(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 107


__ADS_3

#Arya Dharma


Perihal ketenangan jiwa. Aku memang belum sepenuhnya mempunyainya. Namun jika itu sebuah takdir, aku siap memaklumi.


Setelah malam itu, aku dan Farhan tidak lagi berkonflik. Kami saling menyapa bahkan terlihat akrab bersama. Yang dulu hanya saling tatap saja, saat ini sudah mulai bercanda.


Sebercanda itu hidup. Seharusnya kita saling menenggelamkan, sebab kita memiliki satu wanita yang sama ingin kita perjuangkan. Yah, mungkin itulah hebatnya Alloh, hebatnya jatuh cinta pada Layla. Orang yang seharusnya berseteru berubah haluan menjadi bersatu. Sebab kita di perlakukan sama. Sebab kita memiliki rasa yang sama. Dengan hal itu pula kita saling bertukar cerita.


ما رأيت بخيلا منح حبا، فالحب دائما ينبت من أكف الكرماء.


Aku tidak pernah melihat orang kikir memberikan cinta, karena cinta selalu tumbuh dari telapak tangan orang dermawan.


Hari ini Layla akan memulai ujian akhir sekolahnya. Aku tidak akan membuat dia sendiri. Aku akan meminta pada Alloh untuk memberikan kemudahan. Aku sudah memberikan pula sedekah kepada beberapa santri untuk tirakat ini. Membaca alaman aku khusukan untuk Layla.


Tidak aku katakan pada siapapun, hajat khusus apa yang sedang aku inginkan. Hanya meminta doa untuk segala inginku bisa terpenuhi segera.


Aku pun harus menjaga hati mereka yang menginginkan Layla juga. Meskipun dalam hati aku meronta agar semua tahu, bahwa aku sudah begitu memperjuangkan kebahagiaannya, keberhasilannya.


"Assalamualaikum, Gus.... Ngapunten ganggu." Lagi-lagi Sarip mengangguku.


Aku yang tadinya akan matlaah kitab harus tergantung oleh kehadirannya.


"Jenengan di padosi Ning Nada (Kamu di cari Ning Nada)," kata Sarip


"Jam segini?" tanyaku tidak percaya.


Saat ini sudah jam sepuluh malam. Kegiatan pondok memang baru usai. Untuk apa Ning Nada memanggilku?


"Nggih..."


Ku selonjoran kaki. Ku tutup lagi kitab Fathul Mu'in yang tadinya sudah aku buka lebar untuk aku selami isinya.


"Ck. Ada apa to, Rip?" tanyaku


"Kurang tahu. Jenengan kesana saja. Beliau ada di gazebo depan Ndalem."


"Gak enak aku. Sering banget Ning Nada manggil aku. Mana malam-malam gini,"


"Ngapunten, Gus ... Saya hanya menyampaikan."


"Bilang saja aku sudah tidur, gih. Lagi sakit, habis minum obat. Masak alasan seperti itu gak mempan."


"Haduh... Janganlah Gus. Saya gak mau bohong."


"Sekali aja, Rip. Gak apa-apa kok,"


"Jenengan gak apa-apa. Saya bagaimana?''


"Ck. Kamu ini, gak bisa diandalkan!"

__ADS_1


Aku bangkit dari dudukku. Membawa kitab lalu meletakkan pada rak kita yang ada di atas almari.


Aku benahi penampilan sebentar sebelum benar keluar kamar. Sarip tidak ikut, dia biasa leluasa tidur tanpa gangguan.


Sesampainya di depan Dhalem ku dapati Ning Nada benar ada di gazebo. Dia sendirian, bersandar dengan Qur'an yang ia dekap di dada. Matanya terpejam, mulutnya komat-kamit membaca surah Al Qur'an.


Saat aku lebih dekat jaraknya aku baru bisa mengenali surah apa yang sedang ia baca. Surah Yusuf.


"Assalamualaikum, Ning." Salamku.


Matanya terbuka, bibirnya tertarik setelah matanya melihat kehadiranku. Kakinya ia silakan.


"Waaikumsalam, Kang. Sini," jawabnya sambil menunjuk bagian gazebo depannya.


Aku sungkan. Dia dalam ada abah yai yang sedang menekuni kitab. Eh, aku yang santri malah menghabiskan waktu berdua dengan putrinya.


"Sungkan, Ning... Kelihatan sama Abah," kataku jujur.


Ning Nada menengok ke arah pintu utama yang menapakkan Abah yai.


"Gak apa-apa. Kenapa tiba-tiba sungkan? Biasanya juga kamu biasa sama Abah." Katanya.


Kapan aku biasa sama Abah? Kalaupun begitu itu karena konteksnya dalam masalah pondok atau sejenisnya. Bukan ngobrol berdua dengan Putrinya.


"Ada apa, to?" tanyaku langsung membuka kejelasan.


"Kan bisa sama santri putri, Ning. Kok malah sama saya."


