(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 68


__ADS_3

#Arya Dharma


Sebelum hujan benar reda, seorang teman santri datang membawa dua payung. Di berikan padaku, sebab itu adalah utusan dari Ning Nada.


Tanpa menolak langsung saja payung itu aku gunakan. Tak apa jika meninggalkan Layla saat ini, toh sekarang dia bersama kakaknya.


Aku juga harus merencanakan jamuan untuk mereka. Walaupun iya, sudah aku minta Ning Nada melakukannya.


Nantinya aku juga akan membujuk mereka untuk mau di jamu di Dhalem Timur.


Sarip tetap ikut denganku. Kami pulang ke pondok, membersihkan badan yang sudah terlewat apek. Tidak berlangsung lama, sebab kamar mandi pengurus saat itu terbilang sepi, padahal biasanya harus mengantri.


Aku merasa jika Alloh sedang meridhoi. Sebab apapun yang aku lakukan seakan di beri kelancaran.


Sesampainya di kamar, aku memilih baju untuk aku pakai nantinya. Dan baru kali ini aku kesulitan memilih baju yang cocok untuk aku gunakan.


Baju yang biasanya terlihat bagus-bagus kenapa tiba-tiba terasa usang semua? Hah! Dampak jatuh cinta memang beda, semua serba ingin sempurna.


Tanpa berpikir panjang lagi, aku memilih memakai kaos putih dengan desain Arab di bagian dada. Lalu aku padukan dengan jaket jins serta sarung wayang abu-abu putih.


Kata siapa, santri tidak bisa fashionnable. Meski sarungan, kita tetap bisa keren. Ku sisir rambutku, ku oles minyak rambut. Tak lupa juga ku semprot minyak wangi ke sekujur tubuhku. Ku oles pelembab kulit pada tangan dan leher.


"Duh.. duh... Gus, pun-pun. Sudah ganteng jenengan (Duh...duh...Gus, sudah-sudah. Sudah ganteng, kamu)," ujar Sarip


"Baru kali ini, Rip aku ngerasa gak ganteng blas,"


"Hahaha... Ganteng, kok Gus. Estu! (Ganteng,kok Gus. Beneran!)"


"Ck. Nyatanya Layla gak sama sekali gubris aku. Kalau di kayak wanita lainya pasti udah kepincut sama aku,"


"Barang kali Layla udah kepincut, tapi gak mau memperhatikan,"


"Gak! Layla gak kepincut, belum lah," elak ku.


Aku tahu betul dia belum memiliki rasa apapun kepadaku. Dia masih menganggap aku sebagai orang asing yang tiba-tiba datang dalam kehidupannya.


Semua butuh proses, aku tahu itu. Tapi bisa kah aku memastikan jika proses itu akan membuahkan hasil yang memuaskan? Entahlah, jadi pesimis ketika melihat dia bersama orang lain tadi.

__ADS_1


Hatiku seperti rollercoaster, baru saja moodku naik, sekarang turun drastis. Mungkin ini kayak perempuan yang mau Pms, yah walaupun aku gak tahu juga, seperti itu atau tidak?


"Jenengan kalau mau berjuang ya harus fokus gus, jangan setengah-setengah. Rintangan banyak," kata Sarip.


Dia sudah siap, mengenakan baju seadanya dan biasa saja. Aku pun biasanya begitu, tapi entah sekarang kenapa? Kasmaran emang beda kali, ya? Auranya pengen sempurna aja.


"Iya, Rip. Ini baru Layla, kalau lulus dari Layla, gantian ke orang tuanya dan kakaknya. Baru setelah itu ke Umi, setelah itu ke Abah. Hah! Panjang banget, iya kalau semulus yang di bayangkan kalau tiba-tiba ada rintangan lainya?"


"Layla aja belum tentu lolos, Gus"


Aku melirik tajam. Sarip bukannya menyemangati malah membuat aku pesimis.


"Dia itu sebenernya banyak yang suka Gus. Anaknya kalem, tapi kelihatan tegas. Sopan, baik, gak neko-neko. Pintar juga. Banyak yang incar, tapi ya itu karena Layla gak pernah nunjukin respon apa-apa ke semua santri putra mereka udah down aja. Cuman sering haluin Layla aja, eh... Ternyata, jenengan juga salah satunya,"


"Wah! Aku gak halu, ya!" Seru ku tidak terima.


