(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 104


__ADS_3

#Arya Dharma


Pukul setengah sebelas malam. Aku sudah datang ketempat dimana Farhan menginginkan.


Di belakang bangunan besar yang berisikan gandum dan beberapa tempat penyimpanan hasil panen lainya ini aku berdiri seorang diri. Aku minta pada Sarip untuk tidak ikut campur dalam persoalan ini. Aku juga tidak ingin melibatkan siapa pun.


Bukan karena aku tersinggung dengan perkataannya. Akan tetapi aku sedang menjaga agar tidak banyak orang yang mengetahui perihal permasalahan ini.


Dua kubu yang memiliki kekuatan yang sama akan kehilangan kehormatannya saat keduanya yang dulunya terlihat baik-baik saja berseteru hanya karena wanita. Aku tidak malu membela Layla. Kecewaku akan kenyataan pahit ini tidak bisa melunturkan rasa cintaku padanya, barang sedikitpun. Bahkan aku semakin ingin menjaganya.


Malam ini sang rembulan redup. Sinarnya yang biasa menjadi penerang bintang-bintang kini hilang tanpa kepastian. Mungkin dia tertutup awan hitam atau memang bumi sedang memalingkan wajahnya dari sang rembulan.


Berteman lampu kuning yang nyalanya hidup mati hidup mati tidak membuatku untuk beralih pergi. Bahkan hawa dingin yang biasanya mengigilkan badan, tiba-tiba tidak bisa membekukan nyali.


Setelah beberapa waktu aku berteman hening. Ada suara langkah kaki. Ku tatap arah suara yang masih terlihat gelap dan belum menampakkan sosok yang berjalan kearah ku.


Hingga lampu kuning berhasil menyorot kehadirannya.


"Assalamualaikum, Gus Dharma. Kamu lebih dulu datang ternyata,"


Farhan, dia datang sendirian. Ku tengok lagi belakangnya. Namun, aku menemukan kekosongan.


"Waaikumsalam..." Balasku.


Tanpa aki pinta dia duduk disampingku. Kursi bambu yang berukuran 75 x 150 menjadi alas kami duduk.


Hening. Gesekan dedaunan saat malam terdengar mengerikan. Angin yang bertiup pelan seakan mengisyaratkan untuk tidak menganggu pohon-pohon rindang yang saat ini menjadi tempat semedi makhluk Alloh yang tak kasat mata.


Jarang sekali orang datang ke wilayah ini. Bahkan hampir tidak pernah. Ramai saat musim panen saja. Itu pun tidak ada yang berani tinggal hingga tengah malam. Sebab rumor yang beredar ada seorang wanita dengan rambut panjang yang sering menampilkan wujudnya di atas pohon besar yang saat ini berjarak lima meter dari tempat kami sekarang.


"Jenengan tidak takut disini, Gus?" tanya Farhan tiba-tiba.


Mungkin dia merasa hal yang sama senganku. Seakan ada matanya yang mengintai kami berdua. Seakan ada wujud yang tersenyum senang akan keberadaan kita.


''Takut dengan apa?" Aku masih tidak bisa menyembunyikan rasa kesal. Nada ku tetap acuh dan segera mengajak berduel saja.


Farhan melayangkan senyum. Lalu mengeluarkan rokok dan juga korek bensol.


"Monggo, Gus." Tawarnya

__ADS_1


"Tidak. Terimakasih,"


"Laki-laki kalau tidak ngerokok kurang afdol, Gus."


"Tapi bukan berarti dia kehilangan jiwa laki-lakinya."


"Ngerokok nunggu pas nikah saja, ya Gus. Lebih mantap dan gak akan habis."


"Ck. Jaga ucapanmu."


Aku laki-laki normal. Tapi sebisa mungkin aku tidak membiarkan pikiranku merajalela membayangkan sesuatu yang belum semestinya aku lihat.


"Kenapa, Gus. Hal wajar jika kita membicarakan hal tersebut, kan. Kita saja menyukai perempuan yang sama. Membayangkannya pun pasti sama."


"Jaga bicaramu, Gus! Aku tidak suka kamu berpikir negatif tentang Layla!"


"Perempuan yang tidak bisa menjaga jarak terhadap lawan jenisnya. Dia tidak patut di perjuangkan,"


Rasanya aku ingin langsung menonjok laki-laki didepanku itu. Dia berdalih jika dia mencintai Layla. Tapi, dia dengan santainya menghina orang yang dia cintai.


"Jika memang tidak sanggup memperjuangkan. Biar aku saja yang memperjuangkan dirinya. Kau bisa lepaskan dia,"


"Kenapa Gus Dharma tetap ingin memperjuangkan dia. Padahal sudah tahu, jika Najwa sama sekali tidak pernah melihat jenengan (Kamu),"


"Masalahnya bukan dilihat ataupun terlihat. Namun ada masalahnya ada di dalam dada."


Gus Farhat terkelakar. Dia menertawakan apa yang baru saja aku bicarakan.


"Apakah jenengan sudah menjadi Majnun, Gus. Apakah dia sudah menjadi Layla, seperti yang anda harapkan. Bukankah seharusnya jenengan tidak egois dalam memilih pasangan. Sebab wanita yang akan anda pilih pastinya akan membawa generasi berikutnya. Tahta kerajaan yang di bangun oleh keluarga besar jenengan tergantung pada anda dan pasangan anda nantinya. Tentunya, wanita itu harus dipercaya sebagai ibu dari penerus perjuangan di pesantren. Bukan perempuan biasa seperti, Najwa."


