(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 48


__ADS_3

Mobil Fortuner putih terparkir di depan rumah. Beberapa saat kemudian, menyembulkan pemiliknya dari balik pintu kemudi.


Andre terlihat mengembangkan senyum berjalan menuju ke arah teras rumah ku. Gaya pakaian yang sporty membuatnya terlihat lebih segar dan santai. Dengan jaket bomber dan celana jeans hitam berpadu dengan kaos oblong warna putih.


"Assalamualaikum," Salamnya.


Dia langsung menjabat tangan orang tua ku, menunduk hormat sambil mengobral senyum.


"Albi berangkat, ya Buk, Yah." Ujar ku.


Tujuan Andre ke sini adalah untuk menjemput ku untuk pergi ke pondok Layla. Sengaja kami pergi sehabis subuh awal untuk menghindari macet pada jalanan.


"Andre pamit juga, Buk, yah..." Andre ikut menyalami lagi. Aku menatapnya tajam karena dia lancang memanggil orang tua ku dengan sebutan Ayah dan Ibu.


"Tante! Om!. Jangan ngadi-ngadi, Lo!" Ingat ku.


"Loh, kan calon mertua. Gak apa-apa,kan langsung panggil Ayah dan Ibu." Bantah Andre, dia mencari pembelaan pada ke dua orang tua ku.


"Gak apa-apa. Sudah sana berangkat. Hati-hati di jalan, kalau capek berhenti, istirahat dulu. Baru jalan lagi." Sahut Ibu seraya menasihati.


Mendengar pembelaan, Andre besar kepala. Dia juga menjulurkan lidahnya, mengejek ku.


"Salam buat Layla. Kalian berdua, gak boleh aneh-aneh. Sewajarnya saja kalau ketemu Layla. Ingat kalau tempat kalian nanti, pondok pesantren. Bukan kawasan bebas. Jangan asal peluk sama gandengan. Nanti di kira Layla macam-macam!" Pesan Ayah.


Tegas sekali beliau menjaga anak gadisnya. Seakan aku dan Andre akan membuat onar, dan menyusahkan Layla saja. Namun, titahnya memang seharusnya seperti itu. Andaikan tidak di ingatkan, aku pasti juga langsung nyerobot memeluk Layla saat bertemu nanti. Kebiasaan, menggandengnya saat berjalan dengan ku, pasti nanti harus aku tahan.


"Siap! Ayah, Ibu. Andre akan selalu menjaga Layla. Doakan kami senantiasa di lindungi Alloh SWT!" Seru Andre semangat empat lima. Dia bahkan sampai memberikan hormat kepada ke dua orang tua ku. Bak prajurit menerima perintah dari pemimpinnya.


"Ayo, gak usah cari perhatian!" Seru ku, sambil menarik tangannya menuju mobil Fortuner putihnya.


Akhirnya, mobil itu kembali melaju, meninggalkan rumah. Menyusuri jalan sepi, bak tak berpenghuni.


"Kenapa kamu ganti mobil? Biasanya juga pakai Yaris?" tanya ku.


Aku sempat terkejut saat Andre datang dengan membawa mobil sport Fortuner putih ini untuk perjalanan kami.


Memang ini juga mobilnya, tapi, jarang sekali dia memakainya. Palingan ke kampus jika tidak menggunakan Yaris merah, pasti memakai motor CBR nya.

__ADS_1


"Seorang pangeran akan berkunjung menemui permaisuri masak ya pakai sandal jepit, mana pantas." Jawabnya sambil menarik ujung rambutnya ke belakang.


Pastilah yang dia maksud dengan permaisuri adalah Layla. Dia sudah begitu percaya dirinya, hingga mengatasnamakan Layla sebagai permaisurinya.


"Tak sentil kuping mu, mau?!" ancam ku.


Dia malah berkelakar. Tawanya memenuhi seisi kesunyian perjalanan kami.


"Kamu itu panglima perang, tenang saja. Lihat saja, nanti juga putri yang selama ini kamu jaga, bakalan bahagia sama aku." Ucap Andre. Dia memamerkan gigi geriginya yang rapi.


"Halah, aku masih was-was sama kamu! Palingan nanti, ketemu santri putri kelihatan bening sedikit udah kelabakan. Pasang mode on tampang menawan, untuk menarik perhatian." Cibir ku.


"Loh, ya gak papa. Namanya juga pangeran, mau mempunyai banyak selir ya gak papa, tho?!"


"Ya gak papa. Tapi aku gak rela, adik ku kau jadikan salah satunya. Gak bakal aku restuin!" Tegas ku.


Aku tidak pernah main-main dengan hal yang menyangkut Layla. Meskipun harus menentang sahabat sendiri, yang sejak dulu sudah seperti keluarga.


"Iya... Iya, Gak, gak kalau Layla aku gituin. Lagian, aku beneran suka, kok sama adik mu itu. Dia itu, Ijen, mandiri tur gumati (Penuh kasih sayang) beda seperti perempuan lainya." Ungkap Andre.


Aku melihat keseriusan saat dia menguji Layla. Barang kali, saat ini dia pun sedang tidak bercanda. Toh, memang sudah lama dia mengincar Layla, namun baru kemarin saja mereka berhasil berhubungan.


