(Bukan) Layla Majnun

(Bukan) Layla Majnun
Mozaik 30


__ADS_3

"Putri Malu?"


Dia mendongakkan kepala, sama terkejutnya dengan ku. Namun, kemudian dia langsung menoleh kebelakang. Ke arah suara yang memanggil namanya.


Laki-laki yang sama, yang dulu menjemputnya. Yang aku tahu, dia adalah kakaknya. Aku masih menjadi saksi mereka, saat keduanya bergelut kata. Kakak, yang memarahi adiknya karena tidak hati-hati. Ikut membersihkan, baju Layla yang sudah kotor akan pasir.


"Maaf, ya Kang. Aku gak lihat, kalau ada orang di depan tadi." Suara halus itu, dari bibir mungil di depanku. Dia sudah berdiri lagi, menatapku dengan tatapan bersalah. Aku masih tidak percaya dengan pandangan di depan ku, seakan itu hanya hayalan saja.


Aku tersadar, sesaat setelah laki-laki itu juga memintakan maaf. Dan lebih mengejutkan lagi, dia mengingat, siapa diri ku. Kang santri yang telah menjaga adik kesayangan itu.


Aku mengulurkan tangan, memberitahukan nama ku, dia pun juga menjabat tangan ku, dan membalas memberitahukan namanya.


"Muhammad Qois Albifardzan." sambutnya.


Setelah itu mereka berpamitan, sebelum itu kakaknya memberitahu jika rumah kakeknya ada di desa sebelah. Aku pun juga memberitahukan, jika rumah ku ada di sekitar sini. Siap sekali, jika ingin mampir.


Waktu magrib, sudah tiba. Kakaknya Layla mengajak dirinya ke Mushola. Mataku masih melihat ke arah mereka, sesaat setelah mereka berpamitan. Tiba-tiba aku teringat, jika nama mereka terpaut dalam kisah Layla dan Majnun. Kebetulan sekali, atau mungkin memang di buat seperti itu oleh orang tua mereka. Toh, mereka kakak beradik.


Mereka hampir sampai di Mushola, dan aku masih terpaku melihatnya.


"Ya Alloh... Nanti,kan jadwal ku ngimamin di sana!''


Aku berlari, hingga sampai di sebuah warung yang tidak jauh dari mushola.


"Mbok! Pak Katijan di mana, tho?" teriak ku setelah sampai di sana.


"Sudah di Mushola, Gus. Jenengan mriko mawon (Sudah ada di Mushola, Gus. Kamu ke sana saja)!" Suara dari bilik dapur, tanpa bertanya lagi, aku langsung berlari ke arah mushola. Pikiran ku hanya satu, segera bertemu dengan pak Katijan dan menyuruhnya untuk mengantikan ku jadi imam di mushola hari ini. Itu saja.


Syukurlah, Pak Katijan langsung ku temukan, dia baru saja keluar dari toilet laki-laki dan baru saja mau ke dalam Musholah. Dengan rendah hati, aku meminta dia untuk mengimami sholat magrib terlebih dahulu.


"Ada apa, tho Gus? Kok mboten sampean aja. Saya sungkan, kalau jenengan yang jadi Ma'mun (Kok bukan kamu saja. Saya tidak enak, kalau kamu jadi Ma'mun)."


"Hehehe...Saya mau BAB pak, kasihan kalau orang-orang nunggu saya." Alasan tidak logis, tapi berhasil membuat pak Katijan menyetujui permintaan ku.


Setelah itu, Pak Katijan masuk Mushola. Para Jama'ah, sudah mulai berdatangan dan sebagai menyelesaikan antrian di toilet. Aku akan beranjak ke toilet juga, namun langkah ku terhenti ketika melihat kakaknya Layla ada di luar seperti sedang kebingungan.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya ku. Iseng, cari perhatian sama calon kakak ipar. Sepertinya, dia lebih bisa di dekati ketimbang adiknya itu. Barang kali, dengan begini, adiknya itu bisa di taklukkan. Minimal, maulah di ajak kenalan.


"Itu, saya cari toko. Kok semua pada tutup, ya?"


Aku ikut celingak-celinguk, dan benar semua toko memang sudah tutup. Tapi, masih ada toko yang buka, eh kebanyakan warung ding.


"Memangnya, mau cari apa, Mas?" tanya ku lagi.


"Cari baju, Kang. Tadi, bajunya Layla kotor, mamang jika di buat sholat, nanti" Jawabnya.


Dia kini sudah fokus bicara dengan ku. Ku tawarkan senyum mengembang.


"Jika minat, aku akan pinjamkan baju Si Mbok untuk, Layla Mas."


"Wah... Nanti ngerepotin." Balasnya tidak enak.


Aku termasuk orang asing baginya. Sudah sewajarnya jika dia seperti itu. Tapi, aku berusaha meyakini dirinya untuk mau menerima bantuan ku.