Aku tersenyum remeh.


"Lalu, jika memang pemikiranmu seperti itu. Kenapa kamu masih menginginkan dia juga, Gus Farhan?''


"Aku kira, dia layak seperti pemikiran jenengan. Bahkan saya pernah Sowan pada kyai Ahmad di Wonosobo. Perihal bagaimana Najwa, dan beliau mengatakan jika dia adalah pancaran ketulusan dalam perjuangan syi'ar agama dan kebaikan, seperti Sayyidah Fajar,"


Aku diam, mempersilahkan dia melanjutkan.


"Dia layak mengemban tugas mulia sebagai Aisyah bintu Abu bakar, yang menjadi bagian dari estafet keilmuan Nabi Muhammad dengan ribuan hadist yang diriwayatkan. Karena itulah, aku semakin yakin jika kelak dia bisa menjadi tonggak penerus trah pesantren yang di rintis oleh Abah dan Umi,"

__ADS_1


Aku tercengang dengan pemikiran Gus Farhan. Dia begitu penuh harapan dengan Layla. Dia sampai datang ke kyai sepuh untuk melihat masa depan Layla. Bagaimana Layla dan kesanggupannya untuk menimban tugas yang tidak semua perempuan biasa sanggupi.


Mendengar cerita Gus Farhan, bukannya kecewa aku semakin yakin. Jika Layla layak untuk di perjuangkan. Dia layak mendapatkan tahta agung kerajaan pesantren pada nantinya. Walaupun masih belum pasti, di kerajaan pesantren mana dia akan menjadi ratu nantinya.


"Harapan terhadap Layla sangat tinggi, Gus. Aku bahkan sudah berencana meminangnya saat dia usai sekolahnya. Aku juga sudah meminta restu pada orangtuaku akan itu. Berharap, dengan ridho mereka aku bisa dilancarkan untuk mendapatkan gadis yang aku cinta dan harapan untuk menantu Abah dan Umi. Tapi ternyata, harapan itu luntur seketika saat aku melihat dia berjalan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Bahkan dia berjalan tanpa seorang perempuan lainya. Dia di apit oleh dua laki-laki yang jelas memandangnya penuh hasrat. Aku jijik melihat itu semua!"


Aku diam. Hal itu pun aku juga merasakan. Namun, saat itu aku tidak terlalu memikirkannya. Sebab, aku memiliki kepercayaan penuh pada Layla. Sedang Gus Reyhan, dia telah di buatkan akan kesempurnaan. Hingga kesalahan satu kali saja membuat dia menganggap Layla tidak memiliki harga diri lagi.


Ku Hela nafas panjang. Aku mulai bimbang. Harus berempati atau tetap membela Layla?


"Ini, KK Najwa." Gus Farhan menyodorkan satu kertas yang sudah terlipat sangat kecil. Dari lipatannya, aku tahu dia tidak ingin sampai kehilangan kertas tersebut. Dia menjaganya hingga takut orang lain menemukan.


Ku buka lebar kertas dengan garis persegi itu. Aku membaca secara detail. Aku begitu terkejut saat mengetahui jika memang benar Mas Albi bukanlah kakak kandung Layla. Dia anak asuh dari orang tuanya.


Wajah sayang mas Albi yang ia tampakkan pada Layla dan begitu sebaliknya, memelupuk di dalam ingatan.


"Kekecewaan yang dalam yang membuatku ingin memberikan dia pelajaran." Kata Gus Farhan. Dia sudah membuang rokoknya. Lalu dengan wajah frustasi dia mengusap-usap wajah hingga tengkuk belakang.


Aku kira aku akan bersitegang dengan Gus Farhan. Namun ternyata, dia sedang ingin mencurahkan unek-unek dalam hatinya.


Rasa khawatir yang tadinya aku pendam kini berlahan hilang.


"Jujur aku pun baru mengetahui hal ini. Namun, apa kamu tega melihat perempuan yang kami cintai menderita sebab pengaduanmu? Bukankah saat kita mencintai seseorang kita juga harus menerima kekurangannya?"


"Apa jenengan tidak sakit hati mengetahui kenyataan ini?" Kini dia bertanya dengan sedikit memekik.


Tidak langsung aku jawab. Kami salin tatap.


"Aku kecewa. Sama sepertimu. Tapi, mas Albi adalah anak asuh dari orangtua Layla. Kita tidak bisa langsung datang menghukum sebab kebiasaan yang telah mereka lakukan sejak lama. Aku percaya, Layla tahu batasannya. Saat ini kita bukanlah siapa-siapa, yang bisa melarang apalagi mengekang Layla. Dia bebas bersama siapa, apalagi dengan kakak angkatnya."


Farhan tidak bergeming. Dia seakan ingin mendengar pendapatku.


"Kita tidak tahu bagaimana cerita keluarganya. Kita juga tidak tahu apa yang menjadi kendala keluarganya kenapa mengambil mas Albi sebagai kakak Layla. Bisa jadi sebenarnya mas Albi adalah saudara sepupu Layla dan karena masalah pada keluarganya, dia di angkat oleh orang tua Layla menjadi kakak Layla."


"Meskipun sepupu, masnya itu bisa menikah dengan Layla," sangkal Gus Farhan.


Ada denyar-denyar dalam dada ketika dia mengatakan hal tersebut. Lagi-lagi, ingatan tentang mas Albi yang mengendong Layla menuju kamar di Dhalem timur kembali menyayat jiwa.


***

__ADS_1


__ADS_2