. Menyalurkan hawa hangat lewat genggaman.


Selesai kami menaiki tangga, dia menoleh ke arahku. Aku tersenyum, "Dingin, ya Mas?"


"Sudah enggak." Jawabnya menyeringai. Sambil menggelengkan kepala. Gemas sekali dia saat ini.


Saat ini aku gantian berjalan di depan, menuntun pada salah satu kelas. Lalu membukanya. Setelah itu aku mempersilahkan ia masuk duluan.


Sempurna dia di dalam kelas, aku menutup pintu kelas.


"Kok di tutup?" tanyanya penasaran


"Gak papa, ini kelas ku. Di sini akan hangat kalau pintu di tutup. Fentilasi hampir tidak ada fentilasi udara di sini," jawabku.


Didalam kelas memanag terasa hangat. Aku melepas jaket Mas Andre dan meletakkan di atas bangku. Sebab aku sudah tidak merasa Kedinginan lagi.


Ruangan kelas ini hangat, meski di luar hujan lebat. Sebab ventilasi hanya ada pada kaca - kaca jendela. Apalagi saat ini kaca jendela sedang tertutup rapat. Sebab kegiatan sekolah sedang tidak ada di dalam kelas.


"Belum, mungkin saja karena hujan ini," jawabnya.


Kecewa. Kami sudah ada di lantai tiga tapi signal tidak kunjung ada. Apa karena hujan ini?


Mana saat ini Mas Albi terlanjur di sini, masak iya dia akan kembali lagi ke lantai dua. Di sana ada Salwa. Rasanya masih tidak rela jika aku melihat keduanya bertatap muka.


Aku teringat jika aku memiliki coklat. Aku menuju bangku milikku. Membuka tas yang sudah aku biarkan ada di sana sejak tadi pagi.


Bibirku tersenyum, saat tanganku menemukan apa yang sedang aku cari. Setelah mendapatkan aku kembali berjalan menuju tempat Mas Albi berada.


"Coklat," tawarku sambil menyodorkan satu batang silver queen. Mas Albi menerimanya, lalu aku juga menunjukkan satu batang lagi untuk diriku sendiri.


"Banyak banget, coklatnya. Nanti gendut, kalau makan coklat banyak-banyak," protesnya.


"Mumpung, gratis," ujarku


"Memang dari siapa?"


"Dari kang Dharma, dia kemarin membagi banyak silver queen pada kami."


"Kok bisa?''

__ADS_1


"Kang Dharma jadi pengawasan saat Tryout kemarin. Dan pas hari terakhir, dia membagikan coklat ini. Itung-itung, ucapan perpisahan," jelas ku.


Mas Albi mulai menikmati cokelat tersebut. Aku pun ikut menikmatinya. Ada untungnya juga kemarin aku menerima coklat dari Kang Dharma.


"Oh...Kayaknya kamu udah akrab sama dia?" tanya Mas Albi.


Aku tercengang, bingung siapa yang ia maksudkan.


"Maksudnya, kang Dharma?" tanyaku memperjelas.


Mas Albi mengangguk, mengiyakan.


"Dia mah, akrab sama semua orang Mas. Gak aku, tok," jawabku.


"Kayaknya, kamu sudah mulai suka dengan Dharma?" tambah Mas Albi.


Aku mengernyitkan dahi dan mata. Bingung, dia sedang bertanya atau memberikan pernyataan.


"Ya, gak lah. Masak di beri coklat saja langsung suka. Hatiku memangnya, seperti anak kecil. Yang di beri permen, lalu langsung ngintil (ikut terus)," protesku.


Mas Albi malah tertawa mendengar sanggahanku.


Jangankan untuk tergoda, suka saja aku masih menimbangnya. Sebab hatiku rasanya sudah penuh dengan seseorang yang sedang bersamaku.


"Lalu sukanya sama siapa? Andre?" tanya Mas Albi lagi.


Aku masih memberikan jeda untuk pertanyaannya. Sebab aku sedang menikmati coklat yang super enak dari tanganku.


"Kalau mas Andre, suka. Diakan teman Mas Albi, jadi aku juga ngerasa nyaman sama dia," jawabku setelah selesai mengunyah.


"Hah, kamu beneran suka Andre? Apa gak salah to, Nduk?!"


Mas Albi tercengang. Aku ikut kaget saat dia berseru seakan tidak percaya. Memangnya apa salahnya?


"Suka dalam artian kakak, bukan suka dalam artian sayang ataupun cinta. Mas Andre itu, udah kayak Mas buat aku, dia itu nyaman dia ajak bicara, dan sharing banyak hal." Jelasku


Barang kali Mas Albi mengira aku menyukai Mas Andre dalam artian cinta. Suka pada lawan jenisnya. Dan menginginkan bersama.


Tapi sekali lagi, aku belum memiliki rasa seperti itu selain pada Masku sendiri.


Tapi melihat gelagatnya yang seakan tidak terima membuatku terbayang jika di sedang mengexpresikan rasa cemburunya. Hah! Sadar Layla, barang kali dia hanya mengkhawatirkan dirimu sebagai adiknya. Sebab sejak pertama Mas Albi tidak suka jika Mas Andre menggodaku. Tidak suka jika temannya itu menjadikan aku sebagai obyek gombalannya semata.


Kekhawatiran seorang kakak, yang tidak ingin di buat sakit hatinya oleh laki-laki buaya.


Andai dia tahu, bahwasanya gombalan yang di lontarkan Mas Andre tidak sekalipun aku pedulikan. Sebab aku tidak memiliki ruang untuk seseorang singgah di dalam hatiku untuk sekarang.

__ADS_1


__ADS_2