(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 40


__ADS_3

Aku melihatnya kebingungan saat temanya datang tanpa dia sadar. Ponsel masih dalam panggilan, dan masih sempurna di genggamannya.


Semua santri memang tidak di perbolehkan untuk membawa ponsel, hanya beberapa orang saja yang di izinkan. Termasuk aku, sebagai ketua rombongan dan juga pengurus pondok. Itupun tidak boleh semena-mena di gunakan.


Melihat hal itu aku ingin tahu, apa yang akan dia lakukan. Langsung memberitahukan, tentang kejadian yang sebenarnya atau menyembunyikan kebenarannya?


Aku bisa menangkap perbincangan antara Layla dan temannya. Tanpa ragu temannya itu langsung menanyakan ponsel siapa yang dia gunakan.


"I_ini punya panitia rombongan, tadi mas ku, menelpon lewat sini." Jawab Layla gugup. Dia mencari sosok ku, tapi tidak ada.


"Siapa?" tanya teman Layla.


"Siapa? Siapa?" tanya Layla bingung.


"Pemilik hape yang kamu bawa itu." Jawab teman Layla.


Aku semakin terpancing dengan pembicaraan mereka. Segera ingin tahu, jawaban apa yang akan di berikan Layla.


Wajah Layla menunjukkan kegusaran, dia mengetuk-ketuk belakang ponsel ku dengan jarinya. Mungkin dia sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan temannya itu. Mungkin juga menimbang-nimbang alasan lainya jika temannya menanyakan hal lainnya lagi.


"Hai!" Teman Layla menyentuh tangannya saat Layla hanya diam tanpa menjawab.


Layla tersentak. Menarik nafas dalam-dalam. Lalu melirik ke arah lain. Tidak tahu, apa yang di cari atau sedang ia amati.


"Ponsel ini, milik kang Dharma." Jawabannya.


Aku tidak tahu berapa kali dia menimbang untuk menjawab dengan menyebutkan nama ku. Aku tidak peduli, tapi saat ini ada hati yang tiba-tiba melambung, ada tempat yang tiba-tiba berkilauan, ada waktu yang ingin aku hentikan.


"Hah! kang Dharma? Kok bisa?" tanya teman Layla antusias.


"Memangnya, ada apa?" tanya Layla tidak mengerti.


"Masya Alloh, Najwa! Arya Dharma! Hape itu, milik kang Dharma!" Seru teman Layla itu antusias. Tangannya di angkat-angkat layaknya guru sedang menerangkan.


Aku biasa melihat gadis seperti dia. Begitu takjub dengan hanya mendengar nama ku saja. Aku tidak tahu, kenapa mereka seperti itu?

__ADS_1


Teman itu seakan tidak percaya dengan apa yang di utarakan Layla. Dia merebut hape dalam genggaman Layla. Mulai mengutak-atik hape itu. Lancang sekali dirinya. Aku ingin segera menghampirinya. Tapi, masih ku tahan, hanya untuk menungun reaksi Layla.


"Aku dapat nomernya!" Sorak teman Layla. Dia langsung mencatat nomer dalam hape tersebut dalam sebuah kertas. Semakin membuat ku kesal.


"Berikan pada ku!" Kata Layla, dia mengulurkan tangannya untuk meminta hape itu.


"Pinjam, aku ingin tahu apa isinya. Aku tidak akan melihat WhatsApp-nya. Hanya ingin melihat galerinya."


Mendapatkan penolakan. Layla langsung merebut hape dalam tangan temannya itu. Tanpa basa-basi, cepat-cepat dia masukkan ke dalam ransel miliknya.


"Kenapa kamu masukan? Mumpung, hapenya kita yang pegang. Gak bakalan ada kesempatan lainnya." Bantah teman Layla. Kelihatannya di ngotot ingin menstalking he-pe milik ku.


"Bukan, milik mu." Tukas Layla. Dia tidak kalah garangnya. Aku semakin menikmati pertengkaran mereka berdua.


"Itu juga bukan milik mu, kamu juga tidak punya hak Najwa!" Elak teman Layla.


"Itulah kenapa, aku tidak mau kamu mengotak-atik ha-pe ini. Kita tidak punya hak atas itu. Gak baik, juga kepo dengan privasi orang." Jelas Layla. Tidak sedikitpun rasa ragu saat dia mengatakan hal itu. Dia pun, tidak takut jika teman di depannya itu marah, dan tidak peduli.


Sebelum ke dua wanita itu sungguh-sungguh bertengkar. Aku muncul dari balik rak, tempat ku sembunyi tadi. Berlagak tidak tahu apa-apa, aku berjalan ke arah mereka.


Layla menyadari kehadiran ku. Dia langsung mengambil ha-pe di dalam tasnya. Meletakkan di atas meja. Sedang temannya, dia menatap ku seakan aku ini sosok yang langka.


Jantung ku berdebar seketika, saat melihat ukuran senyum simpul dari bibirnya. Untuk pertama kalinya, dia tersenyum kepada ku. Entah itu, hanya kepura-puraan agar terlihat normal di depan temannya, atau memang itu senyuman tanda terimakasihnya.


