
Pagi sekali kami berangkat. Matahari belum menampakkan sinarnya. Hawa dingin masih menyelimuti setiap pori-pori kami.
Aku saja masih ingin tidur. Dengan malas aku memilih duduk di kursi paling belakang, agar bisa menjelojorkan tubuh ku, dan tidak harus berbagi tempat dengan yang lain.
''Albi mawon yah bawa mobilnya." Tawar Mas Albi. Dia meminta kunci mobil dari tangan ayah.
''Masih pagi le, gak papa ayah aja yang nyetir. Kamu duduk di belakang aja. Nanti kalau capek, gantian." Ujar Ayah, menolak.
Mas Albi tidak membantah. Dia akhirnya duduk di kursi bagian tengah. Selesai duduk dia melempari ku dengan bantal kotak yang biasa tersedia di dalam mobil. Masih pagi, tapi dia sudah ingin menjahili ku.
Aku tak merespon, malah ku jadikan bantal lemparannya sebagai guling. Ku dekap erat, dan menenggelamkannya dalam pelukan ku.
''Heh, bangun...Malah tidur!" Seru Mas Albi masih mencoba membangunkan ku.
Aku tidak meresponnya, tetap dalam posisi ku dan mulai memejamkan mata ku.
Ku rasakan mobil melaju kencang. Terdengar desiran angin pagi yang menggoyangkan pepohonan. Rasanya tubuh ku seperti di ayunan. Membuat rasa kantukku semakin mendalam.
Ingin aku tertidur pulas, tapi tetap saja tidak bisa. Aku hanya memejamkan mata, dan berkali-kali mengubah posisi tidur ku. Tubuhku mulai pegal-pegal karena letak tidur yang tak nyaman. Pun mungkin juga karena rasa kantuk ku berangsur hilang.
Mata ku tiba-tiba memandang sosok yang sedang duduk di depan ku. Dari gesturnya bisa di pastikan, jika dia sedang duduk bersila. Wajahnya menghadap kaca mobil, memandang lalu lalang kendaraan yang simpang siur di samping kami. Angin pagi yang menyelinap di sela-sela jendela mobil memainkan anak rambutnya membuatnya acak-acakan. Itu membuatnya semakin terpesona.
Mungkin, dia sadar jika sedang di perhatikan. Karena, setelah itu dia langsung menoleh ke belakang. Dengan sekejap aku langsung menutup mataku lagi. Entah mengapa, malu sendiri saat dia tahu jika aku sudah terbangun dari tad, dan diam-diam memperhatikannya.
'' Ya Alloh nduk! Mbok yo bangun...Sudah hampir sampai Lo (Ya Alloh nduk...Cepat bangun!! Sudah hampir sampai Lo)." Kata Mas Albi setelah melihat ku, masih tertidur dan menutupi wajahku. Di dalam pelukan bantal, ingin sekali aku tertawa. Tapi, aku coba tahan sekuat tenaga.
Mengetahui aku tidak merespon. Mas Albi kembali menatap depan, dia tidak lagi memperhatikan ku. Aku membuka selimut ku dan bernafas lega. Sambil menahan tawa ku sendiri.
Seperti orang gila bukan?
Hanya sekedar diam-diam melihatnya saja kewarasan ku menjadi taruhannya. Hah! andai orang melihat ku sekarang mereka akan menanyakan apa yang terjadi kepada ku, tiba-tiba tertawa tanpa sebab. Dan diam lagi, tanpa menjawab.
''Layla belum bangun, Bi?"
Kali ini, Ibu yang ada di kursi depan berdampingan dengan ayah yang menanyakan itu. Aku pura-pura sedikit tersadar, dan menguap lebar.
__ADS_1
''Lah, ini Bu. Dia bangun!"
Mas Albi kembali melihat ku dengan kerutan di keningnya. Wajah ketidak sukaanya atas kelakuan ku yang di rasa menyebalkan. Dengan santai, dan tanpa dosa aku melempar senyum .
''Selamat pagi...Mas ku tersayang!!" Ujar ku, dan mulai memposisikan tubuhku dengan duduk namun tetap menggenggam bantal tidur ku.
Ku buat diriku benar-benar terlihat seperti baru bangun dari tidur. Mata ku masih menatap Mas Albi, dan kemudian kepada ibu yang saat itu menoleh ke arah kami.
''Perawan kok tangi awan tho, Nduk?Lek jodoh mu di pathok wong lio piye? (Perawan kok bangun siang to nduk? Kalau jodoh mu di ambil orang gimana)?"
''Wonten Mas Albi tasihan. Hehehe(Masih ada Mas Albi).....''
Mendengar jawaban ku semua orang geleng-geleng. Jawaban mungkin di anggap asal, tapi itulah kebenaran. Aku seperti tidak lagi membutuhkan siapapun lagi, saat ada Mas Albi di samping ku.
