
Aku belum bisa memastikan siapa laki-laki yang bersama Mas Albi. Setidaknya aku tahu, namanya Andre. Dia cukup berani di depan Layla. Meluncurkan gombalan tanpa saringan.
Ku lihat Layla sepertinya biasa saja saat Andre menggodanya. Atau mungkin benar, jika mereka bersaudara? Jika tidak, mana mungkin Layla setenang tadi.
Jika bukan waktuku yang mepet tadi. Mungkin saat ini aku sudah mendapatkan informasi yang valid tentang siapa laki-laki tadi. Tidak seperti ini, mengganjal dan meresahkan sekali.
"Kang Dharma?!" Panggilan itu langsung mengfokuskan mataku pada sosok yang sedang duduk di bawah pohon Pinus lantai tiga. Dia berada di antara penonton lainya. Hanya saja, dia terlihat paling mencolok saat ini. Sebab orang-orang di sampingnya sedang berdiri dengan menundukkan pandangannya.
"Ning Nada, kok disini?" tanyaku seraya menghampirinya.
Ku garuk tengkukku yang tidak gatal. Mengingat aku tadi tidak mengindahkan panggilannya. Apa sebab itu, dia ada di sini? Keperluan apa yang membuat dirinya sampai sejauh ini dan segamblang ini?
"Iyah, Jalan-jalan. Terus aku dengar kamu ikut tanding futsal," jawabnya.
"Iya...Ini mau tanding lagi. Ning Nada ngapain di sini?'' tanyaku penasaran. Barangkali ada hal penting lainya. Jarang sekali dia mau panas-panasan di dekat lapangan seperti ini. Biasanya juga mampir di salah satu stand setelah itu pulang.
"Loh... Ya lihat kamu tanding,lah. Tadi aku jalan-jalan, nyari kamu. Tapi gak ketemu."
Ku alihkan pandanganku pada deretan orang yang mulai mengintai pembicaraan kami. Mereka pastilah kepo dengan apa yang sedang kami bicarakan.
"Barusan kamu darimana? Kok di basceme gak ada?" tanya Ning Nada.
"Oh... Tadi cari yang segar-segar. Di basceme penuh, jadi nyari yang teduh."
Sengaja aku tidak mengatakan kemana letak persisnya aku berada tadi. Entahlah, takut saja. Walaupun mungkin jika hal itu biasa saja menurutnya. Bahkan mungkin dia suka, jika tahu ada teman seperjuangannya ada di sini, Mas Albi dan Cowok yang bersama tadi.
"Loh, udah dapat minum? Padahal aku bawain kamu es Cappucino kesukaan kamu. Nih..."
Aku melongo. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba? Melihat cup ukuran besar dengan isian capuccino di tangannya.
"Tadi stand Salwa jual ini. Jadi sekalian beli buat kamu." Tambahnya.
" Terimakasih, Ning." Aku nyengir sambil mengambil minuman tersebut. Tidak mungkin juga aku menolaknya.
Sepertinya dia sedang menunjukkan perhatian padaku. Aku tidak tahu apa alasannya? Yah, kami memang saudara, dekat juga. Tapi kenapa aku merasa binar di matanya seakan mengartikan rasa yang berbeda? Semoga itu hanya anggapanku saja.
"Aku mau tanding, dulu. Ning Nada mau disini atau pulang?" tanyaku memastikan.
"Disinilah! Kan aku mau lihat kamu bertanding."
__ADS_1
Deg. Aku semakin merasakan hal yang tidak enak. Kenapa tiba-tiba, sikapnya berubah seperti ini? Sejak kapan dia peduli dengan pertandingan?
"Oh... Okelah. Tapi, jangan kaget ya... Kalau nanti banyak yang meneriaki aku. Mereka sedang menyemangati aku. Jangan laporkan juga ke Abah. Kasihan, kalau pulang dari sini dapat takziran karena aku," ujarku
"Mereka yang sejak tadi menyemangati kamu. Teriak-teriak gitu? Kok bisa tahu nama kamu?"
"Lah, ini! Terpampang jelas di punggungku." Aku membalikan badan. Menunjukkan nama 'Arya' dengan angka sembilan di bawahnya.
"Haha! Berani ya nyorakin kamu." Ujar Ning Nada dengan senyum kecil.
"Yah, barangkali diantara yang lainnya aku yang paling cakep." Balasku dengan pedenya.
Ning Nada malah tertawa. Itu artinya dia biasa saja. Barang kali aku yang kege-eran jika dia sedang memperlakukan aku secara istimewa.
"Ya sudah. Saya tanding, dulu Ning. Mohon doanya, semoga bisa menang!" Ujarku tanpa ragu.
Ning Nada pun, mengepalkan telapak tangannya. Dengan sigap, dia berseru, "Semangat!"