"Terimakasih, Kang. Maaf, kalau ngerepotin." Jawabnya sambil menyerahkan ha-pe itu kepada ku.


"Sama-sama. Kalau ada apa-apa, bisa cari aku lagi." Kata ku, sebelum undur diri.


Ini adalah hari pertama dia membuka mulut untuk ku.Tersenyum kepada ku, khusus untuk ku. Rasanya ingin lebih lama aku berbincang dengan dirinya, lebih ingin mengenalnya. Namun, jarak harus memisahkan kita lagi.


Adzan magrib berkumandang. Sarip sudah melambai dari luar kaca tempat kami berada. Dan lagi, aku sedikit risih dengan tatapan teman Layla yang tidak juga lepas sejak tadi.


Aku bukannya tidak menghiraukan dirinya. Dia sama terhormatnya seperti Layla. Sama-sama mempunyai hak untuk aku pedulikan juga. Tapi, adakalanya aku harus sedikit memberi jarak. Agar hati yang di rasa berharap, tidak semakin tumbuh dan tertanam. Jika harapan itu semakin kokoh, akan sulit untuk di pindahkan, keculi nanti akan di tebang dan akan mematahkan. Yang ada akhirnya, hanya ada luka dan penyiksaan.


Semua sudah jelas bukan? melihat dan mendengar yang terjadi beberapa menit yang lalu sudah membuktikan jika dia menyukai ku.

__ADS_1


Ku ucapkan salam perpisahan sebelum kaki ku beranjak pergi. Keduanya langsung menjawab sambil mengukir senyuman. Aku hanya ingin menatap, Layla tapi aku juga harus membalas senyuman temannya juga, untuk sekedar menghormatinya dan juga menganggapnya ada.


Baru beberapa langkah saja, aku sudah merindukan dirinya. Suaranya yang menyebut nama ku, jawaban salam darinya terus-menerus terngiang-ngiang di benak ku. Inikah cinta? Dia begitu memabukkan.


Aku rasa jika Layla meminta ku untuk menjadi budaknya, aku pasti akan menyanggupinya. Ku balikan badan ku, sebelum aku keluar dari gerai makan tersebut. Menatapnya sekali lagi, dan ketemukan keanggunan dalam dirinya.


"Ya Alloh, Gus. Jenengan (Kamu) bucin." Lontar Sarip dengan menahan tawa. Sedari tadi dia mengawasi ku berinteraksi dengan Layla.


"Halah, bucin itu tandanya waras. Itu artinya, aku normal!" Balas ku.


"Berarti, selama ini gak normal, dong Gus?"


"Ya normal. Bedanya, ini lebih normal lagi." Jelas ku. Entah, dia faham atau tidak. Biarlah, tidak aku jelaskan lagi. Biar di pikir sendiri.


Tidak apa jika harus di anggap budak cinta, asal cinta itu untuk Layla. Tidak apa jika dianggap gila, jika itu kegilaan karena Layla.


Setiap cinta mempunyai takarannya. Setiap cinta memiliki tingkatannya. Tidak bisa di sama ratakan.


Jika saja aku mengatakan aku sangat mencintai Layla, itu bukan berarti Layla ada di tingkat paling atas. Jangan anggap cinta ku pada Layla melebihi cinta ku pada Alloh, itu tidak sama. Itu berbeda.


Bahkan karena rasa cinta ku pada Layla saat ini. Aku lebih meningkatkan lagi cinta ku pada Alloh. Karena DIA lah yang telah memberikan rasa cinta itu pada ku. Dan karena DIA lah aku bisa mencintai Layla selarut ini. Begitu dalam, dan mendarah daging.


Tidak akan habis jika kita berbicara soal cinta, kerena cinta itu bukanlah materi yang akan selesai jika bab itu habis. Tetapi, cinta itu pengetahuan, yang tidak pernah akan habis meski kita mati.


"Ya Alloh! Aku lupa membayar kopi ku!!" Seru ku seraya menepuk jidat.


"Lah, gimana, tho Gus? Mikirin Najwa, sih!'' Sahut Sarip.


Aku segera kembali ke gerai makan tadi. Menuju kasir dan menanyakan harga kopi ku tadi. Meminta maaf karena sempat lupa membayarnya.


"Sudah di bayar Mas, sama mbak-mbak yang tadi duduk di dekat jendela. Saya kira dia teman mas," Kata penunggu kasir tersebut.


"Ya Alloh ya mugollibul qullub, tsabbit qolbi ala dhinik!" Ku tepuk jidat ku berkali-kali. Bagaimana bisa aku sampai lupa membayar. Mana yang membayar Layla. Aku taruh mana muka ku ini jika berjumpa dengannya lagi.


Ku maki diri ku sendiri, karena terlalu asyik dengan pesona Layla. Hingga membuat ku melupakan segalanya.

__ADS_1


Wajah ku panas mungkin sudah berubah menjadi kepiting rebus. Inilah jadinya, jika aku sok sok an keren.


"Jatuh harga dirimu, Gus." Kata Sarip. Dia malah tertawa dengan keapesan ku ini.


__ADS_2