Mobil sudah melewati perbatasan Tulungagung - Trenggalek. Terlihat dari jalur yang mulai naik dan turun. Untuk menuju desa krian, kita akan melewati banyak bukit, dan juga jurang curam. Jika bukan orang asli sini, mereka tidak akan berani melewati jalanan itu. Nyawa taruhanya.
Di samping kanan ada pegunungan, yang menjulang tinggi. Dan di sebelah kiri, ada jurang yang sangat curam. Jalan itu hanya bisa di lewati dua mobil , itupun bersimpangan. Jika ngeyel, menyalip mobil di depannya, tidak ada yang bisa menjamin ke keselamatannya.
Memang terlihat indah saat di pandang. Sepanjang perjalanan ada banyak pepohan dan juga daratan rendah pun itu terlihat rapi.
Saat memasuki kawasan tersebut udara mulai dingin, dan juga suara gesekan angin pada pohon-pohon besar di sepanjang jalan anak membuat para pengguna jalan merasakan hawa pegunungan.
Dia khawatir sendiri melihat ayah yang mengemudi. Pasti karena ayah sudah lama tidak mengemudi.
"Aku masih bisa le, tenang saja." Jawab ayah
Dadaku gemetar saat beberapa kali melewati tikungan tajam. Perutku mulai, naik turun saat melewati jalan yang tinggi dan kemudian rendah.
"Mas, beneran gak papa jika ayah yang mengemudi?"
Aku mulai ragu. Ayah tidak mengurangi kecepatannya saat melewati jalanan tersebut.
"Dalane, dalan kenangana, Nduk. Dalan iki dadi dalan nang gone umah e ibu mu. Wes apal nang luar kepala. Ra sah khawatir.(Jalan ini menjadi jalan kenangan, Nduk. Jalan ini menjadi jalan ke rumah ibu mu. Tidak usah khawatir)" sahut ayah.
"Ojo ngeremeh ne ayah mu. Biyen, ibu nangis kerono kangen bengi-bengi ayah mu wani lo lewat kenne. Sepedah motoran tok. (Jangan meremehkan ayah mu. Dulu ibu pernah menangis karena rindu. Malam-malam ayah kamu berani Lo lewat sini)"
__ADS_1
Aku tersenyum kecut, saling bertukar pandang dengan Mas Albi.
Dari pada bercerita tentang cinta ku. Kisah ayah dan ibu bisa patut untuk di buat pelajaran. Nenek dulu sering menceritakan bagaimana ayah memperjuangkan ibu, menantinya hingga lulus kuliah dan juga sempat bersitegang dengan eyang Kakung. Karena awalnya, eyang tidak merestui hubungan mereka.
''Nduk bawa frescare?" tanya Mas Albi. Dia meringis seperti menahan sesuatu di dalam badannya.
''Kenapa, Mas?" tanya ku sambil mengambil frescare di dalam tas ransel, dan kemudian ku serahkan padanya.
''Kayaknya aku mau mabo. '' Jawabnya.
Dia mengoleskan frescare pada bagian samping kening, leher dan juga perutnya. Tanpa di perintah, tangan ku langsung memijat kepalanya.
Seperti api yang merambat cepat. Aku seakan merasakan apa yang sedang Mas Albi rasakan. Ingin rasanya cepat mengusir rasa pening di kepalanya.
Aku harus berdiri dan sedikit membungkuk untuk bisa leluasa memijatnya. Sedang Mas Albi dia diam dan menikmati pijatan ku, menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya dengan menahan rasa sakit tersebut.
''Kamu makan dulu saja Bi. Ibu tadi bawa sedikit makanan buat sarapan," Kata Ibu,ikut khawatir.
''Sarapan nggeh, Mas, aku ambilkan?''
''Iya, Nduk."
Setelah mendengar jawaban itu. Aku berhenti memijat kepala Mas Albi. Dan mulai mencari kotak makan di bagian bagasi belakang. Untunglah, tidak terlalu sulit untuk di gapai.
Setelah mendapatkannya, aku melangkahi kursi untuk bisa duduk di samping Mas Albi.
''Ya Alloh, Nduk. Kelakuan mu....'' Komentar Mas Albi.
Aku tidak menghiraukan itu. Aku lebih cemas dengan keadaannya. Dengan segera aku membuka kotak nasi itu. Mengambilkan nasi, beserta lauknya.
Mas Albi akan mengambil makan yang sudah ada di piring. Namun langsung aku tarik lagi, sampai aku selesai merapikan kotak makan tersebut. Dan meletakkannya di bawah kursi belakang.
''Diam! Aku siapin.'' Kata ku, mulai menyendok makanan tersebut.
Mas Albi membuang muka. Namun kemudian pasrah, dan mau aku suapi.
__ADS_1
''Kayak cah cilik ae nduk, sampean dulang. Aku jik saget maem dewe kok (Kayak anak kecil saja. Aku bisa masih bisa makan sendiri,kok). '' Bantah Mas Albi.
Aku tidak menjawab, hanya menatapnya tajam. Tanda aku tidak keberatan, dan tidak menerima bantahan.