
Qois Albifardzan
Kasih sayang orangtua, adalah wujud cinta pertama bagi anaknya. Senyum dari seorang ibu, semangat membara dari seorang ayah. Keduanya menjadi pondasi tumbuh berkembang seorang anak.
Aku termasuk beruntung, sebab aku tidak kekurangan apapun dari sosok itu. Aku tidak pernah merasai bahwa aku sebatang kara, walau sudah semestinya seperti itu.
Ku pacu motorku menuju rumah. Hal luar biasa hari ini terjadi padaku. Aku semakin bersyukur sebab nanti saat aku pulang, aku akan menemukan senyum dari malaikat yang dikirimkan Alloh kepadaku.
Aku bukanlah darah daging mereka, namun aku disayangi setara layaknya anak kandung mereka.
Jika ada yang bertanya, siapa orang tuaku nanti maka jawabnya adalah orangtua Layla. Hanya mereka berdua.
Mungkin aku tidak menemukan jalan surga pada orangtuaku kandungku. Namun, lewat mereka aku menemukan lebih dari surga. Dari mereka aku merasakan dunia layaknya surga. Sebab kadang surga, tidak hanya tentang sebuah tempat saja. Namun juga seseorang yang bisa membuat bahagia dan bisa kamu bisa bahagiakan.
"Assalamualaikum..." Salamku
"Waaikumsalam... sudah pulang, le.... Makan dulu, gih. Sayurnya masih kayak pagi tadi. Ayahmu masih tahlilan di tentannga. Sebentar lagi juga pulang," balas ibu yang menyiapkan makan malam.
Aku duduk dimeja. Ku letakkan pesanan ayah dia atas meja makan juga. Senyumku sumringah, mataku berbinar melihat sosok wanita yang selama ini telah sabar merawatku.
"Kamu kenapa, to. Baru pulang kok senyum-senyum gitu? Kesambet apa?" tanya ibu.
Beliau sudah duduk, mengambil piring dan memasukkan nasi diatasnya. Lalu meletakkan di depanku.
"Kamu kenapa, BI? Kok kayak orang gak waras gitu. Senyum-senyum gak jelas,"
Ibu masih teheran dengan sikapku.
"Bu... Boleh Albi peluk ibu?" tanyaku.
Aku harus meminta izin. Meskipun aku sudah menjadi anaknya sekian tahu. Tapi, tetap saja, dia adalah wanita yang saat aku sentuh bisa membatalkan wudhunya. Sedang ibu, seringkali menjaga wudhunya.
Mata ibu masih menatap heran. Tercengang dan menelisik kedalam lautan dalam isi pancaran mataku.
"Boleh ya Bu? Albi kangen," kataku lagi meminta izin.
Ibu mengangguk.
Mendapatkan persetujuan itu, aku langsung menghamburkan tubuhku pada sosok wanita di depanku itu. Aku peluk erat dan ku rasai belaian tangganya di rambutku.
"Terimakasih kasih ya, Bu... Karena mau memungut aku. Terimakasih sudah menjadikan Albi putra ibu," kataku.
"Albi, kamu itu ngomong apa? Kok tiba-tiba bahas hal itu."
"Albi tadi ke rumah Bagas, Bu... Ibunya sedang sakit parah. Dan dia diberikan kesempatan oleh Alloh untuk merawat ibunya tersebut. Beruntung sekali ya Bu, Bagas. Punya sosok ibu dan dia juga bisa membahagiakan ibunya semasa tuanya."
Ibu diam. Namun belaiannya tidak berhenti di rambutku.
__ADS_1
"Aku juga beruntung, Bu. Punya ibu dan ayah. Albi minta restu ya bu. Buat bahagian kalian, buat bahagia Layla juga. Albi tidak punya siapa-siapa pun di dunia ini kecuali kalian bertiga. Albi mohon, jangan minta Albi pergi dari kehidupan kalian, Albi sayang...."
Dalam tawa aku mulai terisak. Tiba-tiba aku merasa ada air yang jatuh dari atas kepala. Ku tengok, dan kulihat ibu menghapus air mata.
"Jangan nangis? Apa Albi salah?" tanyaku sambil mengusap air mata ibu.
Ibu menggelengkan kepala.
"Lain kali, kalau kamu kayak gini lagi. Ibu sendiri yang bakal ngusir kamu. Kamu itu anak ibu, anak ayah, masnya Layla. Bisa-bisanya bilang seperti itu. Mau aku jewer! Hah!' Maki Ibu.
Aku menggeleng. Aku tidak mau dijewer.
"Pengen disayang, bukan di jewer." Balasku.
Lantas ibu langsung mencium keningku, kedua pipiku. Berulang kali, lalu kemudian memelukku lagi.
