
#Qois Albifardzan
"Buk, menurut ibu bagaimana Salwa?"
"Baik." Jawab Ibu singkat.
Ku hela nafas panjang. Baru kali ini pikiranku tersita oleh seorang gadis.
"Cocok buat calon, mantu" ujar ibu
Aroma racikan bumbu sambalado menguap di udara. Hari ini aku tidak berangkat kuliah. Aku niatkan untuk mengurus pekerjaanku saja. Alhamdulillah, banyak pesanan kaos bulan ini.
Kaos dengan desain sendiri menjadi gaya tarik sendiri. Mereka yang memesan akan luluasa dengan desain yang mereka buat sendiri. Kebanyakan adalah pesanan kaos couple. Entah itu untuk pacar atau pasangan mereka. Ada juga kaos keluarga.
"Kamu gak kuliah?" tanya Ibu melihatku hanya meleot saja di atas meja makan sambil menunggu beliau memasak.
"Libur, buk. Mau ngurus orderan saja," jawabku.
"Sana mandi dulu. Makanan matang sepuluh menit lagi,"
"Makan dulu lah, Bu..." Bantahku.
"Kami nggak bisa dibilangin, ya. Pagi itu mandi dulu, biar segar. Tenaga juga biar pilih semua,"
"Iya, Bu... Cuman hari ini saja, kok."
"Semalaman begadang lagi?"
Aku mengangguk. Ibu dari dapur melihat aku yang cengar-cengir.
"Layla lagi ujian, Bu. Albi tidak bisa bantu apa-apa. Jadi ya, bisa bantu doa."
"Kamu itu sudah baik doain adikmu. Tapi, bagaimana denganmu. Sudah beroda juga untukmu?" tanya ibu
"Doa untuk Layla kan juga untuk Albi juga, buk."
"Tidak seperti itu juga. Kadang ibu kepikiran, kenapa kamu itu terlalu sayang sama Layla. Sayang mu keterlaluan, sampai lupa gak mikirin diri sendiri," kata ibu.
Aku diam. Tidak tahu. Fikiranku memang hanya untuk Layla. Tidak tahu kenapa? Wajar kan dia adikku.
"Sayang sama adik kok di protes. Di luar saja banyak kakak yang gak peduli sama adiknya. Sampai orang tuanya kewalahan buat mendamaikan. Lah, ini ibu malah bingung karena aku terlalu sayang,"
"Ckck... Terserah kamu lah, Le... Pokok pesan ibu. Kamu juga harus mikirin masa depanmu. Kenalin ibu sama perempuan yang menurut kamu sreg i."
"Oalah... Ibu mau mantu?" Tebakku dari arah pembicaraannya.
"Wajar to, kamu sudah dewasa. Banyak yang nayain kamu. Tapi, kamu lepeng aja."
"La tadi aku nanyain soal Salwa? Apa itu gak mikirin?"
__ADS_1
"Jadi kamu mulai suka, le sama Salwa?"
Aku mengangkat bahuku. Sambil menjulurkan bibir bawah.
"Gak tahu. Gimana menurut ibu? Aku manut."
"Lah... Piye to dirimu Iki, le. (Bagaimana kamu ini,le)"
Aku beranjak dari kursi. Menuju dapur, mengambil piring di rak. Lalu menyendok nasi dari penanak ke dalam tiga piring. Membawanya ke meja makan. Sekaligus untuk ayah dan ibu.
Beberapa menit kemudian, sayur telur ceplok sambalado di hidangkan di atas meja juga oleh ibu. Berikut beberapa lauk tahu tempe. Walaupun dalam sayur sudah ada tahu tempe bahkan kentang juga. Tapi, bagi ibu tahu dan tempe adalah menu wajib keluarga kami.
"Panggil ayahmu di teras depan," pinta ibu
Aku mengangguk. Tanpa menunggu aku langsung ke teras. Mengatakan jika sarapan sudah siap. Dan ibu sudah menunggu dimeja makan.
Aku kembali ke ruang makan bersama ayah. Lalu kami sudah siap menikmati sarapan pagi ini bersama.
"Ayo, dimakan."
Aku menyendok sayur dan menambah kerupuk di atas nasi yang masih berasap. Setelah lengkap, aku mulai menyendok ke dalam mulutku.
"Wisuda mu kapan, le?" tanya Ayah di sela-sela makan kami.
"Tahun depan, yah."
Mereka sudah tenang saat aku menyelesaikan sidang skripsi. Aku pun ke kampus hanya untuk mencari relasi sebagai usaha ku kedepannya. Mencari kesempatan seluas-luasnya dan tidak menyia-nyiakan waktu bujangku.