"Ya, sudah Kang. Nanti, minta tolong ya... Sekalian kasihkan pada Layla. Saya mau antri wudhu dulu, takut ketinggalan jama'ah."


Dengan segera aku menuju warungnya, Si Mbok Nur. Beliau, adalah istri dari pak Katijan, yang baru saja aku suruh untuk menggantikan jadi imam mushola.


Mereka adalah salah satu pasangan suami istri yang mempunyai warung di pesisir pantai. Aku sering ke warung beliau, bahkan sudah menjadi tempat markas ku saat aku dan teman-teman bermain di pantai.


Hampir setiap liburan aku membantu mereka untuk jualan. Awalnya mereka menolak, tapi setelah tiap hari aku berada di sana. Akhirnya, mereka terbiasa sendiri dengan kehadiran ku.


Usia mereka sudah paruh baya. Apalagi pak Katijan, beliau lebih sepuh dari pada istrinya Si mbok Nur. Meskipun terpaut usia dua puluh tahun, tidak menyurutkan rasa cinta dan kasih mereka. Itulah mengapa, aku senang berada di antara mereka. Aku selalu melihat ketenangan, suka duka mereka lewat berdua. Meskipun, sampai usia senja saat ini, mereka tidak di karuniai seorang putra.


"Mbok!!! Saya pinjam baju, Mu Mbok!!!" teriak ku. Membuat si Mbok Nur yang tadinya ada di dapur langsung keluar.


"Mau minjam baju, buat siapa tho, Gus?"tanyanya.


"Buat...Temen, Mbok. Kebetulan tadi, ada temen gak bawa baju ganti. Mau sholat, tapi bajunya kotor." jawabku cepat.


"Cowok nopo cewek?"

__ADS_1


"Ya! Cewek, lah Mbokk!! Masak saya, pinjam baju si Mbok buat cowok!'' Seru ku.


"Hayoo...Siapa?"


Kesal, karena si Mbok tidak juga memberikan bajunya. Malah, menggoda dan menatap penuh tanda tanya.


"Udah! Nanti aku ceritain. Tapi, sekarang pinjam bajunya Mbok! Yang bagus, yang bersih, yang wangi!!!" Seru ku.


Si Mbok mengambil satu baju dari dalam almari. Sedikit lama, karena harus memilih baju yang aku inginkan.


"Adanya daster, Gus?!"


"Gak, papa wes. Pokok wangi, bersih." Jawab ku.


"Aku kepo, Lo Gus. Ikut lihatlah, boleh,kan?" tanyanya dengan senyum jahil dan alis di naik turunkan.


"Jangan, Mbok. Sudah, Si Mbok di sini saja, jaga warung. Atau lekas sholat, gih. Nanti habis waktunya." Cegah ku.


Takut juga jika Si Mbok Nur mengetahui Layla sekarang. Bisa-bisa nanti ngasih laporan ke Umi dan Abi.


"Ya, weslah. Tapi aku penasaran, Gus. Tak ngintip sedikit wes, di balik pohon itu." Si Mbok Nur menunjuk ke arah pohon Ketapang. Ku tepuk jidatku, bagaimana pun, bakalan ketahuan jika si Mbok sembunyi di balik pohon itu. Lawong badan Si Mbok Nur lebih besar dari pada batang pohon Ketapangnya.


"Ya Alloh, Mbok!! Ya... percuma! Pohon Ketapang cuma sekilan, Mbok nya berkilan-kilan. Nanti aja, yah...Udah, ini aku bawa dulu!"


Aku segera berlari, menuju Mushola lagi. Langsung ke bagian toilet putri. Benar saja, di sana ku lihat Layla sedang gelisah. Ku hela nafas dalam-dalam, agar terlihat biasa saja.


Ku hampiri dia, dan ku utarakan niatku untuk memberikan baju ganti untuk dirinya. Ku katakan juga, jika kakaknya yang menyuruh ku. Ku lihat dia takut, melihat ku.


Ku hela nafas dalam lagi, karena papar bag yang aku suguhkan, tidak juga dia terima. Apakah, aku begitu menakuti dirinya, sampai-sampai dia begitu ragu untuk menerima.


Matanya menyorot ke arah toilet pria. Pastilah, dia sedang menunggu kakaknya itu. Namun, tidak juga dia temukan sosoknya. Dengan ragu-ragu, akhirnya dia menerima papar bag ku.


Sebelum pergi ku ucapan salam, dan dengan lembut dia membalas salam ku. Satu kalimat, " Waalaikumsalam warohmatulloh wa barokatuh"


Ku balikan badan, dan senyum mengembang tidak bisa ku tahan. Tidak aku toleh lagi, tidak aku tahu apa yang terjadi padanya. Yang pasti, aku tidak ingin dia tahu, jika sekarang aku sedang jatuh cinta kepadanya.

__ADS_1


Alloh...Jika cinta sangat membahagiakan, kenapa tidak sejak awal aku merasakannya?


__ADS_2