(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 77


__ADS_3

#Albifardzan


Pagi sekali aku sudah menguasai dapur. Setelah meminta izin pada nada untuk mengunakan dapur di rumah ini aku mulai menyiapkan bahan untuk memasak.


Masakan simple, tumis pepaya yang kemarin Layla ingin memakannya. Melihat dia makan tidak lahap kemarin membuat ku lebih berniat untuk memasak makana kesukaan.


Alloh meridhoi sebab aku tidak perlu jauh-jauh mencari pepaya muda. Di kebun belakang rumah ini ada beberapa pohon pepaya yang kebetulan berbuah banyak.


Langsung saja aku memetik dua buah, tentunya sudah meminta izin pada Nada. Tidak apa-apa jika harus di tertawakan sebab tingkah ku yang sudah di anggap seperti anak perawan.


Memang kenapa jika Layla memasak? Tidak ada yang salah bukan? Nanti andaikan sudah rumah tangga dan istriku sedang ada halangan untuk memasak aku bisa menggantikan tugasnya tersebut.


Lah, kenapa sampai ke situ mikirnya?


"Buat apa, Mas?'' aku terkejut saat tiba-tiba Salwa ada di ambang pintu dapur.


"Salwa?"


"Iya..." Dia berjalan menghampiri aku yang sedang riweh memarut pepaya.


Aduh! Malu rasanya di lihat di saat seperti ini. Pasti dia langsung ilfil denganku.


"Kata Ning Nada mas Albi mau memasak, ya?" tanya Salwa


Dia melihat beberapa bumbu yang sudah aku kupas


"Kemarin Layla ingin masakan tumis pepaya. Jadi mumpung di sini, aku ingin membuatkannya,"


"Boleh aku bantu?" tawar Salwa. Matanya yang kemarin malu aku pandang kini tiba-tiba memiliki keberanian ia tampakkan.


Sesaat aku terdiam memandangi bola matanya tersebut. Bening, penuh cinta dan perhatian. Wajah ayunya teduh bak sang senja, merah merona.


"Mas? Boleh Salwa bantu?" tawarnya sekali lagi.


Aku terbangun dari pesonanya. Astaghfirullah...


"Tidak perlu, Salwa... Kasihan tangan kamu. Nanti kotor,"


Mendengar hal itu dia tersipu malu. Membenamkan wajahnya untuk sekian kalinya.


"Tidak apa-apa, aku juga ingin belajar masak." Bantahnya lembut.


Aku tidak kuasa mencegahnya.


"Jika kamu memaksa, boleh kalau begitu. Tolong bumbu-bumbu itu di potong kecil-kecil, ya?''


"Di iris halus, maksudnya?"


Aku tersenyum, "Iya itu maksudnya," jawabku . Sampai salah mengartikan kata sebab grogi.

__ADS_1


Dia pun langsung mengambil pisau. Berlahan dia sudah mulai mengiris satu persatu bumbu-bumbu tersebut.


"Kemarin malam kesini jam berapa?" tanyaku.


"Jam satu, Mas."


"Malam juga, aku kira tidak kesini lagi,"


"Mana mungkin, kan ada tamunya Ning Nada,"


Aku terkekeh kecil. Ingin membantah perkataannya tentang tamu. Sebab aku tahu, jika kehadirannya saat ini juga karena ada aku. Astaghfirullah, Albi!


"Kamu masih saudaranya, Nada? Dari siapa?" tanyaku


"Dari Abi, Mas. Sama kang Dharma juga, kita satu Mbah buyut," jawab Salwa.


Meskipun dari cara mengiris bumbu terlihat tidak terlatih sama sekali. Salwa tetap berusaha menyelesaikan tugasnya tersebut. Beberapa kali dia mengusap matanya sebab merasa pedih di mata. Bawang merah memang membawa air mata.


Tapi mau bagaimana, tidak mungkin aku mengusap air matanya saat ini. Dia masih gadis yang harus di jaga dari tangan-tangan laki-laki sepertiku.


"Oh... Jadi kalian bertiga masih saudara. Layak Dharma dekat sekali dengan kalian juga," kataku


"Iya... Kata Ning Nada yang merencanakan jamuan kemarin juga kang Dharma, dia orangnya tidak enakkan,"


Aku manggut-manggut. Tenyata di balik jamuan ini ada Dharma sebagai tokoh utamanya. Aku teringat juga saat kami bertemu di pantai waktu liburan kemarin. Dia antusias sekali menjamu kami. Hingga semua menu di warung yang kami tempati ia hidangkan pada kami.


