(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 38


__ADS_3

"Mau ngerepotin kamu, lagi," kata Mas Albi. Dia menepuk bahu ku.


"Ada apa? Memang ada yang bisa aku bantu?" tanya ku. Padahal sudah pasti itu tentang adik dan anak gadis mereka yang sedari tadi diam, dan memalingkan muka dari ku.


"Titip, Layla lagi,ya? Dia maksa mau ikut rombongan lagi." Jawab Mas Albi.


Tidak aku jawab. Aku lihat satu persatu tatapan mereka yang sedang menatap ku penuh harap. Keluarga Layla begitu mencintai dirinya, sampai-sampai tidak rela jika anak gadis mereka pergi tanpa pengawasan dari seseorang.


Dia bukan seorang putri bangsawan, tapi dia di perlakukan bak seorang putri raja. Berbeda, dengan anak gadis lainya, yang kadang harus di paksa ikut rombongan. Mereka itu biasanya mementingkan gengsi dan egonya. Ingin terlihat di perlakukan istimewa.


Padahal maksud sebenarnya, biar mereka lebih percaya diri. Terkadang, juga biar lebih mandiri.


"Insya Alloh, Mas. Pokok saya gak mau maksa, gitu saja." Kata ku.


"Maksa, gimana?" sahut Ayah Layla, belum mengerti maksud ku.


Aku menggaruk tengkuk leher ku. Merasa tidak nyaman jika harus menjelaskan.


"Palingan, Layla yang di maksud, Yah. Dia yang gak mau di jagain." Jelas Mas Albi.


Yah. Itu yang aku maksud. Jika dia tidak ingin aku jaga, mana berani aku sok sok an menjaganya. Aku ingin Layla juga menerima, kalau dia juga butuh diri ku.


"Layla bisa jaga diri sendiri. Gak usah khawatir!" Mulut yang sedari tadi bungkam, akhirnya terdengar suaranya juga. Dia memandang ku sekilas, sorot mata tajam.


"Kalau begitu, pilih di anterin Mas atau ikut rombongan, tapi harus nurut sama Kang Dharma?" Tegas Mas Albi.


Wajah Layla merah padam. Dia tidak suka dengan pilihan yang di luncurkan Masnya itu. Mereka sedang berdebat. Aku kira, mereka adalah saudara yang rukun saja, tapi ternyata juga bisa bertengkar.


"Mohon, maaf ya. Kalau harus lihat mereka bertengkar." Kata Ibu Layla.


Aku sedikit terperanjat, karena Ibu Layla tiba-tiba mengajak ku berbicara. Sontak aku langsung menggelengkan, kepala. Tanda bahwa tidak tidak mempermasalahkannya.


"Hehehe. Mboten nopo-nopo, Buk. Saya juga sering bertengkar dengan saudara perempuan saya. Malah sering bertengkarnya, dari pada rukunnya." Kata ku. Kemudian, beliau tersenyum memaklumi.


"Layla biasanya, memang di antar Albi. Tapi, gak tau kenapa, kok tiba-tiba pengen ikut rombongan. Mas nya itu, sering khawatir berlebihan sama adiknya. Masih menganggap adiknya anak kecil, sedangkan Layla sudah merasa sudah besar. Kalau orang tua, ya tidak mau maksa. Toh, anak juga sudah bisa berpikir, mana yang terbaik untuk dirinya." Tutur Ibu Layla.

__ADS_1


Beliau sosok, ibu yang bijaksana. Tidak ingin mengekang anak-anaknya. Memberikan kebebasan, tapi juga pengawasan yang intensif. Tidak langsung berkata tidak, jika anaknya menuturkan suatu keinginan. Mereka pasti bertanya dulu, mencari tahu apa yang di kehendaki anaknya.


Itu berarti, jika suatu saat aku melamar Layla, dan dia menerima ku. Sembilan puluh lima persen pasti orang tuanya setuju. Lima persennya itu pasti akan aku usahakan untuk bisa meyakinkan mereka. Tugas ku sekarang, membuat Layla nyaman.


Benar, apa kata Sarip. Layla tidak suka jika terlalu di perhatikan. Dia mandiri, dengan sendirinya. Akan lebih sulit, mendekati Layla dari pada keluarganya. Nyatanya, aku sudah mengantongi kepercayaan keluarga. Lah, Layla, dia masih sama saja seperti pertama kali kita bertemu. Cuek, dan tidak butuh dengan ku.


"Nurut sama, Mas. Kalau bukan buat kamu, ya anggap saja buat Mas." Tutur Mas Albi.


Layla tidak lagi menjawab. Meskipun dongkol, akhirnya dia kalah debat dengan kakak laki-lakinya itu. Aku akui, memang saudara laki-lakinya sangat tegas.


"Sudah, buk. Aku antar Layla ke dalam Bis dulu." Pamit Mas Albi.


Layla langsung menghampiri orang tuanya, dan mencium takdzim telapak punggung mereka berganti. Saat ini, aku menyaksikan jika dia memang permata bagi ke dua orang tuanya. Secara bergantian, orang tuanya mencium ke dua pipi Layla dan keningnya. Setelah itu, Layla meminta restu, doa agar perjalanan selamat sampai pondok. Agar ujian yang di hadapinya setelah ini lancar, dan membuahkan hasil yang baik. Aku baru tahu, jika Layla sekarang kelas tiga. Itu artinya, aku hanya mempunyai waktu sampai akhir tahun ini untuk meyakinkan dirinya. Jika tidak, aku tidak akan tahu, apakah aku bisa bertemu dengan dirinya lagi atau tidak.


