
"Memangnya, Mas mau cepat nikah?''
Aku langsung ngakak dengan kepolosannya. Dia malah balik bertanya. Sangking gemasnya, aku cubit pipinya.
"Aw! Sakit, Mas!" Rengeknya. Dia memegang pipi yang barusan aku cubit. Memang agak memar kemerahan, tapi cubitan itu yang biasa aku lakukan kepadanya. Tapi kenapa, tiba-tiba dia mengeluarkan air mata.
"Loh, kok nangis?!"
Dia masih memegang pipinya. Tangisnya bukanya mereda malah bertambah deras. Air matanya tumpah, sepenuhnya.
"Maaf, Nduk!!! Gak sengaja tadi Mas, nyubitnya. Lagipula, tadi juga gak keras-keras." Ujar ku.
Melihat air matanya membuat hati ku teriris-iris. Aku mengelus-elus wajahnya, namun tangan ku malah di lempar.
Konsentrasi ku pecah seketika. Bingung, harus melihat ke depan dan menatap Layla yang menangis ke tidak berhenti.
"Sakit, Mas!!!" Pekiknya. Suaranya parau. Dia membelakangi ku, menghadap kaca jendela. Aku bisa melihat air matanya tumpah dan tidak kunjung berhenti. Apa aku terlalu keras saat mencubit tadi? Sampai dia kesakitan seperti ini?
Aku berulang kali meminta maaf, tapi tidak kunjung dia menjawab maaf ku. Akhirnya, di sisa sisa perjalanan kami, dia hanya menatap jalanan. Tidak lagi menghiraukan aku.
Mobil memasuki gerbang perumahan. Ku lihat lagi, Layla lewat pantulan kaca jendela mobil. Beberapa saat yang lalu dia masih terjaga, tapi sekarang dia sudah terpejam.
Mobil memasuki rumah tepat di jam satu malam. Aku membangunkan Ayah dan Ibu. Mengatakan, jika kita sudah sampai rumah.
Dengan rasa kantuk yang berusaha di lawan. Ayah dan Ibu membantu ku memasukkan barang-barang kami. Ternyata banyak juga oleh-oleh yang di berikan untuk kami.
"Layla masih di mobil? Di gugah, tho (Di bangunin, dong)." Kata Ibu.
"Kulo gendong e mawon, Buk. Nembe tilem wau (Saya gendong aja, Buk. Baru saja tidur tadi)." Balas ku.
"Oalah, ya wes (Ya sudah kalau begitu)."
Setelah semua di masukkan ke dalam rumah. Aku kembali lagi, ke mobil. Mau mengangkat barang yang tertinggal satu lagi, apa lagi kalau bukan Layla. Dia tertidur sangat pulas. Sampai pintu mobil di buka saja, dia tidak terbangun. Aku melepas sabuk pengamannya yang masih melingkar di tubuhnya. Lalu mulai menggendongnya. Ternyata dia benar-benar tertidur, dan ternyata dia berat juga.
Aku lupa, kapan terakhir menggendongnya. Mungkin sudah lama, sebelum dia ke pondok. Dulu aku sering menggendong dirinya. Tidak hanya saat tidur, saat terbangun pun dia sering meminta gendong.
Apalagi saat kami masih sekolah dasar. Sepulang dari sekolah pasti dia akan meminta gendong karena lelah berjalan. Saat itu kami belum memiliki sepeda, ayah juga kadang telat menjemput. Jadi tidak jarang jika kami berdua jalan kaki saat pulang sekolah.
Bukan sesuatu yang buruk juga. Bahkan senang, karena bisa mampir beli es sari tebu di salah satu warung yang biasa kami lewati. Jika di jemput, ayah pasti melarang untuk beli es sari tebu itu. Sebab, sari tebu itu banyak bahan pengawetnya dan tidak baik untuk kesehatan. Tapi, namanya juga masih kecil, hal itu malah jadi tantangan untuk kami. Di larang, malah di tantang.
Aku tersenyum sendiri mengingat masa kecil kami. Melihat wajah Layla sekarang, terkadang masih belum percaya saja. Jika saat ini kami sudah tumbuh dewasa.
__ADS_1
Aku meletakkan tubuh Layla pelan di ranjangnya. Melepas sepatu yang masih terpasang di kakinya. Dan kemudian, merapikan posisi tidurnya. Terakhir, aku menyelimuti dirinya.
Dia bergerak sebentar, namun masih terpejam. Hijabnya berantakan, aku bermaksud untuk melepaskannya, mengambil cemiti di dagunya dan membiarkan hijabnya terlepas begitu saja.
Namun saat ingin melepaskan cemiti itu, aku melihat pipinya. Teringat tadi aku sudah menyakiti dirinya. Hingga di menangis begitu kerasnya. Memar merah itu sudah tidak nampak lagi. Namun, rasa sakitnya masih bisa aku rasakan.
"Maaf, ya Nduk. Mas salah." Ucap ku lirih. Entah kenapa, aku betah sekali melihatnya tidur seperti ini.
"Bi..Albi?!!" Panggilan ibu membuyarkan lamunanku. Aku segera pergi dan menutup kamar Layla. Sampai lupa jika tadi aku bermaksud untuk mencopot cemitinya. Tapi, sudahlah, mungkin tidak apa-apa.