Aku memang mendengar desas desus seperti yang di katakan Sarip. Bahkan ada juga salah satu, Gus juga seperti aku yang menyukai Layla. Namanya, Gus Farhan tapi sampai saat ini itu hanya sebatas desas-desus saja. Dia tidak pernah memiliki aksi yang seperti aku lakukan. Hanya sekedar suka aja melihat Layla dari kejauhan. Tetap saja, itu juga ancaman. Bisa saja, dia melihat sambil menyolawati Layla. Lantas lewat sholawat tersebut, dia bisa langsung mendapatkan Layla dengan percuma. Tanpa susah payah seperti yang aku sedang lakukan.


"Tenang, Gus. Kalau Layla jodoh kamu, pasti dia gak bakalan di miliki siapapun," kata Sarip sambil menepuk bahuku.


"Aku faham itu, Rip. Mangkanya sekarang aku gencar-gencarnya meminta Alloh untuk menjadikan dia jodohku, kalau gak di kabulkan ya minimal jodoh ku di gantikan Layla gak papa lah. Kalau gak bisa, ya aku usahakan negoisasi sama Alloh, biar jodohnya Layla di ganti aku saja! Kalau masih sulit, Hah!" Aku menghela nafas, pikiranku rasanya mentok aja.


"Kalau masih sulit, ya... Minimal, aku minta Alloh buat nitipin rizqinya Layla ke aku. Nitipin kebahagiaan, suka dukanya dan kehidupannya hingga akhir hayatnya kepadaku. Aku ikhlas kok, ngurus itu semua!" lanjutku.


"Hah! Gus...Gus... Itu mah namanya sama aja. Memaksa, secara halus," komentar Sarip mengenal nafas beratnya.


"Gak maksa, aku usaha!"


"Iya, iya, wes terserah pun. Pokok jenengan senang,(Iya... iya... Sudah terserah saja. Yang terpenting kamu senang),"


"Di bilangin, kok!"


"Iya, Gus.... Kulo percados! (Iya, Gus... Saya percaya),"


Aku gak maksa kan ya? Cuman minta kok!


"Sabar, Nggeh Gus. Jenengan masih muda, cuerdas, penerus perjuangan Abah-Umi. Hatinya lebih di jaga lagi, nggeh!" Ujar Sarip

__ADS_1


"Maksudnya apa bilang, gitu?"


"Hehehe, mboten nopo-nopo, (Tidak apa-apa),"


"Jangan panggil Layla dengan Layla, lah! Kamu panggil Najwa aja, Layla khusus aku aja!"


"Lah, lebih bagus saya manggil Layla. Kalau ada orang lain, gak bakal ketahuan. Masak, mau ketahuan kalau lagi ngejar-ngejar cewek. Arya Dharma ngejar-ngejar, sejak kapan?!''


"Halah... Mau orang tahu apa nggak gak ada pengaruhnya sama aku. Malah enak kan, kalau semua orang tahu, biar mereka tahu kalau Layla punya Arya Dharma,"


"Duh...duh... Salah ngomong aku. Warasnya berkurang lagi, kan?'' ujar Sarip agak lirih


"Kamu bilang apa barusan?!" Bentakku


"Nggak, Gus. Pun ayo! Teng ngajeng, (Sudah, Ayo! Ke depan,)" ajak Sarip


"Ngapain?''


"Ya nunggu Layla, nanti kalau gak di tunggu tiba-tiba sudah hilang aja, gimana? Dan rencana menjamu gak jadi, kan kasihan makanannya," jawab Sarip.


"Lah, iya. Ya udah, Ayo!"


Ck! Arya Dharma sejak kapan kamu seperti budak. Hanya karena Layla kamu bisa berubah seperti ini! Andai Layla bisa tahu bagaimana perjuanganku.


Ku lihat arloji yang melingkar di tanganku. Sudah mau magrib. Hujan di luar sudah mulai reda.


Ku lihat di depan masih ramai dengan lalu lalang orang. Ada acara seperti ini membuat semua santri merasa bebas tanpa beban. Sebab semua kegiatan di liburkan sementara.


"Kita tunggu di Pos nggeh? Di sana bisa lihat siapa saja yang lewat nantinya," kata Sarip


"Emangnya kamu yakin kalau Layla belum masuk pondok putri?"


"Gak sih, Gus. Tapi hujan barusan agak reda, santri yang kebeleteng di sekolah pasti langsung pulang. Soalnya lewat magrib mereka akan kena takziran (hukuman),"


Aku manggut-manggut. Memang terlihat sekali banyak santri - santriwati yang berdatangan dari sekolah. Sebagian pakaian mereka terkena air hujan. Sebab hujan tak sepenuhnya terang.


Layla, dia pasti kehujanan juga. Tapi saat ini aku tidak memiliki daya untuk membantunya, apalagi memeluk tubuh dinginnya.

__ADS_1


__ADS_2