Aku tidak lagi ingin membahas soal Layla dengan Andre. Sudahlah pasti, dia akan senang, tapi itu akan membuatnya ketergantungan. Semakin dia mengungkapkan perasaannya, semakin ngilu rasa hati ku. Samar-samar bayangan mereka berdua saat tertawa dan tersenyum bersama terlihat nyata di kepala.


Mungkinkah, Andre adalah jodoh Layla? Apa aku rela memberikan hak itu untuk sahabat yang sudah aku tahu baik buruknya itu.


Andre tidaklah buruk, dia pun sempurna. Namun entah mengapa, aku masih belum sepenuhnya percaya akan perkataannya. Atau mungkin karena dia terbiasa berkata sama dengan gadis yang lainnya. Diapun tidak jarang memuji gadis lain di depan ku, bak mereka adalah bidadari surga satu-satunya.


Kabut semakin mengikis, menyembulkan sinar mentari yang mulai terbentang. Awan-awan cerah mulai beriringan, menampakkan kegagahan langit lantang.


Aku menawarkan diri untuk bergantian mengemudi. Namun, Andre masih bersikukuh masih kuat untuk menerjang jalanan ini.


"Kita mampir sarapan? atau langsung ke pondok?" tanya Andre.


Perjalanan kami masih kurang satu jaman lagi. Sedang jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Perut ku masih bisa menahan lapar, tapi tidak tahu bagaimana dengan Andre sekarang. Pastilah dia juga lelah mengarungi perjalanan.


"Kita cari tempat makan saja. Sekalian istirahat." Jawab ku.

__ADS_1


Andre menyetujui. Dia mulai mengedarkan mata mencari tempat makan yang sekiranya cocok untuk kami. Tidak terlalu ramai, dan sepi. Kami juga perlu tempat yang nyaman untuk mendelosorkan tubuh kami.


"Di sana saja ya, Bi. Aku pernah pernah mampir, kok. "Kata Andre menunjuk salah satu ruang makan yang cukup besar di kanan jalan.


"Ok, gak papa.'' Balas ku.


Mobil langsung terpakir di halaman rumah makan tersebut. Tempat makan ini sepertinya cukup ramai dan laris manis. Terlihat dari banyakan mobil yang terparkir di halaman, dan juga gojek yang mengantri mendapat giliran panggilan.


Setelah andre mengunci mobil, kami sama-sama beriring berjalan ke rumah makan tersebut.


Baru saja sampai teras, seorang satpam langsung membukakan pintu masuk untuk kami. Satpam tersebut mengucapkan salam selamat pagi, dan selamat datang. Sesampainya di dalam seorang pelayan lainya mengarahkan ke arah jajaran yang sudah penuh dengan macam makanan. Barulah aku tahu, jika rumah makan ini berkonsep prasmanan.


Aku dan Andre sama-sama mengambil menu yang ingin kita makan. Lalu Andre mengajak ku ke arah ruang yang berukuran 2 x 2 persegi. Di sana, kita bisa leluasa mendelosorkan kaki. Tempat itu juga di lengkapi dengan kipas angin, dan colokan charger. Di sediakan bantal kotak juga.


"Nanti gantian kamu ya yang nyetir." Kata Andre.


Dia begitu lahap memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Es buah di sampingnya, juga sudah menggoda untuk lekas di santap.


"Dari tadi aku tawarin, kamu gak mau. Kirain betah," balas ku.


"Hehehe, belum biasa aku. Kamu udah biasa pulang pergi Kediri- Sarang?" tanyanya.


Aku mengangguk. Jalanan Kediri- Sarang sudah menjadi daftar jalan kenangan. Karena jalan itu akan selalu mengingatkan ku akan perjalanan mengantar Layla, kembali dan pulang.


Kami beristirahat di tempat makan tersebut. Melonggarkan sendi-sendi ternyata memakan waktu cukup lama. Memberikan kesempatan ponsel untuk di isi dayanya.


Di sela-sela itu kami berbincang tentang hal lain. Membahas tanggal wisuda yang masih belum di tentukan. Langkah awal, setelah kelulusan. Kami juga mendiskusikan usaha clothing yang mulai butuh banyak pekerja. Mungkin juga akan membuka cabang di luar kota.


"Bi, siapa Salwa?" tanya Andre tiba-tiba. Sejak tadi dia memang sedang mengutak-atik ponsel ku. Barang kali dia sedang membaca isi WhatsApp ku.


Kita memang sahabat tanpa jeda. Apapun tentang ku dia tahu. Password hape ku saja, dia hafal di luar kepala.


"Temannya Layla. Ada apa? Kau jatuh cinta?" tanya ku langsung.


Sudah pasti dia sedang memandang foto profil Salwa. Matanya menyipit, mengamati. Kemudian memperlihatkan barisan giginya, sambil menarik bibirnya. Nyengir, tanda apa yang aku katakan adalah benar.


"Cantik," ungkapnya.

__ADS_1


Aku melengos, sambil menahan kesal. Bukan karena Andre melihat foto Salwa dan mengatakan jika dia cantik. Tapi kerena, dia masih sama, padahal baru tadi dia bilang jika Layla berbeda.


__ADS_2