Aku masih berdiri. Tidak mengindahkan keinginan Ning Nada untuk aku duduk didepannya.


Tidak hanya Abah yai. Beberapa santri juga masih banyak yang berseliweran di depan Ndalem.


Takutnya terjadi fitnah yang tidak-tidak. Apalagi, beberapa waktu setelah bazar banyak orang yang mengosipkan jika aku dan Ning Nada akan di jodohkan. Berita dari mana itu? Mau menentang takut membuat nama baik Ning Nada jelek. Jika aku diam, seakan mengiyakan opini tersebut.


"Kan pengennya mau ngobrol sama kamu. Aku butuhnya kamu," katanya.


Aku menggaruk tengkukku. Apa yang aku lakukan sekarang.


"Memangnya ada apa, to?" tanyaku lagi.


Akhirnya aku duduk di bawah. Menjadikan sandalku sebagai alas duduk. Menekuk lututku, sambil menghadap ke arah Ning Nada.


Dia masih belum juga menjawab. Malah menatap lama. Entah apa yang sedang ia cari.


"Bagaimana menurutmu, tentang kisah Yusuf dan Zulaikha?"


Aku mengangguk kedua alisku. Sambil ber'Ha'.


"Maksudnya bagaimana? Dalam masalah apa?"

__ADS_1


"Ya, cara Zulaikha mencintai Yusuf. Menurut kamu bagaimana?"


Aku tidak tahu ada apa dengan dirinya. Banyak orang yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan sangat baik ketimbang aku. Misal Abahnya.


"Cinta Zulaikha, salah." Kataku akhirnya.


"Kok salah?" Tanyanya, aku melihat keterkejutan pada diri Ning Nada.


"Awalnya salah. Sebab dia mencintai Yusuf karena nafsu. Apalagi saat itu, dia sudah memiliki pasangan."


"Tapi setelah itukan Zulaikha bertobat. Hingga akhirnya dengan pertobatan itu Zulaikha mendapatkan Yusuf."


"Memang betul. Itu terjadi, setelah banyak kejadian dan banyak pelajaran yang telah di terima oleh Zulaikha. Proseslah yang membuat Zulaikha sadar. Jika caranya mencintai Yusuf salah."


"Tapi, pada akhirnya mereka berjodoh juga."


Aku mengangguk. Kita sama-sama tahu cerita tersebut. Bahkan anak sekolah dasar pun sudah sangat menghafalnya. Lalu apa yang di cari dari hal itu?


"Kang Dharma, andai ada perempuan yang mencintaimu secara diam-diam dan dia lebih tua darimu, apa kamu mau menerimanya?"


"Hah?!" Aku tertegun sebentar. Menelaah apa yang baru saja aku dengar.


"Iya, jika ada seorang perempuan yang lebih tua darimu menyukaimu. Apa kamu menerima?'' Ning Nada mengulang pertanyaannya. Dia bertanya sangat hati-hati, pun dengan mata yang mewanti-wanti.


"Banyak yang suka saya, Ning. Bahkan Emak-emak gemes sama saya. Hehehe...'' jawabku dengan gurau.


"Hahaha... Aku serius? Apa kamu bisa menerima wanita yang lebih tua darimu?''


Aku membenarkan dudukku. Berdehem, lalu mengatur nafas lagi.


"Tergantung. Kalau wanitanya tidak terlalu tua ya mungkin bisa dibicarakan. Tapi, kalau sudah emak-emak ya saya gak mikir lagi langsung nolak lah. Hahaha..."


"Jadi kamu mau sama wanita yang lebih tua darimu?'' Pertanyaan kali ini lebih terinci.


"Tergantung siapanya, Ning. Gak ada yang tahu jodoh. Kalau misal jodoh saya lebih tua dari saya ya gak apa-apa. Tapi saya mintanya juga gak tua-tua banget."


Ning Nada tertawa. Aku pun ikut tertawa.


"Yang terpenting itu saya bisa membimbing dia nanti. Bisa menjadikan dia lebih baik. Tua dalam hal umur masih bisa dibicarakan. Tapi, kalau tua dari segi ilmu, saya undur diri. Meskipun mungkin usianya lebih muda."


"Loh, Kenapa? Bukannya lebih bagus?"


"Bagus menurut beberapa orang. Kalau saya tidak. Sebab saya ingin menjadi perantara istri saya kelak untuk menuju surganya Alloh SWT. Andai wanita lebih pintar dari saya, ya apa gunanya saya?"


Ning Nada mengukir senyum. Dari matanya, ada pancaran yang tidak bisa aku fahami artinya. Bukan, lebih tepatnya aku tidak ingin memahaminya.


Semoga saja, itu bukan keinginan dan harapan yang dalam. Sebab aku tidak akan bisa menyanggupinya.


Hatiku sudah terpaut oleh Layla.Dan saat ini aku tidak lagi menyimpan ruang kosong untuk perempuan lain.

__ADS_1


__ADS_2