"Iya. Dia malah lebih dulu sidang skripsi ketimbang Albi, "
"Anaknya kelihatan pinter dan cekatan,"
Aku mengangguk.
"Dia juga ganteng. Sudah punya pacar?" tanya ibu.
"Banyak Bu. Tinggal pilih dia mah,"
"Loh, bukannya dia suka Layla. Kemarin pas kesini, minta restu buat dapatin hati Layla."
Memang dasar Andre. Dia tidak pandang bulu. Langsung srudak seruduk. Tidak tahu jika keluarga ini sangat menjaga Layla dari orang yang main-main saja.
"Jangan di ambil hati yah... Dia memang seperti itu." Kataku.
"Tapi, kalau kamu sudah sahabatan sama dia lama. Berarti aslinya di baik kan? Kamu percaya sama dia?"
"Percaya. Tapi tidak untuk menjadi pacar Layla."
Ibu dan Ayah terkekeh. Gak tahu kenapa?
__ADS_1
" Terus laki-laki seperti apa yang bakalan boleh deket sama adikmu itu?"
"Gak tahu. Senyamannya Layla saja,"
"Nyamannya Layla kan cuman sama kamu,"
"Ya gak apa-apa. Layla sama aku terus."
Ayah dan ibu malah geleng-geleng.
"Kayaknya nanti kalau ada laki-laki yang melamar Layla bakal kalang kabut ngadepin kamu, Bi,"
"Lebih garang daripada aku ya buk?" tanya Ayah sambil tersenyum.
Aku melengos. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Doakan sajalah buk. Semoga anak-anak ibu dapat jodoh yang baik,"
"Gak usah kamu minta juga bakal ibu doakan,"
Aku tersenyum simpul. Doa ibu tidak memiliki aling-aling. Sebab ibu adalah wali yang dimiliki oleh seorang anak.
Makananku habis. Setelah meneguk minum aku membereskan piring kotor, mencuci sekalian dengan wadah yang digunakan ibu memasak tadi.
"Jangan lupa mandi, le!" Seru ibu setelah tahu aku sudah membersihkan dapurnya.
"Iya, buk..." Balasku lalu menuju ke kamar.
Aku ambil handuk di dalam almari setelah itu aku masuk kamar mandi. Mengguyur tubuhku dengan air dingin yang menyegarkan.
Selesai mandi, aku yang masih melilitkan handuk di pinggang dengan dada terbuka.
Langsungku menuju Almari, berniat mengambil kaos dan juga celana. Saat aku membuka Almari, papar bag berisi hadiah dari Salwa mencuri perhatianku.
Semenjak hari itu aku hanya menaruhnya di almari tanpa ingin tahu apa isinya. Hanya melihatnya saat ibu dan ayah mengetahui jika aku mendapatkan itu dari Salwa.
Ku ambil papar bag tersebut. Mundur beberapa langkah hingga tepi ranjang. Aku duduk di sana. Sambil mengeluarkan isi papar bag tersebut.
"Semua barangnya berkelas. Bagaimana aku bisa mengembalikannya nanti. Apakah Salwa tidak salah pilih mencintai aku yang bukan siapa-siapa ini?"
"Kalau dia tahu, jika aku bukanlah kakak kandung Layla dan hanya anak yang di ambil dari panti asuhan. Apa keluarganya akan tetap menerimaku? Sedang mereka memiliki nasab yang baik. Aku bahkan tidak tahu menahu tentang nasabku."
Salwa, gadis manis yang memiliki keteduhan di dalam tatapannya. Lebih baik jika dia di pinang oleh seorang pangeran, yang sama derajatnya dengan dirinya. Bukan diriku yang hidup saja menumpang pada keluarga orang.
Aku masih harus membalas Budi keluarga ini. Tidak mungkin aku lari dari keluarga yang telah rela merawatku dari bayi.
Jika aku menikah cepat, itu artinya aku harus mengurus dua keluarga, belum lagi keluarga ku juga. Aku tidak yakin, jika itu bisa aku lakukan dengan saat ini.
Setidaknya sampai ada seseorang yang bisa aku andalkan untuk menjadi pengganti ku di sini. Itu artinya, setelah Layla menemukan jodohnya.
__ADS_1
Yah, rasanya aku akan memikirkan pernikahan setelah Layla mendapatkan laki-laki yang tepat untuk menjaganya nanti. Tidak hanya mencintai Layla tapi juga ayah dan ibu juga. Dengan begitu, aku akan pergi dengan tenang.