(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 52


__ADS_3

"Belum ada signal ya, Mas?" tanya Layla. Dia mendekat ikut melihat tanda Singal pada tepi atas layar ponsel.


"Belum, mungkin saja karena hujan ini." Jawab ku.


Kami diam sesaat. Layla menuju salah satu bangku barisan ke dua, dia kuris bangku tersebut tergeletak ransel sekolah. Mungkin bangku itulah yang menjadi singgasananya selama ini.


"Coklat," tawarnya sambil menyodorkan satu batang silver queen pada ku. Aku menerima, dia mengambil lagi satu batang lagi untuknya.


"Banyak banget, coklatnya. Nanti gendut, kalau makan coklat banyak-banyak." Ledek ku.


Dia menyeringai sambil melepas kertas yang membungkus silver queen tersebut.


"Mumpung, gratis." Ujarnya


"Memang dari siapa?"


"Dari kang Dharma, dia kemarin membagi banyak silver queen pada kami."


"Kok bisa?''


"Kang Dharma jadi pengawasan saat Tryout kemarin. Dan pas hari terakhir, dia membagikan coklat ini. Itung-itung, ucapan perpisahan." Jawab Layla. Dia mulai menggigit setengah dari batang awal silver queen tersebut.


"Oh...Kayaknya kamu udah akrab sama dia?" tanya ku. Kayak menyipitkan mata, mungkin masih bertanya-tanya siapa yang aku maksudkan.


"Maksudnya, kang Dharma?"


Aku mengangguk, mengiyakan.


"Dia mah, akrab sama semua orang Mas. Gak aku, tok." Jawab Layla.


"Kayaknya, kamu sudah mulai suka dengan Dharma?" tanya ku. Melihat perubahan, yang kontras tentang bagaimana Dharma.


"Ya, gak lah. Masak di beri coklat saja langsung suka. Hati ku memangnya, seperti anak kecil. Yang di beri permen, lalu langsung ngintil (ikut terus)." Jawab Layla menyanggah. Aku sampai tertawa keras saat melihat wajahnya keras.


"Lalu sukanya sama siapa? Andre?" tanya ku lagi. Silver queen di tangannya, mulai tandas setengah. Mulutnya tidak berhenti mengunyah, hingga lumuran coklat tertinggal di sebelah bibirnya. Biarlah, dia bertambah mengemaskan dengan belepotan coklat.


"Kalau mas Andre, suka. Diakan teman Mas Albi, jadi aku juga ngerasa nyaman sama dia." Jawab Layla.


"Hah, kamu beneran suka Andre? Apa gak salah to, Nduk?"


"Suka dalam artian kakak, bukan suka dalam artian sayang ataupun cinta. Mas Andre itu, udah kayak Mas buat aku, dia itu nyaman dia ajak bicara, dan sharing banyak hal." Jawab Layla. Ada rasa lega, ternyata Layla hanya menganggap Andre sebagai kakaknya. Jika seperti itu, aku tidak akan mempermasalahkan.


Rintik hujan berangsur pelan. Mungkin saja, hujan mulai reda. Aku mengintip jendela, dan benar hujan tinggal meninggalkan jejaknya.

__ADS_1


"Coba cek he-pe Mas. Barangkali, udah ada sinyal." Lontar Layla. Aku merogoh hape ku lagi. Layar itu sudah menyalakan panggilan masuk. Ibu dan ayah menelpon. Langsung saja, aku angkat dan memberikan kepada Layla.


Kami berdua bertukar suara menyahuti pertanyaan-pertanyan dari orang tua kami. Membubuhkan jika saat ini kami baik-baik saja. Mengabarkan jika di sini baru saja hujan.


"Kamu nanti gak usah langsung pulang, Bi. Nginep di sana sehari saja, gak apa-apa. Kasihan badanmu, kecapekan nanti." Tutur Ibu. Aku tersenyum seraya mengangguk.


"Tapi, nanti kamu nginep di mana, Mas?" tanya Layla.


"Ya di kamar sambang, tho. Biasanya juga begitu, kan." Jawabku.


"Gak apa-apa? Kamu, kan ngajak Mas Andre, nanti dia gak bisa tidur lesehan."


"Iya, Bi. Kamu cari penginapan aja, di sekitar pondok. Biasanya kan kalau pas haul ada tu, yang menyediakan penginapan." Sahut Ayah.


"Tapi, sekarang gak lagi haul. Gampanglah, kalau soal Andre nanti bisa di urus." Bantahku.


"Sekarang Andrey di mana? Kok kalian berdua saja?'' tanya Ibu.


"Sama Mas Albi, di suruh di bawah aja, Bu. Gak boleh ikut ke atas tadi."Jawab Layla.


"La, sekarang kalian ada di mana, tho?" tanya ibu.