Setelah itu aku kembali ke posisi. Sebelum di mulai, aku menyempatkan melihat tenda Layla. Berharap bisa melihatnya meski sejenak saja. Namun ternyata dia sedang betah berada di tenda. Mungkinkah itu karena ada sosok Andre yang sedang menjenguknya?
Laki-laki itu sebenarnya siapa? Masih ada banyak keraguan di dalam dada. Ku ingat bagaimana dia menatap Layla. Jika aku benar, dia pun sama sepertiku. Sedang menjunjung Layla dalam hatinya. Atau memang seperti itu caranya memperlakukan saudarinya, apalagi Mas Albi bilang, jika mereka sudah lama tidak berjumpa.
Ku dekap tanganku dalam dada. Lalu membungkuk badan tepat di depan pandangannya. Itu wujud terima kasih dan penghormatan yang tidak terhingga.
Semoga saja, dia tidak menganggap apa yang aku lakukan adalah hal istimewa. Aku hanya ingin menghormatinya.
Entah mengapa, saat ini aku ingin menjaga hati. Tidak lagi ingin main-main lagi, apalagi memberi peluang orang lain untuk menganggap sikapku berlebihan.
Itu semua akan mengundang banyak anggapan.
Pertandingan di mulai. Kembali konsentrasi dengan bola. Mataku tidak lepas dari benda bulat menggelinding itu. Berlarian mencoba mengambilnya dari lawan. Menjaganya penuh saat dia ada di dalam kendaliku.
Dalam bermain futsal, satu orang saja tidak cukup untuk menang. Karena itulah kita butuh teman untuk saling memperjuangkan.
Sebagian orang mungkin berpikir, jika saat ini aku sendiri menendang bola hanya untuk membanggakan diriku sendiri. Namun, nyatanya saat ini aku sedang mengiring lawan untuk mengikutiku. Agar teman yang tidak mendapatkan penjagaan, bisa mendapatkan kesempatan untuk menendang bola masuk ke gawang. Menuju kemenangan.
Dan benar, Gooll!!!
Salah satu pemain kami berhasil membobol gawang setelah mendapat operan bola dariku.
__ADS_1
Saat semua berseru, mataku malah menatap sosok kekasihku. Dia baru saja keluar dari tendanya. Menuju arah Utara. Itu artinya, Masjid lah tujuan mereka.
Meskipun dalam keramaian, dia tetap menjaga kehormatannya. Mengajak teman perempuannya, saat ada dua kaki-laki yang menjaganya.
Jika dia bisa menjaga kehormatannya, maka aku harus bisa menjaga perasaannya. Tidak lagi aku akan tebar pesona, mengumbar senyum pada sembarang wanita. Menutup celah untuk hati yang ingin bertandang.
Dulu aku sering, dengan sengaja membuat celah untuk banyak wanita menikmati tikaman asmara. Memberikan perhatian lebih, meski tahu aku tidak akan mengharapkannya. Tapi setelah bertemu dengan Layla, semua celah itu berlahan menutup dengan sendirinya.
"Aku sholat dulu, ya... Nanti di menit-menit terakhir aku masuk lagi," Ungkapku pada Sarip.
Beberapa hari aku tersadar, jika Sarip adalah pilihan terbaik dari Umi untuk aku jadikan teman sejawat. Dia mendampingiku kemanapun aku pergi. Termasuk dalam hal pertandingan futsal ini. Dia termasuk lihai dalam bermain.
"Siap, Gus." Balas Sarip cepat.
Setelah itu aku pergi keluar lapangan. Mengambil tas berisikan air mineral dan juga handuk, membawanya bersamaku.
Gerah sekali rasanya. Ingin segera menguyur tubuhku dengan air. Setidaknya aku punya waktu untuk menyegarkan diri nanti.
"Kang Dharma?!'' Suara itu lagi, aku menoleh ke arah panggilan itu berasal.
Dari arah berlawanan Ning Nada berlari kecil menghampiriku. Jujur sempat lupa jika di sini ada dirinya. Sebab fokusku langsung terpecahkan saat melihat Layla pergi dari tenda tadi.
Saat seperti ini aku melihatnya seperti anak kecil yang menghampiri kakaknya. Kewibawaan yang ia tandang tiba-tiba hilang. Tidak ada kharisma saat dia tersenyum renyah di depanku seperti ini. Biasanya dia tidak seperti ini? Tapi kenapa dia berubah?
"Ada apa, Ning?" tanyaku
"Kamu mau kemana?"
"Ke masjid, mau sholat."
"Gak ngelanjutin pertandingan?''
"Nanti. Masih ada waktu setengah jam-an. Nanti di menit-menit terakhir aku masuk lagi."
"Oh... Ya sudah. Aku ikut?!"
"He, Kemana?" Aku tidak mengerti.
"Ke Masjid, tadi kamu mau Sholat,kan?" Jelas Ning Nada.
__ADS_1
Aku tercengang. Apalagi ini? Kenapa dia berubah menjadi bayang-bayang yang mengikuti langkahku.