Iriasan bumbu yang sudah selesai juga di eksekusi Salwa langsung aku masukkan pada wajan. Menggorengnya sebentar hingga tercium bau harumnya. Setelah itu barulah campur dengan tambahan bumbu lainnya. Seperti lengkuas, daun salam, garam dan gula. Barulah setelah itu pepaya di masukkan sebelum itu sudah aku tambahi air secukupnya.


"Mas Albi lihai, ya masakannya. Belajar dari siapa?''


"Kadang kalau di rumah bantu ibu masak, kalau memang benar-benar senggang dan maunya," jawabku dengan menjelaskan. Takutnya dia mengira aku selalu membantu ibu di dapur. Bukan apa-apa, melihat tingkah dia bukannya ilfil akan tetapi malah terlihat terpesona.


"Salwa bisa masak?" tanyaku


Dia langsung menggeleng. Wajarlah dia putri raja.


"Tidak bisa, kapan-kapan ajarin Salwa, mau?" tanyanya.


Aku tersenyum, "Insya Alloh," jawabku


Pertanyaannya memang biasa tapi makna di dalamnya itu yang penuh artinya. Kapan-kapan menunjukkan waktu yang akan datang, dia mana aku dan Salwa pasti bertemu kembali. Entah bagaimana kondisinya. Sedangkan untuk mengajari itu artinya kami akan melewati masa seperti ini untuk sekian kalinya. Kembali lagi, entah kapan itu dan bagaimana saat itu. Aku belum bisa memastikan. Bagaimana baiknya saja.


Mendengar jawabanku dia kembali tersipu malu. Ternyata dia tidak sependiam yang aku kira. Juga tidak sepemalu kelihatannya.


Malu itu wajar bagi wanita, sebab menjadi salah satu penjaga harga dirinya.


"Tetapi sejak tadi aku belum melihat Najwa, kemana dia Mas?" tanya Salwa


"Aku juga belum melihatnya. Barangkali masih di kamarnya."

__ADS_1


"Aku panggil saja, ya... Sudah selesaikan masakannya?''


"Sudah. Terimakasih, sudah menemani." Kataku sebelum Salwa pergi.


Dia tidak membalas hanya menyuguhkan senyum manis yang membuat aku kembali terpesona. Ternyata dia cantik seperti apa yang di katakan orang-orang. Bersama dengan dirinya hampir satu hari cukup membuat aku memahami jika dia gadis yang baik hati.


Aku membawa tumis pepaya ke meja makan. Di sana sudah ada beberapa makanan lainnya yang memang sudah di siapkan.


Ku lihat lantai dua, masih belum menampakkan siapa-siapa. Andre pasti juga masih molor. Salwa yang memanggil Layla juga belum nampak juga.


Dharma juga tidak terlihat sejak pagi. Padahal aku rasa aku sudah bangun paling pagi.


"Mas Najwa dan Aisyah tidak ada di kamarnya!" Seru Salwa dari lantai dua. Melihat kebawah ke arahku berada.


Deg! Layla tidak ada?


"Barangkali di balkon, Sal," balasku


"Tidak ada, aku sudah mencarinya keseluruhan lantai dua,"


Kemanakah Layla di pagi-pagi seperti ini. Dia bahkan tidak memberikan kabar kepadaku sama sekali.


Aku bergegas ke lantai dua. Menuju kamar, ku dapati Andre masih tertidur pulas. Aku langsung membangunkan dia.


"Ndre, apa Layla pamitan denganmu tadi?'' tanya ku segera.


Masih setengah kantuk dia terbangun juga.


"Tidak, aku belum bertemu Layla hari ini. Ada apa?"


"Layla tidak ada. Dia tidak ada di rumah ini,"


"Ngaco kamu. Barangkali jalan-jalan, udah ah!


Ngantuk aku!"


"Kamu ini. Katanya mau jagain Layla. Giliran Layla gak ada, malah molor. Dasar!" Umpat ku.


Aku bergegas mencari ke seluruh penjuru rumah. Memastikan jika memang Layla tidak ada. Salwa ikut mencari. Jika memang Layla jalan-jalan pasti dia mengetahui jika aku ada di dapur. Dia bisa menemui aku semestinya. Tapi tidak, dia bahkan tidak meninggalkan pesan apa-apa.


"Layla benar gak ada?" tanya Andre.


Akhirnya dia bangun juga. Percuma saja, aku sudah dua kali berkeliling rumah tapi tetap saja tidak menemukan Layla dan Aisyah.


"Kang Dharma juga tidak ada, barangkali mereka pergi bersama," kata Salwa.


Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini. Nada masih ada di kamarnya. Entah apa yang ia lakukan saat ini. Tapi andai dia tahu, Santrinya hilang saat dia di jamu seperti ini. Pasti dia akan kecewa.


Haduh Layla... Kemana kamu, Nduk?!

__ADS_1


__ADS_2