"Wonten, nopo Buk (Ada apa,Buk)?" tanya ku.
"Ora (Tidak) Angget (Kirain) ku masih di luar. Mau aku kunci, pintunya"
"Oalah... Sampun, Albi baru saja nidurin Layla." Balas ku.
"Hahaha...Nidurin Layla. Kayak, Layla bayi aja."
Aku ikut tertawa. Tidak sadar dengan omongan ku barusan.
"Ya wes. Kamu juga cepat istirahat. Capek pastinya." Ujar Ibu.
"Nggeh, buk"
***
Beberapa hari sebelum Layla kembali ke pondok. Setiap pagi aku mengajaknya jogging. Anak perempuan tidak baik, jika sehabis subuh tidur lagi, itu akan membuatnya malas.
Dalam kitab Madarijus Sholihah juga menerangkan, jika tidur saat subuh hukumnya makruh. Karena saat itu, adalah waktu untuk memanen Ghunimah dalam artian kebaikan yang banyak, salah satunya rejeki. Entah rejeki sebuah harta benda, atau pun kesehatan.
Matahari sudah mulai terik saat kami sampai di taman perumahan. Banyak dari tetangga, dan beberapa orang luar yang juga menjadikan taman perumahan itu sebagai tempat berteduh. Tidak hanya strategis, tapi banyak juga fasilitas olah raga lainya. Tempatnya pun juga sangat luas.
"Hai, Albi! Layla!"
Baru saja kami duduk di salah satu bangku taman. Meneguk air mineral yang kami bawa dari rumah. Bu Eko, bersama dengan beberapa ibu lainya menghampiri kami.
"Jogging juga, hari ini?" tanya beliau setelah berada tepat di hadapan kami.
"Nggeh, Bu." Jawab ku sambil tersenyum.
"Tiap hari aku lihat kalian, Lo...Tapi, kalian gak pernah nyapa kami. Ya Bu?" Ujar Bu Eko, dengan mencari pendapatan dari ibu lainya yang bersamanya.
__ADS_1
"Lawong, asyik pacaran. Masak, ya gatek (merhatiin) kita, tho bu!!" Sahut salah satu dari mereka.
Layla yang baru saja meneguk minuman, langsung menyemprotkan minumannya. Tersedak, mungkin karena omongan ibu tersebut.
Aku segera mengelus punggungnya untuk meredakan sesaknya.
"Loh, mereka kakak adik, Bu. Bukan sepasang kekasih!" Bantah Bu Eko.
"Kirain, pacaran. La kelihatan mesra gitu, kok!"
"Iya...Kemarin juga kelihatannya gandengan terus kemana-mana!" tambah ibu satunya lagi.
"Husstt, Maaf yo Bi, Layla. Konco-konco ku iku senengane gosip. Padahal dorong ngerti kebenerane (Teman-teman ku, itu suka gosip. Padahal belum tahu kebenarannya)." Pungkas Bu Eko.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Ibu-ibu ini sebenarnya, menghampiri untuk menyapa? Atau sekedar menggosip saja?
"Tapi wajar Lo, kalau mereka bilang begitu. Layla juga mancing-mancing." Kata Bu Eko.
Aku memicingkan mata, diam masih menunggu Bu Eko meneruskan kalimatnya.
"Kamu, di IG ngepost foto mesra sama kakak, mu. Komentar netizen, pada jodoh-jodohin kalian. Kalau orang yang gak tahu apa-apa, pasti ngiranya kalian pacaran. Kayak ibu-ibu ini." Lanjut Bu Eko.
Aku menghela nafas dalam. Sebenarnya, Bu Eko ini memihak pada siapa? Kami, atau teman-temannya itu.
"Iya biarin, lah Bu. Namanya juga orang banyak. Yang pasti tahu aja, kadang ngiranya begitu juga, kan!" Pangkas ku.
Sontak membuat Bu Eko tidak berkata apa-apa. Aku bangkit dari duduk ku.
"Ayo, Nduk... Pulang, sudah mau siang." Ajak ku.
Layla yang sedari tadi diam. Bangkit dari duduknya.
"Permisi, Ibu-Ibu. Assalamualaikum..." Salam ku pada mereka. Layla juga ikut mengucapkan salam.
"Waaikumsalam," Balas Beberapa dari mereka dengan nada kesal.
Baru beberapa langkah, mulut mereka sudah mencari bahan gosip lagi. Masih bisa di dengar dengan jelas. Apa yang sedang mereka bicarakan.
"Mereka itu, adik dan kakak. Tapi, tidak sedarah." Suara Bu Eko mengkompori.
"Mosok, tho Bu? Layak wajahnya gak mirip. Gawat itu Bu. Jangan-jangan mereka ada apa-apa. Tinggal satu rumah lagi! Harus hati-hati kamu, Bu. Sekarang kan, kamu ibu RT nya." Sahut dari ibu yang lainya.
__ADS_1
Jika bukan karena umur mereka, mungkin aku sudah menghardik mereka semua. Tapi aku memilih untuk diam dan mengabaikan. Lebih baik, segera menjauh dan tidak lagi mendengar ocehan mereka.
Layla sedari tadi hanya diam. Tapi, aku bisa pastikan jika hatinya ikut geram dengan omongan mereka.