"Di kelas Layla." Jawab Layla. Dia mengambil ponsel dari tangan ku, mengedarkan ponsel tersebut ke seluruh ruangan kelas. Memperlihatkan bagaimana, sesungguhnya kelas yang digunakan Layla setiap harinya.


"Kalau sudah reda, cepat ke bawah lagi. Ayah ingin bicara juga dengan Andre, kasihan dia kok ya kamu suruh tetap di bawah sendirian.'' Kata Ayah.


Aku dan Layla tertawa. Mungkin saja, Salwa dan temannya tadi juga sudah pergi. Toh, hujan di luar sudah mulai mereda. Tapi, beda cerita lagi, jika Andre sengaja menahan mereka untuk di gombali, lalu menjadi teman bicara.


"Ya, sudah Nduk. Ayo, pergi." Ajak ku.


Layla mengambil ranselnya. Lalu kami keluar kelas. Tidak lupa, jaket Andre di tenteng di lengannya.


Baru saja kami akan menuruni tangga Andre terlihat dari persimpangan tangga.


"Lama amat, kehabisan ide sampekan." Ujar Andre.


Aku mengerutkan kening. Layla juga melakukan hal yang sama. Kami tidak mengerti apa maksud perkataannya.


"Ide apaan, Dre?" tanyaku.


"Ya, menahan dua gadis tadi, tho. Aku sedari tadi mengajak mereka bicara, agar suasana gak tegang." Jawab Andre.


"Ya Alloh, ngapain juga susah gitu. Di biarin saja, ntar juga balik sendiri. Toh, mereka juga pasti ngerti." Kataku.

__ADS_1


Aku tidak bisa membayangkan apa yang di lakukan Andre saat kami tidak ada. Sesampainya di lantai bawah, aku sudah tidak menemukan Salwa dan temannya. Dia pasti juga sudah pergi. Lalu jaketku?


"Jaketku, masih di bawa mereka?" tanyaku pada Andre.


"Iya. Ya gak tega, tho kalau langsung minta. Biarin lah, lawong cuma jaket." Jawab Andre.


Sebenarnya bukan masalah besar. Toh, itu hanya sekedar jaket. Tapi, sayangnya yang menerima itu sedang terang-terangan menunjukkan perasaannya kepadaku.


"Nanti, biar aku saja yang memintanya." Sahut Layla.


"Ok, baiklah." Jawabku.


Langit belum sepenuhnya menghilangkan jejak dukanya. Dia masih betah menahan awan hitam dalam tudungnya. Namun, waktu terus berjalan. Setengah jam lagi, senja akan kehilangan tahtanya.


Layla berpamitan untuk pulang ke pondok. Dan sampai malam nanti, dia tidak bisa menemui kami.


"Lah terus nasib kita gimana? Mau pulang malam nanti?" tanya Andre.


"Tadi, orang tua nelpon. Kita di suruh nginep di sini dulu. Takutnya, nanti kalau maksain terjadi apa-apa lagi." Jawabku.


"Penginapan pondok ada, Mas. Tapi, apa mas Andre bisa tidur lesehan?'' tanya Layla. Dia sedang menghawatirkan Andre kah, saat ini? Walau tadi dia mengatakan jika Andre di anggap sebatas seorang kakak. Tapi, nyatanya aku adalah kakak yang juga di berikan perhatian penuh darinya. Apakah, Andre juga akan mendapatkan hal itu juga?


"Tidak apa, Layla. Tidur di lesehan tetap nyaman, asal dekat dengan kamu." Jawab Andre sambil cengengesan.


Layla tersenyum simpul.


"Layla, ya tidur di pondok lah. Mana mungkin, di biarkan tidur dengan kita. Ngawur aja!" Sahutku.


"Lah, kan saudara..." Sanggah Andre.


"Saudara, saudara... Nyatanya, apa?" sungut ku.


"Kalau ada Ayah sama Ibu, Layla mungkin bisa ikut tidur di tempat sambangan. Tapi, kalau kalian saja yang ada, ya gak boleh. Aku juga gak bakal mau!'' Jelas Layla.


"Oh, gitu ya... Kirain..."


"Kirain, apa?" tanyaku.


Pastilah dia sedang mikirin macam-macam. Bisa-bisanya, dia mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Tapi, kalau Albi saja, yang nyambang dan ingin menginap di sini? Apa kamu, juga boleh tidur di sambang?" tanya Andre tiba-tiba.


Ku lihat wajah Layla langsung berubah datar. Aku pun terkejut dengan pertanyaan yang Andre lontarkan. Apa maksud, dia bertanya sembarang seperti itu. Sudah pastilah jawabannya, jika kami tidak di izinkan dalam satu kamar. Walaupun kita, kakak dan adik, tapi kita bukanlah saudara kandung.

__ADS_1


__ADS_2