"Semoga, dia benar-benar jodoh ku, Ya Robb!! Aku meminta langsung pada mu!" Doa ku dalam hati.


"Ayo, kang!" Ajak Mas Albi. Dia sudah menderek koper Layla. Dan berjalan ke arah bis kami.


Aku segera pamit kepada orang tua Layla. Dan kemudian menyusul langkah Mas Albi dan Layla. Aku menunjukkan tempat duduk Layla. Sengaja aku pilihkan di dekat jendela, dengan dua kursi.


Entah apa yang mereka bicarakan. Keduanya kadang seperti sepasang kekasih. Mas Albi, duduk di samping kursi Layla. Mengecek isi ransel miliknya,memastikan jika tidak ada yang ketinggalan.


Layla juga sepertinya masih marah. Sesekali aku mendengar, Mas Albi meminta maaf. Tapi, Layla acuh, dan hanya diam saja.


"Gus, ayo!" Seru Sarip.


Dia menarik tangan ku, keluar dari bus. Sampai di luar bus aku langsung melepaskan tangannya. Kayak, apaan, sama-sama laki-laki pula.


"Ada apa lagi, tho?" Tukas ku kesal. Aku masih ingin mencuri dengar pembicaraan Layla dan Masnya tadi. Tapi, Sarip lagi-lagi mengganggu.


"Najwa biarin dulu, Gus. Ingat tarik ulur. Sekarang mending, cari perhatian dari ke dua orang tuanya Layla." Ungakap Sarip. Aku tidak mengerti apa yang sedang dia maksudkan.


"Rombongan, Bis 1 sudah mau berangkat. Pesertanya sudah lengkap. Sekarang, Gus yang pimpin doa," Tambah Sarip.


"La biasanya juga ketua rombongan,tho yang pimpin doanya. Kenapa aku, tho?"

__ADS_1


"Oalah, Gus jenengan niku pun sempurna Lo. Masalah tampang, Ok. Kitab, Ok. Intelektual, apa lagi. Nasab juga, Ok. Tapi, masalah wanita kok ya gak faham-faham, tho!" Tandas Sarip.


Rasanya aku pingin jitak kepalanya. Memangnya aku dukun apa, yang bisa langsung faham isi kepalanya.


"Gini, Lo Gus. Itukan, masih ada orang tuanya Najwa. Kalau Gus yang mimpin doa untuk rombongan, dan mereka melihatnya. Pasti, jenengan akan mendapatkan nilai Plus di mata mereka. Jadi, jika nanti Najwa gak mau sama jenengan, jenengan bisa langsung melamar Layla lewat orang tuanya. Kalau orang tuanya, suka, demen, sreg kaleh jenengan, mau gak mau pasti Layla menerima jenengan." Jelas Sarip.


Aku akui. Dia yang lebih tahu trik dalam mendapatkan wanita. Aku tidak menyangka, jika dia punya pikiran seperti itu. Atau jangan-jangan dia sudah mempraktekkan itu semua?


"Jadi, sekarang aku yang pimpin doa?" tanya ku lagi.


"Nggeh. Saya sudah izin juga sama ketua rombongannya." Jawab Sarip.


Aku menepuk pundak Sarip berkali-kali. Tidak menyangka dia lebih cepat mencari cara untuk membantu ku. Tidak salah, jika umi memilih dia jadi teman ku sampai sekarang.


"Kamu Joss tenan, Rip. Engko, diri mu pengen opo ae, tak turuti wes (Nanti, kalau kamu pengen apa-apa, aku turuti)." Kata ku.


Dan benar, saat aku memimpin doa semua mata yang ada di lapangan tertuju pada ku. Doa yang biasanya di atur di dalam Bis sekarang di laksanakan di luar bis. Tidak hanya bis satu saja, semua rombongan dari bis satu sampai tiga berkumpul untuk berdoa bersama.


Para orang tua juga ikut berdoa untuk keselamatan anak-anak. Tidak terkecuali, orang tua Layla. Ada binar bahagia, saat mereka melihat ku yang memimpin doa. Mungkin, ada perasaan aman ketika mereka tidak salah memilih orang untuk menjaga anak gadisnya itu.


Dari balik kaca jendela, aku juga melihat Layla ikut mengaminkan doa ku. Tidak tahu, apakah doa ku akan di ijabah oleh Alloh atau tidak, karena dalam doa aku meniatkan hal lainya juga. Bahkan bisa di katakan riya' . Aku memohon ampun, untuk segala khilaf saat menyadari doa-doa ku, tidaklah tulus. Hingga aku mengulangi lagi, melafalkan doa dan benar-benar khusuk untuk menerima keselamatan, dan penjaga dari Alloh.


Note :


Assalamualaikum, kakak semua. 😁


Semoga selalu di Ridhoi oleh Alloh. Amin amin amin.


Btw, jangan lupa vote, komen dan kalau bisa share yak🤭


Author pengen tanya nih? Jika kalian di posisi Layla, kalian pilih siapa? Albi, atau Dhrama?


Albi dengan sejuta kasih sayangnya. Dharma dengan segala usahanya? Tidak lupa, dia juga mencintai Layla.


So, Vote dong. Antara Albi atau Dharma? Komen yak, bantu Author menentukan jodoh Layla.

__ADS_1


Terima kasih, mohon maaf atas segala khilaf 🙏


__ADS_2