"Janji ya Bu. Jangan minta Albi untuk pergi dari kehidupan ibu. Izin Albi untuk terus bersama kalian. Selamanya..." Pintaku ku ulang lagi.
Hal yang aku takutkan adalah kehilangan mereka. Kehilangan ibu, ayah dan Layla. Mereka adalah nafasku, mereka adalah nyawaku. Aku bahkan berani menukar nyawa untuk kebahagiaan mereka. Asal tidak diminta untuk pergi dari kehidupan mereka.
"Assalamualaikum ...." Suara Ayah. Beliau baru saja pulang.
Aku segera melepaskan pelukan ibu. Aku duduk lagi di kursi lalu menghapus air mataku. Ibu berpaling dan langsung menuju dapur. Dia mungkin tidak ingin memperlihatkan air matanya pada ayah. Aku pun juga.
Jika dengan ibu aku selalu meminta restu dan dengan ayah, kami para lelaki selalu mencapainyakan maksud dengan tindakan saja.
"Albi itu, marahi ... Bisa-bisanya bilang kalau dia anak pungut." Kata ibu yang langsung menyibukkan diri dengan mencuci peralatan dapur yang kotor.
"Lah dalah ... Kok ya aneh-aneh. Kesambet apa, kamu bi?" tanya ayah yang langsung duduk diseberang.
Dia meletakkan berkat_makanan atau jajan yang diberikan oleh tuan rumah pada tamu yang ikut pengajian.
"Gak apa-apa. Oh iya, yah ... Ini martabak sama terang bulannya." Kata ku menawarkan.
"Wah! Sini, biar aku makan!" Seru ayah langsung meraih kantong plastik berisikan martabak dan terbang bulan tersebut. Membukanya, lalu menikmatinya.
Ibu datang lalu ikut makan juga. Lega rasanya melihat mereka bisa senang dengaj hal sekecil itu.
"Ada salam dari Andre tadi. Katanya, kalau boleh dia ingin melamar Layla, nanti setelah Layla benar siap." Kataku.
Ayah dan ibu berhenti mengunyah makanan. Tercengang melihat kearahku tanpa berkedip.
"Kok malah kaget, to? Bukannya harusnya senang ya?" tanyaku.
Uhuk Ukhuk Ukhuk
Ayah batuk. Ibu langsung menuangkan minum dan memberikan pada ayah.
__ADS_1
"Gak salah dengar? Lamaran?" tanya ayah
"Kok tiba-tiba, to Bi?"
"Nggak kalau tiba-tiba, buk, Yah... Aku saja yang baru ngabarin. Andre sudah lama suka sama layla. Keluarganya pun sudah tahu,"
"Hah! Benarkah?" Ibu dan ayah terkejut.
Aku mengangguk.
"Tapi, bukan berarti aku langsung setuju jika Layla menikah muda. Aku gak rela! Dia harus benar-benar matang dan dewasa dulu. Melanjutkan pendidikannya juga,"
"Hu'uh...."
Ayah dan ibu mengehela nafas, kemudian tersenyum sambil bertukar pandang.
"Kirain, bakal kamu nikahkan segera." Kata ayah.
"GAK! Layla masih kecil,"
"Hmmm.... Sampai kapanpun sepertinya Layla tetep akan kecil, BI."
Aku diam. Melanjutkan makan. Ayah dan ibu sudah ada di kuris mereka masing-masing.
"Daripada memikirkan Layla, lebih baik pikirkan dirimu dulu. Kapan kamu mau menikah?" tanya ibu.
"Aku menikah setelah Layla menikah. Itu pilihanku," jawabku.
"Ya, sudah. Kalian menikah bersama saja," usul ayah.
"Hmmm ... aku nikah sama Layla?" tanyaku tiba-tiba. Pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa saringan.
Ayah dan ibu saling pandang. Aku menyeringai.
"Bercanda," ujarku sambil terkekeh.
Meskipun aku sudah berkata seperti itu, tapi wajah mereka berdua masih serius saja.
"Hanya bercanda ayah ... ibu ... lagian gak mungkin juga. Layla kan_"
"Kenapa gak mungkin?" tanya Ibu
Aku terbelalak.Mulutku mengangga. Pertanyaan macam apa itu?
"Kalian kan memang bukan saudara kandung. Bisa nikah," tambah ayah yang tiba-tiba menyahut pernyataan ibu.
Tiba-tiba kelapa ku pening. Aku memegang kepala ku, dadaku berdebar kencang tak karuan. Bahkan tubuh ku tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
Wajah ke dua orang tua asuhku sama sekali tidak menunjukkan sedang ingin bercanda. Apa-apa ini?!